
Ridho duduk di tepi ranjang melihat ke arah Wulan yang sudah mengemas semua pakaiannya dan sudah siap untuk pergi.
"Apa? Kau ingin pergi beberapa hari? Emang kau mau kemana, Wulan?" tanya Ridho yang lupa akan kejadian di pesta pernikahan Hans dan Tia, dimana dia mencaci maki Wulan.
"Aku mau ke Lampung! Kampung halamanku di sana, ada yang ingin aku urus! Kau tidak usah ikut campur, Mas!" hardik Wulan yang kesal karena Ridho memakai dirinya tadi malam.
Mendengar akan pergi ke kampung halaman, akhirnya Ridho menyetujui Wulan. Walaupun tanpa ijin Ridho, Wulan tetap akan berangkat menjalankan misinya. Entah iblis mana yang merasuki diri Wulan hingga dia memiliki pemikiran untuk terbang menyusul Steve.
"Wulan! Apa kau tidak lagi menghargai aku sebagai suami mu? Hingga kau memutuskan pergi tanpa ijinku?!" protes Ridho yang mulai kesadarannya kembali.
Wulan tersenyum sinis lalu berkata, "Apa? Kau bilang aku harus menghargai mu sebagai suami? Suami yang mana? Suami yang ingin menju4l istrinya pada pengusaha sukses? Suami yang tega mencuri semua tabungan istrinya di bank? Katakan, Mas! Suami yang mana yang kau maksud? Atau suami yang tega mencaci istri di depan umum tepat saat pesta pernikahan mantan istri pertama? Katakan, Ayo jawab aku, Mas!!"
Suara Wulan mulai terdengar melengking tinggi, emosinya mulai memuncak saat mendengar Ridho mengatakan akan haknya sebagai seorang suami. Ridho terdiam, dia terkejut saat Wulan tahu bahwa dirinya lah yang mengambil uang di rekening Wulan.
"Wulan, kau menuduhku telah mengambil uangmu?! Atas dasar apa kau menuduhku, hah!!" hardik Ridho pura-pura. Dia tidak mungkin mengakui begitu saja bahwa dirinyalah yang mengambil uang di ATM sang istri.
"Jangan berkelit, Mas! Aku tahu semua karena ada laporan bahwa uang rekeningku habis lantaran ada transaksi pengambilan melalui ATM. Siapa lagi yang bisa mengambil ATM ku jika bukan kamu, Mas!!" lantang Wulan mencecar Ridho dengan tuduhan yang mendasar.
Wajah Ridho seketika berubah panik jika sampai Wulan benar-benar yakin bahwa dirinyalah yang mengambil uang dalam ATM nya.
Plak!
Lima jari Ridho tercetak indah di pipi Wulan. Amarah dan keangkuhan telah menguasai diri Ridho. Untuk menjaga wibawanya dia rela menampar pipi istrinya.
"Mas! Kau berani menamparku!" teriak Wulan tidak terima dengan tamparan Ridho. Seharusnya dialah yang marah dan mengamuk. Namun, malah Ridho yang duluan marah.
"Itu untuk teguran bagimu yang sudah lancang menuduhku tanpa bukti. Cepat berikan bukti jika aku yang mengambil uang tabungan mu lewat ATM!" pekik Ridho menantang Wulan untuk memberikan bukti atas tuduhan padanya.
"Kau ingin bukti, Mas? Yakin kau tidak malu jika kau bawa bukti itu?" tantang Wulan membuat nyali Ridho menciut. Ridho merasa khawatir jika Wulan benar-benar memiliki bukti tentang dirinya yang melakukan pencurian tersebut.
Sambil memegang pipinya yang masih perih, Wulan berjalan menuju ke laci yang ada di meja riasnya.
"Lihat ini, Mas! Ini adalah struk bukti pengambilan yang kau lakukan. Ini jelas adalah nomer rekeningku dan ada laporan penarikan tepat saat aku dirawat di rumah sakit. Apakah masih belum cukup? Lihat lagi, ini adalah struk tanda pembayaran sewa kamar hotel yang juga aku temukan di saku celana mu. Tanggalnya sama dengan saat kau mengambil uang dan tepat saat aku dirawat di rumah sakit. Bagaimana, Mas?"
Wulan memandang remeh pada Ridho, sembari tersenyum mengejek. Ridho terdiam, dia memandang struk tanda pengambilan uang dan tanda pembayaran sewa hotel dirinya bersama Rosie.
"Mas! Mengapa kamu diam saja? Asal kau tahu ya mas. Aku sudah berniat melaporkan dirimu pada pihak yang berwajib, namun aku tahan karena kau masih menjadi suamiku. Aku tidak mau menjadi viral gara-gara masalah yang memalukan seperti ini. Tapi setelah tahu balasan mu seperti ini, maka tunggu saja, sebentar lagi kau akan mendapat panggilan dari kantor polisi dan kantor pengadilan karena aku akan menggugat cerai darimu!" ancam Wulan.
"Silakan saja kau lakukan Wulan, aku tidak takut! Aku akan mengusir dirimu dan kedua orang tuamu agar menjadi gelandangan!" teriak Ridho mengancam balik Wulan.
Meri dan Cahyo yang tidak sengaja mendengar pertengkaran tersebut pun akhirnya merasa cemas. Bagaimana nanti jika Ridho benar-benar melaksanakan ancamannya. Dimana dia dan suaminya akan tinggal.
Sementara Ridho dan Wulan masih bertengkar, Meri dan Cahyo kebingungan. Keduanya saling menatap cemas akan nasib mereka.
"Pa, bagaimana ini? Di mana kita akan tinggal jika Ridho mengusir kita?" tanya Meri cemas, dadanya sudah mulai terasa sakit.
"Aku juga belum tahu, Ma. Harapan kita hanya tinggal satu, yaitu menerima tawaran Tia, tinggal di rumah baru Tia. Kata Aris, Tia sudah membelikan kita sebuah rumah baru. Semua sudah atas nama dirinya, jadi kita tidak perlu lagi memikirkan sewanya. Bagiamana apa kau setuju, Ma? Ingat kita sudah tidak ada jalan lain selain menerima tawaran Tia," ucap Cahyo membuat Meri terdiam.
Meri masih enggan untuk tinggal di rumah Tia. Jika ia menerimanya sama saja menerima Tia sebagai anaknya. Rasa benci akan kejadian malam itu membuat dadanya semakin sakit, napasnya mulai tidak beraturan.
"Ma, minum dulu. Sudah jangan terlalu memaksakan diri, ikhlaskan apa yang terjadi di anda lalu. Sudah saatnya kita membuka lembaran baru. Toh, aku masih menerimamu sebagai istriku walau kau sudah ternoda, karena kau tahu semua itu bukanlah kehendak mu." Cahyo memberikan segelas air putih pada Meri sang istri.
Meri menerima gelas berisi air putih tersebut dari tangan sang suami lalu meminumnya sampai tandas. Setelah itu Meri mulai mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskannya pelan agar debar jantungnya kembali normal. Dia tidak ingin jika sampai masuk ke rumah sakit lagi.
"Apa papa yakin jika Tia tidak akan menghina kita? Jujur, Pa. Mama malu karena tidak mengakui Tia terus tinggal di rumahnya," ujar Meri mengungkapkan apa yang menjadi penghalang mereka menerima kebaikan Tia.
"Tidak perlu malu, Ma. Walau aku tahu bahwa Tia bukan darah dagingku, tapi lihatlah Tia masih sangat menyayangi kita sebagai kedua orang tuanya," hibur Cahyo pada sang istri. Dia sebenarnya juga merasa malu karena Tia bukanlah darah dagingnya. Namun harus bagaimana lagi jika Ridho mengusir mereka.
"Baiklah, Pa Aku ikut apa yang menjadi keputusanmu. Cepat kamu hubungi Aris agar kita bisa pindah sebelum Ridho mengusir kita," ucap Meri meminta sang suami untuk menghubungi Aris.
"Baiklah, Ma. Aku akan menghubungi Aris. Kita masuk ke kamar dulu, ya. Sambil berkemas kita akan menunggu Aris.
"Baiklah, Pa."
Cahyo pun mendorong kursi roda Meri kembali masuk ke dalam kamar.
Sementara itu percekcokan antara Wulan dan Ridho masih berlangsung. Di akhiri dengan Wulan yang membawa kopernya keluar dari kamar.
"Wulan! Jika kau tetap keluar dari rumah ini, maka aku tidak akan pernah mau menerima mu lagi, kedua orang tuamu aku usir!" teriak Ridho sembari mengekor Wulan yang menyeret kopernya yang besar. Semua perhiasan yang ia miliki sudah Wulan masukkan ke dalam tas koper itu.
Brak!!