Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 82


Tia kembali berkutat di dapur, melakukan rutinitasnya sebagai seorang istri dan ibu. Menyiapkan makan malam untuk keluarga kecilnya, di bantu Bik Inah dan Mbak Yuni.


"Hasan, Hasna ... dimana papa kalian?" tanya Tia pada kedua anaknya yang sudah duduk manis didepan meja makan.


"Mungkin masih di kamar, Ma. Hasna belum liat Papa sejak pagi." sahut Hasna, memang sejak Hans berangkat dan pulang bekerja Hasan dan Hasna belum menemui Papa nya, mengingat saat siang hari Tia menyuruh nya tidur.


"Yasudah, kalau gitu nanti Mama panggil." ucap Tia sambil menata piring untuk Hans, ia akan memanggil suaminya nanti ketika semua sajian makanan sudah siap.


"Mama malam ini masak sup ayam sama capcay, semuanya sayur?" ujar Hasan saat menyadari makanan yang di sajikan sang ibu.


"Iya, Hasan suka sup ayam bukan?" tanya Tia seraya mengusap lembut puncak kepala Hasan.


"Tadinya Hasan ingin makan ayam gulai." guman Hasan dengan seulas senyuman.


"Kak Hasan sejak sembuh dari sakit jadi banyak makan!" celoteh Hasna menyindir sang kakak.


"Bagus dong, berarti tenggorokan kak Hasan udah gak sakit lagi kan. Hasan sama Hasna makan yang banyak ya, Mama mau panggil Papa dulu." Tia mendorong kursi yang diduduki nya kebelakang, melangkah menuju kamar nya bersama Hans.


"Mas," Tia menekan handle pintu dan memasuki kamar memanggil Hans, suaminya baru selesai dari kegiatan mandinya.


"Mas, ayo kita makan malam." ajak Tia menggandeng lengan Hans.


"Ayo, sayang. Mas juga sudah lapar." ucap Hans balas merangkul pinggang Tia.


"Waduh mesra sekali Nyonya dan Tuan," ujar Bik Inah saat melihat majikannya bergandengan tangan, Hans hanya menampilkan senyum nya saat Bik Inah menggoda dirinya dan Tia.


Bik Inah tengah menata piring dan menaruh nasi yang sudah di siapkan didalam wadah, Mbak Yuni juga menuangkan jus alpukat kedalam gelas Hasan karena anak majikannya itu meminta di buatkan dan saat kesehatan nya pulih Hasan lebih banyak makan.


Hans dan Tia duduk berdampingan, tepat di depan Hasan dan Hasna. Bik Inah dan Mbak Yuni pamit kembali ke dapur.


"Mas mau capcay nya?" tanya Tia menyendokkan nasi kedalam piring suaminya, Hans membalas dengan anggukan kepala.


"Hasan kalau mau ayam gulai, besok Mama atau Bik Inah yang buatkan ya," ujar Tia sambil menuangkan air putih ke gelas Hasan dan Hasna.


"Hasan sudah sembuh, Nak?" Hans menempelkan telapak tanggan di kening Hasan mengecek suhu tubuh sang anak.


"Udah, Pa. Hasan juga mulai enak makan." sahut Hasan menyuapkan nasi kedalaman mulut nya.


"Anak jagoan." Hans memuji Hasan dengan lahap memakan masakan yang di buat Tia.


Tidak ada lagi percakapan di meja makan, semuanya fokus pada makanan nya masing-masing.


Tia senang melihat interaksi keluarganya, ia bersyukur memiliki suami dan anak-anak yang menyayanginya. Tia akan menjaga suami dan anak-anak nya terutama dari orang yang ingin menghancurkan keharmonisan di dalam keluarga kecilnya.


Setelah selesai dengan acara makan malam, Tia menyuruh Hasan dan Hasna kembali ke dalam kamarnya masing-masing. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam dan artinya mereka harus beristirahat untuk menyambut hari esok.


Tia mendudukan dirinya di tepi kasur, Hans menghampiri sang istri saat menyadari Tia tengah melamun.


"Sayang, kamu mikirin apa. Kenapa melamun?" tanya Hans ikut mendudukkan dirinya disampingnya Tia.


"Sayang?!" panggil Hans sambil menyentuh lengan Tia.


Tia tersadar dari lamunannya, dia mendongak kesamping menatap Hans. "Kenapa mas?"


Hans mengerutkan keningnya, "Kamu yang kenapa, tadi aku tanya diam aja?" tanya Hans melihat raut gelisah dari wajah Tia.


"Aku gak apa-apa, oh iya mas. Tadi siang aku periksa kandungan." Imbuh Tia.


"Benarkah … sama siapa? Kenapa gak tunggu mas pulang kerja, atau kabari mas. Kan mas bisa tunda kerja dulu antar kamu cek kandungan."


"Aku tidak enak kalau harus ganggu pekerjaan kamu, tadi juga aku ke rumah sakit naik Taxi." ucap Tia sambil menyenderkan kepalanya di pundak Hans.


"Jadi apa kata dokter, bagaimana perkembangan calon anak mas di dalam sana." tanya Hans dengan mata berbinar mengusap lembut perut Tia.


"Oh, iya mas. Sudah dua kali aku melihat Cloe di rumah sakit, pertama saat aku membawa Hasan berobat dan kedua kalinya saat aku periksa kandungan tadi." Tia menceritakan kejadian ketika dirinya melihat Cloe saat di rumah sakit masuk kedalam ruangan tapi dia tidak tahu ruangan apa itu.


"Mungkin menjenguk, atau Cloe yang memang sakit." ucap Hans mencoba mereda rasa gelisah istrinya, karena di rumah sakit siapapun akan berkunjung jika merasakan tidak enak badan.


"Mungkin saja, Mas," jawab Tia menghela nafas.


"Ayo tidur." Hans menyuruh sang istri segera tidur dan beristirahat, sebelumnya ia mencium kening Tia cukup lama dan mengelus puncak kepala sang istri. Setelahnya menyelimuti tubuh Tia dan keduanya terlelab dalam mimpi.


***


Malam berganti pagi, Tia kembali di sibukkan dengan kegiatan paginya. Melayani Hans yang hendak berangkat bekerja dan menyiapkan sarapan seperti biasa.


Kegiatan hariannya setelah melayani suami dan anak, Tia menyempatkan menghibur diri menonton televisi di ruang keluarga.


"Aku masih penasaran, kenapa Cloe ada di rumah sakit ya. Apa benar dia sedang sakit, atau menjenguk seseorang, seperti apa yang mas Hans katakan." gumam Tia tampak berpikir, sejujurnya Tia merasakan keganjalan. Untuk apa sekretaris Merlyn itu selalu mendatangi ruang yang bahkan Tia tidak melihat adanya papan nama di pintu ruangan itu.


"Apa Cloe menemui dokter spesialis di ruangan itu ya?" gumam Tia lagi sambil meneguk tandas susu hamil buatannya.


Tia menatap arah jam dinding berhenti, dia hendak kembali ke rumah sakit itu mencari tahu kecurigaan nya selama ini pada Cloe. Kebetulan susu hamil yang biasa Tia konsumsi sudah hampir habis, ia akan singgah sebentar ke loket apotek.


Ibu dari dua anak itu bangkit dari duduknya, hendak mengambil kunci mobil. Kali ini Tia akan membawa mobil dan menyetir sendiri agar leluasa mengikuti Cloe jika ia bertemu dengannya lagi.


"Mbak Yuni nanti kalau anak-anak cari saya bilang aja, saya ke apotek sebentar mau beli susu. Soalnya persediaan di rumah sudah habis." pesan Tia pada Mbak Yuni yang kebetulan sedang menyirami tanaman di halam depan.


"Iya, Nyonya, nanti saya sampaikan ke Non Hasna dan Den Hasan." sahut Mbak Yuni.


"Nyonya nyetir sendiri?" tanya Mbak Yuni saat menyadari Tia hendak mengeluarkan mobil pribadi nya.


"Iya, mlMbak, saya juga mau sekalian belanja bulanan untuk stok di rumah." jawab Tia diberi anggukan oleh Mbak Yuni dan dipersilahkan.


Tidak butuh waktu lama, kini mobil yang dikendarai Tia sudah terparkir dengan rapih di area parkir rumah sakit. Tia segera keluar dari mobil untuk mencari ruangan yang sebelumnya pernah di datangi oleh Cloe, Tia berharap melihat wanita itu lagi di rumah sakit ini agar rasa penasaran cepat terselesaikan.


Tia berjalan menyusuri koridor rumah sakit sampai langkahnya terhenti cukup jauh dari jarak antara dirinya berdiri dan ruangan itu.


Tia melangkahkan lebih dekat pada ruangan yang selalu menjadi pertanyaannya saat Cloe memasuki tempat itu, berdiri tepat di depan pintu. Tia berniat masuk kedalam tapi dia urungkan.


"Sopan tidak ya kalau aku masuk ke dalam dan bertanya, tapi aku benar-benar penasaran kenapa kedua kalinya selalu bertemu Cloe di rumah sakit?" gumam Tia menatap lurus pintu di hadapannya, tangan nya hendak menyentuh handle pintu.


Tia mengalihkan pandangan nya kesamping, netranya melihat seorang suster tengah mendorong kursi roda kosong.


"Permisi, Suster." panggil Tia saat suster itu melewatinya.


"Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya suster tersenyum ramah.


"Saya mau tanya, Sus, ruangan ini ruang apa ya. Soalnya tidak ada papan nama yang tertera." tanya Tia menunjuk pintu polos dihadapan.


Suster itu memandang sekilas pintu bercat putih polos, dan tersenyum kembali kepada Tia. "Itu ruang konsul psikiater, Bu."


Tia membulatkan matanya mendengar pernyataan dari suster itu, tidak percaya saat dirinya melihat Cloe memasuki tempat itu bukan hanya sekali.


"Kalau boleh tau, kenapa tidak ada papan mamanya ya sus?" tanya Tia lagi memastikan, takut kalau suster ini salah memberi informasi tentang ruangan ini. Karena tidak mungkin tiap ruang periksa tidak di beri papan nama di atas pintu nya.


"Memang sengaja tidak kami kasih papan nama karena kebijakan dari rumah sakit ini kepada spesialis psikiater pindahan dari rumah sakit jiwa, karena terjadi suatu tragedi di rumah sakit itu membuat beberapa psikiater di sana di pindahkan sementara ke rumah sakit ini." suster itu menjelaskan secara gamblang, meski tidak sepenuhnya menjawab rasa penasaran Tia, setidaknya ia tahu sedikit informasi.


"Oh, gitu ya, Sus. Terimakasih."


"Sama-sama, Bu. Kalau gitu saya permisi." pamit suster itu lalu melanjutkan jalannya.


"Untuk apa Cloe ke psikiater?" ucap Tia dalam hati, rasa penasaran nya pada Cloe semakin dalam.