
"Maaf, Dok. Sebelumnya saya mau tanya. Cloe ini ada hubungan apa ya dengan Clara. Karena saya rekan baru Cloe dan Cloe menyuruh saya menemui dokter, untuk konsultasi." Kali ini Tia berharap ucapan nya bisa di percaya oleh psikiater di hadapannya ini.
"Jadi begini, Bu Tia. Saya ini psikiater yang menangani Clara dan Cloe ini adik dari pasien kami, sejak terjadi insiden di rumah sakit jiwa yang menampung Clara di sana. Saya menyarankan pasien di rawat jalan, jadi Cloe selalu datang mewakili Clara untuk mengambil obat yang biasa dikonsumsi oleh nya. Akhir-akhir ini kondisi Clara sedang tidak stabil jadi sedikit susah mengecek kondisi, kami hanya memberikan beberapa obat penenang untuknya." jelas psikiater itu secara gamblang, menceritakan hubungan Cloe yang selalu datang menemuinya.
"Jadi Cloe ini sering menemui dokter karena meminta resep obat kakaknya yang sedang kena gangguan jiwa?" tanya Tia dengan hati-hati.
Dokter psikiater itu mengangguk, membenarkan perkataan Tia. "Betul, Bu Tia," jawab sang dokter dengan menampilkan senyum yang ramah.
"Em, Dok. Kalau gitu apa ada resep yang saya harus tebus untuk Clara?" tanya Tia basa-basi, karena niat ia datang kesini beralasan sebagai rekan Cloe yang mengganti pertemuan nya dengan psikiater.
"Sebenarnya tidak ada, tapi mungkin saya hanya ingin memberi pesan kalau Clara harus mengkonsumsi obat nya setiap hari. Itu membantu Clara agar tidak cepat kambuh," ucap psikiater itu memberi pesan pada Tia.
"Baik, Dok. Kalau begitu saya permisi." Tia merasa sudah cukup mendapatkan informasi.
"Iya, Bu Tia, sama-sama." sahut psikiater itu tidak memudarkan senyum ramahnya pada Tia.
Tidak kalah ramah, Tia pun membalas senyuman sang psikiater yang sudah memberikan nya informasi yang selama ini menjadi pertanyaan rasa curiga nya pada Cloe.
Tia menutup kembali pintu ruang psikiater tanpa papan nama itu, rasa penasaran nya sudah terjawab. Kini Tia melangkahkan kakinya menuju apotek membeli kebutuhan yang akan ia beli.
"Mbak, susu ibu hamil rasa strawberry satu box ya," pinta Tia pada kasir apotek.
"Baik, Ibu. Ada lagi?" tanya pegawai apotek pada Tia.
"Sama vitamin C nya dua box." Kini Tia juga berniat membelikan Hasan dan Hasna vitamin.
"Baik, Bu, tunggu sebentar saya ambilkan," ucap kasir apotek itu lalu pergi meninggalkan Tia seorang diri, tidak ada pembali selain dirinya.
Tia hanya mengangguk meng-iyakan perkataan kasir apotek itu, sebelumnya ia memberi beberapa lembar uang untuk membayar total pembelian nya.
"Mbak, antibiotik satu strip ya."
Deg.
Tia mendengar suara yang tidak asing di samping, ia menengok ke sebelahnya mengecek jika pendengaran nya tidak salah.
"Cloe?" batin Tia.
Tia tersentak oleh wanita di sampingnya, dengan cepat ia membuang wajahnya kesamping dan setengah menunduk dan berharap kasir yang melayani nya cepat kembali, dengan begitu Tia bisa segera pergi dari loket apotek.
"Cepat … cepat!" ucap Tia dalam hati berusaha terlihat biasa saja agar Cloe tidak menyadari keberadaan nya.
"Totalnya lima belas ribu, ini antibiotik nya dan struk nya. Terimakasih."
"Oh, iya mbak." Cloe menerima pesanannya dan menaruh obat itu kedalam tas selempang nya, ujung matanya melirik sekilas pada wanita berhijab di sisi kirinya. Ia seperti tidak asing dengan orang itu tapi kemudian hanya mengendikkan bahunya acuh.
Tia bernafas lega, akhirnya Cloe lebih dulu meninggalkan tempat ini. Tia dan wanita itu hampir tidak memiliki jarak, hanya berbatas tiang antrian di sebelah nya.
"Ibu, maaf menunggu lama, ini struk dan belanjaan nya. Terimakasih." ucap kasir itu tersenyum ramah, menyodorkan sekantong plastik pesanan Tia.
Tia hanya mengangguk dan membalas senyuman sang kasir, ia merogoh tasnya dan mengambil satu buah sapu tangan untuk membekap setengah mulut dan wajahnya agar jika berpapasan dengan Cloe tidak terlalu kentara dan sebenarnya bisa saja Tia membeli masker tapi ia tidak punya banyak waktu, Tia harus mengikuti jejak Cloe.