
Tia melangkah masuk ke dalam lift khusus untuk pemilik perusahaan. Sesekali Tia merapikan jilbab dan pakaiannya agar terlihat rapi dan tidak memalukan.
Ting ....
Suara lift terbuka, gegas Tia melangkahkan kakinya menuju ke ruangan sang suami.
"Selamat siang, Bu?" sapa sang sekretaris Hans dengan ramah, namun ada rona terkejut tercetak indah di wajahnya.
"Selamat Siang, Vera. Apa bapak ada di dalam?" tanya Tia dengan senyum ramah khas seorang istri pemilik perusahaan.
"A ... Ada, Bu. Tapi ...." Kata-kata Vera terputus karena tenggorokannya tercekat, seperti ada sesuatu yang akan dikatakan, akan tetapi takut dikeluarkan.
"Ada apa, Vera?" tanya Tia dengan alis yang bertaut menjadi satu.
"Tidak ada apa-apa, Bu. Hanya saja, Pak Hans sedang ada tamu dari luar negeri," ucap Vera menunduk. Tidak biasa wanita yang sudah lama mendampingi suami Tia itu bertingkah seperti menyembunyikan sesuatu.
"Kau tidak sedang berbohong kan?" tanya Tia pada Vera.
"Maksud, Ibu?" Vera masih bersikukuh untuk tidak terpancing apa yang dituduhkan Tia padanya.
"Vera, kamu tidak pandai menyembunyikan kebohongan apapun dari saya. Kita sudah kenal lama, dan bukan hanya sekali dua kali kita bertemu, sering malahan. Jadi saya tahu bagaimana saat kau sedang berkata jujur dan sedang menyembunyikan sesuatu, Vera! Cepat katakan ada siapa di dalam?" seru Tia dengan nada yang semakin meninggi. Dia curiga jika Vera menyembunyikan siapa yang datang menemui suaminya dan ditutupi dari diri Tia.
Wajah Vera terlihat memucat, dia tidak bisa lagi menghindar. Vera akui memang selama ini Tida dan dirinya sangat dekat.
Melihat Vera seperti itu, Tia melangkah pergi meninggalkan diri Vera yang terbengong.
"Bu ... Tunggu! Jangan masuk!" cegah Vera mengejar Tia yang melangkah dengan cepat. Diri Tia sudah diselimuti pikiran negatif.
Vera tertinggal oleh langkah Tia yang cepat karena terbakar emosi. Tia sudah dahuluan sampai di depan ruangan Hans.
Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Tia masuk begitu saja.
"Mas Hans!!" pekik Tia terkejut. Hans yang melihat kedatangan Tia tiba-tiba juga terkejut.
"Kamu ... Cepat pergi dari sini! Sudah berulang kali saya katakan untuk tidak kembali ke kantor ini lagi, saya tidak mau menjalin kerjasama dengan klien macam Anda!" Hans beranjak dari tubuh seorang wanita bule yang sangat cantik.
Hans panik saat Tia datang tepat di situasi dan waktu yang tidak tepat. Tia menutup mulutnya saat tidak percaya apa yang telah ia lihat. Hans berada di atas tubuh seorang wanita yang memakai jas dan rok sepan pendek.
"Maaas ..?!"
"Honey, why you so angry. Bukankah kau sendiri yang menginginkan aku datang?!" ucap wanita itu menambah panasnya hati Tia.
"Shutt up! Diam lah kau! Cepat kau pergi dari sini sebelum aku panggil security!" teriak Hans murka.
"It's so okey, Honey. Tapi jangan marah -marah seperti itu hanya karena istrimu datang!" ucap gadis bule itu dengan mengedipkan matanya genit. Dia adalah klien Hans yang berasal dari luar negri. Dia masih nekat juga dan tidak menyerah untuk bisa bekerjasama dengan perusahaan Hans.
"Merlyn, please! Jangan menebar fitnah! Beratus kali aku bilang kalau perusahaan ku tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan mu, kamu tidak tuli kan?!" hardik Hans yang sangat kesal dengan perbuatan wanita bule satu itu.
Sosok wanita berambut pirang, berhidung mancung, dan memiliki mata berwarna biru itu. Merlyn adalah teman Hans semasa masa kuliah S2 di Inggris.
Hans menghampiri sang istri yang diam mematung. Tia hanya menatap kosong adegan yang terjadi saat ini. Trauma dikhianati kembali berkelebat di dalam benaknya.
"Sayang, mas mohon jangan salah paham. Semua ini tidak seperti yang kamu kira, dia hanyalah klien yang aku tolak kerja samanya. Tapi dia begitu nekat dan karena tidak aku tanggapi, dia memaksa datang ke kantor," jelas Hans berusaha membuat Tia mau mengerti dan tidak salah paham akan apa yang telah ia lihat.
Kata-kata Hans, mengingatkan diri Tia akan pengkhianatan Ridho dengan kakaknya -- Wulan.
"Maaf, Mas. Permisi," ucap Tia tanpa menatap ke arah Hans. Tia berlalu begitu saja, meninggalkan Hans di ruangan itu bersama wanita bule tadi.
"Tiaa ... Tungguu ...!" Hans mengejar Tia akan tetapi belum sampai di depan pintu, Merlyn menghadangnya agar tidak bisa keluar.
"Tuan Hans, kita belum selesai lho membicarakan tentang bisnis kita!" ucap Merlyn dengan merentangkan tangan agar Hans tidak bisa keluar.
"Minggir, Kau!" Hans menarik tubuh Merlyn agar minggir dari depan pintu. Namun Merlyn bergeming, tidak membiarkan Hans keluar dari ruangannya untuk menyusul Tia.