Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 36


Bab 36.


Tia masih menunggu jawaban dari Hans. Berharap akan mendapat solusi dari Hans.



"Tia jangan khawatir, pakailah uangku dulu, jangan ambil uang modal usaha. Itu tidak baik, karena pamali. Kita harus menyisakan walaupun hanya sedikit modal yang ada, kita tidak boleh menghabiskan semua modal. Percayalah, kakak ikhlas membantumu, Tia," ucap Hans dengan senyum hangatnya.



Tia tertegun mendengar jawaban lelaki yang dulu menjadi kakak iparnya itu.Tia heran mengapa kakak perempuannya menceraikan lelaki sebaik Hans.



Hans dan Tia saling menatap, sejurus kemudian mereka saling menunduk. Suasana mendadak menjadi canggung. Keduanya merasa ada yang menggerakkan hati mereka untuk saling mendekat.



"Tia, besok kita menikah. Masa Iddah mu telah usai. Aku harap kita bisa membina mahligai rumah tangga yang sesungguhnya. Semoga pernikahan kita yang untuk kedua kali adalah pernikahan terakhir," ucap Hans memegang jemari Tia dengan lembutnya.



Tia mengambil napas dalam-dalam, hati dan pikirannya seolah bersatu untuk menerima Hans sebagai suami keduanya. Tia pun berpikir ini adalah jawaban dari doa-doanya. Dipertemukan dengan lelaki yang baik untuk menjadi imamnya.



"Bismillah, Mas. Aku terima lamaranmu. Semoga ini yang terbaik untuk kita berdua," ucap Tia dengan tersenyum.



Hans karena bahagia yang dirasakannya, dia tanpa sadar memeluk Tia.



"Terima kasih, Tia. Terima kasih. Aku berjanji akan membuatmu bahagia, kita akan bersama mengarungi indahnya bahtera rumah tangga," ucap Hans lagi.



Deg ... Deg ...


Jantung Tia berdetak kencang, sudah lama dia tidak dipeluk oleh lelaki. Ridho yang menjadi suaminya hanya memeluk saat awal nikah saja. Itu pun terjadi saat ijab kabul terucap dari bibir Ridho.


"Kak ... sudah, malu jika ada suster yang masuk," ucap Tia mengurai pelukan Hans.



"Ah, maaf, Tia. Aku tidak bermaksud untuk bersikap kurang ajar, tapi aku tidak tahu mengapa, mungkin karena aku sedang merasa bahagia," ucap Hans menggaruk kepalanya yang tidak gatal.



"Sudahlah, Kak. Ayo kita berkemas. Ibu pasti sudah lama menunggu kita," ucap Tia mengingatkan Hans.



"Oh, iya. Apa kau membawa baju ganti ku?" tanya Hans pada Tia.




"Terima kasih, Tia. Aku berhutang banyak padamu. Berkat kau nyawaku bisa diselamatkan. Memang benar kata ibu, kau adalah wanita pilihan dari Allah untukku. Aku sudah tidak sabar lagi untuk menikahinya secara resmi," kata Hans.



Rona pipi Tia sudah berganti warna bersemu merah. Wajah yang belum terkena make up sama sekali itu malu mendengar apa yang dikatakan oleh Hans.



"Sudahlah, Kak. Ayo kita pulang, jangan ngegombal terus," balas Tia dengan menahan debar di dadanya.



Keduanya pun keluar dari kamar dan menuju ruang administrasi. Setelah semua urusan selesai, Hans dan Tia pun pulang menuju rumah Hans.



"Tia, konsep pernikahan seperti apa yang kau inginkan?" tanya Hans memecah keheningan di dalam mobil itu.



Tia menoleh ke arah Hans. Baru pertama kali dirinya dimintai pendapat tentang satu hal. Sejurus kemudian, Tia kembali menatap Hans dalam diamnya. Sebagai seorang wanita jika ditanya hal apa yang dia inginkan, pastilah bingung sendiri.



" ...."



"Tia ... Katakan pernikahan kita akan seperti apa?" Hans mengulang pertanyaannya.



"Maaf, Kak. Tia hanya pasrah pada keputusan kakak. Apapun konsepnya Tia ikut aja," ucap Tia tersenyum.



Hans kagum pada sosok Tia, di mana setiap wanita ingin yang termewah di acara pernikahannya, Tia hanya pasrah saja.



"Tenang, Tia. Aku berjanji akan menggelar pernikahan termewah yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu. Bahkan aku jamin akan lebih besar dan mewah dibanding dengan pesta pernikahan Wulan dan Ridho. Aku akan berusaha menjadikanmu ratu di dalam istanaku," ucap Hans di dalam hatinya.


Mobil terus melaju menuju rumah Hans, sementara itu Wulan mendatangi arisan sosialitanya. Baru saja datang, perut Wulan terasa sakit.


"Jeng Wulan, kamu sakit?" tanya Cyndi teman sosialitanya.



Wulan berupaya tidak menunjukkan sakit, dia hanya meringis saja.