
Merlyn meninggalkan tubuh Hans yang tertidur pulas, dia berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu tersebut. Merlyn mengira yang mengetuk pintu adalah anak buahnya.
"Jangan gang ...."
Belum selesai Merlyn menyelesaikan kata-katanya. Tia sudah berdiri di depan pintu tersebut bersama dua orang polisi.
"Maaf, Nyonya. Anda kami tahan dengan tuduhan penculikan! Sekarang sebaiknya Anda menyerah dan bekerjasama lah sebelum kami melakukan tindakan keras!" ucap salah satu polisi menyerahkan surat penangkapan pada Merlyn.
"Apa?! Apa maksudnya, Pak! Saya tidak bersalah!" teriak Merlyn membela diri. Dia mencari dua anak buah Vian yang ternyata sudah melarikan diri.
"Anda dituduh telah melakukan penculikan pada tuan Hans, suami dari nyonya Tia! Semua bukti sudah ada di tangan kami! Sebaiknya Anda menyerahkan diri jika tidak ingin kami memaksa Anda, Nyonya!" ucap polisi dengan senjata api di tangan.
Merlyn panik, dia sungguh terkejut dan tidak menyangka jika akan ada polisi yang menangkapnya. Semua itu di luar rencana yang telah ia susun.
Merlyn melangkah mundur karena tidak mungkin baginya menerobos pintu yang tertutup oleh tubuh Tia dan kedua polisi tersebut.
"Ayo, Pak! Cepat tangkap penjahat itu! Lihat itu suami saya, Pak!" tunjuk Tia melihat sang suami tertidur dengan masih lengkap mengenakan jas kemeja dan sepatunya.
"Nyonya Merlyn, semua sudah jelas! Anda tidak bisa mengelak lagi! Sebaiknya Anda ikut kami!" teriak polisi dengan tegas.
Merlyn semakin panik, dia menoleh ke arah Hans yang masih tidur. Hal itu jelas membuat dirinya terbukti bersalah.
"Tidaak ... Aku tidak mau dipenjara! Semua ini hanyalah rekayasa wanita itu, Pak!" Merlyn berbalik menuduh Tia lah yang menjebak dirinya.
"Maaf, Nyonya Merlyn yang terhormat! Tidak perlu memutar balikkan fakta. Semua yang Anda lakukan sudah terekam oleh kamera CCTV!" elak Tia menyangkal semua tuduhan Merlyn.
Lima belas menit yang lalu.
"Vera! Ini saya sudah ada di depan lobi hotel! Cepatlah kamu datang ke sini!" ucap Tia berbicara melalui sambungan telepon.
"Nyonya!" Vera menghampiri Tia.
"Vera?! Apa yang terjadi? Mengapa kau ada di sini dan untuk apa kau memintaku datang kemari. Katakan, Vera!"
"Nyonya, sebaiknya nyonya ikut saya. Kita bicarakan bersama di sofa loby itu!" Vera menunjuk sebuah kursi sofa yang memang disediakan untuk tamu hotel.
"Baiklah, Ayo," jawab Tia mengikuti langkah Vera menuju sofa itu.
"Katakan, Vera. Jangan membuatku penasaran?! Perasaanku sedari tadi tidak enak!" desak Tia yang sudah tidak sabar untuk mendengar penjelasan Vera.
"Begini, Nyonya. Saat ini tuan Hans tengah dijebak oleh si nenek lampir, Merlyn! Sewaktu tuan Hans meeting dengan kliennya, dengan sengaja klien itu menaruh obat tidur dalam minuman tuan Hans! Setelah tertidur anak buah dari kliennya itu membawa tuan Hans masuk ke salah satu kamar di hotel ini. Dan ternyata semua itu adalah rencana dari nyonya Merlyn! Sekarang ayo kita selamatkan tuan Hans, Nyonya!" jelas Vera pada Tia.
"Apa?! Merlyn wanita bule yang kemarin datang di kantor mas Hans? Kurang ajar sekali dia! Tunggu ... Kita tidak boleh gegabah. Aku akan menghubungi ayahku terlebih dahulu. Dia pasti tahu apa yang harus kita lakukan!" jawab Tia tidak mau melakukan hal yang sembrono hingga akan mengakibatkan hal yang buruk terjadi.
"Baiklah, Nyonya. Semoga semua berjalan dengan lancar!" ucap Vera mengikuti rencana sang majikan.
Tia mengambil ponselnya untuk menghubungi Gunawan. Dia yakin Gunawan akan lebih tahu apa yang harus mereka perbuat.
Tuut ... Tuut ...
Suara memanggil terdengar.
"Hallo, Assalamu'alaikum, Sayang. Ada apa?"
"Wa'alaikum salam, Ayah. Sekarang Tia dalam masalah, Ayah. Apa yang harus Tia lakukan, mas Hans dijebak oleh seseorang dan saat ini dia tertidur di salah satu kamar hotel bersama wanita yang menjebaknya itu, Yah. Tia harus bagaimana? Tia tidak ingin gegabah karena wanita ini memiliki pengaruh kekuasaan di kota ini!"
"Tenang, Sayang. Katakan siapa wanita itu?"
"Merlyn? Wanita bule anak dari duta besar itu kah?"
"Benar, Ayah. Itu dia!"
"Kamu tenang saja! Ayah akan melaporkan semua ini ke pihak polisi. Kamu amankan semua bukti baik foto, ataupun rekaman CCTV yang ada. Polisi akan segera datang ke hotel itu. Ayah akan tunggu di kantor polisi saja, berjaga jika ayah wanita itu akan berencana memaksa pihak kepolisian untuk membebaskan anaknya!"
"Baik, Ayah. Tia dan Vera akan mengamankan semua bukti CCTV hotel ini dan semua foto yang Vera punya!"
"Bagus! Sekarang kamu tenang dan tunggu petugas orang polisi datang."
"Siap, Ayah. Semoga semua berjalan dengan lancar."
"Aamiin. Ayah yakin kamu adalah wanita yang hebat dan kuat."
"Iya, Ayah. Insyaallah Tia kuat!"
"Bagus! Assalamu 'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Tia menutup panggilannya dan memasukkan kembali ponsel ya ke dalam tas, lalu menghampiri Vera yang tengah menunggunya.
"Vera, kata ayah, kita harus menyelamatkan bukti CCTV yang merekam Merlyn dan anak buahnya! Selain itu kita harus menunggu petugas polisi datang," ujar Tia menjelaskan apa yang harus mereka lakukan.
"Baik, Nyonya. Ayo kita lakukan sekarang. Nyonya tunggu di sini dan saya akan ke pihak manager untuk melaporkan semua, dan menyelamatkan semua bukti CCTV sebelum mereka menyadarinya."
"Bagus, Vera. Kamu memang pegawai yang bisa kami andalkan."
"Terimakasih, Nyonya. Saya hanya tidak ingin pak Bos dan keluarganya dijahatin sama tuh nenek lampir! Tidak ikhlas saya! Baiklah, saya pergi dahulu, Nyonya."
"Baiklah, Hati-hati, Vera!" Tia menepuk bahunya sebagai rasa terimakasih dan juga penyemangat Vera.
Vera meninggalkan Tia sendirian, Tia menunggu kedatangan petugas kepolisian sesuai dengan apa yang ayahnya tunjukkan.
Lima menit berlalu, dua orang petugas kepolisian datang. Melihat ada petugas kepolisian datang, Tia menghampiri petugas polisi tersebut.
"Maaf, Nona. Kami ingin bertemu dengan nyonya Tia," ucap salah satu petugas tersebut pada petugas resepsionis.
"Nyonya Tia?" sahut petugas resepsionis yang cantik-cantik dan masih muda semua.
"Maaf, Pak. Anda mencari saya? Saya Tia, putri dari bapak Gunawan," seru Tia mendengar namanya di sebut.
"Anda, nyonya Tia?Baiklah. Kalau begitu kita langsung menuju ke TKP!"
"Baik, Pak. Mari saya antar ke kamar itu," jawab Tia menunjukkan jalan pada petugas kepolisian menuju ke kamar Merlyn, sesuai yang Vera katakan.
"Siap, Nyonya." Kedua petugas kepolisian itu mengikuti kemana Tia melangkah.
***
"Bagaimana, Nyonya Merlyn. Lebih baik Anda menyerah sekarang juga! Dan hubungi pengacara Anda nanti di kantor kepolisian!" tegas sang petugas polisi masih berusaha mendesak Merlyn agar bisa bersikap kooperatif.
"Tidaaak ... Aku tidak mau dipenjara! Aku tidak mauu..!!" teriak Merlyn sembari melemparkan apa saja yang ada di dekatnya ke arah polisi tersebut. Sementara itu Tia menghampiri Hans dan berusaha untuk membangunkannya.
"Mas ... Mas Hans! Ayo bangun!" Tia menepuk pipi Hans yang masih tidur nyenyak.