
Hans baru pulang kerja dan dia sedang bermain dengan bayi mungilnya. Rasa lelah hilang seketika jika ia menatap wajah damai milik anaknya itu. Sementara Yuni sendiri membiarkan tuannya bermain dengan anak majikannya dan ia memutuskan untuk meninggalkan ayah dan anak itu sendirian.
Hans sibuk mengecup pipi milik anaknya, rasanya ia sangat gemas jika dihadapkan dengan anaknya. Tia sendiri belum pulang, entah kemana dia pergi ia tak tahu. Tapi tadi baby sitter mengatakan istrinya itu sedang belanja ke supermarket. Untung saja anaknya itu tidak menangis meminta susu dan malah tertawa ketika ia tersenyum ke arahnya.
"Tuan, ini saya buatkan kopi untuk tuan."
Luna duduk bertumpuan lutut supaya mempermudahkan dirinya dalam meletakkan nampan yang bersisi kopi itu. Sementara Hans menatap baby sitter anaknya itu sekilas.
"Ya, letakan saja di sana," jawab Hans.
Luna tidak langsung duduk, ia malah mendekat ke arah Hans. Hans sendiri tidak mempermasalahkan hal itu, mungkin saja dia ingin melihat ia yang sedang bermain dengan anaknya.
"Tuan, itu diapersnya udah penuh. Lebih baik diganti saja diapersnya dengan yang baru, kasihan baby Hasna -nya tuan."
"Benarkah?" tanya Hans tak paham. Jika urusan seperti ini mana paham dirinya.
"Sini tuan, biar saya bawa baby-nya. Tuan boleh ikut saya kalau mau belajar ganti diapersnya buat baby Hasna ."
"Boleh deh," sahut Hans. Tidak ada salahnya juga ia belajar cara mengganti pampers anaknya itu.
Lalu mereka sama-sama berjalan menuju ke tempat khusus di mana bayi kecil ini digantikan Pampers. Bayi itu sudah terletak di atas box bayi, Luna melepaskan pakaian itu dengan sangat hati-hati. Hans menatap apa yang Luna lakukan dengan saksama.
Baunya memang sedikit menyengat, apalagi itu kotoran anak bayi. Luna menyuruh Hans untuk mengambil diaper yang baru. Hans menurutinya, ia merasa tidak terlalu kelihatan. Lalu Luna menyuruh dirinya semakin mendekat dan mengambil alih dalam memasangkan baby diaper.
"Sebelum kita ganti popok bayi, kita harus pastikan tangan kita bersih terlebih dahulu. Setelah itu kita buka Pampersnya dan bersihkan area dengan tisu basah. Sekarang tuan coba pasang diapersnya."
Hans menurut, ia mencoba memasangkan diaper itu. Tapi ternyata sulit, jadi ia dibantu oleh Luna. Luna memegang tangannya supaya ia lebih lahir lagi dalam melakukan ini. Akhirnya baby sudah diganti diapersnya. Setelah itu Hans kembali menggendong anaknya keluar dari tempat ini.
Luna mengikuti langkah Hans dari belakang. Ternyata Hans membawa anaknya ke halaman belakang, Luna sendiri entah mengapa tidak mau pergi. Bahkan sesekali ia menghibur baby yang sedang di gendongan Hans.
"Tuan, tadi saya buatkan kopi untuk tuan. Apakah tuan tidak ingin meminumnya terlebih dahulu? Sebelum dingin," celetuk Luna.
"Bawa ke sini, saya akan meminumnya." Luna menurut, setelah itu ia mengambil kopi untuk Hans.
Tidak butuh waktu lama Luna sudah kembali ke sini, di membawa cangkir yang berisikan kopi untuk Hans. Sementara Hans sendiri sedikit kebingungan bagaimana cara menerima kopi itu, sebab ia tak bisa memegangnya dikarenakan kedua tangannya ia gunakan untuk menumpu bayi kecilnya.
"Gimana saya minumnya, saya nggak bisa pindah tangan saya," ujar Hans.
"Gini saja, saya minum nanti saja. Kamu bisa letakkan kembali di atas meja sana," imbuh Hans.
"Biar saya saja yang bantu tuan minum, lagian nggak enak kalau kopinya dingin. Saya tahu tuan sukanya kopi yang masih panas."
"Tidak perlu, saya tidak mau merepotkan kamu."
"Enggak merepotkan saya sama sekali tuan, malahan saya senang bisa membantu tuan," sahut Luna.
Akhirnya Luna menyuapi Hans dengan kopi buatannya, Hans sendiri membungkukan badanya karena tinggi badannya lebih tinggi dari Luna. Memang Hans sekarang sedang ingin minum kopi, tapi di satu sisi ia tidak mau melepaskan anaknya dari gendongannya.
Maka dari itu dirinya menerima tawaran dari Luna, bahwasanya dia akan membantu dirinya meminum kopi itu. Lagian juga jika kopi itu dingin pasti tidak akan ada yang meminumnya dan berakhir terbuang sia-sia.
Daripada dipikir tidak menghargai buatan salah satu baby sitternya itu, lebih baik dirinya meminum saja tanpa merasa curiga. Hans begitu polos, tidak mengenali wanita yang hanya ingin menggodanya saja.
***
Tia sudah kembali dari supermarket, dirinya membawa beberapa kantong kresek belanjaan. Kali ini dirinya belanja cukup banyak dan beberapa diantaranya adalah kebutuhan buah hatinya sendiri. Setelah itu dirinya langsung menuju ke kamarnya untuk mandi.
Setelah mandi ia langsung menghampiri suaminya yang sedang berada di balkon kamar sembari membaca koran. Dengan membawa camilan di wadah kaca, ia duduk di sebelah suaminya itu.
"Kamu udah pulang dari tadi, mas?" tanya Tia.
Hans menganggukkan kepalanya sekilas. "Iya, Aku sudah pulang dari tadi karena aku pulang lebih awal dari biasanya. Katanya sih 10 menit setelah kamu berangkat aku pulang."
"Aku tadi sih emang agak lama ke supermarketnya, soalnya cari buah sama sayur yang segar-segar buat aku sama baby. Terus kamu main nggak sama baby?"
"Iyalah, aku gendong dia. Terus aku juga gantiin diapersnya. Ternyata emang sulit sih," sahut.
"Iyalah emang sulit, kamu aja yang kira itu mudah. Sampai sekarang juga aku masih belum bisa buat handle Baby sendirian. Karena memang repot banget dan juga Aku juga yakin bisa urus dia dengan baik seperti apa yang Yuni dan Luna lakukan."
"Ya karena mereka harus bisa, ini bagian dari pekerjaan mereka jadi mereka ahli dalam bidang ini. Aku yakin awalnya mereka tidak bisa tapi mereka berusaha dan berlatih dan pada akhirnya mereka bisa merawat anak kita dengan baik." Hans menatap istrinya sekilas.
"Ayam goreng saus asam manis aja, kayaknya aku lagi kepingin makan itu deh. Malam-malam makan itu pasti enak banget."
"Okey deh, nanti aku suruh bibi masakin kamu itu. Kalau aku sih yang penting ada sayurnya sama buah itu aja udah cukup. Oh iya, aku mau cek dedek di kamar. Kayaknya dia habis mandi."
Setelah mendapatkan deheman dari suaminya, Tia keluar dari kamar untuk menemui anaknya. Rindu sekali ia dengan bayi itu, tadi memang sehabis dari supermarket ia memang tidak langsung menemui anaknya. Dikarenakan dirinya kotor sehabis berpergian.
Jadi karena ia tak mau anaknya terkena penyakit dari luar, maka dari itu ia mandi dan membersihkan diri terlebih dahulu. Karena menurutnya kesehatan buah hatinya adalah yang utama dan dirinya tidak akan lalai dengan hal itu.
***
Keesokan harinya suasana di rumah cukup sepi, Tia sendiri menghabiskan waktu di teras depan rumahnya. Suaminya itu sudah berangkat kerja, jadi ia sedang menikmati angin di luar dengan bayinya yang berada di pangkuannya. Tiba-tiba saja Yuni datang menuju ke arah dirinya.
"Mbak istirahat saja, saya masih mau sama anak saya," ujar Tia.
"Nyonya, Sebenarnya saya Kemari bukan ingin mengambil baby. Tapi ada sesuatu yang ingin sekali saya ceritakan kepada nyonya, tapi saya begitu ragu untuk menceritakan hal itu," ujar Yuni.
"Ada apa mbak? Ceritakan saja, saya tidak akan marah kok," sahut Tia.
"Yaudah, kita bicara di balkon kamar saya saja. Saya rasa mbak ingin bicara penting dengan saya," lanjut Tia lagi.
"Maaf nyonya, saya jadi ngerepotin nyonya."
"Enggak apa-apa kok, mbak nggak ngerepotin saya," jawab Tia dengan nada santai.
Setelahnya, kedua orang itu melangkahkan kaki menjauh dari sini menuju ke kamar Tia. Tia membuka pintu dan menyuruh Yuni untuk masuk terlebih dahulu, tapi Yuni merasa tak enak. Tapi Tia memaksa ingin berbicara di balkon kamarnya, lagian jalan menuju ke balkon sendiri tidak langsung lewat ke kasur yang ia tiduri dengan Hans.
Jadi tidak ada salahnya membawa orang lain ke sini, apalagi Yuni adalah orang kepercayaannya dalam menjaga anaknya. Setelah sampai di balkon itu mereka duduk di bangku yang ada di sana, Tia masih belum mengetahui sebenarnya apa yang ingin Yuni ceritakan kepada dirinya. Dari gelagatnya saja sepertinya dia ingin berbicara empat mata dengan dia.
"Nyonya, saya mau mengatakan sesuatu. Tapi di sini saya sama sekali tidak memiliki niatan menuduh atau semacamnya. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu berdasarkan apa yang saya lihat dan saya tidak melebih-lebihkan ataupun mengurangi kejadian yang sebenarnya seperti apa."
"Ada apa sih, mbak? Kok kayaknya serius banget." Tia jadi sedikit tegang dengan arah pembicaraan kali ini.
"Ini nyonya, tentang perilaku Luna selama dia bekerja di sini yang menurut saya mencurigakan."
"Maksudnya bagaimana?" tanya Tia tak mengerti. Sebab tiba-tiba saja Tia mendapat laporan dari Yuni yang katanya tingkah Luna mencurigakan.
"Ini kejadian kemarin, sewaktu Nyonya pergi ke supermarket. Tuan kan pulangnya awal, terus tuan ambil baby dari saya. Katanya dia mau main, saya tentu mengizinkannya. Tapi titik masalahnya bukan berasal dari sana, tapi Luna yang menurut saja sudah kelewat batas."
"Gini mbak, ceritakan kepada saya apa yang terjadi. Pokoknya jangan sampai ada yang ditutup-tutupi dari saya karena mbak itu sudah termasuk dalam jajaran orang kepercayaan saya. Jadi jangan sampai Mbak merusak kepercayaan saya dengan perkataan mbak yang tidak jujur."
"Luna membuatkan kopi kepada tuan, padahal itu tugas bibi selalu ART di sini. Terlihat kalau dia itu mau mendekati Tuan dengan berbagai macam cara. Bahkan waktu itu saya melihat dia bersama dengan Tuan berada di ruangan baby. Entah apa yang mereka lakukan saya juga tidak mengetahuinya. Tidak hanya itu saja, Luna juga menyuapi Tuan kopi buatan dia. Saya berani mengatakan ini dikarenakan ada bibi yang juga ikut menyaksikan kejadian itu."
Tia terdiam, jadi selama ini Luna selalu menarik perhatian Hans, dengan membuatkan kopi? Setelah itu dia mencuri-curi kesempatan supaya bisa dekat dengan Hans? Tia benar-benar terdiam selama beberapa saat, ingin sekali dirinya melihat kebohongan dari wajah Yuni, Tapi sayangnya tidak ada tanda-tanda bahwa pengasuh anaknya itu berbohong.
Akhirnya Tia memanggilnya Bi Inah, menyuruh beliau untuk datang ke sini. Karena dirinya juga tidak bisa mendengarkan sesuatu hanya di satu pihak saja tanpa melibatkan pihak lain. Bukan bermaksud dirinya tidak percaya dengan Yuni, hanya saja ia juga butuh kesaksian dari Bi Inah.
Apalagi Yuni mengatakan bahwa Bi Inah juga tahu masalah itu. Tak butuh waktu lama Bi Inah datang ke sini. Langsung saja Tia menyuruh Bi Inah untuk duduk. Kemarin sewaktu Tia menyuapi Hans, Yuni menyaksikannya langsung dengan mata kepalanya sendiri.
Mumpung hari ini Luna sedang berada di luar rumah jadi mereka berani menyampaikan ini kepada majikan mereka. Mana mungkin mereka berani mengatakan yang sebenarnya jika Luna berada di rumah. Luna tadi ijin kepada Tia bahwa dia akan membeli perlengkapan pribadi. Tentu saja Tia mengizinkannya.
"Bik Inah, tadi Mbak Yuni mengatakan kepada saya kalau tingkah laku Luna selama ini mencurigakan. Apakah benar apa yang Mbak Yuni katakan?"
Bi Inah menganggukkan kepalanya pelan. "Benar nyonya, kemarin juga saya melihat dia lagi cari perhatian sama Tuan Hans yang sedang main-main sama baby. Pertama kali melihat juga pasti orang lain akan berpikiran yang sama dengan kami. Jujur saja jika tingkah laku dia ketika ada berada di rumah dan tidak berada di rumah sangat berbeda."
"Pernah saya melihat dia melakukan telefon ketika rumah sedang tidak ada orang. Selama ini kita mengenal dia sosok yang baik hati dan juga murah senyum. Tapi waktu dia berteleponan dengan seseorang itu saya merasa sosok Luna yang saya kenal hilang seketika."
Ternyata Bi Inah juga pernah melihat Luna sedang menghubungi seseorang dengan nada pembicaraan yang aneh. Dua orang memiliki kesaksian yang sama, tidak menyangka jika Luna berani melakukan itu. Bahkan di acara terang-terangan menggoda suaminya di rumah ini. Ia berpikir Luna itu hanya akan fokus bekerja untuk menyambung kehidupan dia.
Tapi dugaannya sangat salah besar dan dari mana dia memiliki pemikiran untuk menggoda suaminya. Padahal dia sudah tahu dirinya dan Hans sudah memiliki anak. Dia juga ia terima kerja di sini, pekerjaannya tidak terlalu berat, dan bahkan jika dia ingin mengambil cuti langsung dirinya ijinkan karena tidak mau orang-orang yang bekerja di bawahnya merasa tertekan.
Tapi ternyata ini balasan yang dia berikan kepada dirinya. Bi Inah adalah orang yang paling tua di sini, tidak mungkin juga dia berbohong hanya demi keuntungan pribadi saja. Kemarin dia melihat noda bekas seperti ampas kopi di kerah kemeja suaminya. Kemarin sendiri dirinya berpikir itu kotor karena terkena sesuatu.
Tapi ternyata kotor karena sehabis disuapi oleh Luna. Tia menghela nafas pelan, tentu saja dirinya masih sangat sakit hati karena orang yang telah merawat anaknya menghianati dan menusuk dirinya dari belakang.
"Ya sudah, Bi, Mbak. Kalian bisa lanjut bekerja dan nanti saya akan menyelidiki ini. Saya juga tidak bisa langsung percaya kepada kalian sebelum saya melihat faktanya secara langsung seperti apa. Mbak sama bibi tenang saja, Saya tidak akan memberitahu kepada Luna bahwa kalian yang telah memberitahu ini kepada saya."
"Terimakasih nyonya."
Bi Inah dan Yuni pergi dari tempat itu membiarkan Nyonya mereka sendirian. Yang jelas mereka sudah memberitahu apa yang mereka lihat. Mereka juga tidak ingin rumah tangga Hans dan Tia kacau balau. Apalagi hanya karena ulah Luna.