Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab 18


Tia terperangah, saat lelaki tak dikenalnya menodongkan sebuah senjata tajam. Rasa takut menyelinap di hati Tia. Tubuh rapuh Tia bergetar, peluhnya membasahi dahi.


"A ... Apa mau, Anda?" suara Tia tercekat hanya sampai di tenggorokan. Lelaki yang memakai hodie hitam itu tersenyum menyeringai. Di depannya ada mangsa yang lumayan untuk makan hari ini. Tia bagai kelinci yang lemah tak mampu melakukan perlawanan pada harimau.


Lelaki itu menyeringai lalu mengancam Tia.


"Serahkan dompet dan Hp mu, jika tidak jangan salahkan aku paksa dan pisau ini menancap di perutmu. Cepat serahkan!" ancam lelaki itu.


Tia panik, diapun berteriak meminta tolong.


"Tolooong ...." teriak Tia, namun tidak lah lama karena lelaki itu membungkam mulut Tia.


"Mmmph ...." Tia meronta saat mulutnya dibekat oleh perampok itu.



"Diam! Jika kau teriak lagi, kupastikan pisau ini menyayat wajahmu yang cantik ini!" hardik lelaki itu. Dia sukses membuat Tia takut. Tia mengerjapkan matanya. Saat ini mengikuti kemauan perampok itu adalah ulyang terbaik karena saat ini nyawanya sedang terancam.



Lelaki itu senang saat mangsanya sudah dia kuasai. "Serahkan tas dan ponselmu, cepat!" gertak lelaki itu lagi. Ia tidak membiarkan Tia mencuri kesempatan untuk kabur.



Bekapan lelaki itu terlepas karena gigitan dari Tia. "Tidak ... Jangan!!pergi ... pergi kau dari sini ...." Tia berteriak kencang, dia tidak mempedulikan ancaman orang itu.



Mendengar Tia masih juga berteriak, preman itu pun panik hendak menusuk Tia dengan pisaunya. Saat tangan si preman terangkat hendak menusuk, tiba-tiba datang seseorang yang memukul dengan balok tangan preman itu.


Bugh ... Bugh ....


"Arrgh!" pekik preman itu.


Tia menatap siapa yang telah memukul preman yang mengancamnya itu.


"Kak Hans?" pekik Tia.


Tia pun berlari ke arah Hans, tanpa disadarinya dia memeluk Hans dengan erat. Tia menyembunyikan wajahnya di dada Hans.


Karena refleks Hans pun mendekap Tia erat. Dia melindungi Tia dari preman itu.


"Awas, kalian!" teriak si preman sambil berlari meninggalkan Hans dan Tia. Ia memegangi tangannya yang sakit karena pukulan Hans.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Hans pada Tia dengan nada khawatir.



"Eh, maaf Kak. Aku tidak sengaja, Aku takut dengan preman itu." Tia melepas pelukannya.



"Tidak apa-apa. Tenang, preman itu sudah pergi," jawab Hans canggung. Hans menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ada desir aneh menyelinap saat Tia tiba-tiba memeluknya.



"Terima kasih, Kak," ucap Tia.



"Iya sama-sama. Lebih baik kuantar pulang, agar aman. Takutnya preman itu membuntuti mu," tawar Hans pada Tia.


"I ... Iya. Sekali lagi terima kasih, Kak," jawab Tia pasrah mengikuti Hans. Dia cukup trauma dengan insiden tadi.


Tia memasuki mobil Hans yang masih terparkir di depan mini market. Tia bersyukur, Hans menolongnya hari ini. Tia menatap Hans yang fokus mengemudikan mobil.



Tia terkejut, dia bingung. Haruskah dia menjawab pertanyaan Hans itu. Tia menatap lekat Hans yang sedang mengemudi, dia memutuskan untuk menceritakan semua.


Ciiiit ...


Mobil direm mendadak, bersyukurlah jalanan sepi hingga tidak menimbulkan kecelakaan.


"Apa?! Wulan menikah dengan Ridho?" Pekik Hans terkejut. Dia pun melajukan kembali mobilnya.


"Sekarang Wulan juga sedang hamil? Untunglah dulu Aku menceraikan Wulan ... Tidak kukira keputusanku membawa bencana bagi mu, Tia. Andai Aku tidak menceraikan Wulan, pastilah Ridho masih bersamamu!" sambung Hans lagi. Ada perasaan bersalah menyelinap dalam hatinya.


"Bukan kesalahan Kak Hans kok, Bu. Semua sudah menjadi takdir Tia. Tia bersyukur bisa mengetahui kalau selama ini mas Ridho tidak mencintai Tia," jawab Tia dengan menyeka air matanya yang mulai menetes. Luka yang berusaha dikuburnya kembali terbuka.


"Hapuslah air matamu, Tia. Maafkan Kakak, jika keputusan Kakak membuatmu menderita." Hans memberikan tisu pada Tia.


Tia yang menangis tidak menyadari kalau Hans memutar arah mobil menuju rumahnya. Hans hanya ingin menebus kesalahannya pada Tia.


"Lhoh ... Kak, Kita di rumah siapa?" tanya Tia saat mobil memasuki halaman rumah yang sangat mewah.



Hans diam tidak menjawab pertanyaan Tia. Dia fokus memarkirkan mobil di garasinya. Setelah terparkir sempurna Hans mengajak turun Tia.



"Ayo kita turun, Tia." Hans turun terelbih dahulu, diikuti oleh Tia.



"Ini rumahku, Aku tinggal di sini bersama ibu. Tapi kalau aku sedang bosan maka aku menginap di apartemenku. Aku sengaja mengajakmu ke sini agar kau merasa aman dan memiliki teman di kota ini," ucap Hans di depan pintu masuk.



Tia tertegun sesaat melihat Hans yang sangat mencintai ibunya. "Kak ... terima kasih sudah menolongku," ucap Tia dengan tulus.



"Anggap saja semua untuk menebus kesalahanku padamu. Ayo lebih baik kita menemui ibu, pasti beliau sangat senang dengan kedatanganmu." Hans menarik tangan Tia memasuki rumahnya.



"Bu, lihat siapa yang Hans bawa," ucap Hans mendekati ibunya yang sedang menonton televisi di ruang tengah.



Ningsih--Ibu Hans menoleh ke arah suara putranya, dia mengulas senyum secerah mentari. Ningsih tidak menduga jika Hans akan berani membawa seorang wanita ke rumah. Bu Ningsih heran, ternyata wanita yang dibawa oleh anaknya adalah adik mantan istri Hans--Wulan.



"Oh, Kamu, Tia? Apa kabar,Nak?" Sambut Bu Ningsih dengan senyum yang merekah.



Ada desiran hangat yang emnjakar dalam tubuh Tia, bagaikan matahari yang menghangatkan bumi.



"Alhamdulillah baik, Bu." Tia menjawab sembari mencium tangan Bu Ningsih.



"Hans, dimana kamu bertemu dengan Tia?" Bu Ningsih bertanya pada Hans yang duduk di sampingnya. Hans menceritakan awal mula pertemuannya dengan Tia. Hans juga menceritakan bagaimana Tia bisa sampai di kota ini sendiri.



"Benarkah, Tia?" tanya Ningsih pada Tia. Tia menganggukkan kepala tanpa bersuara. Lidah Tia kelu, tenggorokannya kering, air mata membasahi pipi mengingat pengkhianatan yang dilakukan Ridho dan kakak perempuannya.