Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 94


Hans mendekap tubuh istrinya agar reda semua emosi yang menguasai tubuh sang istri.


"Sudah, Tia. Ingatlah kita saat ini sedang berada di rumah sakit, Mas tidak mau kita diusir oleh satpam," ucap Hans menenangkan sang istri.


Tia perlahan melepaskan Devi, apa yang dikatakan oleh Hans ada benarnya juga. Salah -salah, malah diri mereka diusir oleh satpam karena sudah membayar keonaran.


"Baiklah, Mas. Aku akan mendengarkan kata-kata mu. Maafkan aku yang larut terbawa emosi," ucap Tia meminta maaf pada Hans dan berakhir mereka berdua saling berpelukan untuk saling menguatkan satu sama lain.


"Keluarga pasien bernama Aris ... tolong temui dokter jaga," ucap seorang suster keluar dari ruang IGD.


"Saya, Sus. Saya kakaknya. Bagaimana dengan keadaan adik saya, Sus?"


"Sebaiknya anda langsung bertanya pada dokter yang merawatnya. Mari silakan ikut saya," ucap sang suster mempersilakan Tia masuk ke dalam untuk menemui dokter yang bertugas menangani Aris.


Tia tidak mampu berkata lagi, dia hanya mengangguk dan mengikuti suster itu dari belakang.


"Selamat siang, Dok."


"Selamat siang, Nyonya. Silakan duduk. Nyonya adalah kakaknya pasien?"


"Iya, Dok. Saya kakak kandungnya. Bagaimana dengan keadaan Aris, apakah lukanya serius?" Tia dengan wajah serius menunggu jawaban dari sang dokter.


"Kondisi pasien masih belum sadar. Benturan di kepalanya membuat sampai saat ini pasien masih dalam pengawasan ketat. Dikhawatirkan akan mengalami gegar otak. Untuk itu pasien akan kami rawat di ruang ICU. Untuk saat ini belum bisa dijenguk. Jika ingin melihat silakan dari kejauhan, agar tidak ada virus dan kuman yang masuk. Silakan nyonya melakukan pendaftaran untuk rawat inap," ucap sang dokter kemudian.


Tia mengangguk lemas, dia pun beranjak dari tempat duduknya.


"Terimakasih, Dok. Semoga Aris tidak kenapa -kenapa. Allah lah yang kuasa atas diri manusia, saya yakin itu," ucap Tia dengan nada putus asa tapi juga berusaha untuk semangat.


Semua orang akan mengalami hal yang membuatnya benar-benar pasrah pada takdir yang Tuhan berikan. Hanya bisa berdoa dan terus berusaha hingga pada akhirnya semua keputusan kembali lagi pada Sang Pencipta.


Tia melangkah keluar dengan langkah gontai. Di luar Hans sudah menunggu dirinya.


"Sayang kamu tidak apa-apa? Bagaimana kondisi Aris? Dia baik -baik saja kan?" tanya Hans menghampiri Tia.


"Sabar, berdoalah. Semoga Aris baik-baik saja," ucap Hans mengusap punggung sang istri untuk memberinya kekuatan.


"Semua ini gara-gara wanita itu, Mas. Dia yang sudah membuat Aris tidak sadarkan diri!" Tia menunjuk wajah Devi yang masih menunggui di ruang tunggu.


"Sudah, Sayang. Jangan emosi lagi. Sekarang hanya doa yang Aris butuhkan, bukan tangisan. Kita harus ikhlas dan tawakkal. Serahkan semua ini pada Allah dan juga para tim dokter. Semoga Aris cepat sadar," ujar Hans lagi. Tiada hentinya dia menenangkan sang istri.


Dengan sesenggukan, Tia perlahan menenangkan dirinya. Devi yang melihat Tia menjadi ketakutan. Devi pun berniat untuk pergi meninggalkan rumah sakit itu.


"Kamu mau kemana wanita pembawa sial?!" Tangan Tia mencekal tangan Devi saat baru mau melangkah pergi.


"Mbak! Aku tidak ada sangkut pautnya dengan kecelakaan yang menimpa mas Aris! Jadi jangan halangi aku mau kemana saja itu terserah aku, Mbak!"ucap Devi. Akhirnya dia bersuara karena sudah tidak bisa menahan rasa kesal pada kakak iparnya itu.


"Aku tidak akan membiarkan mu pergi begitu saja sebelum jelas apa yang menimpa Aris. Aku yakin kamu ada hubungannya dengan kecelakaan ini. Jika itu benar maka aku pastikan kamu akan menerkam di penjara!" gertak Tia. Dia sudah teramat benci dengan Devi.


Glek!


Devi menelan kasar ludahnya, memang secara tidak langsung dia lah yang menyebabkan Aris mengalami kecelakaan.


"Lepaskan, Mbak! Sudah aku katakan kalau aku tidak ada hubungannya dengan kecelakaan mas Aris!" Devi meronta melepaskan diri dari cekalan tangan Tia.


"Pak Polisi, tolong amankan dia. Dia lah yang membuat adik saya mengalami kecelakaan!" ujar Tia pada petugas kepolisian yang ada di ruangan itu. Mereka sedari tadi terus mengawasi jalannya pemeriksaan pada Aris.


"Siap, Nyonya!" jawab polisi itu. Kata-kata Tia membuat polisi menahan Devi.


"Lepaskan! Saya tidak mau dipenjara! Saya tidak ada hubungannya dengan kecelakaan mas Aris, Pak Polisi!" ucap Devi meronta saat polisi itu memborgol tangannya.


"Jangan dengarkan dia, Pak. Bapak harus menyelidiki kasus ini sampai tuntas, dan saya yakin pasti wanita ini ada hubungannya dengan kecelakaan Aris!" ucap Tia dengan tatapan tajam karena kebenciannya pada Devi.


"Siap, Nyonya. Kami akan usut tuntas kasus ini. Dan untuk anda nyonya Devi, sebaiknya anda bisa diajak kerjasama agar semua bisa diselidiki dengan baik. Jika anda tidak bersalah maka kami akan melepas anda kembali," tandas petugas kepolisian bagian kecelakaan lalu lintas.


"Pak ... pak polisi, lepaskan saya, Pak!" ucap Devi meronta. Namun tenaganya kalah besar dengan petugas kepolisian itu.