Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP 2 bab 1


Sepuluh Tahun kemudian,



Tia tersenyum menatap kedua anak kembarnya yang kini sudah tumbuh besar.



"Tia, kau tidak berangkat kerja?" tanya Hans yang menghampiri Tia dari belakang.



Tia menoleh dan tersenyum melihat penampilan sang suami yang menurutnya semakin hari semakin tampan saja. Tia berjalan mendekati lelaki yang telah menjalani biduk rumah tangga bersamanya selama hampir sebelas tahun itu.



"Badan Tia rasanya tidak karuan, Mas. Mungkin Tia akan beristirahat saja di rumah. Mumpung Hasna dan Hasan sedang liburan sekolah. Tia merasa ingin bersama mereka terus. Entah mengapa akhir-akhir ini ingin begitu," ucap Tia dengan wajah yang pucat.



Hans mengernyitkan alisnya, dia terkejut melihat wajah sang istri yang terlihat pucat.



"Kamu terlihat pucat sekali, Tia," tanya Hans sembari memegang dagu sang istri.



"Apa iya, Mas? Tapi Tia baik-baik aja. Tidak pusing atau apa, hanya saja Tia akhir -akhir ini tidak bisa tidur dengan nyenyak," jawab Tia malas. Dia beranjak dari tempat duduknya dan beralih ke tempat tidur.



Hans mengekor istrinya, lalu duduk di tepi ranjang sambil mengusap rambut sang istri.



"Lebih baik kau istirahat saja, tidak baik terlalu lama begadang. Hari ini mas tidak ke kantor, nungguin kamu saja," ucap Hans yang tidak tega meninggalkan wanita yang sudah menempati hatinya.



Tia tersenyum, dia tahu jika dia menolak pun pasti Hans tetap tidak akan masuk.



"Mas, tidak apa-apa kalau tidak masuk kantor?" tanya Tia mencoba untuk membuat Hans goyah.



"Kau sudah tahu bagaimana mas, sekali tidak maka tidak akan ke kantor," ucap Hans sambil tersenyum.



Wajah cantik Tia tersenyum, wajah yang semakin berumur, semakin terlihat cantik. Begitu pula dengan Hans, semakin dewasa maka semakin bertambah tampan. Kebahagiaan dalam rumah tangga membuat mereka memiliki wajah yang awet muda.



"Pa ... Papa ...." Hasna putri kesayangan Hans mengetuk pintu masuk mencari sang ayah. Hasna lebih dekat dengan ayahnya, berbeda dengan Hasan yang lebih dekat dengan sang ibu.



"Ada apa, Sayang?" Hans menjawab panggilan sang putri dari dalam, ia pun berdiri menuju ke arah pintu. Hans pun membuka pintu dan tampaklah sang anak berdiri di depan pintu.



"Pa ... Papa, tidak kerja?" tanya Hasna sambil menarik kemeja sang ayah.



"Mama sedang tidak enak badan, jadi papa menunggu mama," jawab Hans mengacak rambut sang putri.



"Papa! Hasna tidak suka papa memberantakkan rambut Hasna!" Hasna mencebik kesal sambil merapikan rambutnya yang hitam dan panjang sepinggang. Gadis cantik dan imut membuat siapapun yang melihatnya akan gemas.



"Maaf, papa sangat senang melihatmu cemberut begini. Karena kamu semakin cantik kalau marah," ucap Hans sambil mencubit hidung Hasna.



"Mama sakit, Pa?" Hasan yang mendengar sang ibu sakit tiba-tiba masuk begitu saja. Dia langsung menuju ke tempat tidur ibunya. Hasan adalah anak pendiam dan langsung bertindak tanpa banyak bicara. Sifat dan wajah Hasan sama persis dengan sang ayah.



"Ma, mama tidak apa -apa?" tanya Hasan pada sang ibu.



"Mama hanya lelah saja, Hasan. Tidak apa-apa kok," jawab sang ibu sembari mengusap kepala sang anak.



"Papa! Papa bagaimana sih? Mama sakit begini kita harus bawa mama ke rumah sakit," ucap Hasan dengan wajah yang serius.



Hans hanya tersenyum melihat sang putra yang khawatir dengan istrinya. "Baiklah, ayo kita bawa mama ke rumah sakit. Mama anakmu sangat khawatir dengan diri mama. Untuk itu mama mau ya periksa ke rumah sakit," ucap Hans berjalan ke arah istri dan anaknya.



Tia tersenyum, dia tidak bisa menghindar saat kedua jagoannya sudah mendesak untuk periksa ke rumah sakit.



"Baiklah, apa kata kalian mama ikut saja. Walau mama sebenarnya tidak apa-apa," jawab Tia dengan tersenyum.



"Papa, ayo bawa mama, Pa! Jangan menunda lagi, kakak tidak mau terjadi apa-apa dengan mama," ajak Hasan lagi.




"Siap, Papa," jawab Hans bergegas memanggil dua wanita yang selama ini membantu sang ibu mengasuh mereka. Karena rasa sayang, Yuni masih tetap bekerja walaupun Hasna dan Hasan sudah besar.



Hasan berlari keluar dari kamar sang ibu untuk memanggil Yuni dan bik Inah. Tanpa suara teriakan, Hasan menuju ke kamar Yuni.



Tok!



Tok!



"Mbak ... Mbak Yuni ...." Hasan mengetuk pintu dan memanggil sang pengasuh.



Klek ....



"Ada apa, Kak?" Yuni membuka pintu dan bertanya pada sang majikan.



"Mbak Yuni dipanggil papa, karena papa mau mengantar mama ke rumah sakit," ucap Hans dengan ramah. Tia dan Hans mendidik mereka agar tidak membedakan derajat manusia.



"Mama sakit, Kak?" tanya Yuni dengan nada khawatir.



"Iya, Mbak. Mama sakit, ayo cepat mbak," ajak Hasan pada sang pengasuh.



"Baik, tunggu sebentar, Kak. Mbak akan ambil tas dulu," ucap Yuni dengan bergegas berlalu masuk ke dalam kamar mengambil tas selempangnya.



Yuni pun masuk ke dalam kamar dan mengambil tas selempang yang berisi dompet dan handphone.



"Ayo, Kak," ajak Yuni.



Dia orang itu pun bergegas menuju ke kamar sang mama. Tidak berapa lama kemudian mereka pun sampai juga ke kamar sang ibu.



"Papa ... Papa ... Mbak Yuni sudah datang," ujar Hasan memberi tahu pada sang papa tentang kedatangan Yuni.



"Terima kasih, Kak. Mbak Yuni tolong bantu nyonya bawa perlengkapan ke rumah sakit, saya akan menggendong mama," ucap Hans.



"Iya, Tuan," jawab Mbak Yuni.



Hans menggendong Tia menuju ke mobil diikuti dengan Yuni di belakang.



"Kakak dan Adik di rumah bersama bik Inah. Jaga shalat dan doakan mama agar baik-baik saja," pinta Hans pada kedua anaknya.



"Iya, Pa. Kakak akan jaga adik di rumah, segera kabari mama keadaan mama," jawab Hasan sembari menggandeng sang adik.



Hans tersenyum bangga pada anak pertamanya yang bertanggung jawab pada adiknya. Dia pun bergegas membawa sang istri ke rumah sakit.



"Nyonya kenapa, Tuan?" tanya Yuni yang memangku sang majikan.



"Kurang tahu, Mbak. Tadi dia hanya mengeluh capek. Wajahnya pucat dan hanya ingin tidur. Hasan yang melihat mamanya seperti itu dia tidak tega," jawab Hans.



"Benar, Tuan. Saya juga melihat nyonya akhir -akhir ini kurang bersemangat. Nyonya terlihat lesu dan lebih banyak tiduran di kamar dibanding bermain bersama kak Hasan dan dek Hasna," imbuh Yuni yang kasihan melihat Tia.



"Kenapa mbak Yuni tidak bilang pada saya kalau nyonya akhir-akhir ini kurang sehat?" tegur Hans pada Yuni.



"Maaf, Tuan. Nyonya tidak mengijinkan saya untuk mengatakan apapun pada tuan. Nyonya bilang akan mengatakannya sendiri pada tuan," jawab Yuni merasa menyesal tidak mengatakan pada Hans.