
Apa yang disampaikan oleh sang ayah benar-benar Tia patuhi. Tia selalu mengawasi gerak gerik wanita yang dicurigai oleh sang ayah, hingga wanita yang kini menjadi pengasuhnya itu tidak berani bergerak. Tia tidak pernah membiarkan sang pengasuh itu mendekati suaminya, seperti kejadian saat sarapan.
"Tia, mas berangkat dahulu ya. Sudah siang, kamu juga akan berangkat kan?" tanya Hans sembari mengemasi berkas dan laptopnya masuk ke dalam tas kerjanya.
"Iya, Mas. Tia bareng mas aja ya, biar gak usah bawa mobil. Nanti siang tolong mas minta supir untuk menjemput Tia," ucap Tia merapikan riasan wajahnya.
"Oke, boleh. Mas pamit dulu pada anak-anak ya," jawab Hans ingin berpamitan pada kedua anaknya.
"Tunggu, Tia juga akan pamitan pada anak-anak. Kita barengan aja yuk," ucap Tia. Dengan cepat Tia menyelesaikan semua lalu berdua bersama Hans menemui kedua anaknya yang sedang di jemur oleh sang pengasuh.
"Okey, Ayo kita temui kedua jagoan kita," timpal Hans.
Setelah berpamitan pada kedua anaknya, Hans dan Tia berangkat ke kantor. Tia tidak merasa cemas meninggalkan kedua anaknya pada sang pengasuh karena Tia sudah memasang CCTV di setiap sudut rumah itu. Apapun yang dilakukan Luna semua bisa dilihatnya dari layar ponselnya.
Hari demi hari pun berlalu, Keberhasilan Tia dalam memimpin perusahaan baru, terdengar sampai ke telinga Sinta. Wanita yang memilih lari dari tanggung jawabnya di kantor Clara itu merasa tertarik untuk bergabung bersama dengan Tia. Tentu saja hal sebaik itu tidak dia lewatkan begitu saja. Sinta menghubungi nomor telepon Tia dan membuat janji temu pukul dua belas siang nanti.
Sinta bertolak ke Jakarta, meninggalkan kampung halamannya. Dia sudah berpamitan pada Gunawan untuk menemui Tia. Gunawan sangat mendukung apa yang ingin Sinta lakukan, Gunawan merasa hal itu sangat bermanfaat untuk Sinta. Sinta tersenyum mengingat betapa mudahnya merayu sang ayah.
"Pa, Sinta boleh kan ke Jakarta. Sinta ingin bekerja di perusahaan papa yang dipegang oleh Tia. Papa tidak melarang kan kalau Sinta tinggal di Jakarta? Sinta ingin merubah nasib, tidak hanya menjadi beban tanggungan papa saja," ucap Sinta meyakinkan sang ayah asuhnya.
"Baiklah, asal kau benar-benar ingin bekerja tidak hanya sekadar iseng saja," jawab Gunawan sembari mengacak rambut Sinta.
Sinta sangat senang lantaran Gunawan mengijinkannya untuk tinggal di Jakarta. Kota besar yang selama ini menjadi impiannya.
Senyum Sinta merekah. Dengan tampilan outfit yang formal dan berwibawa, Sinta memoles wajahnya tidak terlalu tebal agar terkesan benar-benar seperti akan bertemu dengan pemberi kerja. Meskipun Tia pernah menjadi saudara tirinya, dia tetap harus menampilkan kesan yang baik.
Waktu yang sudah dijanjikan pun tiba. Sinta datang sepuluh menit lebih awal dari perjanjian. Dia sudah memesan minuman lebih dulu. Beberapa saat kemudian, Tia pun datang dengan. Dengan ramah, Sinta bangkit menyambut Tia.
"Apa kabar?" sapa Sinta sembari memeluk Tia.
"Baik," jawab Tia. Dia juga bertanya kabar Sinta.
Awal perbincangan mengalir begitu saja menanyakan kabar keluarga mereka. Dirasa tidak ingin terlalu banyak basa-basi dan membuang waktu, Sinta segara mengungkapkan tujuannya bertemu dengan Tia.
"Jadi, apa aku bisa bekerja di perusahaanmu?" tanya Sinta. Tia tampak terlihat berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepala.
"Kau buat saja CV seperti biasa sebagai formalitas, lalu besok kau sudah bisa bekerja. Aku akan menempatkanmu sebagai manager karena aku juga sudah melihat kinerjamu selama bekerja di perusahaan sebelumnya," tutur Tia. Sinta setuju.
Tia melirik jam tangan yang sudah menunjukan pukul setengah satu siang. "Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku akan pamit sekarang karena kedua anakku pasti sudah menunggu."
"Oh, baiklah. Terima kasih. Salam hangat untuk kedua keponakanku," ucap Sinta sembari menjabat tangan Tia.
Tia tersenyum ramah dan pamit undur diri dari hadapan Sinta. Sementara Sinta, dengan senang hati menikmati minumannya sampai habis.
Keesokan harinya, Sinta sangat semangat untuk bekerja di perusahaan yang dipimpin oleh Tia. Sama seperti ketika Tia pertama kali datang ke perusahaan, Tia memperkenalkan Sinta dan jabatannya kepada semua karyawan.
"Mohon bantuannya," ucap Sinta dengan ramah di hadapan semua orang.
Setelah memperkenalkan Sinta, Tia mengajak mantan saudara tirinya itu untuk berkeliling kantor hingga akhirnya sampai di salah satu ruangan yang akan menjadi ruangan kerja pribadi Sinta.
Sinta tampak semangat menjalankan pekerjaannya sebagai wakil direktur. Tia juga memperhatikan kinerja Sinta yang baik. Bertepatan dengan itu, Gunawan juga datang ke kantor karena diberitahu oleh Tia tentang Sinta yang bekerja di perusahaan.
"Ayah sedang luang?" tanya Tia.
"Tidak terlalu, tapi Ayah menyempatkan diri untuk melihat Sinta," jawab Gunawan terus terang.
Mendengar percakapan diantara Gunawan dan Tia, Sinta yang tengah merapikan meja kerjanya pun menghampiri mereka. Sinta menyapa Gunawan dengan ramah.
"Hai, apa kabar?" tanya Gunawan. Dia memeluk mantan anak sambungnya dengan penuh kasih sayang.
Sinta senang melihat Gunawan setelah sekian lama. Namun, pertemuan mereka tidak lama karena Tia mengajak Gunawan untuk pergi ke ruangannya. Gunawan menurut dan meninggalkan Sinta.
Selama beberapa hari, Gunawan selalu datang ke perusahaan karena memang ada hal penting yang harus dilakukan di sana. Kerap kali Sinta melihat, Tia selalu bersenda gurau dan bercanda bersama dengan Gunawan.
Sinta selalu memperhatikan ayah dan anak itu. Semakin diperhatikan, perasaannya pun semakin terasa sakit. Terkadang dia mencari perhatian kepada Gunawan agar mendapatkan perhatian yang sama, tetapi tetap saja kasih sayang yang diberikan oleh Gunawan tidak sebanyak untuk Tia.
"Tia, apakah kau sedang tidak sibuk?" tanya Sinta ketika Tia baru kembali setelah mengantarkan Gunawan ke lobby karena harus kembali ke perusahaan pusat.
Tia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. "Tidak, sebentar lagi aku harus pulang, jadi aku sedang bersantai dan bersiap. Ada apa?"
Sinta tersenyum senang. Dia menyerahkan map dokumen kepada Tia. "Baguslah kalau begitu. Ini, tolong antarkan ke perusahaan pusat sembari lewat menuju jalan pulang."
Kening Tia mengernyit. "Ayahku baru saja pergi dan katanya akan ke perusahaan pusat. Kenapa kau tidak menitipkannya pada ayah?"
"Iya, justru itu aku tidak ingat. Kau dan ayah sudah pergi begitu saja, bahkan aku tidak sempat berbicara dengannya. Jadi, tolong antarkan, ya. Aku sedang sibuk dan masih banyak pekerjaan harus diselesaikan hari ini," ucap Sinta beralasan. Dia mengelus lengan Tia dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan Tia.
Tia menghela napas panjang. Mau tidak mau, dia harus menyempatkan diri terlebih dahulu ke perusahaan pusat memberikan berkas itu.
Sinta melihat Tia pergi. Senyumnya mengembang dengan sempurna. Ada perasaan senang di dalam hati ketika Sinta berhasil mengerjai Tia. Dia merasa puas. Maka hal itu pun terus berlanjut.
Kerap kali Gunawan datang ke perusahaan, sikap Sinta sangat manis dan baik pada Tia. Akan tetapi bila Gunawan sudah pergi atau tidak ada, Sinta memanfaatkan Tia. Memerintah Tia untuk melakukan ini dan itu untuk kepentingan sendiri. Bahkan terkadang meminta uang dan meminta makan siang sebelum Tia pulang ke rumah.
"Tia, kau sudah ingin pulang?" tanya Sinta ketika berpapasan dengan Tia di dekat pintu lift.
Tia menggelengkan kepala dan mengangkat berkas di tangannya. "Tidak. Aku masih harus menyerahkan berkas ini kebagian akunting."
Sinta tersenyum senang. "Ah, kebetulan sekali. Kau akan pergi ke lantai bawah, bolehkah aku mau minta tolong padamu untuk mengambil kan pesananku di driver online?"
Tia menganggukkan kepalanya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia menekan pintu lift dan masuk ke dalam.
Sinta segera menahan pintu lift agar tidak tertutup. "Ah, iya, aku lupa. Aku tidak membawa uang cash. Bisakah kau sekalian membayar pesananku itu? Tolong, ya."
Lagi-lagi Tia hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. Mendapatkan persetujuan, Sinta kembali menarik tangannya dan membiarkan pintu lift tertutup. Tia menghela napas panjang.
"Hanya kebetulan saja. Tidak apa," ucap Tia sembari mengelus dadanya yang terasa panas karena menahan amarah di dalam hati.
Tia sampai di lantai bawah. Dia tidak ingin membuat kurir makanan online itu menunggu terlalu lama, sehingga lebih dahulu menyempatkan diri untuk ke depan lobby. Tampak seorang pria paruh baya dengan memakai jaket kurir.
"Pesanan online untuk Bu Sinta?" tanya Tia sembari menghampiri kurir tersebut. Kurir itu menganggukkan kepala.
"Berapa semuanya?" tanya Tia sembari meraih beberapa paper bag tangan kurir.
"Semuanya tiga ratus empat puluh tujuh ribu rupiah, Bu," jawab kurir. Sontak saja membuat mata Tia membelalak dengan sempurna.
"Oh, iya." Tia mengeluarkan dompetnya dan memberikan empat lembar uang kertas berwarna merah pada kurir. "Kembaliannya ambil saja."
"Terima kasih," ucap kurir sembari mengganggukan kepala dengan ramah, lalu pamit pergi dari hadapan Tia.
Tia memperhatikan beberapa paper bag di tangannya. "Astaga, Sinta. Apa saja yang kau beli sampai sebanyak ini?" geram Tia pada wanita yang sudah dianggap saudara olehnya itu.
Tia segera menghampiri Sinta untuk menyerahkan semua paper bag berisi barang pesanan Tia.
Braak!!
"Sinta, apa-apaan ini!!" pekik Tia dengan rasa kesal di dada. Dia tidak bisa menahan kesabaran lagi.
"Oh, itu semua barang kebutuhanku selama di Jakarta. Maaf, Tia aku hanya bisa belanja melalui online. Aku tidak paham kota Jakarta dan belum tahu bagaimana kehidupan di luar. Kamu tidak apa-apakan membantuku untuk membayar semua belanjaan ku karena ternyata saldo bank aku habis. Anggap saja semua ini adalah hadiah pertemuan kita sebagai sesama anak dari ayah," ujar Sinta dengan hati berdebar. Sebenarnya dia juga takut jika Tia marah pasti mengerikan.
Tia terdiam, dia berpikir apa yang dikatakan oleh Sinta. Sesekali bolehlah membelanjakan kebutuhan Sinta yang baru saja pindah ke Jakarta.
"Baiklah, satu kali saja kau boleh berbelanja di jam kantor! Jangan seenaknya sendiri walau kau adalah anak asuh dari ayah!" geram Tia memaafkan kelakuan Sinta kali ini. Lain kali dia tidak Sudi membayar belanjaan Sinta.
Tia berlalu dari meja Sinta dengan wajah yang mulai tidak bersahabat. Pasalnya Tia tidak suka dengan pegawai yang bekerja sesuk hatinya sendiri.
"Huft! Jika bukan karena ayah mungkin aku sudah membuang mu, Sinta!!" geram Tia tidak yang sudah muak dengan tingkah Sinta.
Hasil dari didikan Clara membekas pada Sinta. Dia suka berfoya-foya dan menghamburkan uang.
Tia kembali ke dalam ruangan dengan wajah yang terlihat lelah. Dia pun akhirnya memutuskan untuk segera pulang mengasuh dua jagoannya.