Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab 44


Tia dan Hans hampir saja syok karena tidak menyangka mereka akan menikah saat itu juga. Tidak ada persiapan sama sekali, semua begitu cepat dan mendadak.


"Bu, mengapa begini? Seperti kita telah melakukan perbuatan hina dan digerebek masa," ucap Hans tidak percaya ibunya memutuskan segala sesuatu tanpa persetujuannya.



"Maaf, Nak Hans. Bukan ibumu yang memaksa kami, tapi kami lah yang memaksa ibumu untuk segera mengetahui status kalian. Kalian telah hidup satu atap tanpa ikatan jadi kami semua menanyakan kebenaran pada ibumu. Dan Bu Ningsih mengatakan kalau kalian akan segera menikah. Untuk itu kami beserta rombongan bersedia menjadi saksi dan menikahkan kalian berdua," ucap Pak RT tetua tokoh masyarakat.



Hans menatap ke arah Tia yang tertunduk malu. Mereka seperti pasangan hina yang terciduk oleh masyarakat setempat. Tia mengangguk tanda setuju. Mereka sudah kepalang basah dan tidak bisa mundur lagi.



"Baiklah, Pak RT. Kami berdua siap, walau sebenarnya kami akan melangsungkan ijab kabul setelah ibu dari Tia kembali dari rumah sakit," ucap Hans memberi alasan mengapa mereka belum juga mengurus pernikahan mereka.



"Oh, jadi ibu dari nak Tia masuk rumah sakit?" tanya pak Gito --ketua RT setempat.



"Iya, Pak. Besok baru boleh pulang. Kami akan mengurus kepulangan mama besok pagi," jawab Tia dengan senyum yang dipaksakan.



Para tokoh masyarakat pun terlihat saling berbisik. Sejurus kemudian pak RT pun mengatakan keputusannya.



"Baiklah, Nak. Maafkan kami yang tidak tahu jika ibu dari nak Tia sedang sakit, untuk itu kami mohon maaf dan akan menunggu kesediaan kalian berdua. Tapi jika kalian menghendakinya sekarang maka kami akan sangat merasa lega," ucap pak Gito lagi.



"Hans, Tia. Lebih baik sekarang saja tidak apa-apa. Toh kalian bisa secara resmi mengurus di KUA nanti. Lagian biar kalian kemana-mana bebas berdua, tidak ada yang akan nyinyir pada kian lagi," ucap Ningsih.


Tia menatap Hans dan begitu pula sebaliknya Hans menatap Tia. Keduanya saling berkomunikasi melalui tatapan mereka.


"Baiklah, Bu. Kami setuju. Tapi tidak saat ini juga beri waktu pada kami untuk bersiap. Aku ingin pengantinku cantik dengan riasan yang sempurna. Bukan begitu, Bu?"




"Baiklah, Nak Hans. Nanti sore kami akan kembali lagi. Sekalian akan saya buatkan surat keterangan bahwa kalian sudah dah menjadi suami istri. Bisa dijadikan bukti nanti di KUA.



"Terima kasih, Pak. Kami sangat bersyukur kalian semua bisa memberi waktu pada kami untuk bersiap," ucap Hans sembari mengatupkan kedua tangannya.



Para tokoh masyarakat itu pun mengundurkan diri pamitan pada Bu Ningsih dan juga pada Tia lalu Hans. Setelah semua tamu pulang, Hans dan Ningsih mulai sibuk berbenah untuk persiapan nanti sore.



"Hans, cepat kau hubungi MUA klien mu yang sering kamu pakai untuk merias model produk perusahaan mu. Aku yakin mereka pasti akan menyempatkan diri karena yang memanggil bos mereka," ucap Ningsih meminta Hans untuk meminta bantuan kliennya.



"Baik, Bu. Hans akan coba menghubungi klien Hans dan pengacara Hans juga. Aku ingin pernikahan ini segera di urus. Semoga berkas perceraian Tia sudah selesai di tinjau. Sudah hampir empat bulan dari kata talak yang diucapkan Ridho untuk Tia," ucap Hans seraya mengambil ponselnya untuk menghubungi sang pengacara dan klien MUA nya.



Bu Ningsih tersenyum melihat anaknya yang begitu semangat mengurusi pernikahannya dengan Tia. Tidak seperti dulu waktu menikahi Wulan, semua yang mengurusi adalah ibu Wulan. Berapa biaya yang dikeluarkan tidak transparan hanya meminta ganti rugi sejumlah yang mereka inginkan.



"Pak Anggoro, bagaimana pengajuan cerai yang diajukan oleh Tia, Pak?"



Terdengar suara Hans yang sedang bercakap-cakap dengan pengacaranya melalui sambungan telepon.



"Oh, Baiklah. Terima kasih, Pak. Anda sangat bisa diandalkan. Syukurlah jika satu minggu lagi akta cerai Tia sudah bisa diambil. Sekali lagi saya ucapkan banyak terimakasih, Pak. Nanti akan saya sampaikan pada Tia. Baik, sampai jumpa, Pak. Selamat siang," ucap Hans dengan hati yang gembira.



"Bagaimana, Kak? Apakah semua lancar?" tanya Tia yang tidak sengaja mendengar percakapan Hans dan Anggoro sang pengacara.