Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab.34


Keesokan harinya ....


Suara ayam berkokok menyambut sinar matahari yang cerah menyinari bumi.



Tia terbangun terlebih dahulu sebelum anak dan suaminya. Tia bergegas melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Setelah selesai Tia membangunkan putrinya untuk sholat subuh.



"Sayang, ayo bangun. Sudah waktunya untuk sholat dan bersiap ke sekolah," ucap Tia lembut membangunkan sang putri.



Hasna menggeliat lalu perlahan membuka matanya.



"Hoaaam ... Mama? Mama ada di sini? Apa semalam mama tidur dengan Hasna?" tanya Hasna sambil mengerjapkan matanya.



Tia duduk di tepi ranjang sambil merapikan rambut putrinya yang panjang tapi berantakan karena baru bangun tidur.



"Iya, Sayang. Mama tidur di sini menemanimu. Semalam mama sangat senang saat Hasna meminta mama untuk tidur di sini?" ucap Tia dengan lembut.



Hasna tersenyum pada sang ibu, tenyata apa yang dikatakan oleh Alya perlahan tapi pasti bisa dipatahkan oleh kasih sayang dan cinta Tia pada Hasna.



"Pantesan Hasna tidurnya nyenyak sekali, baru kali ini Hasna tidur nyenyak," ungkap Hasna jujur. Memang beberapa hari ini Hasna tidak bisa tidur nyenyak. Apa yang dikatakan oleh Alya selalu membayangi dirinya. Hingga Hasna ketakutan tidur sendirian di kamar, namun Hasna tidak berani mengatakannya pada Tia ataupun Hans.



"Benarkah? Memangnya kak Hasna tiap malam tidak bisa tidur nyenyak? Kenapa?" Tia heran, baru kali ini Tia mendengar sendiri dari Hasna. Kemarin-kemarin mbak Yuni yang memberi tahu Tia, namun Tia tidak ada waktu untuk menyelidiki kebenarannya.



"Hasna selalu teringat apa yang dikatakan Bu guru Alya," jawab Hasna tidak melanjutkan perkataannya lagi. Tia semakin yakin jika Alya lah yang membuat putrinya seperti itu. Berubah secara frontal dan tidak bisa dikendalikan lagi. Semua yang dikatakan Hasna tidak jauh dari pengaruh Alya.



"Sekarang sudah ada mama, jadi Hasna tidak boleh takut. Apa yang dikatakan oleh Bu Alya tidaklah benar. Nyatanya mama masih sayang pada Hasna. Hasna harus lebih percaya pada mama daripada Bu Alya. Bu Alya kan bukan lagi guru kelas Hasna?" tandas Tia pada Hasna.



"Iya sih, Ma. Bu Alya sudah digantikan Bu Devi. Bu Devi orangnya lucu sekali, Ma. Tapi ya gitu deh dia suka memegang pipi Hasna. Katanya pipi Hasna kayak bakpao," ucap Hasna dengan pipi yang benar -benar Chubby. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa gemas.



"Nah, mending sama Bu Devi yang jelas merupakan ibu guru Hasna. Sekarang wudhu dan sholat subuh terlebih dahulu. Mama mau menyiapkan sarapan dulu untuk kita semua," ucap Tia bangkit dari tempat duduknya setelah memastikan Hasna bangun dari tempat tidurnya.



"Sayang, sudah di dapur? Apa semalam kau tidur dengan nyenyak?" tanya Hans khawatir pada sang istri.



"Iya, Mas. Alhamdulillah, Tia bisa tidur dengan nyenyak bersama Hasna. Ternyata Hasna sering marah karena tidak bisa tidur dengan nyenyak, sehingga emosinya meledak-ledak.



"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Hans membantu sang istri mengupas bawang.



"Ternyata, dia tuh dipengaruhi oleh Alya sehingga dia terus kepikiran dan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tadi bangun barusan dia cerita pada Tia," ungkap Tia pada sang suami.



"Syukurlah jika sekarang sudah ketemu penyebab Hasna selalu meledak emosinya. Kita harus sering -sering mendampinginya tidur agar Hasna merasa dilindungi," timpal Hans yang sangat bersyukur karena satu per satu bisa dipecahkan.



"Oh ya, Mas. Hari ini jadwal periksa Tia. Tolong antarkan ya," pinta Tia pada Hans.



"Baiklah, hari ini mas cuti saja. Mas juga ingin meluangkan waktu khusus untuk anak dan istri mas," ucap Hans dengan senyum yang meneduhkan hati Tia.



"Terimakasih ya, Mas."




Sebagai rasa terimakasih, Tia menghadiahkan satu kecupan di pipi Hans.



Hans tidak berangkat ke kantor hari ini, sebab ia akan menemani Tia periksa kandungan. Saat ini mereka sedang menunggu giliran diperiksa di ruang tunggu. Ada beberapa orang yang antri di sini, tadi setelah mengantarkan Hasna dan Hasan. Mereka langsung menuju ke sini.


Mungkin nanti setelah menemani Tia periksa ke dokter, ia akan ke kantor jika ada panggilan. Tetapi jika tidak ada hal mendesak, ia akan di rumah saja bersama dengan istrinya. Mereka menatap pintu ruang praktek sang dokter, seseorang keluar dari sana dan mereka sangat kenal siapa seseorang yang baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan


"Alya, bagaimana bisa kau ada di sini?" tanya Tia setelah berdiri. Alya berusaha untuk menghindari Tia dan Hans, tetapi lengannya ditahan oleh Tia hingga membuat ia tak bisa melangkahkan kakinya pergi dari sini.


"Ngaku kamu, Alya. Siapa ayah dari anak kamu?! Kamu pikir kita nggak tahu apa-apa?" tanya Tia dengan nada sedikit sinis.


"Udah deh, mbak nggak perlu ikut campur sama urusan aku. Lagian mbak nggak ada hak untuk tanya-tanya apapun tentang kehidupan pribadi aku!" sahut Alya.


Tia tertawa. "Setelah kamu mengkhianati adikku apakah kamu pikir aku akan tinggal diam? Jika kamu berpikir seperti itu maka salah besar! Untung saja Aris sudah memutuskan hubungan dengan kamu, dia memang benar mengetahui semua kebusukan kamu!" ujarnya pelan tapi penuh penekanan.


"Kamu memang tidak sebaik apa yang kita kira, bahkan saya sendiri tidak menyangka kamu telah melakukan ini. Memang benar adik ipar saya tidak sepantasnya untuk menjalin hubungan dengan kamu. Sekarang ini kamu bukan lagi wanita berharga yang ada di kehidupannya," sahut Hans.


"Biarkan saja, memangnya kenapa? Lagian, Mas Nigam mau bertanggung jawab atas bayi yang aku kandung. Lagian dia lebih kaya daripada Aris," sahut Alya dengan nada sinisnya.


Pengunjung rumah sakit ini tidak terlalu ramai, jadi mau mereka ribut pun tak ada yang peduli. Tetapi Hans tetap menahan agar Tia tak bersikap keras kepada Alya. Karena itu bisa berdampak buruk kepada kandungannya. Tia tak segan-segan memaki Alya, karena ulah dari wanita itu sekarang Adiknya sendiri terpuruk.


Sementara Alya sama sekali tidak merasa bersalah, ia berpikir untuk apa ia merasa bersalah. Hari ini ditinggal memang datang ke dokter kandungan untuk memeriksa apakah dirinya hamil sebab ia sudah telat datang bulan. Ternyata sampai sini ia dinyatakan hamil oleh dokter.


Padahal Alya tidak berharap bertemu dengan Hans dan Tia. Bertemu dengan mereka membuat suasana hatinya menjadi gaduh saja. Apalagi mereka mempermalukan dirinya di rumah sakit ini. Tetapi kita tidak diladeni mereka akan berpikir ia akan takut kepada mereka.


"Dasar, kamu memang perempuan busuk dan sangat kotor. Saya tahu anak yang kamu kandung itu adalah anak haram, penderitaan adik saya akan terbayarkan olehmu. Jangan berpikir kamu hanya diam saja selingkuh dari adik saya, karena secara tak langsung kamu mempermalukan keluarga saya!" peringat Tia.


Alya memilih untuk pergi dari sini tanpa mengatakan apapun lagi. Sebenarnya Tia akan menyusul Alya, tetapi Hans menahannya sebab mereka ditunggu oleh dokter yang biasanya memeriksa keadaan Tia. Jadi mereka memilih untuk masuk saja ke dalam ruang pemeriksaan itu.


Nanti sakit jika mereka bertemu di tempat umum pasti, Tia akan memkaki Alya lebih dari ini. Mungkin hari ini adalah hari keberuntungan keberuntungan perempuan itu, jika ia bertemu dengan dia di kemudian hari maka jangan salahkan dirinya untuk menghabisi dia karena dia telah berani menyakiti hati Adiknya sendiri.


Di dalam ruang pemeriksaan, Tia tengah berbaring. Dia melakukan pemeriksaan rutin dan Hans mendampinginya di samping. Tia juga melakukan USG untuk melihat keadaan calon anaknya, apakah mereka di dalam sana baik-baik saja atau tidak.


"Syukurlah, hasil pemeriksaannya normal-normal saja. Nanti obat yang saya berikan harus diminum dengan rutin ya, Pak, Bu."


"Iya dok."


"Baiklah, karena tidak ada yang serius Ibu boleh dibawa pulang. Oh iya, Ibu juga nggak boleh kecapean dan hindari kegiatan-kegiatan yang berpotensi kelelahan. Untuk mual itu sudah biasa dialami oleh ibu hamil jadi tidak perlu dikhawatirkan."


"Baik dok, terima kasih atas penjelasannya."


"Baik pak, sama-sama."


***


Alya mengunjungi kantor Nigam dengan membawa surat dari dokter yang menunjukkan bahwa ia sedang hamil sekarang. Ia masuk saja ke ruangan Nigam tanpa mengetuk pintu, karena di jam sekarang ini laki-laki itu sedang beristirahat jadi dirinya bisa keluar masuk dengan bebas.


Di dalam ia melihat laki-laki itu yang duduk dengan kaki ditaruh di atas meja. Nigam memang melihat kedatangan Alya, tetapi sama sekali tidak ada niatan untuk mengirimkan kakinya sebagai bentuk rasa sopan atau sebagaimana mestinya. Dia bersikap santai dan menatap Alya dengan tatapan yang begitu dingin.


"Mas, aku habis dari dokter. Aku ditanyakan hamil anak kamu, pokoknya aku mau kamu tanggung jawab dan segera nikahin aku." Alya yang mengatakan itu sembari menaruh surat dokter itu ke atas meja kerja Nigam.


"Tidak, aku masih belum mau untuk menikah di usiaku yang sekarang ini. Aku akan memberikan uang untuk menggugurkan bayi itu, lagian aku tidak yakin dia benar-benar anak kandungku. Tetapi kau tenang saja, Walaupun dia bukan anak kandungku nanti aku akan tetap memberimu uang supaya kau bisa menggugurkan kandungan itu," bawah Nigam dengan nada sangat santai dan Alya membulatkan mulutnya tak percaya.


"Mas, bagaimana bisa kamu beranggapan bahwa ini bukan anak kamu? Aku sama sekali tidak pernah melakukan hubungan dengan laki-laki lain selain kamu. Jadi aku bisa pastikan 100% kalau ini memang anak kandung kamu!" ujar Alya. Bahkan dirinya menaikkan sedikit intonasi nada bicaranya.


"Yaudah, aku udah kasih tahu ke kamu. Bawa aku masih belum ingin menikah dan kalau kamu mau, aku akan mengantarkan kamu ke tempat yang bisa menggugurkan bayi itu. Orang tua kamu tidak bisa memaksaku untuk menikahi mu dan aku juga masih belum menginginkan untuk punya anak," sahut Nigam. Laki-laki itu malah membuka laptopnya dan kembali bekerja.


Alya sendiri mencoba untuk sabar menghadapi laki-laki seperti Nigam. "Memangnya kamu anggap aku apa, Mas? Aku juga masih memiliki hati untuk tetap mempertahankan bayi yang ada di kandungan aku. Aku sudah berpisah dari Aris dan kamu malah seperti ini. Aku membela kamu mati-matian di hadapan semua orang tetapi apa yang aku dapatkan dari kamu?" tanya Alya.


Alya tidak percaya dengan keputusan dari Nigam yang menyuruh dirinya untuk menggugurkan kandungan ini. Padahal sedari perjalanan ke sini ia sudah berpikir bahwa kehidupannya akan terjamin setelah ia mengandung anak Nigam. Tetapi ternyata dia tidak mau bertanggung jawab dan malah menyuruhnya untuk melakukan perbuatan keji ini.


Bahkan Nigam dengan sangat santai yang menyuruh dirinya untuk melakukan perbuatan yang melanggar hukum.



Padahal sewaktu bertemu di rumah sakit, Alya sudah mengatakan kepada mantan kakak iparnya Aris, bahwa Nigam mau bertanggung jawab atas bayi yang ada di kandungannya. Tetapi kenyataannya sangat berbanding terbalik dan bahkan Nigam sempat tidak percaya bahwa anak ini adalah anak dia. Jika kenyataannya seperti ini mau ditaruh dimana muka Alya.


Di satu sisi, Alya tidak pernah melakukan hubungan badan dengan Aris dan hanya dengan Nigam ia melakukan hubungan itu. Aris sangat menjaga dirinya.


Sementara Nigam yang sudah berulang kali melakukan hubungan layaknya suami istri sendiri masih belum memiliki keinginan untuk menikah, dan bahkan ia memperlakukan Alya sebagai budak nafsunya saja. Jadi jika Alya sampai hamil pasti Nigam akan mencari jalan pintas yaitu menggugurkan kandungan Alya.


"Mas, pokoknya aku nggak mau kalau harus menggugurkan kandungan ini, hari ini juga aku mau kamu tanggung jawab. Kamu harus datang pada kedua orang tuaku untuk membicarakan semua ini. Aku tidak mau mengikuti keinginan kamu untuk menggugurkan kandungan ini. Ingat dosa, Mas!" ujar Alya yang masih ingin mempertahankan sang jabang bayi.


Nigam berdecak. "Aku banyak pekerjaan jadi kamu jangan mengganggu aku dengan omong kosong kamu itu. Kamu mau minta uang berapa supaya kamu mau menggugurkan kandungan itu? Pokoknya kalau kamu suruh aku tanggungjawab aku nggak mau!"


"Tega sekali kamu, Mas. Setiap kamu menginginkan berhubungan badan sama aku, Aku pasti langsung menuruti kamu. Tetapi kamu malah nggak mau tanggung jawab dan sudah jelas-jelas aku mengandung anak kamu!" ujar Alya. Ia begitu geram dengan reaksi yang diberikan oleh Nigam.


"Alya! Aku masih mau bersenang-senang di dunia ini dan aku tidak memiliki ikatan dengan kamu bahkan sampai menikah. Aku masih mau bebas dengan wanita-wanita lain diluaran sana! Aku nggak bisa kamu paksa terus-terusan seperti ini. Kalau kamu nggak mau gugurin kandungan itu ya terserah, yang jelas aku tidak akan tanggung jawab dengan kehamilanmu."


"Jadi kamu cuma buat aku sebagai pe muas nafsu kamu, Mas? Kamu jahat sekali sama aku. Bahkan sebelum kita berhubungan badan kau selalu meyakinkan aku jika kau mau tanggung jawab jika sewaktu-waktu aku hamil. Tapi perkataan kamu sama sekali tidak ada yang terbukti," ujar Alya.


"Sudahlah, lebih baik kamu pulang saja. Aku nggak mau ribut di kantor aku sendiri apalagi bertengkar sama kamu. Lagian kamu itu bukan orang pertama yang aku ajak berhubungan badan, ada banyak sekali wanita yang pernah bermain denganku." Nigam dengan kasar mengusir Alya yang datang dengan harapan besar kalau Nigam akan menikahinya.