
Pagi Hari yang cerah, matahari bersinar dengan indahnya. Begitu pula suasana sarapan di meja makan terasa semula hangat menjadi dingin.
"Sayang, mengapa kamu terdiam? Bukankah semua masalah sudah selesai sekarang?" ucap Hans.
"Entahlah, Mas. Jujur Tia masih belum plong jika belum mengeluarkan semua unek-unek di dalam hati ini. Tia ingin meluruskan sekali lagi bahwa di antara aku dan mas Ridho sudah tidak ada hubungan apa -apa ...." Tia menunduk karena air matanya mau keluar.
Hans terperangah mendengar penuturan sang istri yang ternyata masalah belum selesai. Benar yang dikatakan Vera, wanita hamil itu sangatlah perasa.
"Baiklah, sekarang jelaskan semua agar hati dan pikiranmu merasa tenang," pinta Hans pada Tia. Hans ingin memberikan kesempatan kepada Tia untuk mengungkapkan semua yang ia rasa.
Akhirnya, Tia pun menjelaskan semua kesalah pahaman yang terjadi antara dirinya dan Hans. Wanita yang sedang hamil itu terlihat tidak kuasa jika harus menerima amarah suaminya.
"Mas, jangan seperti ini. Kita ini orang dewasa, aku tidak ingin jika mas marah tanpa mendengarkan semua penjelasan dari ku, dan Tia harap mas mengerti posisiku, ya," Tia memohon kepada suaminya dengan suara lembut, penuh perasaan. Tia ingin suaminya paham bahwa ia terpaksa menerima hadiah pemberian dari Ridho karena merasa tidak enak jika menolak.
"Apa selama ini aku kurang
mengerti posisimu, Tia? Aku seperti ini pun karena aku khawatir kamu meninggalkan aku! Jujur Tia, aku masih trauma, jangan sampai kandas lagi rumah tangga yang aku bangun ini," Kata Hans sedikit dengan tekanan. Pria dewasa itu terlihat sangat khawatir, dan takut kehilangan istrinya.
Kedua sejoli pasangan suami-istri ini sibuk saling introspeksi diri di rumah mereka yang cukup luas. Di sini Tia yang sedang hamil terduduk di kursi makan sembari mengaduk-aduk makanannya. Tia juga merasa khawatir pertengkaran mereka akan menggangu kondisi bayi yang sedang ia kandung.
"Iya, mas. Makanya kamu harus percaya sama aku. Nggak mungkin aku menyia-nyiakan hubungan kita hanya demi masa laluku," jelas Tia sepenuh hatinya. Sorot matanya yang menunjukkan kesungguhan membuat hati sang suami perlahan luluh.
Hans tersentuh, dia pun berjalan mendekati istrinya yang duduk di seberang meja. Pria pemimpin perusahaan ternama itu merasa sangat iba kepada wanita yang tengah mengandung anaknya.
Dengan lembut dia menggenggam jemari lentik Tia. Kemudian berkata, "Maaf kalau kali ini aku bersikap menyebalkan. Semua ini karena aku tidak mau kehilanganmu, Sayang," ucapnya dengan suara lembut, penuh kasih sayang.
Hans mengecup kening sang istri tercintanya itu. Kemudian, dia kembali menatap lekat manik indah sang istri yang kini sedang memandangnya dengan sorot mata penuh kepercayaan.
"Iya, aku mengerti, mas. Terimakasih, kamu telah mencintaiku sebesar ini," tutur Tia. Ibu muda yang sedang hamil ini pun mulai bermanja kepada suaminya. Perlahan Tia bersandar di bahu sang suami.
Pada saat ini manisnya hubungan, dan kehangatan, kembali melingkupi pasangan ini. Tia dan Hans mulai mengusap lembut sang calon jabang bayi di perut istrinya.
"Baby, maafkan papi ya ... Papi sudah salah paham dengan mami mu. Kehadiran mu, akan semakin menambah kebahagiaan kami berdua." Hans mengecup kandungan sang istri.
"Aku benar-benar takut kehilangan kamu, Tia. Apalagi kalau sampai kamu kembali kepada masa lalumu itu. Aku takut sekali," lirih Hans tiba- tiba, diapun memeluk erat tubuh istrinya, pertanda bahwa dia benar-benar takut kehilangan Tia.
Tia tersenyum kecil. Dia sangat mengerti akan kegelisahan hati suaminya. Karena inilah dia justru tidak mungkin meninggalkannya. Karena dari Hans lah Tia bisa merasakan kebahagiaan dicintai sepenuh hati.
"Masa lalu adalah masa lalu, mas. Tidak pernah terpikirkan sedikitpun di dalam hatiku untuk mengenang apalagi kembali kepada saat-saat itu. Justru, aku akan selalu menjadikan masa itu sebagai pelajaran, agar aku tidak melakukan kebodohan yang sama seperti di masa lalu," jawab Tia tidak kalah lirih.
Wanita yang sedang hamil tua itu pun membalas pelukan suaminya, dia bahkan mengusap bahu kokoh sang suami yang kini sedang membutuhkan ketenangan hati. Dia paham sekali seperti apa ketakutan yang saat ini sedang dirasakan oleh Hans. Karena itulah kali ini Tia sabar menjelaskan kepada suaminya.
"Aku yakin dengan dirimu, Tia. Tapi dia juga begitu gigih mencoba merebut mu dariku," tutur Hans terdengar sedikit bergetar. Hans yang posesif itu memang memiliki hati yang begitu lembut. Sehingga hal ini mampu membuatnya nyaris menangis dan bersedih.
"Kamu benar, mas. Aku bahkan tidak habis pikir kenapa mas Ridho begitu gigih ingin merusak rumah tangga kita. Aku sendiri pun lelah terus dihantui oleh pria itu, Mas," kata Tia akhirnya menyuarakan isi hatinya. Tiap berharap dengan ini sang suami mengerti bahwa dirinya juga tidak nyaman terus didekati oleh Ridho.
Dia sendiri sangat heran kenapa pria seperti Ridho terus-terusan mengejar dirinya. Padahal Ridho bisa saja menemukan wanita yang jauh lebih baik di luar sana. Namun entah mengapa Ridho justru memilih kembali mengejar cinta Tia yang kini sudah bersuami.
Kali ini Hans terdiam. Suami Tia itu terlihat memikirkan masalah ini dengan cukup serius. Dia harus segera menghentikan sikap gila Ridho yang terus mengganggu rumah tangganya.
"Kenapa kamu diam saja, Mas?" Tia menengadah saat bertanya. Dia ingin melihat Seperti apa ekspresi wajah suaminya saat ini.
"Aku sedang memikirkan cara untuk menghentikan sikap gila pria itu. Karena jika kita terus diam, maka dia akan semakin semena-mena," kata Hans sembari mengusap lembut bahu istrinya.
Terlihat jelas pria dewasa ini begitu khawatir dengan hubungan mereka. Raut wajah Hans tampak tegang saat memikirkan solusi untuk masalah ini.
Tia yang melihat perubahan wajah sang suami mulai khawatir. Dia takut sama suami melakukan hal nekad kepada Ridho. Dia takut harus mendapat masalah besar karena Ridho.
"Mas, bagaimanapun caramu menangani masalah ini, Tia harap mas jangan sampai melakukan perbuatan nekat pada mas Ridho. Tia tidak mau kamu kenapa-napa, Mas," tutur Tia sembari mengeratkan pelukan pada suaminya.
Hans tersenyum. Dia mengerti kekhawatiran istrinya ini. Jadilah dia mendekap erat kembali tubuh rapuh sang istri, demi menyalurkan ketenangan satu sama lain.
Tia mengangguk paham. Kini dia bisa bernafas lega sebab suaminya kembali tenang dan percaya pada dirinya.
"Oh, iya, mas. Kalau boleh tau, Apa yang membuatmu begitu yakin bahwa Mas Ridho masih sangat menginginkanku, bahkan hingga terobsesi padaku?" tanya Tia kembali menengadah untuk melihat ekspresi wajah sang suami.
"Tentu saja karena rekaman CCTV yang kamu tunjukkan kepadaku kemarin," jawab Hans dengan raut wajah yang masih saja kaku, penuh keseriusan.
"Rekaman CCTV?" Tia bertanya dengan ekspresi wajah penuh kebingungan.
"Iya. Dari rekaman itu terlihat jelas bagaimana cara dia menatapmu. Dari situ pula aku bisa menilai bahwa kamu sebenarnya enggan meladeni sikapnya," jelas Hans dengan sabar.
"Iya, mas. Kamu benar. Sejujurnya aku sangat enggan meladeni sikap Mas Ridho. Tetapi di sisi lain seringkali rasa kasihan itu muncul dan membuatku tidak tega melihat wajahnya yang begitu memelas," kali ini dia menjelaskan dengan perlahan. Dia harus berhati-hati dengan ucapannya agar tidak kembali membuat suaminya marah.
"Haahh," Hans menghela nafas berat begitu mendengar ucapan istrinya. Kemudian dia berkata, "Inilah salah satu hal yang membuatku sangat khawatir. kamu terlalu murah hati kepada semua orang, sayang. Sehingga seringkali kamu ditipu bahkan dipermainkan."
Harus meletakkan dagunya di atas kepala sang istri saat mengatakan hal ini. Pria dewasa itu kembali mengusap perlahan kepala sang istri demi menunjukkan kasih sayangnya yang begitu besar.
Tia tersenyum kecil mendengar ucapan suaminya. Meski terdengar seperti ejekan tetapi terkadang hal itu memang benar. Dan Tia tidak bisa menyangkalnya. Beberapa kali dia bahkan sering dimanfaatkan oleh teman-temannya karena sikapnya yang terlalu mudah percaya dan berbaik sangka kepada semua orang.
"Hehehe ..., maaf, mas. Mulai sekarang aku akan lebih berhati-hati menanggapi sikap orang-orang yang cenderung ingin memanfaatkan kebaikanku," ucap Tia mencoba menenangkan perasaan suaminya dengan mengatakan hal itu. Padahal dia sendiri tidak yakin bisa membedakan mana orang yang benar-benar butuh bantuan, atau mana orang yang hanya ingin memanfaatkan kebaikannya.
"Iya, semoga saja kamu bisa bersikap tegas pada orang-orang seperti itu. Apalagi pada pria mengesalkan itu," kata Hans kembali terlihat penuh emosi.
Tia terdiam. Dia terhanyut ke dalam pikirannya sendiri. Dia mengingat kembali bagaimana cara Ridho yang begitu keras mencoba untuk mendekatinya dan berkata ingin memperbaiki segalanya. Diam-diam Tia merinding mengingat betapa gigih usaha pria itu. Hingga membuat Tia benar-benar jijik padanya.
"Oh, iya, bagaimana kondisi bayi kita hari ini?" Hans mengalihkan topik pembicaraan. Calon ayah dengan rambut hampir panjang karena tidak sempat mencukurnya, mengusap lembut perut istrinya yang kini sudah semakin membesar. Senyum di wajahnya yang tadi kaku kini perlahan terbit seperti matahari fajar. Memancing keceriaan kembali di wajah sang istri.
"Adik bayi hari ini sedikit manja, papa. Dia tidak nafsu makan," jawab Tia sembari menirukan suara anak kecil. Sikap Tia ini sukses membuat Hans semakin gemas.
Hans mengajak Tia bangkit dari kursinya menuju kursi sofa ruang tengah. Tia duduk di sofa sementara Hans memilih duduk di lantai agar bisa sejajar dengan perut istrinya. Kemudian dia kembali mengusap perut sang istri sembari mengajaknya berbicara seperti sedang berbicara secara langsung dengan bayinya.
"Ya ampun, kenapa anak papi tidak mau makan, Hem?? Apa mau papi suapin?? Atau, mau Papi carikan menu favorit kamu?" Hans bertanya dengan suara lembut penuh perhatian.
"Iya, Pi! Aku ingin diajak ke Jogja untuk makan gudeg khas Jogja, nih. Gimana dong, Pi? Boleh ya?" tutur Tia semakin terdengar manja, dan menggemaskan karena menirukan suara anak kecil.
"Jogja? Memangnya kamu sudah boleh pergi naik pesawat dalam kondisi seperti ini?" Kali ini Hans menengadahkan wajah saat mengucapkan hal ini. Dia menatap penuh keheranan kepada wajah sang istri.
"Iya, Mas. Sudah diperbolehkan oleh dokter kandungan, kok, saat kemarin aku pergi periksa. Mas kan juga berjanji mau mengajak Tia baby moon," kata Tia dengan senyum kecil yang mengembang dengan penuh kebahagiaan.
"Benarkah?! Kalau begitu bagaimana kalau kamu ikut mas, mas mau melakukan perjalanan bisnis ke Jogja beberapa hari lagi?" Hans bertanya sembari memikirkan beberapa persiapan untuk istrinya, dan bayinya.
"Boleh, Mas? Apa nanti aku tidak akan merepotkan mu? Mengingat kondisiku saat ini, ditambah Aku bukan orang yang mudah berbaur," ujar Tia sembari memasang wajah bingung.
"Tidak masalah. Ada sekretarisku Dan bi Inah yang akan membantumu bersiap. Yang penting kondisi fisikmu sehat untuk bepergian. Bukankah kamu ingin pergi jalan-jalan, dan bertamasya mencari suasana baru?" Hans kembali tersenyum sembari mengusap lembut perut besar istrinya. Terlihat sekali pria dewasa ini sangat menyayangi istrinya dan bayi yang sedang dikandungnya.
"Iya, mas. Aku suntuk sekali terus-terusan di rumah. Kalau begitu, aku akan menyiapkan obat-obatan, dan keperluan lain sebelum kita pergi ke Jogja."
Kali ini senyum indah kembali mengembang di wajah Tia. Wanita dewasa ini sangat senang akhirnya bisa pergi jalan-jalan setelah sekian lama.
Hans ikut tersenyum senang melihat wajah ceria istrinya. Setelah masalah yang merundung mereka beberapa hari ini, jalan-jalan kali ini pasti akan menjadi momen yang sangat menyenangkan bagi mereka berdua. Karena itulah Hans pun bahagia bisa membawa istrinya pergi jalan-jalan menikmati waktu berdua. Yah, meski jalan-jalan kali ini tetap akan diselipi jadwal kerja.
"Tapi mas minta, Kamu jangan terlalu memaksakan diri. Meskipun sedang senang karena jalan-jalan kamu tetap harus ingat untuk banyak beristirahat. Di usia kandunganmu yang sekarang ini, kamu harus lebih banyak istirahat," pinta Hans sembari mengusap lembut tangan istrinya. Dari sini bisa terlihat dengan jelas bahwa Hans sangat perduli akan kondisi kesehatan istri dan bayinya.
"Baiklah, mas. Aku akan ikut permintaanmu. Tapi jika nanti aku lupa kamu harus sabar saat mengingatkan aku lagi, ya," sahut Tia sembari mencubit lembut hidung mancung suaminya. Hans pun mengangguk senang dengan senyum yang terus mengembang.
Suasana hangat dan romantis kembali di antara pasangan suami-istri ini. Masalah kemarin justru membuat hubungan mereka semakin erat dan hangat. Dari masalah kemarin pula mereka berdua semakin mengenal satu sama lain. Mereka berdua sama-sama sadar bahwa dalam rumah tangga kerikil-kerikil masalah seperti inilah yang justru akan semakin mempererat hubungan mereka.
Apalagi di antara mereka kini sebentar lagi akan dikaruniai seorang bayi yang akan melengkapi hubungan mereka. Jadilah mereka harus semakin dewasa dalam menyelesaikan masalah rumah tangga mereka.
"Sayang, apapun yang terjadi nanti, jangan pernah tinggalkan aku, ya," mendadak Hans mengucapkan hal ini saat mereka berdua berhenti tertawa Hans kini terlihat begitu serius saat menatap wajah istrinya.