
Tia tersenyum melihat wajah sang suami. Mungkin dalam pikiran Hans, istrinya aneh. Senyum mengembang di sudut bibir Tia.
"Kamu kenapa, Sayang. Sedari tadi mas lihat terus aja tersenyum. Bikin mas penasaran deh," ujar Hans dengan alis yang bertaut menjadi satu.
"Mas, ada yang ingin Tia beritahukan pada mas. Rahasia Luna selama ini," ucap Tia dengan senyum yang mengembang.
"Memang ada apa dengan Luna lagi? Bukankah dia sudah kau pecat?" tanya Hans yang bingung dengan teka teki yang diberikan oleh istrinya.
"Mas, Tia tidak menyangka jika Luna itu adalah mbak Wulan. Mantan istri pertama, Mas. Untung saja mas tidak tergoda oleh Luna. Kalau tidak, pasti mas sudah masuk ke dalam perangkap mbak Wulan. Heran aku dengan mbak Wulan, dia begitu benci dan tidak suka melihat Tia hidup bahagia. Untung Allah memberitahu melalui feeling Tia," ucap Tia serius.
"Apa?! Luna itu Wulan? Astaga ... Untung anak kita tidak ia celakai, kalau tidak aku akan mengejarnya hingga ujung dunia," geram Hans mengepalkan kedua tangannya.
"Benar, Mas. Kita masih beruntung, Allah melindungi anak-anak kita. Mungkin dia hanya ingin merebut mas dan anak-anak dari tangan Tia. Sedari dulu, mbak Wulan kan tidak suka dengan apa yang Tia miliki." Tia menghela napas panjang. Mengingat masa kecilnya yang kelabu. Semua yang ia miliki selalu diambil paksa oleh Wulan. Padahal Wulan selalu menjadi yang utama bagi ayah dan ibunya.
"Mas juga tidak menyangka, Wulan bisa menjadi wanita seperti itu. Kecelakaan kemarin tidak juga membuat dirinya sadar diri. Masih ingin berbuat jahat padamu. Anehnya kenapa wajah dia bisa berubah total seperti itu, mas menilai bukannya tambah cantik akan tetapi bertambah mengerikan," ucap Hans mengingat wajah Wulan saat menjadi Luna.
"Benar, Mas. Teguran dari Allah tidak juga membuatnya sadar, dia sama sekali tidak mau memahami apa yang ia dapatkan adalah hasil dari perbuatannya. Tapi orang semacam mbak Wulan itu mana mau berpikir. Yang Tia takutkan, Mbak Wulan masih bebas berkeliaran. Apa Tia boleh lapor ke polisi agar mbak Wulan jera, tidak menyalahgunakan yayasan penyalur jasa baby sister."
Hans terdiam tampak berpikir apa yang dikatakan oleh sang istri.
"Benar apa yang kau katakan Tia, jika dibiarkan maka akan banyak orang tua yang merasa cemas karena anaknya diasuh oleh orang yang mengaku sebagai baby sister kiriman dari yayasan. Baiklah mas dukung kamu, kita akan melaporkan kejadian ini pada pihak yang berwajib." Hans menyetujui apa yang diusulkan istrinya untuk melaporkan Wulan pada polisi.
"Kalau begitu mumpung kita masih ada di sini, bagaimana kalau kita laporkan sekarang juga. Semua bukti sudah ada, rekaman video Wulan dan dokter Arfa juga ada," ucap Tia membuat Hans terkejut. Istrinya dari mana bisa memiliki rekaman video itu.
"Tia, katakan pada mas, dari mana kau mendapatkan rekaman video itu?" tanya Hans dengan tatapan mata penuh selidik.
"Mmm ... Begini, Mas. Tia meminta bantuan ayah untuk menyelidiki Luna dan ayah mengirim seseorang untuk mengawasi gerak gerik Luna alias mbak Wulan hingga sampai ke Lampung. Di mana dokter kebetulan juga bertugas di sini. Semua yang dokter Arfa dan Wulan katakan ada di dalam rekaman video ponsel orang itu dan dikirim langsung pada Tia agar Tia dengar sendiri percakapan mereka," jawab Tia lugas. Dia tidak takut jika Hans akan merasa cemburu, karena Tia sama sekali tidak menemui dokter Arfa.
"Oh, begitu. Istriku sekarang semakin pintar. Tanpa turun tangan tapi bisa mengatasi masalah. Baiklah, ayo kita ke kantor polisi untuk membuat laporan," ucap Hans tersenyum. Dia merasa senang karena istrinya tidak bertemu dengan dokter Arfa. Lelaki yang pernah menguasai hati Tia.
"Baiklah, Tia bersiap sekarang agar semua urusan cepat selesai," ucap Tia beranjak dari duduknya.
***
Tia dan Hans melajukan mobilnya menuju ke kantor polisi. Dengan semua bukti yang sudah dia milikki, kali ini Tia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membalas dendam pada Wulan. Pelajaran berarti yang tidak akan pernah membuat Wulan berkutik kembali.
Tiga puluh menit kemudian, Tia dan Hans akhirnya sampai di kantor polisi. Dia segera masuk ke dalam dan membuat laporan untuk kasus penipuan. Tia juga membeberkan semua bukti yang dia miliki, serta kesaksian dari Bu Yayasan melalui sambungan telepon.
"Baik, laporan Ibu akan kami proses. Namun untuk proses lebih lanjut, kami juga membutuhkan kesaksian secara langsung. Apakah pihak yang memberi saksi bisa datang langsung kemari?" tanya petugas polisi di belakang meja pelaporan.
Tia menganggukkan kepala. Dia bisa meminta bantuan pada ibu pemilik yayasan untuk datang ke kantor polisi memberi keterangan. Setelah menyerahkan semua bukti sebagai lampiran pelaporan, Tia dan Hans segera pulang dan menelepon Bu Yayasan tempat penyedia jasa baby sitter.
"Jadi, apa Ibu bisa membantu?" tanya Tia pada wanita paruh baya di hadapannya.
"Kalau hanya untuk memberi kesaksian saja, sepertinya memang harus dilakukan karena ini juga menyangkut nama baik yayasan," jawab Bu Yayasan setelah berpikir sejenak mengenai kasus yang tengah dihadapi Tia. Tidak salahnya membantu.
Tia tersenyum senang mendengar jawaban dari Bu Yayasan. "Kalau begitu, saya akan kirim tiket pesawat untuk ibu bisa datang ke sini. Sekretaris saya akan menjemput ibu dan mengantar ibu ke Lampung. Semua keperluan ibu sudah kita jamin. Bagaimana?" tanya Tia lagi.
Setelah menunggu hampir dua jam pada akhirnya Bu ketua yayasan itu sampai ke penginapan di mana Tia menginap dan menempati kamar yang sudah Tia pesankan untuk ketua yayasan itu.
"Selamat datang, Bu. Maaf, kita belum berkenalan, jadi saya belum tahu nama ibu," ucap Tia mengulurkan tangannya.
"Iya, Maaf. Nyonya Hans. perkenalan nam saya Dina. Bagaimana apa yang bisa kami bantu, Nyonya. Kami juga merasa perlu untuk membersihkan nama baik yayasan kami, agar ke depannya tidak ada lagi korban," jawab ketua yayasan yang bernama Dina itu.
"Kalau ibu tidak capek kita bisa ke kantor polisi sekarang agar
laporannya bisa segera diproses. Tolong bantuannya."
"Insyaallah tidak, Nyonya. Lebih cepat itu lebih baik," jawab Dina dengan tersenyum.
"Mas, Bagaimana?" tanya Tia pada sang suami yang sedari tadi terdiam. Hans jika ada wanita asing akan lebih banyak diamnya.
"Tidak masalah jika kita ke kantor polisi sekarang juga," jawab Hans membuka suara.
Hans beserta Tia dan Dina melajukan mobilnya kembali ke kantor polisi. Tidak memerlukan waktu lama mereka akhirnya sampai juga ke kantor Polisi. Hanya tiga puluh menit saja Dina sang ketua Yayasan sudah keluar dari ruangan kepolisian. Kesaksian yang diberikan oleh Dina selaku ketua Yayasan sangat berarti untuk Tia.
"Baiklah, karena semua bukti dan saksi juga sudah berbicara, maka untuk laporan dari Bu Tia akan segera kami tindaklanjuti. Kami akan mulai melakukan penangkapan pada Bu Wulan dan melakukan pencarian menurut alamat yang diberikan Bu Tia," ucap polisi yang menerima laporan Tia.
Tia menghela napas lega, akhirnya bisa melakukan sesuatu yang dapat memberikan efek jera untuk Wulan. Balas dendamnya selama ini akan terpenuhi.
Tia mengantarkan Dina terlebih dahulu ke penginapan, baru setelah itu dia sendiri masuk ke kamarnya. Hans menyambut Tia dengan senyum manisnya. Hans juga turut merasa senang karena Wulan sudah mereka amankan, sehingga anak-anaknya bisa terlindungi dari ancaman Wulan.
"Kali ini pasti Wulan akan segera ditangkap oleh polisi," ucap Hans sembari memeluk sang istri dari belakang.
"Semoga saja, Wulan tidak menghindar dari polisi," ucap Tia. Hans hanya menanggapi dengan anggukan kepala.
***
Ramai terdengar suara keributan orang-orang di luar, membuat tidur seorang wanita muda pun terganggu. Dia bangkit dari ranjang dan menyibakkan sedikit kain gorden jendela kamarnya untuk melihat apa yang terjadi di luar.
"Kenapa semua orang ribut pagi-pagi begini? Ada apa sebenarnya?" Wulan celingukan melihat ke luar jendela yang dipenuhi oleh orang.
Wulan menguap sembari menggosok matanya yang masih terasa lengket karena baru terbangun. Jam di dinding menunjukkan pukul setengah delapan pagi, di mana semua orang masih sibuk menjalani aktifitas di pagi hari. Namun hari ini, terasa berbeda dari hari biasanya.
Bertepatan dengan itu, terdengar suara ketukan pintu. Wulan berjalan dengan gontai dan membuka pintu. Berdiri dua orang pria berseragam polisi di hadapannya, yang membuat mata Wulan pun membelalak dengan sempurna.
"Apakah Anda yang bernama Wulan Wijayanti?" tanya salah seorang diantaranya.
"Maaf, ada apa?" tanya Wulan dengan perasaan yang tidak menentu. Jantungnya berdegup kencang.
"Kami mendapat laporan bahwa Anda sudah melakukan penipuan dengan menyembunyikan wajahmu dan menyamar sebagai baby sitter. Untuk itu, Anda harus ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan," jawab polisi itu.
Salah satu polisi, masuk ke dalam dan berdiri di belakang tubuh Wulan. Sontak membuat Wulan berteriak. "Lepaskan! Aku tidak bersalah."
"Silakan ikut kami dan jelaskan nanti di kantor polisi."
Polisi itu menarik Wulan keluar dari rumah kontrakannya. Semua mata tertuju kepadanya. Bahkan dia tidak diberikan kesempatan untuk mengganti pakaian terlebih dahulu. Hanya memakai piyama tidur.
Wulan dipaksa masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang. "Siapa pelapor itu? Apakah Tia?" gumam Wulan menebak siapa yang sudah melaporkan dirinya pada polisi.