
Gunawan berkata dengan menerawang jauh kembali di mana ia sedang berbicara dengan Clara.
Flash Back on
Ruang Pegawai.
"Nona ... Ada perlu apa nona datang kemari?" Gunawan seketika bangkit dari duduknya saat putri sang pemilik pabrik datang.
"Hai, Gunawan. Saya hanya ingin mampir sebentar sudah lama ya, aku tidak datang ke sini jadi merindukan suasana pabrik."
Clara datang dengan senyum yang merekah dan di tangannya ada box makan dan beberapa kopi dalam cup.
"Iya, Nona. Sudah lama sekali tidak bisa datang ke sini karena pasti sibuk dengan pacar baru nona, benar bukan?" Celetuk salah satu teman Hans.
Gunawan tersenyum, sudah menjadi kebiasaan Clara dahulu kalau dia datang ke pabrik pasti membawa makanan dan minuman.
"Nona, Anda selalu repot kalau datang ke sini, selalu ada makanan dan minuman yang anda bawa. Inilah yang membuat kami menjadi senang jika Nona datang kemari."
Clara tersenyum manis, dia pun membagikan makanan dan minuman pada beberapa pegawai yang ada di ruangan itu.
"Aku pun senang jika berbagi dengan kalian, karena bagiku kalian adalah teman yang baik, aku merasa kesepian di rumah jadi aku ingin menemui kalian di jam makan malam."
Semua menerima satu box makanan dan satu gelas kopi, mereka pun makan dengan lahapnya karena kebetulan mereka sudah lapar. Hari ini mereka mendapatkan shif malam.
"Gunawan, ada yang ingin aku katakan padamu. Ayo ikut saya," ucap Clara.
Gunawan mengangguk, dia tidak mungkin menolak perintah dari sang anak majikan. Gunawan memiliki tubuh yang tinggi dan kekar, wajahnya cukup tampan.
Saat berjalan mengekor sang anak majikan, Cahyo sang anak buah memanggil.
"Tuan mandor ... Tunggu!" teriak Cahyo menghampiri Gunawan.
"Ada apa, Cahyo!" Gunawan berhenti mendengar panggilan dari Cahyo. Tubuhnya sudah tidak nyaman. Terasa pan4s menjalar di sekujur tubuh Gunawan.
"Saya boleh minta tolong, Tuan. Ada alat saya yang tertinggal, tapi tidak mungkin bagi saya meninggalkan pekerjaan saya. Takutnya malah ada masalah dengan mesin itu," ucap Cahyo dengan tatapan memohon.
Gunawan bingung harus mengikuti Clara atau harus membantu Cahyo. Dengan mengambil napas dalam-dalam, Gunawan pun memutuskan.
"Baiklah, aku akan bantu mengambil alat yang tertinggal," ucap Gunawan.
"Terima kasih, Tuan." Cahyo sangat senang saat Gunawan mau membantu dirinya.
"Oke. Sama-sama," jawab Gunawan.
Gunawan pun berpamitan pada Clara kalau dirinya akan pergi sebentar mengambil alat. Gunawan berjalan dengan tubuh yang sudah mulai tidak bisa ia kendalikan. Kepalanya berdenyut dan tubuhnya merasakan sensasi yang menyiksa.
Tok!
Tok!
Gunawan mengetuk pintu rumah Cahyo. Rumah yang disediakan pemilik pabrik untuk karyawannya yang jadi pilihan dari pabrik. Beruntung Cahyo adalah seorang teknisi jadi dia mendapatkan fasilitas rumah khusus para karyawan.
Klek!
"Pak Mandor, ada apa Pak? Bukankah Mas Cahyo sudah ke pabrik setelah Bapak kirim pesan tadi untuk ke sana?" ucap Meri gugup karena mata Gunawan tertuju pada daster atas Meri yang ternyata belum dikancingkan.
Kejadian yang menyisakan trauma dan penderitaan yang berkepanjangan bagi korban pun terjadi. Untuk memenuhi rasa bersalah, Gunawan melempar uang lembaran ratusan ribu pada Meri --ibu Tia.
Setelah selesai Gunawan pun berlalu pergi dari rumah Cahyo, dengan membawa alat yang diinginkan oleh Cahyo.
"Cahyo, ini alat yang kau pinta," ucap Gunawan dengan napas tersengal dan keringat yang bercucuran. Netra Gunawan tidak sanggup untuk menatap anak buahnya itu.
"Terima kasih, Tuan." Cahyo menerima uluran alat itu dari tangan Gunawan dengan tatapan aneh. Dia melihat Gunawan seperti habis lari maraton.
"Tuan, tidak apa-apa?" tanya Cahyo yang melihat kening Gunawan mengucurkan keringat.
"Mm ... Tidak apa-apa, ya sudah aku duluan. Nona Clara pasti menunggumu," ucap Gunawan dengan gugup. Dia pun bergegas menemui Clara yang ternyata masih menunggunya.
Tok!
Tok!
"Masuk!"
"Maaf, Nona. Sudah membuat anda begitu lama menunggu," ucap Gunawan yang sudah menyeka keringat di keningnya sebelum masuk ke ruangan Clara. Clara mendapatkan ruang tersendiri dari sang ayah jika ingin berlama-lama di pabrik.
"Masuk, Gunawan. Tidak masalah aku menunggumu selama 1 jam. Apa semua beres?" tanya Clara mendekat ke arah Gunawan yang masih berdiri.
"I ... Iya, Nona. Semua beres," jawab Gunawan gugup. Dia belum pernah sedekat ini dengan Clara. Jarak mereka hanya 5 cm saja.
"Kenapa kau gugup?" tanya Clara mulai menggoda Gunawan. Gunawan yang masih dalam pengaruh obat pun kembali merasakan sensasi yang luar biasa di dalam tubuhnya. Jika tadi dia melakukan dengan paksaan, kali ini dia melakukannya dengan kelembutan.
Harum tubuh Clara membuatnya semakin candu. Sudah berapa kali mereka melakukannya hingga fajar menyingsing.
"Nona ... Apa yang telah aku lakukan?! Aku sudah berani kurang ajar pada majikanku sendiri! Ampuni saya, Nona," ucap Gunawan yang bangun mendapati dirinya sedang berada satu selimut dengan Clara.
Bukannya marah, akan tetapi Clara malah tersenyum. Dia adalah gadis manja dan memiliki keinginan yang kuat. Apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan.
"Gunawan ... Apa semalam kita telah melakukannya?" tanya Clara yang pura-pura terkejut. Namun, di hatinya dia sangat senang karena rencananya berhasil.
"Kita sudaaah ...."Gunawan menunduk dia tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Malam itu sudah dua wanita yang ia nodai.
"Gunawan aku tidak akan lapor ke papi asal kau mau menikahiku! Aku takut jika aku hamil maka aku akan malu dan papi juga malu. Untuk itu, kau harus menikahi aku, Gunawan!" tegas Clara. Dia memang ingin Gunawan sang mandor yang lumayan tampan itu menjadi suaminya.
Satu bulan pun berlalu, Meri dinyatakan hamil. Cahyo yang kecewa tidak bisa berbuat apa-apa. Dia mendatangi Gunawan dengan harapan Gunawan mau bertanggung jawab. Akan tetapi Cahyo terlambat, Gunawan sudah menikah dengan Clara.
Clara mengatakan dirinya hamil dengan Gunawan sehingga Gunawan harus bertanggung jawab padanya. Ayah Clara pun terpaksa menyetujui pernikahan Clara dan Gunawan.
Gunawan yang tidak paham dengan wanita, tidak pernah tahu jika Clara sebelum menikah dengan Gunawan telah hamil. Clara menjebak Gunawan saat dia kembali setelah dari rumah Cahyo.
Clara melahirkan tepat delapan bulan setelah pernikahannya dengan Gunawan. Saat periksa kehamilan pun Gunawan jarang diajak dengan alasan Gunawan harus fokus bekerja.
"Nak Gunawan, sudah waktunya perusahaan ini, papi serahkan padamu. Papi harap kau giat bekerja agar perusahaan ini lebih maju dan sukses lagi. Papi sangat yakin dengan kemampuanmu itu. Dan papi percayakan Clara di bawah perlindunganmu. Kamu sanggup kan mengemban tugas dan tanggung jawab ini?" tanya Burhan pada Gunawan.
"Papi, jangan begitu. Gunawan masih membutuhkan papi untuk mengelola perusahaan ini." Gunawan menggenggam tangan ayah mertuanya. Lelaki yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri itu sedang mengalami sakaratul maut.
"Benar, Mas. Turuti permintaan papi agar papi bisa pergi dengan tenang. Kamu tidak usah khawatir biar aku urus calon anak kita ini. Kamu fokuslah bekerja," ucap Clara mendukung apa yang diinginkan ayahnya. Walau semua apa yang dikatakan ayahnya itu adalah permintaan dari Clara.