
Bab 42.
Wajah putus asa Ridho berubah menjadi wajah antusias lagi. Dengan semangat empat lima, Ridho membuka chat Wulan dengan nama yang aneh menurut Ridho.
"Hm ... Aku coba buka saja, siapa tahu ni nama membawa petunjuk untukku," ucap Ridho sembari membuka chat Wulan dengan nama kontak 'W- bulan'.
Dibukanya chat itu kemudian dibaca dari atas sampai bawah, sungguh aneh hanya ada nomer-nomer berderet cantik. Ridho pun mencoba memahami makna dari angka tersebut.
"Apakah ini nomer PIN ATM Wulan? Aku lihat dia punya beberapa kartu ATM. Baiklah aku akan ambil semua dan mulai mencocokkan satu persatu," ucap Ridho di dalam hati. Dia pun mengirim beberapa nomer itu ke nomor kontaknya. Setelah itu dia hapus semua dari laporan dan riwayat chat.
"Kita lihat Wulan, apa yang akan kau lakukan jika uang tabunganmu habis tiba-tiba? Hahaha ... Kau telah salah berurusan denganku Wulan! Seenaknya kau curi uangku dan kau simpan sendiri hingga beberapa kartu ATM ada di dompetmu!" geram Ridho di dalam hatinya.
Gegas Ridho mengambil semua kartu ATM Wulan dan meninggalkan Wulan begitu saja di kamarnya sendiri. Dengan langkah lebar, Ridho menuju ke bilik ATM yang ada di rumah sakit tersebut. Satu persatu semua kartu dia coba.
Mata Ridho berbinar saat salah satunya berhasil dibuka dengan angka yang didapat dari chat Wulan. Mulut Ridho menganga melihat saldo rekening dari kartu ATM berwarna merah milik Wulan. Di situ tertera angka yang lumayan besar, kisaran dua ratus juta.
"Baiklah, Wulan. Aku akan ambil sedikit demi sedikit ketika kamu sedang tidur, hahaha ... Aku akan dapat uang untuk modal usahaku lagi. Kau pantas mendapatkan balasan yang setimpal, Wulan!!" kecam Ridho.
Setelah mengambil dari beberapa kartu ATM milik Wulan. Ridho pun dengan wajah ceria kembali ke kamar Wulan. Namun, Ridho terkejut saat Wulan sudah menatap ke arah dia datang.
"Mas! Kamu dari mana?"
"Mmm ... Itu, aku sedang menyelesaikan administrasi," jawab Ridho berbohong.
"Kenapa kamu gugup, Mas? Ada apa? Kok tingkah mas Ridho aneh begitu?" tanya Wulan yang merasa aneh dengan gelagat Ridho. Raut wajah Ridho memang menunjukkan kalau dirinya sedang gugup dan mencurigakan.
Dahi Ridho sudah mengeluarkan keringat dingin. Pupil matanya mulai tidak fokus, pengaruh dari pikiran yang tidak tenang.
Deg!
Hati Wulan terasa sakit mendengar perkataan suaminya, bukannya dihibur malah mengatakan yang tidak mengenakkan hati.
"Iya, Mas," jawab Wulan singkat dan datar. Dia merasa kecewa, namun pikiran tentang uang yang sudah dia dapat mampu mengalihkan semua.
"Sudahlah, lebih baik kau istirahat agar kondisimu cepat pulih." Ridho mengusap kepala Wulan, berharap sang istri cepat tidur dan dia bisa mengembalikan kartu ATM yang diambilnya tadi.
Wulan menguap, obat bius masih memengaruhinya hingga dia mudah mengantuk. Dengan lembut dan senyum licik, Ridho mengusap kepala Wulan. Tidak berapa lama, Wulan pun tenggelam ke alam mimpinya. Segera Ridho mengembalikan kartu ATM ke dompet Wulan.
Rasa lelah dan penat juga gerah membuat Ridho memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu, selain untuk mandi dia juga mau mengambil baju untuk keperluannya ke kantor. Rencana Ridho dia akan berangkat ke kantor dari rumah sakit saja.
Sementara itu di ruang tidak jauh dari kamar Wulan, Aris adik Wulan menghubungi Tia. Rencana besok ibunya akan dibawa pulang.
'Mbak, besok mama sudah diperbolehkan pulang. Kondisi mama saat ini dia sudah lebih baik dari sebelumnya, mama sudah bisa duduk di kursi roda. Untuk itu kami berniat untuk membawa pulang mama. Bagaimana, Mbakk? Kak Wulan aku hubungi tidak diangkat dan tidak juga dibalas pesanku'
Aris mengirim pesan pada Tia. Tidak berapa lama, Tia membalas pesan pada adiknya.
'Syukurlah kalau mama boleh dibawa pulang besok. Kakak akan ke rumah sakit untuk mengurusi semua administrasi yang kurang. Kamu jaga mama baik-baik ya, Ris. Hanya kamu yang bisa kakak andalkan untuk menjaga mama.'
Pesan Tia terkirim, membuat Aris bernapas dengan lega. Aris sangat bersyukur memiliki kakak seperti Tia. Hanya Tia yang selama ini ada untuk Aris, sedangkan Wulan yang merupakan kakak kandungnya malah tidak pernah menganggap Aris ada.
"Mbak Tia, Kau sungguh baik, walaupun mama tidak pernah menganggap kak Tia anak," gumam Aris dengan perasaan lega dan haru.