Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 194.


Wulan di tarik paksa karena selalu meronta ingin melarikan diri. Wulan di interogasi dan diproses secara hukum atas laporan dari Tia.


Setelah memberikan keterangan, salah satu anggota polisi wanita pun membawa Wulan masuk ke dalam sel tahanan khusus wanita. Wulan hanya diberikan dua buah plester untuk mengobati lukanya.


"Isssh ...," ringis Wulan membasuh lukanya yang semakin menganga.


Seorang wanita bertubuh gempal mengawasi Wulan dari dalam sel tahanan. Dari ujung rambut sampai ke ujung kaki Wulan. Namun Wulan cuek dan abai hingga membuat wanita yang mengawasinya itu tersulut emosinya.



"Dengan wajah seperti itu, kau berani melakukan kejahatan apa? Rupanya kau sangat percaya diri, ya," sindir salah satu tahanan wanita yang satu sel dengan Wulan.



Wulan memalingkan wajahnya, mengabaikan ucapan dari wanita itu. Dia sudah terbiasa menerima hinaan karena wajahnya yang sudah rusak. Merasa diabaikan, wanita bertubuh gempal yang menjadi teman satu Wulan tersebut menghampiri.


"Kau berani mengabaikanku?" Dengan gerakan cepat, rambut Wulan ditarik ke belakang sampai membuat wanita itu tersungkur jatuh ke lantai.


Bruk ...!



Wulan mencoba melawan dengan menarik betis wanita di hadapannya. Tenaga yang Wulan keluarkan, tidak sebanding dengan tenaga yang wanita itu keluarkan. Wulan semakin ditarik lebih kencang sampai punggungnya membentur dinding cukup keras. Wulan meringis kesakitan.



Wanita bertubuh gempal itu tertawa puas diiringi dengan tawa lainnya dari teman satu sel Wulan. Tidak terima atas perlakuan yang diberikan, Wulan kembali melawan. Namun semakin melawan, semakin keras dan kejam juga perlakuan yang diterima olehnya.



"Hentikan!" Polisi wanita datang dan melerai perkelahian di antara mereka. Wanita bertubuh gempal itu terpaksa melepaskan tubuh Wulan.



Wajah Wulan tampak lebam dan keluar cairan kental berwarna merah dari sudut bibirnya. Luka di lutut dan kaki Wulan, semakin parah dengan keluarnya darah lebih banyak. Bahkan belasan helai rambut bulan pun berceceran di lantai.



Polisi menarik Wulan keluar dari dalam sel untuk dibawa berobat ke klinik kantor polisi. "Baru saja satu hari kau masuk tahanan, sudah berkelahi seperti ini dengan tahanan lainnya," geram penjaga dengan wajah yang sangat kesal.


Wulan hanya menggeram panjang menahan amarah di dalam hatinya. Sudah terluka raga, jiwa dan perasaannya pun sakit bukan kepalang. Dia meringkuk di atas brankar, memeluk tubuhnya sendiri. Betapa hancur hidup yang harus dia jalani.


Malam pun datang, Wulan tidur di lantai yang dingin tanpa alas. Wanita bertubuh gempal tadi tidak membiarkan Wulan tidur dengan alas yang diberikan oleh penjaga. Selain itu jatah makan Wulan pun diminta paksa oleh wanita itu.



"Heh! Banguuun! Enak saja kau tidur dari tadi! Minggir jangan pernah berharap kau bisa tidur. Dan satu lagi, pijit kakiku atau kau aku kirim ke neraka! Hahaha ...!"



"Tunggu! Aku juga ...." Wanita lain dengan rambut keriting dan bertubuh tinggi kekar itu tidak mau kalah.



Wulan tidak menanggapi permintaan dari wanita bertubuh gempal, dia memilih tidur tanpa membalas semua perbuatan keji wanita itu. Wulan memilih diam karena jika terjadi keributan maka dialah yang akan disalahkan oleh para penjaga.



"Heh! Kenapa kau diam saja! Cepat lakukan semua perintahku!" gertak wanita itu. Tubuh gempalnya membuat eneg semua orang yang melihat dirinya.



Wulan dengan langkah gontai karena merasa tubuhnya sakit semua pun akhirnya menuruti semua keinginan dua wanita yang menjadi teman satu tahanannya.



"I ... Iya," jawab Wulan dengan kesal dan menahan semua sakit tubuhnya.



Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Wulan pun memijat tubuh wanita yang menyuruhnya itu. Malam ini Wulan tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Wulan berjanji di dalam hati, jika dia bebas maka ia akan membalas semua perbuatan Tia.


Hari pun berganti, Sambil menunggu sidang keputusan dari pengadilan, Wulan ditahan beberapa hari. Selama itu juga, tidak ada seorangpun yang menengoknya. Wulan bahkan tidak memiliki teman di dalam tahanan. Mereka semua tampak tidak peduli dan acuh, bahkan tidak membantu ketika Wulan terjatuh akibat luka di kakinya yang belum juga sembuh.


Hingga masa sidang pun akhirnya datang. Wulan mengenakan pakaian tahanan berwarna orange, berjalan dengan tergopoh melewati beberapa orang di lorong. Dia masuk ke dalam ruangan sidang dan duduk di tengah-tengah tepat berhadapan dengan para hakim pengadilan.


Sekilas Wulan menoleh ke belakang. Diantara belasan orang yang hadir di dalam ruangan sidang itu, ada Tia dan Hans. Mereka tampak tenang menyaksikan Wulan yang tidak lama lagi akan dijatuhi hukuman akibat perbuatannya itu.


"Awas kau, Tia! Aku pastikan kau akan menderita setelah aku bebas nanti! Sekarang kalian bisa tertawa, tapi nanti setelah aku bebas, kalian akan menangis darah!!" geram Wulan.


Wulan mendengus kesal melihat Tia. Jika bukan karena laporan dari Tia, mungkin dia masih bisa bebas berkeliaran. "Sialan. Aku pastikan, kalian tidak akan pernah hidup bahagia," ucap Wulan lagi.


Tia memperhatikan punggung Wulan. Pakaian tahanan berwarna orange itu tampak kebesaran di tubuh Wulan yang memang semakin kurus. "Entah apa yang dia dapatkan di penjara. Lihatlah, baru saja beberapa hari menjadi tahanan, tubuhnya sudah kurus seperti itu."


Hans menepuk pelan bahu sang istri. "Kau masih perhatian padanya."


Tia menganggukkan kepala dengan lemah. "Ya, bagaimanapun juga, Dia pernah menjadi saudaraku dan dia juga pernah merawat kedua anak kita dengan baik," jawab Tia yang sebenarnya kasihan melihat Wulan. Akan tetapi semua demi keamanan anak -anaknya maka dia harus tega.


Tia tidak menampik semua hal baik yang sudah dilakukan oleh Wulan, tetapi dia juga tidak bisa memaafkan dan melupakan semua kejahatan yang sudah dilakukan oleh wanita itu. Tia sudah terlalu banyak mengalami kepedihan dan penderitaan yang diperbuat oleh Wulan. Maka hari ini, semuanya akan terasa impas.


Hakim ketua mengetuk palu ke atas meja sebanyak tiga kali yang menandakan dimulainya sidang. Saksi dari pelapor, yaitu Bu Yayasan dan beberapa orang lainnya pun datang untuk memberi keterangan. Bahkan Dokter Arfa pun turut dipanggil untuk memberikan keterangan di sidang pengadilan tersebut atas permintaan Tia.


Dokter Arfa yang semula tidak ingin ikut campur atas apa yang terjadi pada Wulan, terpaksa menerima permintaan Tia untuk menjadi saksi. Kalau tidak, Tia akan turut melaporkan Dokter Arfa karena sudah melakukan operasi plastik ilegal pada Wulan. Dengan terpaksa, Dokter Arfa harus menuruti keinginan Tia.


Tanpa memiliki kuasa atau bantuan hukum dari siapapun, Wulan hanya terduduk lemas tidak berdaya. Semua bukti yang Tia miliki, semakin membuatnya jatuh lebih dalam. Pengacara pun tidak ada. Wulan benar-benar sudah berada di ujung jurang kehancuran. Hasil dari persidangan inilah yang akan mendorongnya semakin jatuh.


Ingin rasanya Wulan berteriak dan memakai Tia. Semua memojokkan dirinya dan tidak memberikan kesempatan membela diri.


Hakim kembali mengetuk palu. "Berdasarkan barang bukti dan kesaksian yang sudah diberikan oleh para saksi, maka hasil sidang memutuskan Saudari Wulan akan dijatuhi hukuman penjara selama 3 tahun sesuai dengan pasal KUHP yang berlaku."


Senyum mengembang di wajah Tia. Dalam hati mengucap syukur. Baru saja hakim ketua mengangkat palunya dan mengetuk satu kali, semua orang dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka dengan lebar. Beberapa orang dari ambang pintu menerobos masuk ke dalam ruangan persidangan. Tatapan mereka dipenuhi oleh amarah.


Wulan membelalakkan matanya dengan sempurna ketika melihat siapa yang datang. Dia memijat keningnya dan menundukkan kepala, merasa hari ini tidak akan berjalan dengan lancar. Tentunya kedatangan mereka bukanlah sebuah pertanda yang baik untuk dirinya.


"Maaf, hakim ketua. Kami datang ke sini untuk mengajukan tuntutan padanya," tunjuk seorang wanita paruh baya ke arah Wulan.


Deg!



Deg!


Jantung Wulan berdegup dengan kencang, wanita itu adalah mantan ibu mertuanya bersama satu lagi wanita yang tidak ia kenal.


"Harap semuanya tenang terlebih dahulu. Bisa kau jelaskan apa tujuan kalian kemari secara baik-baik dan mematuhi jalannya hukum?" tanya sang hakim ketua.


"Baik, Tuan Hakim yang mulia." Beberapa orang itu pun memilih tempat duduk masing-masing dan satu diantara mereka berjalan dengan gagah berani menuju hakim ketua, tepatnya berdiri sejajar dengan kursi Wulan.


"Aku ingin memberikan tuntutan kepada wanita yang sudah melakukan percobaan pembunuhan kepada putraku," ucap wanita paruh baya itu sembari menatap bengis kepada Wulan. Ia didampingi mantan mertua Wulan.


Wulan berdecak kesal. Mereka adalah keluarga Andi. Pria yang dahulu mengalami kecelakaan maut bersama dengannya. Sayangnya, Andi kehilangan nyawa di tempat. Sementara dirinya, harus mendapatkan kehidupan yang buruk dengan wajah setengah rusak.


"Sialan! Apa lagi ini. Belum juga puas wanita itu bersama anaknya membuatku tersiksa, kini akan menambah lagi siksaan untukku. Menyesal aku dulu menikah dengan Ridho!!" geram Wulan yang


Tia hanya diam memperhatikan dengan kedua tangan yang melipat di atas dada. Merasa senang? Tentu saja karena hal itu bisa memberatkan hukuman untuk Wulan. Beberapa orang itu juga pernah menjadi bagian dari keluarganya ketika dia masih bersama dengan Ridho.


Namun, Tia belum bisa beranjak pergi dari ruangan sidang itu karena urusannya belum selesai bila sang hakim tidak mengetuk palu atas hasil dari sidang hukuman Wulan.



Hakim ketua meminta saksi, pengacara, dan barang bukti yang bersangkutan dengan tuntutan tersebut. Sama berjalannya seperti tadi, para saksi diperintahkan untuk berdiri di depan memberi keterangan. Sementara keluarga Andi, memperhatikan jalannya persidangan.


"Berdasarkan bukti dan keterangan dari para saksi, Saudari Wulan telah melakukan percobaan pembunuhan. Maka dari itu, Saudari Wulan akan dijatuhi hukuman lima belas tahun penjara. Ditambah dengan tuntutan hukuman hasil sidang sebelumnya, penjara tiga tahun dan percobaan melarikan diri, total hukuman yang diterima oleh Saudari Wulan adalah seumur hidup dalam penjara dengan dipotong masa tahanan."


Tiga kali palu diketukkan di atas meja. Dengan itu pula menandakan bahwa hukuman yang diterima oleh Wulan adalah sah secara hukum. Keluarga Andi dan Tia, menghela nafas lega. Ini merupakan sebuah hukuman yang adil.


Mendengar keputusan yang diberikan oleh ketua hakim, membuat Wulan tak sanggup mendengarnya dan membayangkan apa yang akan terjadi. Dua puluh tahun penjara, sama dengan seperti dia memberikan seluruh hidupnya untuk mendekam di jeruji besi yang dingin dan hampa.


Air mata mengalir deras membasahi kedua pipi Wulan. Wanita itu menggelengkan kepala dan berteriak dengan keras. "Kalian semua jahat!" Wulan terus meronta dan berteriak tidak ingin masuk penjara.


Dua orang polisi wanita pun segera menghampiri Wulan dan membuat wanita itu tidak bisa berkutik. Wulan terus menangis histeris meratapi nasib dirinya yang harus mendekam di penjara, setengah dari masa hidupnya selama ini.


***


Sementara itu, Tia dan Hans pun pulang ke Jakarta. Apa yang terjadi pada Wulan membuat Tia terdiam di sepanjang perjalanan. Dia masih heran mengapa kakaknya menjadi wanita yang berhati kejam. Wulan telah menghilangkan nyawa seseorang.



"Sayang, mengapa sedari tadi kamu diam saja?" tanya Hans pada wanita yang telah melahirkan dua anak untuknya.



Tia menghela napas sembari melihat ke arah luar jendela pesawat terbang yang ia tumpangi.



"Aku hanya terheran dengan mbak Wulan, mengapa dia berubah begitu banyak hingga aku sendiri tidak mengenalinya. Dia dulu tidak seperti ini, Mas. Bukan masalah wajah akan tetapi sikapnya itu. Dia sudah tega menghabisi nyawa seseorang," ucap Tia masih menatap ke arah jendela.



Hans paham apa yang dirasakan oleh istrinya itu. Memang sangat sulit menerima perubahan seseorang yang sedari kecil sudah hidup bersama.



"Tia, semua orang itu pasti akan berubah, tinggal hatinya mau menentukan ke arah mana dia akan berubah. Mau ke arah yang lebih baik atau malah menuju ke arah yang tidak baik. Semua itu tergantung dari seberapa orang itu mau berubah. Keadaan juga membuat seseorang bisa berubah. Dari yang dahulu baik menjadi jahat, demikian pula sebaliknya dari yang jahat bisa berubah menjadi baik," ucap Hans menasehati sang istri.



"Hmm ... Mungkin keadaan lah yang membuat mbak Wulan terpaksa menghabisi lelaki itu. Dia tahu jika lelaki akan membawanya ke kantor polisi, hingga mbak Wulan pun berusaha melarikan diri dan mengganggu lelaki itu saat sedang mengemudi," ulas Tia menghubungkan satu persatu kejadian demi kejadian menjadi satu.



"Mungkin bisa seperti itu, tapi bisa juga karena hal yang lain. Semua itu pastilah sudah diselidiki oleh pihak yang berwajib. Kita hanya bisa berasumsi karena kita tidak ada di lokasi kejadian. Lebih baik kita kubur dalam- dalam semua yang terjadi agar rumah tangga kita berjalan baik-baik saja," ucap Hans menasehati sang istri yang sedang gelisah memikirkan sang kakak.



END SEASON 1