
Bab 76.
Deg ... Deg ..
Jantung Wulan berdetak kencang. Saat ini dia tidak membawa uang cash. Selain itu dia juga tidak membawa uang cash sebanyak itu. Entah mengapa tiba-tiba Wulan merasa cemas dan khawatir.
"Bukannya uang itu ada di bank ini? Sebelum aku pingsan, bukan kah aku menabung semua uang arisan ke bank ini?" gumam Wulan di dalam hati sembari menimang-nimang kartu debitnya.
"Nyonya, bagaimana?" tanya sang pelayan toko.
"Sebentar, Mbak. Coba Mbak pakai yang ini," ucap Wulan memberikan kartu debit yang lain.
"Baik, Nyonya," jawab pelayan kasir.
Sang pelayan kasir mencoba lagi kartu yang diberikan oleh Wulan. Tidak lama kemudian, sang kasir pun kembali menyerahkan kartu debit milik Wulan karena tidak bisa digunakan.
"Maaf, Nyonya. Kartu ini juga tidak bisa digunakan. Silakan, secepatnya anda putuskan nyonya, antrian masih banyak," ucap sang kasir.
"Mbak ... Pakai kartu ini saja, sekalian total yang ini ya, Mbak."
Tiba-tiba Tia mengeluarkan kartu debit miliknya. Muka Wulan sudah tidak berbentuk lagi menahan malu.
"Tia?" pekik Wulan menahan malu. Tidak lucu kan kalau dia mengembalikan baju yang sudah dia beli.
"Hmm ... Lain kali kalau mbak mau belanja, pastikan dulu isi dompetnya!" sindir Tia halus.
"Eaaalaah ... Gayanya aja selangit, ternyata isi dompetnya seuprit! Nol besar ... Ngakunya sosialita ternyata rakyat jelata. Eeuuhh ...?" Beberapa ibu-ibu lain berbisik menyindir Wulan.
Bukannya mengucapkan terima kasih, Wulan bergegas meninggalkan begitu saja butik itu. Ridho yang melihat wajah Wulan yang memerah menahan marah pun terheran.
Wulan terus berjalan menuju mobil mereka tanpa memerdulikan pertanyaan Ridho. Wulan masih tidak percaya jika semua saldo kartu debitnya tidak mencukupi.
Brak ....
Wulan membanting begitu saja pintu mobil, lalu dengan tangan bersedekap ia pun duduk di samping kursi kemudi. Ridho pun bergegas menaiki mobilnya lalu menyalakan mesin mobil.
"Wulan, kamu kenapa? Ini. Kita pulang atau gimana?" tanya Ridho lagi.
"Pulang!"
"Kamu yakin?"
"Mas! Aku bilang pulang ya pulang! Cepatlah mengemudi dan diamlah!" ucap Wulan kasar pada Ridho.
Ridho menggelengkan kepalanya. Sudah berapa kali dia di hadapkan dalam situasi seperti ini di mana Wulan sering marah tidak jelas kepadanya.
"Baiklah kita pulang," jawab Ridho pasrah dan mengalah mengikuti perintah Wulan. Mobil mereka akhirnya melaju dengan kecepatan tinggi. Ridho sudah tidak tahan dengan sikap Wulan yang sudah tidak menganggap dirinya sebagai suami lagi.
Sesampainya di rumah, Wulan turun dengan wajah lemas tidak tahu lagi harus bagaimana dengan dirinya. Ridho tanpa tahu penyebabnya. Ridho kembali menatap sejumlah nominal . Demi untuk menjaga perasaan malunya, Ridho tetaplah seperti itu.
"Wulan, sudahlah tidak lah perlu marah lagi. Kita sama-sama untuk bisa terus berlanjut," Hardik Hans yang tiada tahu, apa yang diinginkan Wulan, namun pada itulah masuk bisa diterima oleh sang induk.
"Mas! aku malu, Mas! kartu debitku semua tidak bisa digunakan. Padahal aku yakin sekali jika semua masih ada saldonya," ucap Wulan pada akhirnya mengutarakan semua yang dia rasakan.
Deg ... Deg ....
Rona wajah Ridho seketika berubah. Apa yang tadi dia banggakan, tiba-tiba berubah. Ridho menelan kasar ludahnya.