Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 142


Clara mendengkus kesal, melihat kedua orang yang saling terdiam itu, tidak menjawab pertanyaannya dengan tegas. Clara sama sekali tidak suka hal yang terlalu bertele-tele.



"Bukankah katamu tadi cerita-cerita pendek? Itu artinya bukan hanya sekali dua kali Mas Cahyo menceritakan tentang majikan kalian-- tuan Gunawan padamu kan? Jadi, apalagi yang dikatakan Mas Cahyo tentang suamiku?" Pertanyaan Clara menggiring Meri, mendesak wanita itu makin tak berkutik. Tujuannya Clara ingin membuat Meri merasa terancam hingga akhirnya membuka topeng, mengakui bahwa dia pernah menjadi wanita simpanan Gunawan.


"Sa-saya lupa, Bu. So-soalnya itu sudah lama." Meri tersenyum kaku. Dia terus berusaha terlihat baik-baik saja.


"Oh, jadi sekarang suamimu sudah tidak pernah menceritakan tentang suamiku lagi? Kenapa? Apa dia sekarang membenci Mas Gunawan?" Clara terus menyerang Meri, tak memberinya celah untuk berlega hati.


"Sudahlah, Ma. Kenapa jadi seperti interogasi begini?" Gunawan mulai merasa terganggu dengan sikap istrinya terhadap Meri. "Meri ini …."


"Aku sudah tahu semuanya," celetuk Clara memotong sembari menoleh pada Gunawan.


Gunawan menelengkan kepala, melihat istrinya bingung. "Maksudnya?"


"Tia anakmu dari Meri."


Deg! Deg.!



Gunawan dan Meri terdiam, tidak mampu berkata-kata lagi. Semua di luar kendali mereka.



Segera suasana berubah hening. Suara-suara menghilang bak ditelan sunyi, tercekat. Meri dan Gunawan terpegan, diam karena sangat terkejut dengan apa yang Clara katakan. Mereka tak menyangka Clara sudah mengetahui semua itu.



Sempat terlintas di benak Gunawan dan Meri tentang kemungkinan Clara mendengar perdebatan singkat tadi. Ini sangat buruk, mengingat bagaimana kerasnya sikap Clara, membuat Gunawan mengkhawatirkan Tia. Pria paruh baya itu sangat mengenal watak sang istri. Clara takkan melepaskan begitu saja orang-orang yang mengganggu kenyamanannya.


"Sa-sayang, kamu ini sedang bicara apa? A–pa maksudnya ini?" Gunawan tersengih canggung. Dia kehilangan kata-kata. Gunawan tak tahu harus berbicara apa, sehingga pertanyaan tersebutlah yang tercetus dari mulutnya. Kalau mau jujur, Gunawan pula merasa amat gugup saat ini. Dia takut membuat Clara menentangnya. Gunawan tidak bisa hidup tanpa Clara. Dia bukan siapa-siapa tanpanya.


"Kamu tahu pasti apa yang aku bicarakan, Pa. Jangan pura-pura." Clara menyeringai dingin. Dia muak dengan sandiwara tak berdosa Gunawan. Clara pula kecewa suaminya tersebut tidak sebaik yang dia kira dan malah menyukai Meri yang jelas jauh di bawah segalanya dibandingkan Clara.


Wanita paruh baya itu merasa dikhianati oleh Gunawan. Teganya dia, padahal sudah sangat Clara percaya selama ini. Clara memberikan seluruh cinta dan kasih sayangnya hanya untuk pria bi adab itu. "KAMU MERUDA PAKSA MERI HINGGA DIA HAMIL, PA!" sentaknya yang tiba-tiba meledak. Emosinya sudah tidak mampu ia kendalikan lagi.



Tampak telaga bening mulai menggenangi matanya, membuat pandangan Clara kabur berbayang. Dia kesulitan mengendalikan kemarahan setelah tahu semua kenyataan ini. Sebak sekali rasa di dada, apa kekurangan Clara sehingga Gunawan bersikap demikian? Kentara terlihat kekecewaan. Clara kepayahan ditelan kelesah.



Gunawan yang gelagapan pun lekas meraih kedua tangan Clara, berlutut di hadapannya. "Aku tahu, aku salah. Maafkan aku, Sayang. Saat itu aku khilaf. Semuanya terjadi begitu saja. Aku tidak ada maksud mengkhianatimu."



Gunawan khawatir Clara akan berpaling darinya. Gunawan tidak ingin itu terjadi. Dia sangat membutuhkan Clara untuk bisa tetap hidup. Karena Clara adalah kunci dari kesuksesan yang kini dia miliki. Kejayaan Gunawan sangat bergantung pada kepercayaan sang istri.



Clara menepis air mata yang meleleh di sisi muka dengan kasar. "Aku percaya padamu, Pa! Aku melakukan segalanya untukmu! Aku memberimu kehormatan dan kekuasaan! Tapi apa balasanmu padaku? Teganya kamu mengkhianatiku setelah semua yang kulakukan!" serunya seraya tergugu dengan kacau hingga tubuhnya bergetar. Clara benar-benar terguncang oleh kenyataan yang baru dia ketahui ini. Clara tak terima suaminya memiliki anak dari perempuan lain.



Gunawan terdiam. Semua perkataan Clara membuat mulutnya tertutup rapat. Dia tak bisa mengelak, sebab semua itu benar adanya. Clara lah yang membuat Gunawan bisa memiliki apa yang dia punya saat ini. Wanita tersebut membuat orang biasa seperti Gunawan memiliki kedudukkan dan disegani banyak orang.




"Kenapa kamu diam, Pa? Apa kamu sekarang merasa bersalah padaku? Setelah sekian lama? Aku yakin, kalau aku tidak mengetahui semua ini, kamu tidak akan mengaku dan meminta maaf. Kamu juga tidak akan merasa bersalah. Iya kan?" Clara menghujami Gunawan dengan tatapan sinis penuh kemarahan. Tak gentar dia terus menekan sang suami, membuatnya semakin tak berdaya.



"Sa–sayang, aku benar-benar menyesal. Per–percayalah. A–aku tidak mau kehilanganmu. Aku mencintaimu." Gunawan tetap pada pendiriannya, mempertahankan hubungannya dengan Clara. Dia tak mau sampai berpisah dengan wanita itu.



"Cinta? Cih! Kamu pikir aku akan percaya setelah apa yang kamu perbuat, Pa? Ingat, Pa! Aku bukan lagi wanita naif yang mudah kamu kelabui. Aku tidak sebodoh dulu." Clara memelotot, mengintimidasinya. Dia suka melihat Gunawan lemah, memohon maaf darinya seperti ini.



Suaminya itu memang pantas melakukan semua ini, karena bagaimanapun kalau bukan karena Clara, Gunawan tidak akan sesukses sekarang. "Aku mau memaafkanmu, Papa. Tapi dengan satu syarat," ucapnya pada akhirnya.


Gunawan yang mendapat kesempatan pun tersenyum penuh harap. "Apa syaratnya?"


"Jauhi Tia, jangan anggap dia sebagai anakmu atau aku akan mengambil semua yang telah kuberikan padamu." Clara dengan tegas mengatakan apa yang menjadi keinginannya. Clara yakin Gunawan pasti akan menuruti semua permintaan dirinya.


Gunawan terlongong-longong bengong dengan kedua mata membelalak. Dia sudah berjanji dengan Tia untuk menjadi ayah yang baik untuknya. Belum lagi kondisi Tia saat ini sedang hamil tua. Mana mungkin Gunawan akan tega menyakiti hati Tia.


"Tapi, Clara? Aku tidak bisa ... Sebagai seorang ayah aku harus bertanggung jawab pada anakku. Tia sudah begitu banyak menderita, di saat kebahagiaan sudah menghampiri dirinya maka tidak mungkin bagiku meninggalkan dirinya, apalagi dia sedang hamil tua. Aku mohon Clara, semua ini hanyalah kesalahan semalam saja. Aku melakukan semua itu pada Meri karena pengaruh obat!"



"Maksud, Papa?" Clara terhenyak saat Gunawan bilang kalau dirinya dalam pengaruh obat haram yang bisa meningkatkan keinginannya untuk bercinta.



"Benar, aku melakukannya waktu kau memerintahkan aku ke kamar mu waktu itu. Sebelum aku datang aku membantu Cahyo untuk mengambil alat ke rumahnya. Dan di sana tubuhku merasa panas dan aku tidak bisa mengendalikan diri lagi" teriak Gunawan yang sudah tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar.



Clara dan Meri terkejut mendengar pengakuan Gunawan. Terlebih Clara yang merasa dirinya lah yang telah membuat Gunawan seperti itu. Sosok lelaki yang dulu suka gonta-ganti wanita itu telah terjebak oleh dirinya. Akan tetapi, ternyata ada pihak yang terkena imbas dari perbuatan Clara.



"Sayang, aku mohon dengarkan semua penjelasanku! Kalau kau tidak percaya bisa tanyakan pada Cahyo apakah dulu dia memintaku untuk mengambil alat ke rumahnya!" bujuk Gunawan dengan menggenggam tangan Clara sembari bersimpuh.



Clara terdiam, dia belum bisa menerima jika semua kesalahan Gunawan berujung dari dirinya yang berniat untuk menjebak Cahyo.



"Sayang! Mengapa kau diam saja?! Katakan sesuatu aku tidak ingin kau diam saja. Semua ini semua salah ku yang tidak bisa mengendalikan diri!" ucap Gunawan menunduk.



Bagaimana mau menjawab, Clara sendiri adalah akar dari masalah yang kini terjadi. Karena ingin menjebak Gunawan, tapi wanita tidak bersalah lain yang ikut menanggung akibatnya.



"Apa yang dikatakan tuan Gunawan itu semua benar, Nyonya Clara!!" suara bariton menggema dari arah pintu. Sosok lelaki yang juga sudah berusia kepala lima beristri di depan pintu.