
Bab. 41
Sore itu Hasna dan Devi masak bersama. Aroma harum masakan Devi menggoda Aris. Setelah selesai mandi Aris pun menuju ke dapur. Dilihatnya sang istri menggoreng telur di atas penggorengan.
"Hmm ... Harum sekali masakan istri cantikku ini. Sedang bikin lauk apa sih?" tanya Aris sambil memeluk Devi dari belakang. Seperti adegan romantis dalam sebuah film, di mana sang pemeran pria memeluk sang pemeran wanita saat sedang memasak.
"Mmm ... Mas, tolong lepaskan ini tidak baik!" sergah Devi berusaha melepaskan dirinya dari tangan kekar sang suami yang melingkar di pinggangnya.
"Kenapa, Sayang? Kita kan sudah sah menjadi suami istri dan kita tidak melakukan hal yang dilanggar oleh agama," tolak Aris merebahkan kepalanya di bahu sang istri.
"Mas ... Bukan masalah itu mas, tapi tolong berbaliklah ke belakang," ucap Devi meminta Aris untuk berbalik ke belakang.
Aris pun menuruti keinginan sang istri, dan alangkah terkejutnya ketika tubuhnya sudah berbalik.
"Astaghfirullah ... Hasna? Sejak kapan kamu ada di belakang situ?"
"Sejak awal Tante ajak Hasna masak, Om," jawab Hasna polos dengan senyum yang menampakkan deretan giginya yang putih.
Glek!
Aris lupa jika di rumah ini ada makhluk kecil yang siap melihat semua adegan mesranya dengan sang istri.
"Mm ... Maaf, Hasna ... Om gak bermaksud ...."
"Tidak apa-apa, Om. Hasna juga sering melihat papa memeluk mama," ucap Hasna polos.
"Benarkah?!" ucap Aris dan Devi kompak. Keduanya menatap serius ke arah Hasna. Ternyata kakak dan kakak ipar Aris sering melakukan hal mesra di hadapan anaknya.
"Iya, Tante, om ... Hasna suka lihat papa dan mama gak pernah bertengkar di depan Hasna, gak seperti mama dan papanya si Celia," jawab Hasna sembari memainkan tepung yang ada di dapur itu. Memang Aris dan Devi belum ada keinginan untuk mempekerjakan pembantu rumah tangga karena merasa mereka belum perlu.
"Mama dan Papanya Celia? Emang Celia sering cerita tentang papa dan mamanya pada Hasna?" tanya Devi yang merasa jika muridnya bermasalah karena ternyata berasal dari orang tua mereka.
"Benar, Tante. Celia kata kalau mama dan papanya sering bertengkar. Dan kadang papa Celia memukuli mamanya Celia. Celia merasa sedih karena kasihan melihat mamanya dipukuli. Papa Celia juga sering menghukum Celia, " ucap Hasna dengan logat polosnya.
La jg y
"Celia memang dihukum apa, Hasna?" Devi yang sedang menggoreng pun memilih mematikan kompornya dan mendekati Hasna untuk mendengar cerita Hasna tentang Celia. Devi memang sedang mengamati perubahan drastis Celia. Dari yang semula ceria dan berprestasi, berubah menjadi sosok gadis yang pemurung dan prestasi menurun.
"Kata Celia, dia pernah dikunci di kamar mandi oleh papanya. Kata Celia lagi, papanya marah karena Celia tidak mau menurut saat Celia disuruh papanya ambil uang neneknya," jawab Hasna sesuai yang ia dengar dari Celia.
Hati Devi mencelos mendapati informasi yang menurutnya penting. Jelas dari pihak sekolah tentu menuntut sang guru untuk memantau perkembangan muridnya.
"Seperti itu ya, jadi alasan Celia terlihat murung dan berubah karena dari keluarganya. Baiklah, terimakasih Hasna," ucap Devi yang sekarang mengerti mengapa Celia berubah.
"Sama-sama, Tante. Hasna sangat senang jika om dan tante kaya mama dan papa yang selalu baikan dan tidak pernah marahan. Nanti kalau adik Hasna sudah lahir, Hasna mau ajak adek bayi main masak-masakan," ucap Hasna dengan memejamkan matanya jika adeknya seorang wanita.
"Hasna kamu mandi dulu sana gih,sudah sore dan tubuh bisa seger kembali," pinta Devi pada Hasna. Dia tidak mungkin memaksa keponakan yang memiliki kemiripan dengan gambar yang baru saja," pinta Devi pada Hasna.
"Baik, Tante. Hasna sebentar lagi mandi," ucap Hasna pada Devi.
Setelah selesai membuat omlet, Devi menghidangkan masakannya di atas meja. Dua keponakannya udah mulai berkumpul di meja makan.
"Hasan kamu kenapa? Kenapa wajahmu cemberut seperti si Hasna tadi. Apa ada hal yang ingin kau sampaikan, Hasan?" tanya Devi mendekat ke arah Hasan.
"Tidak ada apa -apa, Tante. Hasan lagi kesel aja sama teman sekolah Hasan. Diajak main game bareng, dia kalah eh, malah marah sama Hasan. Kan menyebalkan, Tante. Kalah dan menang itu hal biasa kan, Tante. Mama dan papa selalu mengajari Hasan untuk tidak marah jika kalah dan tidak sombong jika menang."
Devi melongo mendengar apa yang dikatakan oleh Hasan. Ternyata Tia dan Hans mendidik anak-anaknya dengan baik. Hingga hal sekecil itu pun diperhatikan oleh mereka.
"Bagus, Hasan. Kamu tidak perlu ikutan teman-teman mu yang begitu. Kau harus punya jiwa ksatria. Akui jika salah dan pertahankan jika kau memang benar," ucap Aris mengacungi jempol pada sikap Aris.
Aris dan Devi mengagumi cara Hans dan Tia mengajarkan sikap pada anak mereka. Walau kadang dianggap hal sepele, akan tetapi pendidikan budi pekerti memang harus dilakukan sejak dini.
"Baik, Om. Oh ya om, ada pertunjukan lumba-lumba yang diumumkan di televisi. Kabarnya sih, akan ada di alun-alun kota, apa kita besok boleh ke sana, Om?" tanya Hasan sambil mencampur omlet nya dengan saus cabe.
Aris dan Devi saling berpandangan. Mereka berbicara dalam kata isyarat, yang hanya dimengerti oleh mereka. Dan pada akhirnya, Devi mengangguk tanda setuju.
"Baiklah, kalian boleh melihat lumba-lumba bersama Tante Devi. Om masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Kalian tidak apa-apa kan jika diantar oleh Tante Devi?" tanya Aris pada kedua keponakannya itu.
"Yeeei ... Asyik, tidak apa-apa, Tante. Hal yang paling penting adalah ada yang menemani kami, Om," jawab Hasan yang mengingat pesan yang sering ibunya katakan.
"Bagus, Hasan. Sekarang kalian mandi dan beristirahat. Nanti kita akan jalan -jalan di taman sambil melihat bulan," jawab Aris yang membuat dua kakak beradik itu merasa senang dan bersemangat.
Hasan dan Hasna benar-benar menjalankan apa yang sang paman katakan.
Malam pun datang, Aris dan Devi menepati janjinya untuk mengajak kedua keponakannya jalan -jalan di taman.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di pinggir taman alun-alun kota. Aris mengajak Devi dan kedua keponakannya turun dari mobil dan menuju ke sebuah warung yang menjual minuman.
"Om, bukankah itu Tante Alya?" ucap Hasan yang menunjuk ke arah yang ia maksud.
Aris mengikuti arah jari telunjuk Hasan menunjuk ke arah bangku yang dimaksud oleh Hasan.
"Alya?" batin Aris saat melihat sosok wanita yang duduk dengan alas tikar dan menggelar dagangannya. Alya sekarang terlihat menyedihkan dengan perut yang agak membuncit.
"Benar, Hasan. Tapi sudahlah kita habiskan malam ini dengan bermain bersama," sahut Aris lagi