
Sinta memulai menuruti apa yang diinginkan oleh Laras. Dengan senyum angkuhnya Laras meminta para anak buahnya untuk merekam apa yang dijatakan oleh Sinta.
Apa yang dikatakan oleh Laras teryata dusta belaka. Laras bilang kalau hanya akan direkam, akan tetapi kenyataannya Laras melakukan siaran langsung yang diunggah di sosial media.
Tia yang sedang duduk bersantai dengan Hans menonton televisi pun dibuat terkejut.
"Mas, lihat! Bukankah itu Sinta? Apa yang dia lakukan?! Astaghfirullahal Adziim ...!" pekik Tia sambil menutup mulutnya.
Hans pun tercengang tidak percaya kalau Sinta bisa masuk berita.
"Benar, Sayang. Itu adalah Sinta. Dan apa itu, dia adalah Pelakor dan saat ini sedang mengakui kalau dirinya adalah Pelakor! Sungguh memalukan!" geram Hans tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Sinta.
"Apa yang dilakukan Sinta sungguh memalukan. Jika ayah tahu maka dia pasti akan syok!" ucap Tia dengan geram.
"Sayang ... Bukankah itu Ayah Gunawan?"
"Dimana, Mas?!"
"Itu ... Di belakang Sinta. Bukankah itu ayah Gunawan?" jawab Hans sambil menunjuk ke layar televisi.
"Mana, Mas?" tanya Tia dengan panik. Dia takut jika sang ayah juga ikut viral. Jika hal itu terjadi maka sudah tentu nama baik perusahaan Gunawan akan terancam.
"Itu, Sayang. Di bangku belakang. Bukankah itu ayah Gunawan?" ungkap Hans.
"Benar itu ayah. Aku harus segera menghubungi ayah, sepertinya ayah tidak tahu jika Sinta jadi berita viral.
"Benar, Sayang. Ayah sepertinya tidak tahu kalau Sinta masuk ke berita televisi. Kamu harus segera menghubungi ayah!" tegas Hans mendukung tindakan Seina yang menghubungi ayahnya.
Tuuut ....
Tuuut ....
"Wa'alaikum salam, Tia. Ada apa, Nak?"
"Ayah ... Sekarang ayah lebih baik cepat keluar dari restoran itu! Cepat, Ayah!" teriak Tia dengan nada panik.
"Ada apa, Tia? Kenapa ayah harus keluar dari sini?" tanya Gunawan yang tidak tahu apa yang terjadi.
"Ayah ... wanita yang ada di depan ayah itu sedang melakukan Siarang langsung yang disiarkan di televisi!"
"Apa?!"
"Iya, Ayah!! Ayah lihat saja!" Tia mengarahkan ponselnya ke arah terlevisi.
"Astaghfirullahal Adziim ...! Baiklah, Tia. Terimakasih dan sampai ketemu lagi di rumah," ucap Gunawan menutup teleponnya.
"Alhamdulillah, ayah sudah tahu. Minim ayah akan mengambil tindakan pada Sinta," ucap Tia bersyukur.
"Alhamdulillah, Sayang. Untung kita tadi melihat berita dulu, bukan sinetron kesayangan mu," canda Hans mencubit hidung sang istri yang sedang hamil itu.
"Iya, Mas. Sang baby sedang ingin melihat berita saja," jawab Tia tersenyum kecut. Sudah menjadi kebiasaan Tia yang suka menonton sinetron televisi.
"Hmm ... Kasihan si kecil selalu jadi kambing hitam. Sebenarnya itu keinginan ibu atau anaknya sih?" tanya Hans menggoda sang istri.
Tia salah tingkah, dia sendiri juga bingung membedakan apakah itu keinginan bayi yang dikandungnya atau keinginannya sendiri.
"Mas, capek ... Tia tidur dulu ya," ucap Tia menutupi rasa malunya.
Sementara itu di restoran, Gunawan tidak bisa menahan amarahnya lagi dia bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Sinta.
"Maaf, semua nya. Maafkan saya jika saya potong. Ijinkan saya memberikan sedikit informasi. Bagi yang mengenal Sinta, di sini saya umumkan bahwa saya dan Sinta bukanlah seperti yang diberitakan. Sinta bukanlah anak kandung saya. Jadi, jangan hubungkan apapun semua tentang Sinta dengan saya dan juga perusahaan saya. Sekian dan Terimakasih." Gunawan seketika meninggalkan Sinta yang terkejut dengan kedatangan sang ayah.