Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. MMSP 4


Suasana siang itu begitu menegangkan. Semua mata membeliak tidak percaya atas apa yang ia lihat.



"Cepat! Bawa tahanan ini ke rumah sakit!!" teriak salah satu tahanan yang melihat kejadian itu.



Para sipir penjaga pun bergegas membawa tubuh Wulan ke rumah sakit. Banyaknya da rah yang keluar membuat Wulan mengalami kritis. Dia pun menghembuskan napas di dalam mobil ambulans. Wulan telah pergi meninggalkan dunia ini dengan membawa sakit hati dan dendam.



"Sepertinya tahanan ini tidak kuat menahan sakit dan tidak ada semangat untuk berjuang, dia menyerah dan menghembuskan napas terakhirnya!" teriak perawat yang menjaga Wulan di dalam mobil ambulans.



"Benar! Sepertinya dia sudah menyerah, dan tidak ingin hidup lagi. Terlalu berat beban hidupnya hingga dia menyerah untuk berjuang!"



"Aku dengar, dia adalah tahanan yang dihukum seumur hidup karena tuduhan membunuh dengan sengaja seorang aparat kepolisian. Berat hukuman itu membuat dia menyerah!" ucap salah satu perawat yang merasa empati dengan nasib Wulan.



"Kalau benar begitu, malang sekali nasibnya. Aku lihat wajahnya juga mungkin membuat dia depresi. Siapa yang tidak malu dengan wajah seperti itu. Banyak tembelan luka," sahut perawat yang lain.



"Sudahlah tidak baik kita ghibahin mayat. Jangan-jangan arwahnya nanti membalas dendam pada kita!" seloroh perawat berkacamata.



"Benar, takutnya kita diikutin arwahnya yang tidak terima, hahaha ... Hari gini masih percaya dengan hantu! Ada-ada aja kamu, bro!" kekeh perawat satunya.



Mobil ambulans pun tiba di rumah sakit, jenazah Wulan pun mulai diperiksa dan dimandikan lalu dikafani.


Di Jakarta.


Gawai Tia berdering, dia yang sedang duduk santai bersandar pada kepala ranjang pun mencoba bangkit untuk mengambil gawainya itu.



"Nomor siapa ini?" gumam Tia melihat nomor yang muncul di layar ponselnya.



"Hallo, Assalamu 'alaikum ...."



"Dengan ibu Tia, saudara nyonya Wulan?" Suara asing terdengar dari seberang telpon.



"Iya, Saya sendiri. Ini siapa dan ada apa ya?" tanya Tia sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.



"Kami dari rumah tahanan kota Lampung, mengabarkan bahwa nyonya Wulan meninggal dunia karena bunuh diri, Nyonya. Mungkin ada sanak saudara yang bisa diberi kabar sebelum kami menguburkan jenazah nyonya Wulan di sini," jelas sang penelepon yang kemungkinan adalah petugas rumah tahanan.



"Apa?! Mbak Wulan meninggal dunia?! Innalillahi wa innailaihi rojiun ... Bagaimana bisa terjadi, Pak?" Tia terkejut bukan kepalang mendengar kabar kematian sang kakak yang mendadak.



"Benar, Nyonya. Tahanan bunuh diri setelah ada yang menjenguk, dia berteriak histeris lalu menangis dan merebut belati dari penjaga yang ingin menenangkannya. Kemudian menancapkan belati itu tepat di dadanya. Tahanan meninggal dunia saat perjalanan menuju ke rumah sakit, ia banyak kehilangan darah sehingga belum sampai di rumah sakit sudah meninggal dunia," jelas sang penjaga rumah tahanan.



"Astaga ... Siapa yang terlahir menjenguknya, Pak?" tanya Tia lagi, dia penasaran siapa yang membuat Wulan ingin bunuh diri.



"Dari kamera CCTV, lelaki itu adalah suami dari nyonya Wulan. Suaminya datang untuk minta tanda tangan surat gugatan cerai. Setelah itu nyonya Wulan histeris dan hilang kendali. Rencana jenazah akan dikirim ke kampung halaman atau langsung dimakamkan di sini?" tanya sang penjaga lagi.



"Sebentar, Tuan. Saat ini suami saya belum pulang dari kantor. Akan saya hubungi dan musyawarah dengan suami terlebih dahulu. Akan kami hubungi setelah kami bermusyawarah. Apakah di nomer ini?" tanya Tia yang belum tahu apa yang harus diputuskan.



"Baiklah, kami menunggu kabar dari nyonya secepatnya. Karena jenazah harus segera diproses," jawab sang penjaga dengan nada sedikit tegas.



"Baik."




"Hallo, Assalamu 'alaikum, Mas."



"Wa'alaikum salam, Tia. Kau tidak apa-apa kan?" tanya Hans pada istrinya. Rasa khawatir mengingat beberapa hari ini Tia sedang tidak enak badan.



"Mas ... Tia mendapat kabar dari rumah tahanan kalau mbak Wulan meninggal dunia," ucap Tia dengan lirih. Saat ini hatinya sedang tidak baik, sedih bercampur rasa bersalah menghantui diri Tia.



"Apa?! Wulan meninggal dunia? Innalillahi wa innailaihi rojiun ... Lalu bagaimana jenazah mbak Wulan, Tia?" tanya Hans balik.



"Tia minta pendapat mas karena Tia juga bingung, Mas. Apa kita perlu bilang pada ibu?" usul Tia.



"Lebih baik begitu, Tia. Kita harus bilang pada ibu, karena walau bagaimanapun Wulan adalah anak kandungnya," tandas Hans mengingatkan hak Meri sebagai ibu kandung Wulan.



"Baiklah, Mas. Tia akan kabari mama terlebih dahulu walau Tia tidak yakin mama akan bisa terima, takut jantung mama tidak kuat, Mas. Itu yang sedari tadi Tia ingin beritahukan."



"Benar juga. Mama pasti akan syok dan bisa kena serangan jantung jika kita beritahu. Lebih baik kita kabari papa atau Aris saja."



"Baiklah kalau begitu, Tia akan kabari papa dan Aris. Minta pendapat pada keduanya."



"Okey, Mas. Tia tunggu kepulangan mas secepatnya."



"Baik, Sayang. Ingat kamu tidak boleh terburu-buru dan tetaplah tenang."



"Insyaallah, Mas. Assalamu 'alaikum."



"Wa'alaikum salam."



Tia menutup teleponnya dengan segera karena dia ingin segera menelepon Aris. Aris dan Cahyo memberi pendapat untuk membawa jenazah Wulan kembali ke Jakarta agar saat sang ibu lebih baik dan bertanya pada mereka. Maka mereka akan bisa menjawabnya dengan menunjukkan kuburan Wulan.



Hans dan Tia pada akhirnya terbang ke Lampung untuk menjemput jenazah Wulan. Tia terisak saat melihat jenazah sang kakak yang belum dikafani. Jenazah Wulan masih tersimpan dalam lemari pendingin khusus mayat dan baru dikeluarkan saat Tia sudah sampai ke rumah sakit.



"Sabar, Tia. Semua sudah menjadi takdir dari Wulan. Kita doakan saja agar arwahnya tenang," bisik Hans sembari menenangkan Tia.



Proses pengiriman jenazah dengan menyewa pesawat jet pribadi pun dilakukan oleh Tia. Tia tidak menghitung biaya yang ia keluarkan untuk membawa jenazah sang kakak kembali ke tanah kelahirannya.



"Hmm ... apa ini hukuman bagi Wulan? semasa hidup dia membuat orang lain menderita, sekarang saat meninggalkan pun masih membuat repot orang lain," gumam sang sipir penjaga yang mengawal jenazah Wulan hingga sampai nanti dikuburkan.



Cahyo dan Aris menunggu di jenazah Wulan di rumah duka milik Tia yang diberikan pada mama dan papanya. Mereka tidak memberi tahu pada Meri jikalau Wulan sudah meninggal dunia. Meri sudah diantar ke rumah Tia untuk bermain dengan kedua cucunya, Hasan dan Hasna.



Tia makin terisak saat jenazah Wulan dibawa ke tempat pemakaman umum yang masih satu kota dengan tempat tinggal mereka.



Hujan dan angin menutup acara pemakaman tersebut. Tidak mungkin bagi Tia untuk menunggui jenazah sang kakak yang masih merah itu. Merasa cuaca yang tidak mendukung, rombongan keluarga Tia pun memutuskan untuk kembali ke rumah.



"Mbak Tia. Aris dengar mbak sedang sakit ya?" tanya Aris. Wibawa Aris memang berbeda.