Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. bab. 49


Sinta dan anaknya tanpa malu lagi memakan semua Yangs udah terhidang di meja. Devi hanya melongo melihat wanita yang terlihat elegan itu makan seperti orang kelaparan.



"Apakah saudara mbak Tia begitu semua? Seenaknya makan dengan lahap tanpa bayar. Mungkin karena ada mbak Tia dia memanfaatkan kesempatan ini. Menurutku mbak Tia itu bodoh atau memang baik hatinya," batin Devi sembari menatap ke arah Sinta yang asyik makan.



"Mbak ... Terimakasih ya, Sinta sangat senang bisa makan makanan mewah ini. Tapi maaf, Sinta tidak bisa berlama-lama deh ... Si Sherly harus ikut les renang. Sinta ingin Sherly bisa jadi atlit renang," ucap Sinta dengan santai tanpa beban. Bagaikan bicara dengan bawahannya.



"Hati-hati," jawab Tia singkat karena tidak ingin menahan Sinta. Bagi Tia apa yang diucapkan Sinta hanya angin lalu. Terserah dia mau berkata apa, yang terpenting kewajibannya sebagai saudara sudah ia penuhi. Tidak mungkin kan jika Tia tidak menawari makan pada Sinta yang datang mendekat.


Sinta melenggang begitu saja dengan anaknya meninggalkan meja Tia.


"Mbak ... Memang mbak Sinta seperti itu orangnya? Datang dan pergi seenaknya saja. Maaf ya, Mbak. Bukannya kenapa -kenapa, Devi hanya mengutarakan apa yang ada dalam pikiran Devi," ucap Devi sambil menatap punggung Sinta yang tertutup kaos tipis. Memang penampilan Sinta belum mencerminkan seorang wanita dengan yang sudah memiliki anak.



"Sudahlah, memang Sinta tidak berubah, selalu berpenampilan seperti dan sikapnya juga kayak gitu. Makanya mbak tidak mau terlalu menanggapi apa yang dikatakan oleh Sinta," sahut Tia santai sambil membersihkan mulutnya.



Devi hanya mengangguk tanda paham. Lirikan matanya tidak lepas dari ekspresi wajah Tia.



"Hasan, Hasna ... Kalian sudah selesai?" tanya Tia pada kedua anaknya.



"Sudah, Ma. Ayo kita pulang," ajak Hasna yang sepertinya sudah mengantuk.



"Baiklah ... Ayo kita pulang," ucap Tia bangkit dari duduknya dikuti oleh Hasan dan Hasna juga Devi.


"Bi ... Tolong buatkan jeruk hangat," pinta Tia pada sang pembantu sesaat Tia sampai di rumahnya.



"Baik, Nyonya," jawab Bik Inah bergegas membuatkan jeruk hangat untuk Tia. Sambil menunggu jeruk hangat buatan sang pembantu selesai, Tia membuka beranda aplikasi biru berlogo huru F.



"Astaghfirullah ... Sinta benar-benar tidak tahu diri!" geram Tia yang membaca status Facebook milik Sinta. Sinta meng-upload fotonya saat makan tadi siang bersama Tia dan anaknya.



Di dalam unggahan foto itu, Sinta menuliskan bahwa dirinya mengabiskan banyak uang untuk memanjakan lidah mereka. Tidak lupa Sinta juga mengunggah harga masing-masing menu yang ia makan.



"Dasar udik! Biar orang mengira dirinyalah yang membeli semua. Hmm ... Dasar aneh!" gerutu Tia sambil membaca semua unggahan Sinta.



"Silakan, Nyonya," Ucap Bi Inah yang datang dari arah dapur.



"Terima kasih, Bik. Aku sangat membutuhkan air jeruk ini," ucap Tia mengucapkan terimakasih pada sang pembantu.



"Sama-sama, Nyonya. pokoknya senang bisa melayani Anda setiap saat, Nyonya," jawab bik Inah dengan senyum yang mengembang.



"Terima kasih, Bi. Semoga hubungan kita tetap seperti ini. Jika ada yang menurut bibi saya keterlaluan maka bilang saja, Bi," ucap Tia menatap ke arah sang pembantu.


Bik Inah mengerutkan alisnya, mengapa sang majikan berbicara begitu. Ada apa dengan majikan perempuan yang sudah sangat baik padanya.