
Tubuh Tia sudah merasakan dingin, mau tidak mau dia harus memakai baju yang diberikan oleh Hans. Walau terawang tapi setidaknya masih bisa dipakai, dan rencananya Tia akan langsung memakai selimut saja.
Klek ....
Tia membuka pintu kamar mandi, kemudian kepalanya menyembul mencari keberadaan Hans. Dilihatnya sekeliling, ternyata Hans tidak ada. Hans sedang menerima telepon di balkon.
"Syukurlah, aman. Aku langsung saja masuk ke selimut," gumam Tia di dalam hati. Dia meras tenang karena Hans tidak ada di kamar.
Dengan berjingkat Tia berjalan menuju ke ranjang.
"Stop!"
Deg ... Deg ....
Tia berdiri mematung saat mendengar suara dari belakang. Dadanya berdebar dan detak jantungnya tidak beraturan.
"Mati aku! Mas Hans ternyata ada di sini!" geram Tia dalam hati. Sumpah serapah menggaung indah dari bibirnya.
"Tia, balik badan!"
"Duh! Kenapa suruh balik badan lagi!!" Tubuh Tia bergetar tidak aturan. Sungguh ini adalah hari tersial bagi Tia. Seharian dibuat kesal oleh orang.
Hans berjalan mendekati Tia, Hans memindai tubuh Tia dari atas ke bawah.
Glek.
Hans menelan kasar salivanya. Ternyata body Tia ternyata lebih indah dibanding Wulan. Sungguh pemandangan yang indah terpampang jelas di depan mata Hans. Hans merasa mendapat bonus besar dari Sang Pencipta.
"Ya Tuhan, ternyata body Tia lebih indah dibandingkan Wulan. Ampuni hamba yang telah berburuk sangka, mengira tubuh Tia tidak bagus hingga harus memakai baju yang lebar," gumam Hans di dalam hati memuji keindahan tubuh sang istri.
Memang benar adanya, Hans dulu membatin Tia, jika body Tia pasti kerempeng dan tidak sebagus yang dia kira. Ternyata semua salah, tubuh Tia memiliki standar body goal.
Tia masih berdiri mematung, diam tidak bergerak. Perintah Hans membuatnya bergeming, tidak merespon. Hans perlahan menyentuh bahu Tia. Napasnya sudah memburu, andai tidak menjaga perasaan sang istri. Saat ini juga, Hans langsung menerkamnya. Bagai singa yang kelaparan mendapatkan daging kelinci muda yang sangat renyah.
Perlahan Hans memutar badan Tia untuk menghadapnya. Dengan menahan rasa malu yang luar biasa. Tia hanya pasrah saat sang suami memutar badannya.
Tia terpejam tidak mampu mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Pikiran Tia menolak sentuhan Hans, namun tidak dengan tubuhnya. Tia juga sudah lama tidak mendapatkan sentuhan dari lelaki, hingga tubuhnya juga ingin merasakan kembali sentuhan itu.
"Mas Hans sangat berbeda dengan mas Ridho. Mas Hans memperlakukan aku dengan lembut berbeda sekali dengan mas Ridho," gumam Tia dalam hati, masih dalam detak jantung yang tidak beraturan.
Tia merasakan perbedaan besar antara Hans dan Ridho. Jika dihitung, hanya dua kali Ridho menyentuhnya, itu pun tidak dalam waktu yang lama.
"Boleh, mas meminta jatah ma, Tia?" tanya Hans dengan suara berat karena menahan sesuatu yang bergejolak di bawah sana. Cacing gilignya sudah menari-nari ingin berkembang biak dalam tanah yang baru.
Hanya anggukan yang Tia berikan karena tubuhnya meminta lebih dari hanya sekadar sentuhan. Dengan hati-hati dan pelan Hans menggendong tubuh Tia untuk direbahkan di atas ranjang.
Setelah berdoa, Hans melakukan ritual pemanasan. Dia tidak ingin meninggalkan kesan yang tidak baik bagi Tia. Awal mula yang indah pasti akan terus membuat orang itu terkenang.
Hans merasa Tia sudah siap untuk dimasuki, dia pun perlahan memasuki inti kewanitaan Tia.
"Aaa ... Sakiiit!" jerit Tia tertahan.
Hans terkejut, seharusnya Tia sudah tidak merasakan sakit lagi karena tentu bukan hal pertama bagi Tia. Tia pasti pernah melakukan hubungan suami istri dengan Ridho.
"Maaf, Tia. Tapi ... Mengapa kau masih merasa sakit?" Hans bisa merasakan milik Tia terlalu sempit dan sepertinya sesuatu berhasil dia tembus dan cairan mengalir hangat di kejan,-tanan Hans.
"Tidak tahu, Mas. Pelan-pelan saja," ucap Tia sembari merintih karena sakit. Sepertinya ada yang robek di bagian dalam kewa-nitaannya.
Hans pun mengurangi ritmenya, dia bergerak sangat pelan. Setelah Tia sudah bisa menguasai dirinya, Hans mulai menambah ritme kecepatannya. Napas keduanya saling bertalu, rasa sakit yang Tia rasakan di awal sudah berubah menjadi sebuah kenikmatan.
Kenikmatan yang tidak pernah Tia rasakan sama sekali. Bersama mereka berdua mengayuh perahu menuju ke pantai kenikmatan.
Bukti benih cinta keduanya keluar bersama dengan pekikan mesra. Keduanya bersama menyebut nama satu sama lain. Tubuh Hans bergetar hebat, demikian pula dengan Tia. Keduanya pun akhirnya ambruk terkulai lemas.
Hans mengecup kening Tia dengan lembut sebagai ucapan terimakasih pada sang istri. Hans bangkit dari tubuh Tia, hendak membersihkan tubuh dari cairan lengket miliknya.
"Astaga ... Tia!!" pekik Hans tertahan. Matanya membulat sempurna.