Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 132


Netra Clara tidak berhenti menatap ke arah Tia dan Gunawan. Perasaan ingin tahu ada apa di antara dua orang itu pun menyeruak, ingin di tuntaskan.


"Ada apa hubungan apa antara papa dan wanita itu? Mengapa papa selalu menatap ke arahnya dan ke arah wanita yang duduk dan kursi roda itu?!" gumam Clara terus menatap ke arah Tia dan Gunawan.


Acara selanjutnya adalah siraman. Sang ibu hamil dimandikan dengan air bunga tujuh rupa. Setiap anggota keluarga di beri kesempatan untuk menyiramkan air segayung pada tubuh Tia. Sang MC pun memanggil satu persatu keluarga Tia.


Pertama kali siraman dilakukan oleh Hans sebagai suami. Setelah Hans, maka giliran orang tua. Baik mertua maupun orang tua kandung. Tiba giliran Meri, Gunawan menatap wanita yang usianya hanya selisih dua tahun dengannya itu dengan tatapan penuh penyesalan.


"Mengapa papa menatap wanita itu dengan tatapan aneh. Walau aku mengenal yang hamil tapi tidak mengenal wanita yang menyiram si Tia itu. Apakah itu ibu kandungnya? Dan mengapa dia tidak sebahagia seperti wanita tua satunya? Ada apa ini?" gumam Clara lagi.


Memang Gunawan pernah mengenalkan Tia pada Clara sebagai istri Hans sang pembeli perusahaan Ridho. Saat penandatanganan dulu, Tia hadir sebagai saksi dan pendamping Hans.


Bagi Clara hal yang biasa jika suaminya sering berkunjung ke kantor perusahaan Ridho untuk mengurusi pemindah tanganan kepemilikan. Semua sudah sah menjadi milik Hans.


"Papa sering pergi ke kantor Ridho dulu dengan alasan mengurusi pemindah tanganan kepemilikan. Apa hanya sebatas itu saja? Atau ada yang lain? Aku perhatikan tatapan papa berbeda dengan tatapan pada klien." Clara masih bergelut dengan pikirannya sendiri.


MC mengumumkan, setelah selesai dari pihak keluarga kini giliran para tamu undangan untuk menyiram tubuh Tia dengan gayung. Tanpa aba-aba, Gunawan maju, dia orang pertama yang menyiram tubuh Tia.


"Papa? Apa-apaan papa itu?!" pekik Clara tertahan. Dia tidak mungkin merusak acara milik kliennya yang memiliki pengaruh pada perusahaannya yang lain. Memang Hans adalah sosok pebisnis yang perlu diperhitungkan prestasinya.


Clara mengepalkan tangannya, ingin Clara menarik sang suami untuk diajak pulang. Namun jarak yang jauh tidak lah mungkin bisa langsung mendapatkan tiket pesawat.


Dengan menahan kesal Clara memilih duduk di kursi undangan. Dia menikmati hidangan yang tersedia.


"Hmm ... Lezat juga kue ini, lumayan untuk mengembalikan mood yang rusak," ucap Clara di dalam hati sembari mengamati kue. Saat mengamati kue tersebut, tiba-tiba Clara mendapat ide.


"Okelah, aku akan ikut menyiram tubuh si Tia lalu mengambil sehelai rambutnya. Aku akan melakukan tes DNA ketika nanti sampai di Lampung."


Clara menemukan cara yang tepat untuk memenuhi rasa penasaran dirinya. Clara meletakkan kue tersebut di meja, dia bergegas mengambil antrian di barisan orang-orang yang ingin ikut menyiram Tia dengan air bunga.


Giliran Clara tiba, diapun melaksanakan rencananya untuk mengambil rambut Tia.


"Aww!"


"Maaf, Tia. Tidak sengaja, gelang ini menyangkut di rambutmu," ucap Clara beralasan kalau gelangnya tersangkut di rambut Tia.


"Ah, tidak apa-apa, Bu Clara. Tidak sakit kok, hanya terkejut saja." Tia menatap Clara dengan tersenyum. Clara pun membalas senyuman dan meminta maaf.


Setelah selesai Clara kembali duduk di samping Gunawan.


"Pa, kita pulang langsung atau mau ada acara kemana lagi?" tanya Clara pada Gunawan.


Gunawan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, lalu menghela napasnya perlahan.


"Iya, Ma. Kita pulang dahulu, papa ada meeting dengan tuan Kim pemilik perusahaan Elektronik. Dia ingin menanam modal untuk perusahaan kita," jawab Gunawan bersedekap.


Gurat kelelahan tercetak indah di dahinya. Gunawan lelah karena dirinya harus bolak-balik dari Lampung ke Jakarta untuk mengurusi bisnisnya dan menjenguk Tia.


Acara demi acara sudah dilewati dengan baik, kini saatnya para tamu undangan untuk kembali. Gunawan dan Clara pun juga pamitan. Clara bisa melihat tatapan Gunawan yang penuh cinta pada Tia. Kecurigaan Clara semakin menjadi.


Setelah berpamitan, Clara dan Gunawan meninggalkan rumah Tia dan Gunawan. Mereka kembali ke Lampung. Clara sangat tidak sabar untuk melakukan tes DNA dengan menggunakan rambut Tia dan rambut Gunawan. Rasa penasaran yang ada di dalam dirinya pun akan segera mendapat jawaba.


***


Pagi yang Cerah di Lampung.


"Pa, hari ini Mama izin keluar ya. Ada sedikit urusan," ucap Clara yang tengah mengoleskan selai ke rotinya.


"Urusan? Urusan apa?"


"Biasa, Pa. Pertemuan ibu-ibu arisan. Arisan yang lalu kan, sudah selesai. Rencana aku dan teman-teman mau buka lagi yang baru. Gimana, Pa? Boleh?" Clara beromong kosong, karena bila sang suami tidak mengizinkan pun dia akan tetap pergi.


Begitu lugas dia menjelaskan kepada Gunawan tentang maksud kepergiannya hari ini, meski yang dia katakan tidak sepenuhnya benar. Clara memang berniat keluar hari ini, tetapi bukan untuk urusan arisan. Sebenarnya dia hendak ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA Tia dan suaminya. Clara tidak bisa membendung rasa penasaran ini. Dia ingin segera mengetahui semuanya dengan jelas. Supaya tahu langkah apa yang harus diambil.


"Boleh, Ma. Tapi jangan lama-lama. Kasihan cucunya. Dia kan, lengket banget sama Mama." Maksud Gunawan adalah anaknya Sinta. Bayi mungil itu sangat dekat dengan Clara, bahkan selalu tidak mau berpisah dan rewel bila sehari saja tidak ditemani sang nenek.


Clara terkekeh. "Iya, Pa. Sip. Aku paham."


Setelah suaminya berangkat bekerja, Clara pun segera bersiap-siap. Dia tidak mau membuang-buang waktu. Kalau bisa, hari ini Clara harus mendapatkan jawaban untuk segala kegundahannya. Dia muak selalu dihantui rasa ingin tahu dan penasaran. Hatinya selalu sakit setiap kali memikirkan kalau Tia adalah anaknya Gunawan. Semoga saja firasatnya keliru.


"Ma, mau ke mana?" tanya Sinta sembari menggendong anaknya yang sintal dan menggemaskan.


"Mama ada urusan sebentar, Sayang. Tapi tidak akan lama. Selesai nanti, Mama akan langsung pulang." Clara tampak sibuk memoleskan riasan ke wajahnya.


Setelah rapi, Clara pun mengutak atik ponselnya untuk memesan taksi lalu berpamitan kepada sang cucu. Clara langsung menaiki taksi setelah menghujami wajah cucunya dengan kecupan.


Clara tengah berada di rumah sakit. Berbekal dari rambut Tia yang ia ambil saat mitoni kemarin, dia mendatangi gedung tersebut untuk melakukan tes DNA.


Clara berkonsultasi dulu dengan pihak medis terkait. Tenaga kesehatan itu menjelaskan prosedur administrasi serta proses tes DNA yang ternyata memakan waktu dua minggu. Itu artinya Clara harus benar-benar sabar menunggu.


Sial! Dia kira akan selesai dalam dua sampai tiga hari ke depan, ternyata tes DNA serumit itu, bahkan lumayan lama. Clara sangat jengkel,Clara tidak suka menunggu. Namun dia juga tidak memiliki opsi lain. Ini merupakan cara terbaik untuk menjawab semua pertanyaan di kepalanya.


Setelah melunasi pembayaran sebesar sepuluh juta, tes DNA pun bisa segera dilaksanakan. Clara segera pulang mengingat sang cucu sudah menunggunya. Dengan menaiki kuda besinya, Clara meninggalkan rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Dia sudah rindu dengan sang cucu.


Di jalan Clara ditelpon oleh suaminya. "Ma, mama sudah pulang?" suara Gunawan nyaring terdengar di ponsel Clara.


"Aku sudah di rumah, Pa. Ada apa?" jawab Clara.


"Aku pengin makan siang di rumah bareng kamu dan Sinta. Aku ingin memakan Risotto buatanmu. Tiba-tiba aku kangen banget makan Risottomu." Suara Gunawan menjamah rungu Clara.


Clara tersenyum tipis. Hatinya senang mendengar perkataan sang suami dan membuatnya ingin terbang, dia pun langsung menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai di rumah.


"Setelah dua Minggu nanti aku akan tahu semua rahasia mu, Mas. Sekarang ini aku akan menjadi istri yang baik untukmu," Clara tersenyum menyeringai.


Tidak berapa lama kemudian, mobil Clara sampai di halaman rumahnya.


Dilihatnya sang cucu masih tidur dalam keranjang tidurnya bersama sang pengasuh. Rupanya Sinta sudah berangkat ke kantor. Memang Singa masih belum bisa datang pagi ke kantor dikarenakan harus mengurus anaknya terlebih dahulu.


Clara bergegas memasak masakan yang suaminya inginkan, dia tidak ingin terlihat begitu mencurigakan hingga Gunawan akan tahu kalau dirinya sedang menyelidiki hubungan Gunawan dan Tia.


***


Jam makan siang pun datang.


Tiin ... Tiin ...


Suara mobil Gunawan memasuki halaman rumah Clara. Clara tersenyum karena sang suami benar-benar pulang.


"Baiklah, Pa. Silakan menikmati semua yang aku hidangkan selagi kau bisa menikmatinya. Setelah dua minggu aku akan segera mengusir mu jika benar Tia adalah anakmu!" ujar Clara di dalam hatinya.


"Assalamualaikum," sapa Gunawan masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikum salam," jawab Clara.


Clara menyambut kedatangan suami dengan senyum yang merekah, dia tidak menunjukkan kalau sedang merasa geram dengan sang suami.


"Semua sudah aku masak untuk mu, Pa. Ayo kita ke meja makan. Papa tentunya sudah lapar bukan?" ajak Clara dengan manis.


Gunawan tersenyum, dia mengikuti sang istri menuju ke meja makan. Setelah mencuci tangan, Gunawan duduk di kursi, menunggu Clara mengambilkan nasi untuknya.


"Sungguh lezat masakanmu, Clara. Hal inilah yang selalu membuatku ingin makan siang di rumah," tegas Gunawan. Dia memang sangat menyukai masakan sang istri.


"Terima kasih, Pa. Selama papa menjadi suami mama maka tiap hari pasti mama memasak untuk papa. Untuk itu jangan sampai papa berkhianat pada mama, karena papa pasti tahu mama sangat benci dengan pengkhianat. Bagi mama pengkhianat tidak ada tempat lagi di rumah ini!" Clara berkata dengan tegas.


Glek!


Gunawan menelan kasar ludahnya mendengar kata-kata sang istri yang begitu ringan tapi sangat menusuk. Memang Clara adalah sosok yang anti pada pengkhianatan.


"I ... Iya, Mah. Papa tahu," jawab Gunawan dengan gugup tapi segera ia tutupi dengan sibuk mengunyah makanan.


Clara meletakkan sendoknya, dia tersenyum sinis ke arah sang suami. Dia tahu, saat ini pasti Gunawan sedang gugup.


****


Sementara itu di rumah Tia, siang yang indah begitu indah berubah menjadi mendung. Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Tia yang berasal dari Ridho. Entah mengapa tiba-tiba Ridho menghubungi Tia lagi setelah lama tidak ada kontak di antara mereka berdua semenjak perceraian mereka.



Tia dengan tangan gemetar memang ponselnya. Dia bingung apakah akan membaca pesan tersebut atau tidak. Peristiwa di kafe itu ternyata masih berlanjut juga. Ridho tidak mau melepaskan Tia begitu saja.



Sambil memegangi ponselnya, Tia berjalan mondar-mandir di depan tempat tidurnya. Beruntung Hans sudah berangkat ke kantor lagi tadi.



Ting ...



Sebuah pesan masuk lagi ke nomer Tia.