Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab.59


Wajah Tia memucat, sungguh dia takut sudah membuat gaun pilihannya robek.


"Maaf, Madam. Saya tidak sengaja. Kaki saya nyangkut saat berjalan. Berapa biayanya biar saya ganti kerusakannya," ucap Tia memelas. Sayang sekali saat ini dia hanya berdua dengan madam Jo. Hans sedang berada di luar bersama bagian pengantin pria, fitting kemeja dan jas yang akan dia pakai di saat hari pesta nanti.


"Mengapa Tia lama sekali mencoba bajunya, apa ada yang tidak beres?" gumam Hans di dalam hati. Dia merasa ada yang tidak beres dengan istrinya.


Hans, meminta salah satu dari pegawai untuk menemaninya melihat ke kamar ganti sang istri.


Dari balik pintu, Hans mendengar suara teriakan dari dalam kamar ganti itu. Hans mengerutkan dahinya mencoba mendengarkan dengan seksama suara siapa yang berteriak memaki seseorang.


"Maaf, Mbak. Di dalam ada siapa?" tanya Hans pada pegawai yang mengantarnya ke kamar ganti Tia.


"Mmm ... Sepertinya madam Jo dan seorang pelanggan," jawab sang pegawai yang gugup karena takut pada Hans.


"Seluruh uang Anda tidak akan sanggup mengganti gaun yang rusak ini! Paling-paling minta pada tuan Hans. Dasar wanita miskin! Modal apa kau jadi istri tuan Hans?! Pasti kau hanya akan menguras harta tuan Hans saja. Benarkan?!" ucap Madam Jo, setengah berteriak memaki Tia.


Tia yang merasa bersalah hanya bisa menunduk saja, harga dirinya terhina mendengar perkataan madam Jo.


"Salah!! Istriku memiliki banyak kekayaan yang tidak kau miliki sampai kapanpun!" Teriak Hans dengan suara menggelegar, dia tidak suka jika ada yang berani menghina atau merendahkan Tia


Glek!


Madam Jo dan Tia menoleh ke arah pintu masuk. Di sana sudah berdiri Hans dengan wajah yang sudah memerah menahan amarah. Kacamata yang ia pakai tidak bisa menutupi merahnya sang mata.


"Tuan Hans!"


"Mas Hans!"


"Tia, cepat kita tinggalkan butik ini, kita cari butik lain yang lebih bagus!" Hans menghampiri Tia lalu menariknya keluar.


Bagi Hans, kehormatan sang istri adalah kehormatannya juga. Tidak peduli apa yang terjadi, Hans tidak ingin orang merendahkan atau menghina istrinya.


"Tapi, Mas," ucap Tia bingung.


"Sudahlah, Tia. Kau ikut Mas! Kau adalah istriku, kau kehormatanku. Yang menghinamu sama saja menghinaku! Dan kau madam Jo, segera urus surat pengunduran dirimu! Carilah butik dan salon lain. Kerjasama kita cukup sampai di sini!" tegas Hans tanpa menoleh ke arah madam Jo.


Deg!


Madam Jo membulatkan matanya sembari membungkam mulutnya. Dia tidak percaya apa yang telah dibangunnya selama ini hilang begitu saja hanya karena seorang wanita kampung.


"Tapi, Tuan! Apa kesalahan saya? Saya sudah belasan tahun membesarkan butik ini dan sekarang begitu saja Anda membuang saya?" Madam Jo menghadang langkah Hans.


Hans menghentikan langkahnya, dia menggenggam tangan Tia dengan erat.


"Kau belum tahu kesalahanmu apa? Harusnya kau paham bagaimana sifat ku yang tidak suka dengan kesombongan dan merendahkan orang lain. Jika kau tidak mau keluar dari butik ini, baiklah. Aku yang akan keluar dan mengambil semua asetku yang ada di sini, anggap saja tempat dan semua yang ada di sini sebagai sewa tempatku padamu!" tegas Hans lagi.


Bruk!!


Madam Jo terduduk lemas, sama saja jika semua aset Hans diambil dari butiknya, madam Jo merasa tidak akan ada yang memodali butiknya.Butik itu tidak akan bisa beroperasi dengan maksimal jika tidak ada investor. Karena sudah terlalu kesal pada Tia, diapun menjadi gelap mata. Dengan penuh kekuatan, Madam Jo bangkit dari duduknya dan berlari ke arah Tia.


"Aawww!!"