
Gunawan menatap ke arah Aris dan Devi yang ternyata malah menunggunya. “Kalian mau pergi ke rumah Tia sekarang?” tanya Gunawan kepada Aris.
Sikap Devi memang tidak begitu bagus jadi Gunawan tidak ingin berbicara langsung dengan Devi. Namun Aris masih sopan kepadanya meskipun nama baik Aris di hadapan Tia maupun Gunawan menjadi sedikit buruk karena sikap istrinya yang kurang baik di mata Tia dan Gunawan.
Aris menganggukkan kepalanya. Dia melirik ke arah Devi yang masih memasang wajah cemberutnya karena Aris tetap membeli buah cukup banyak hanya karena ingin diberikan kepada Tia nanti.
Aris menghela nafas pelan. “Maaf, ya. Kami sudah bikin Tuan tidak nyaman belanja di sini,” ucap Aris merasa tidak enak kepada Gunawan karena Gunawan harus melihat perdebatannya dengan Devi yang hanya disebabkan oleh buah-buahan saja.
Gunawan tersenyum tipis. “Tidak masalah, Aris. Kalau begitu saya pergi dulu ya.”
Gunawan tidak ingin berlama-lama di sana karena dia ingin segera mengunjungi Tia. Dia langsung melangkah masuk ke dalam mobilnya dan meletakkan belanjaannya tadi di sebelah kursi kemudi.
Setelahnya Gunawan membuka jendela mobilnya dan menatap pada Aris dan Devi yang masih memandang ke arahnya.
Gunawan tersenyum kecil sebelum langsung melajukan mobilnya menuju ke arah rumah Tia.
Aris menghela nafas lega karena Gunawan tidak terlihat terganggu setelah melihatnya dengan Devi yang bertengkar sedikit.
“Kita pergi sekarang,” ucap Aris mengambil alih belanjaan di tangan Devi dan masuk ke dalam mobilnya.
Devi masih menatap kesal pada Aris yang tidak ingin mendengar usulannya dalam membeli buah-buahan itu. “Padahal kita bisa hemat banyak kalau beli dikit aja, Mas. Ngapain juga beli banyak-banyak,” ucap Devi duduk di kursi samping kemudi.
Dia mengenakan sabuk pengamannya dengan perasaan jengkel dan tidak menatap ke arah Aris sama sekali.
“Devi, ini tidak sebanyak itu. Kenapa kamu selalu memperhitungkannya sih?” tanya Aris yang tidak habis pikir dengan tingkah Devi yang selalu menghitung pengeluaran mereka padahal Aris tidak menghabiskan uang sebanyak itu.
“Mas, kita juga hanya mampir sebentar saja, kan? Ngapain bawain buah tangan yang banyak-banyak. Bahkan harganya jauh lebih mahal dibandingkan buah biasanya. Mas yang berlebihan,” sahut Devi tang merasa kalau keputusannya tadi itu benar. Dia lebih memilih buah-buahan dengan harga biasa saja atau kalau bisa dia lebih ingin membeli buah yang lebih murah karena dia juga merasa hubungannya dengan Tia tidak sebagus itu untuk membeli buah tangan yang bagus.
Aris merasa kepalanya berdenyut nyeri. Selalu saja berdebat masalah yang sama dengan Devi. Tanpa membalas perkataan Devi lebih lanjut, dia langsung menginjak pedal gasnya dan melaju menuju ke rumah Tia.
***
Gunawan memarkirkan mobilnya di pekarangan depan rumah Tia setelah dia tiba di sana. Dengan perasaan senang, Gunawan turun dari mobil sambil membawa belanjaan buah-buahan yang dibelinya tadi.
“Tia pasti suka. Cucu-cucuku juga akan suka buah-buahannya,” ucap Gunawan seraya berjalan menuju pintu utama rumah Tia dan Hans.
Ting! Tong!
Gunawan membunyikan bel pintu rumah Tia. Dia menunggu sebentar sampai akhirnya Tia membuka pintu rumahnya itu.
“Ayah,” ucap Tia dengan senyuman lembutnya ketika melihat ayahnya yang datang berkunjung. “Ayo masuk.”
Tia mempersilahkan Gunawan masuk ke dalam rumahnya. Mereka berdua berjalan menuju ruang tamu dan duduk di sofa sana. “Kenapa Ayah datang tiba-tiba? Bahkan tidak kabarin Tia dulu.”
“Memangnya salah kalau Ayah mau lihat anak Ayah dan cucu Ayah sendiri? Ini Ayah bawain buah-buahan buat kalian. Jangan lupa dimakan, ya.” Gunawan menyerahkan sekantong buah-buahan yang dibelinya kepada Tia.
“Terima kasih, Ayah. Nanti Tia makan buahnya.” Tia menerima kantong berisi buah itu dengan senang hati. “Tia ke dapur dulu. Ayah mau minum apa?”
“Apa saja. Kopi juga boleh,” jawab Gunawan seadanya saja karena dia memang tidak ingin merepotkan Tia yang sedang hamil.
Setelahnya Tia mengambil satu cangkir bersih dan menuangkan bubuk kopi secukupnya dengan gula yang sedikit karena Gunawan memang tidak begitu suka kkpi yang terlalu manis. Usai dia membuat kopi, Tia pun membawa secangkir kopi dan sepiring buah tadi ke atas meja ruang tamu.
“Ini kopinya,” ucap Tia meletakkan secangkir kopi di depan Gunawan.
Gunawan langsung meneguk sedikit kopi itu dan tersenyum puas karena Tia selalu tahu seleranya. “Hans belum pulang kerja, ya?” tanya Gunawan memulai topik pembicaraan mereka.
“Iya, Ayah. belum pulang, mungkin sebentar lagi,” jawab Tia memakan buah yang berada di atas meja itu.
Ting! Tong!
Suara bel pintu berbunyi membuat Tia maupun Gunawan mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu depan.
“Siapa yang datang?” gumam Tia dengan kening yang mengernyit bingung. Dia tidak merasa mengundang orang lain. “Sebentar, ya. Tia mau bukain pintunya dulu.”
Tia bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu rumahnya. Sedangkan Gunawan hanya terdiam saja karena dia tahu siapa tamu yang datang berkunjung itu. Tidak lain adalah Aris dan Devi.
Ceklek!
“Siap—”
Ucapan Tia berhenti ketika melihat Aris dan Devi yang ternyata datang berkunjung ke rumahnya. Senyuman tipis yang awalnya terbit di wajahnya langsung luntur bahkan raut wajah ramahnya tidak lagi terlihat.
“Buat apa datang ke sini?” tanya Tia dengan nada dinginnya. Dia menatap ke arah Aris lalu menatap ke arah Devi secara bergantian.
Aris menatap sedih pada Tia yang tidak menyambut kedatangannya dengan ramah. Dia sudah tahu hal ini akan terjadi namun Aris tetap nekat ingin datang mengunjungi Tia dengan Devi.
“Aku mau mampir ke sini, Kak. Aku juga bawain buah-buahan buat Kakak,” ucap Aris menunjukkan sekantong buah-buahan yang dia sengaja beli untuk Tia.
Tia hanya berdehem saja dan menerima buah tangan yang dibawakan oleh Aris itu. Setelahnya dia hanya menatap ke arah Aris saja dengan diam. Dia bukannya tidak suka hanya saja dia tidak ingin bertemu dengan Aris ataupun dengan istri Aris, Devi.
“Kak, kami boleh masuk?” tanya Aris kepada Tia yang masih terdiam.
Tia menghela nafas pelan. Dia tidak mungkin juga membiarkan tamunya berdiam diri di depan rumahnya. “Hm.”
Tia membuka pintunya lebih lebar dan membiarkan Aris serta Devi berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Mereka bertiga pun berkumpul di ruang tamu dengan Gunawan yang telah lebih dulu berada di sana.
“Tia, kamu jangan banyak-banyak gerak, Nak. Sini duduk sama Ayah,” ucap Gunawan menyadari raut wajah masam dari anaknya itu.
Tia hanya menuruti perkataan Gunawan dan duduk di samping Gunawan. Tia memang sengaja menjaga jarak dari Aris dan duduk agak jauh dari adiknya itu.
Aris menunduk sedih. Sikap Tia kepadanya sudah berubah dan tidak ada kasih sayang sama sekali seperti dulu.
"Apa Kakak sudah tidak sayang sama aku lagi?" batin Aris memikirkan hubungannya dengan Tia.