
Dua hari berlalu, kali ini Tia benar-benar dibuat stress dengan sikap anak perempuannya yaitu Hasna. Bagaimana tidak stress, anaknya itu mengacak-ngacak kamarnya sendiri dan bahkan beberapa jam lalu baru saja selesai dibersihkan oleh pembantu.
Tentu saja Tia marah karena menurutnya anaknya itu tidak bisa menghargai seseorang, bahkan Hasna tidak mau minta maaf. Dia malah melawan apa yang Tia katakan. Saat ini Tia sedang menghukum Hasna, dengan cara menyuruh dia untuk berdiri menghadap tembok sembari merenungkan apa saja kesalahan dia pada hari ini.
Tia mencoba untuk sabar, apalagi dirinya tidak boleh terlalu keras dengan anak-anaknya. Hasan sendiri sedang keluar dengan Hans, jadi yang melihat kejadian ini hanya Tia saja.
"Hasna, dari tadi mama mencoba untuk sabar menghadapi kamu. Kenapa sih kamu nakal terus? Mama capek tau nggak udah kejar-kejaran sama kamu. Mama sedang mengandung adik bayi dan mama tidak boleh kelelahan sayang," ujar Tia yang mencoba sabar.
"Mama kenapa nyalahin aku sih? Siapa suruh mama punya adik bayi."
Tia membulatkan mulutnya tak percaya. "Kamu masih kecil, bagaimana bisa kamu miliki pemikiran seperti itu? Siapa yang ngajarin kamu jadi nakal kayak gini?" tanya Tia. Bahkan dirinya tidak habis pikir karena anaknya memiliki pemikiran seperti itu. Padahal dulu anaknya memiliki pemikiran yang polos apalagi usia mereka masih 7 tahun.
"Kok mama bentak aku sih? Coba-coba papa di sini pasti Mama nggak akan bentak aku. Mama jahat banget, Mama cuma sayang sama bayi yang ada di perut Mama aja. Mama berubah!" ujar Hasna.
Dia menangis dan berteriak di depan Tia. Sementara wanita itu begitu terkejut karena tidak biasanya anaknya seperti ini. Apalagi sampai membentak dirinya dan bahkan omongannya seperti ada yang mengajari. Rasanya tidak mungkin saja anak umur 7 tahun bisa mengatakan hal seperti itu.
"Hasna! Kamu berani berteriak di depan mama?! Sekarang diam di depan tembok dan renungi kesalahan kamu! Kamu harus belajar bagaimana cara menghargai seseorang, bibi udah capek beresin kamar kamu. Tapi enak banget kamu tinggal berangkatnya tanpa menghargai kinerja dari bibi."
"Mama jahat!" Hasna berlari menjauh dari Tia.
Tia menghela nafas pelan. "Hasna, mama capek banget. Jangan buat mama capek karena menghadapi sikap kamu," ujarnya lelah.
Malam harinya Tia sedang berduaan dengan Hans. Mereka berada di kamar dan menonton televisi. Sebenarnya Tia ingin menceritakan kejadian yang ada di rumah ketika Hans dan Hasan berada di luar rumah yaitu Hasna yang membuat kamar berantakan setelah dibersihkan oleh pembantu yang ada di rumah ini.
Apalagi dia sampai mengamuk dan bahkan sampai saat ini dia mendiami Tia. Sebenarnya Tia sedih, memang semenjak kehamilan ini dirinya lebih sering beristirahat dikarenakan dokter mengatakan kandungan yang begitu lemah dan harus istirahat total.
Tetapi ia tidak melupakan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga, tapi jujur saja waktunya jadi terbagi untuk anak-anaknya. Tapi memang sebisa mungkin jika Hasan dan Hasna pulang ia menyambut mereka. Apakah ini penyebab ia kurang perhatian kepada mereka?
"Mas, kamu tahu nggak alasan mengapa Hasna diam aja di meja makan tadi?" tanya Tia.
"Oh iya ya, tadi aku pikir cuma pikiranku aja yang berpikir Hasna diam aja sembari makan. Memangnya kenapa dia? Biasanya kalau makan dia itu heboh sendiri cerita-cerita tapi tadi dia cuma diam aja waktu makan," sahut Hans.
"Sebenarnya, waktu kamu jalan-jalan sore sama Hasan. Ada kejadian yang nggak mengenakan banget sih, awalnya itu kan kamar anak-anak diberesin sama bibi ya. Terus beberapa jam Setelah itu aku lihat kamarnya berantakan banget dan ternyata ulahnya itu Hasna. Dia lari-larian di kamar dan berantakan seluruh kamarnya. Padahal aku udah suruh dia berhenti sampai akhirnya aku sedikit membentak dia baru akhirnya dia mau berhenti," ungkap Tia.
"Terus?" Hans menatap sang istri.
"Dia marah, katanya aku lebih sayang adik bayi ketimbang dia. Apa menurut kamu setelah aku tahu aku hamil aku jadi lupa kewajiban aku sebagai ibu Hasan dan Hasna? Karena jujur aja aku baru pertama kali lihat Hasna marah-marah sama aku dan bahkan dia sama sekali nggak mau aku sentuh ketika dia nangis."
"Sebenarnya waktu makan malam tadi aku mau minta maaf sama dia, tetapi dia nggak mau lihat ke arahku dan bahkan selalu mengalihkan perhatian jika mau meminta maaf sama dia. Aku sedih banget kalau ngelihat anak-anak seperti itu, aku berpikir bahwa aku itu ibu yang buruk untuk mereka," imbuh Tia. Bahkan dirinya mengatakan itu sembari menahan tangisnya.
Ibu hamil memang sangat sensitif apalagi menyangkut anak-anak yang sangat dia sayangi. Rasanya Tia sendiri merasa bersalah, padahal ia sudah berusaha untuk menjadi Ibu yang baik untuk mereka. Sementara harus baru tahu ini terjadi di rumahnya ketika ia dan Hasan pergi jalan-jalan mencari angin sore di sekitar kompleks perumahan.
Jika istrinya atau tidak cerita mungkin ia akan menganggap marahnya anaknya sebagai hal biasa. Tapi ternyata Hasna marah karena itu, sampai-sampai dia berani membentak Tia. Padahal dari dulu Hasan dan Hasna itu anak-anak yang baik dan bahkan mereka masih sangat polos.
"Udah sayang, kamu itu ibu yang terbaik untuk mereka kok. Nggak ada yang namanya ibu yang buruk itu, mungkin Hasna cuma lagi capek aja sama sensitif. Yang jelas kamu itu ibu yang baik untuk mereka. Sekarang kamu nggak perlu memikirkan hal itu lagi, besok Hasna juga akan balik seperti semula kok. Dia nggak akan marah lagi dengan kamu," ujar Hans menenangkan istrinya.
"Tapi mas, gimana kalau anak benci sama aku? Aku nggak mau mereka berpikir bahwa aku tidak sayang kepada mereka," ujar Tia.
"Enggak sayang, mana mungkin mereka benci sama ibu sebaik kamu. Nanti aku sendiri ya yang akan ngomong pelan-pelan sama Hasna, nanti dia akan balik lagi kok. Mungkin dianya membutuhkan waktu sendirian saja jadi kita biarkan sampai besok pagi ya."
Hans tidak mau tidurnya itu kepikiran karena bisa berdampak buruk kepada janin yang ada di kandungannya. Jadi sebisa mungkin ia menguatkan hati sang istri. Supaya dia tidak kepikiran lagi, lalu Hans mengurusnya itu untuk tidur dan biarkan besok yang mengurusi semuanya dirinya.
Sebenarnya Hans jadi terkejut mendengar cerita dari istrinya terkait Hasna. Sedikit tidak percaya jika anak sekecil itu bisa mengatakan hal ini dan. Bahkan ia sendiri tidak tahu apakah pernah mengerti apa yang diucapkan atau tidak. Semoga saja besok hubungan antara Hasna dan dia kembali baik-baik saja seperti ibu dan anak pada umumnya.
***
Keesokan harinya sesuatu yang mengejutkan terjadi, karena tiba-tiba saja Hans dan Tia mendapatkan panggilan dari guru Hasan dan Hasna. Tentu saja dengan segera mereka menuju ke sekolah anak-anak mereka untuk bertanya terkait apa tujuan guru-guru itu memanggil mereka datang ke sini.
"Pak, bu, pertama-tama saya meminta maaf karena telah mengganggu waktu ibu dan bapak untuk datang ke sekolah. Tetapi kami harus memanggil ibu dan bapak untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di sekolah terkait anak ibu dan bapak yaitu Hasna."
"Bu Devi, apa yang terjadi dengan anak saya?" tanya Tia. Ia terkejut karena ini berkaitan dengan anak perempuannya yaitu Hasna.
"Beberapa kali Hasna memukuli teman sekelasnya sendiri. Dan bahkan beberapa temannya sampai nangis karena dia pukul tangannya dan dijambak rambutnya. Sebenarnya udah beberapa kali tapi kali pertama kita anggap itu sebagai kenakalan seperti biasa saja karena mereka juga sama-sama masih kecil. Tapi lama kelamaan semakin dibiarkan hasilnya semakin menjadi dan bahkan sudah membantah apa yang saya katakan."
"Pernah saya menyuruh Hasna untuk duduk di bangkunya dan diam tetapi dia malah membantah apa yang saya katakan dan malah menghasut teman-temannya untuk tidak menuruti apa yang saya katakan. Saya sendiri sebagai gurunya sedikit heran dengan perubahan dari Hasna yang bisa dibilang cukup drastis. Karena dulu dia itu salah satu siswi saya yang begitu penurut. Saya tidak tahu apakah ada yang terjadi di rumah sampai-sampai dia melampiaskan di sekolah atau bagaimana saya juga tidak tahu."
Hans dan Tia saling pandang, mereka seolah tidak percaya dengan apa yang bu guru Devi katakan. Apakah sekarang anak perempuan mereka senakal ini?
Saat ini mereka dikejutkan dengan rekaman CCTV dan memang benar dalam rekaman itu Hasna memukuli teman sebangkunya sendiri dan bahkan sampai menjambak rambutnya.
Guru-guru yang ada di sana juga sudah memisahkan mereka tetapi Hasna tidak mau dan terus menyerang temannya sendiri. Padahal ini tidak boleh dilakukan oleh anak seusia mereka tetapi anak mereka melakukan ini. Sungguh, ini benar-benar di luar kendali mereka.
"Pak, bu, maafkan saya jika menyinggung. Setelah saya konfirmasi apa yang membuat Hasna seperti ini dia mengatakan kepada saya bahwa bapak dan ibu melakukan pilih kasih kepada dia. Hasna mengatakan bapak dan ibu lebih mengutamakan adik bayi ketimbang dirinya. Apakah itu benar?"
"Bu, saya memang sedang mengandung adik Hasna dan Hasan. Tetapi bekum lahir, mungkin karena 7 tahun dia selalu mendapatkan perhatian penuh dari saya dan karena sekarang ini saya hamil jadi saya lebih fokus untuk beristirahat. Maafkan saya bu karena ulah anak saya suasana kelas menjadi kacau," ujar Tia.
"Iya bu, dimaafkan. Tapi tolongya di kasih tahu hasnanya di rumah. Takutnya jadi kebiasaan, saya cuma bisa jadi tempat cerita dia aja. Soal selebihnya lagi saya tidak memiliki hak, karena saya cuma gurunya dan tidak lebih dari itu."
"Iya bu, nanti sampai di rumah saya akan mencoba ngobrol sama anak saya. Sekali lagi terima kasih atas informasinya dan maafkan putri saya ya bu, saya janji untuk lebih lagi dalam mendidik anak saya."
"Baik bu, terima kasih atas kehadiran dari ibu di sekolah ini. Tetapi saya minta tolong untuk tidak melakukan kekerasan apapun dalam memberitahu Hasna. Bicarakan dengan dia perlahan-lahan pasti dia nanti akan paham apa yang Ibu maksudkan."
Tia dan Hans sama-sama menganggukan kepalanya, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dari sekolah. Sungguh, mereka masih belum bisa berkata-kata terkait apa yang terjadi dengan Putri mereka. Ternyata tidak hanya di rumah saja perubahan Hasna yang begitu drastis tetapi di sekolah juga. Apalagi dari dulu guru-guru itu mengenal Hasna dengan anaknya baik dan cerdas jadi tidak ada yang menyangka jika Hasna akan melakukan seperti ini.
***
Hasna sudah pulang dari sekolah, dengan sengaja Tia tidak memberitahu kepada putrinya itu bahwa ia dan suaminya habis dari sekolah memenuhi panggilan dari guru Hasna. Karena ia ingin mengetahui apakah hari ini juga sifat dari putrinya itu masih sama atau tidak.
"Hasna, tolong ambilin selainya dong. Mama mau buat roti bakar apa kamu mau juga?" tanya Tia.
"Mama kan punya kaki, sebentar lagi juga mama punya anak lagi jadi suruh aja nanti anak mama lagi," sahut Hasna. Bahkan dia sama sekali tidak melihat ke arah Tia.
"Sayang? Kok kamu gitu sih?" Tia mendekati anaknya. "Kenapa kamu? Apa Mama ada salah sama kamu atau kamu mau sesuatu kepada Mama?" tanyanya.
"Enggak, mama pergi aja sana."
Hasna melangkahkan kakinya pergi dari sini sementara sembari berjongkok Tia menatap kepergian anaknya. Kali ini Hasna benar-benar membantah apa yang ia katakan. Padahal dirinya sama sekali tidak pernah mengajari anaknya untuk melakukan perbuatan itu.
Hans sendiri melihat istrinya berjongkok langsung menghampiri Tia. Ia membantu Tia untuk berdiri. Terlihat jelas istrinya itu menampilkan wajahnya yang kelelahan dan putus asa.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Hans.
"Mas, ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh guru Hasna bahwa Hasna jadi suka membantah. Jangankan ucapan Bu Devi yang dibantah ucapanku saja dia berani membantah. Padahal tadi aku udah suruh dia buat ambilin selai buat aku panggang roti. Tetapi dia nggak mau dan malah pergi dari sini," ujar Tia.
"Kayaknya mas harus kasih pengertian ke Hasna. Mas juga harus bertindak tegas kepada dia kepada dia tidak semena-mena kepada kamu. Apalagi dia berani sekali sama gurunya sendiri. Sekali-kali dia harus mendapatkan tindakan tegas supaya jera," ujar Hans.
"Jangan sekarang dulu, mas. Takutnya dia makin marah sama kita. Aku masih tetap berusaha buat berusaha buat dia pelan-pelan. Takutnya kalau dia dikasih tahu secara langsung malah membuat dia semakin marah sama aku."
"Enggak bisa sayang, bisa-bisa dia semakin menjadi dan malah menyakiti hatimu, Tia."
"Enggak kok mas, kamu harus yakin sama aku. Biar ini jadi urusanku, pokoknya kamu gak boleh ungkit-ungkit apapun kepada dia. Biar Tia sendiri yang menjelaskan sama Hasna dan Tia tidak ingin lihat mas marahin Hasna. Apalagi membuat Hasna sampai nangis Aku nggak suka."