
"Wa'alaikum salam, mencari Bu Alya?" tanya Bu guru cantik dengan hijab sepinggang.
"Iya, Bu. Bisa saya bertemu dengan Bu guru Alya. Ada yang ingin saya sampaikan pada beliau," jawab Aris dengan sopan.
"Maaf, Pak. Bu guru Alya sudah tidak mengajar lagi di sini. Baru kemarin beliau dinonaktifkan oleh yayasan. Sebagai gantinya saya yang mengampu kelas Bu Alya. Kenalkan saya Devi, pengganti Bu Alya," jawab wanita cantik dengan kaca mata yang menghiasi mata indahnya.
"Apa?! Bu Alya sudah tidak mengajar lagi di sini? Apa Bu Devi tahu mengapa Bu Alya tidak bekerja lagi?" tanya Aris pongah. Sudah diberitahu kalau Alya diberhentikan alias di PHK masih tanya juga ke Devi.
Devi memutar bola matanya malas karena Aris bertanya hal yang sama sekali tidak diketahuinya karena dia baru saja mulai mengajar hari ini.
"Maaf, Pak. Saya guru baru, tidak tahu apa penyebab Bu Alya diberhentikan mengajar di sekolah ini. Lebih baik bapak tanyakan pada pihak yayasan saja. Karena bukan wewenang saya untuk mencampuri urusan Bu Alya. Maaf ya, Pak. Saya mau masuk kelas dulu," ucap Devi dengan tegas dan senyum yang tersungging di sudut bibirnya.
Aris melihat jam tangannya, dan benar saja jam sudah menunjukkan pukul satu siang, pertanda waktu istirahat jam makan siang selesai.
"Baiklah, Bu Devi. Maafkan saya yang mengganggu jam istirahatnya Bu Devi. Oh ya, salam buat Hasan dan Hasna. Mereka adalah keponakan saya," ucap Aris dengan senyum salah tingkahnya.
"Baiklah, nanti saya sampaikan pada Hasan dan Hasna. Selamat siang, Assalamu 'alaikum, pintu keluar ada di sebelah sana," jawab Devi yang kesal karena Aris tidak pergi - pergi juga.
Aris yang melihat gelagat tidak menyenangkan dari lawan bicaranya, dia pun segera pergi dari tempat itu, padahal di dalam hatinya ingin sekali ia berlama-lama ngobrol dengan Devi.
Tanpa menoleh lagi, Devi masuk ke kelasnya. Kelas dimana Alya mengajar.
"Baiklah anak-anak, jam istirahat sudah selesai. Sekarang waktunya kita belajar seni. Kita akan membuat gelang dari manik-manik yang ibu guru bawa. Siapa yang mau ikut membuat bersama Bu guru?" seru Alya.
"Sayaaa ...." Semua anak berseru sambil mengacungkan jarinya.
Semuanya bersemangat menjawab untuk mengikuti kegiatan seni meronce, kecuali satu siswi yang tidak mengacungkan jarinya. Dia adalah Hasna, anak Tia yang nomer dua.
Sudah dari pagi dia tidak bersemangat masuk sekolah. Apa yang dilakukan oleh orang lain selalu salah di matanya.
Devi membagikan manik\+manik pada anak didiknya. Tiba di bangku Hasna, Devi heran melihat Hasna yang tidur. Tanpa mengganggunya Hasna melanjutkan membagi manik-manik pada teman Hasna yang lain.
Sementara itu, Tia yang tertidur di sofa pun akhirnya bangun.
"Hoam .... Jam berapa ini? Di mana Aris? Astaga ..! Aku ketiduran! Dan makanan ini masih utuh, Ya Allah bagaimana bisa aku ketiduran dan lupa memberi bekal ini pada Aris dan mas Hans!" gerutu Tia merutuki kecerobohannya.
Gegas Tia beranjak dari sofa yang dia gunakan untuk tidur. Dengan langkah cepat Tia menuju ke ruangan sang suami. Di sana Hans masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Tia, kamu datang ke mari, Sayang?" tanya Hans meletakkan pena yang digunakannya untuk tanda tangan.
"Iya, Mas. Tadi Tia mengantar bekal untuk Aris dan ingin bicara pada Aris, akan tetapi Tia malah ketiduran," ucap Tia sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Sini biar bekalnya mas makan, kebetulan dari siang mas juga belum makan," ucap Hans menyenangkan hati sang istri.
Tia pun tersenyum, dia merasa senang karena pada akhirnya bekal yang ia bawa tidak mubazir. Tia pun membuka bekal yang ia bawa dan kemudian ia sajikan pada Hans.
Hanya tinggal menunggu anak-anaknya pulang, Tia sudah berjanji ada anak-anaknya untuk menjemput mereka.
Yang jelas Tia sangat menyayangi anak-anaknya, tidak akan ia biarkan anak-anaknya terluka sedikitpun. Pasti jika adik mereka lahir mereka akan sangat senang dan suasana di rumah ini akan semakin ramai. Tidak sabar sekali menunggu waktu itu terjadi.
***
Sore pun tiba, karena Tia sudah berjanji akhirnya yang menjemput anak-anak adalah dirinya. Sekarang ini Hasan dan Hasna sudah berada di dalam mobil dan ia mendengar cerita mereka tentang apa yang terjadi di sekolah pada hari ini. Salah satu dari mereka bercerita dengan nada sangat antusias dan juga dirinya mendengarkan cerita mereka dengan antusias juga.
"Oh iya ma, tadi aku makan bekal buatan Mama sampai habis loh. Terus ada teman aku yang mau minta nugget yang bentuknya dinosaurus."
"Kamu kasih nggak?" tanya Tia.
"Iya dong, kan mama selalu ngajarin kepada kami buat berbagi sama teman-teman. Jadi aku sharing dan nugget aku sama dia, terus akhirnya kita makan sama-sama deh."
"Bagus, anak mama memang pintar-pintar dan baik-baik banget. Pokoknya kalian harus saling berbagi karena berbagi itu indah banget, Mama udah nganterin sama kalian kalau berbagi itu nggak akan buat kita jadi miskin. Malahan kalau kita berbagi kita akan mendapatkan pahala yang luar biasa," ujar Tia.
"Wah, benarkah, Ma? Jadi kalau pahala kita banyak apa Tuhan akan sayang sama kita?" tanya Hasna.
"Iya, Sayang, kalau kita sering berbuat baik Tuhan pasti akan sayang banget sama kita. Mama banget deh sama kalian karena kalian udah mau berbagi kepada teman-teman kalian. Pokoknya kalian harus sering-sering banget lagi ke teman kalian ya."
"Iya, Mama."
"Tapi, Ma. kata teman dek Hasna tadi, dek Hasna tidak ikut pelajaran seni, Ma. Dek Hasna tidur," kata Hasan mengadu pada sang ibu.
"Benar begitu, Hasna?"
"Habis ... Hasna ngantuk, Ma. Hasna tidak suka pelajaran seni. Apalagi membuat gelang dari manik-manik," ucap Hasna merajuk.
"Hmm ... ya sudah, kapan-kapan mama beritahu bagaimana asyiknya meronce. Sekarang kita beli es krim dan beli bahan kue, mama ingin membuat cookies buat papa," ucap Tia mengajak anak-anaknya berbelanja.
"Benarkah, Ma? Yeeeiii ... asyiiik ...!" teriak Hasan dan Hasna bersamaan. Mereka sangat senang karena diajak belanja oleh mamanya.
***
Sementara Hans sendiri masih berada di kantor, sejujurnya ia sangat merindukan istri dan anak-anaknya di rumah. Tetapi pekerjaannya di sini masih banyak yang tidak bisa dirinya tinggalkan. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi istrinya itu.
Tidak butuh waktu lama sambungan telepon dari dirinya diangkat oleh Tia. Lalu ia mengubah menjadi panggilan video, gambar pertama yang ia lihat adalah anak perempuannya yaitu Hasna. Dia tampak melambaikan tangan ke arah kamera.
"Hai, Papa, kapan papa pulang? Aku tadi sama mama udah buatin cookies buat papa," ujar Hasna.
"Wah, benarkah sayang? Kamu buatin cookies untuk papa?" tanya Hans antusias.
"Iya, Papa, aku yang buat cookies untuk papa. Pasti kukisnya enak banget karena ada coklatnya sama kacang almond, aku jamin deh Papa pasti suka. Apalagi itu buatan aku sama mama," sahut Hasna
"Waduh, kalau begini papa jadi nggak sabar buat pulang. Papa nggak sabar icipin cookies yang kamu buat."
"Iya, Papa, cepat pulang ya. Aku mau digendong sama papa."
"Iya, Sayang. Nanti kalau pekerjaan Papa udah selesai pasti papa akan langsung pulang."
Sebenarnya dari tadi Hans sedikit merasa capek karena banyaknya pekerjaan yang ada di kantor. Tetapi ketika melihat wajah dari anak-anaknya membuat rasa capek itu hilang dan berkurang. Apalagi melihat senyum manis dari Hasna.
"Mas, banyak banget ya pekerjaan kamu di kantor?" tanya Tia melalui video call.
"Iya, tapi ini aku usahain buat selesai sebentar lagi. Ini aku juga dibantu sama asisten aku kok, palingan 2 jam lagi aku pulang dan sampai ke rumah," jawab Hans.
"Yaudah, kamu semangat ya kerjanya. Ini tadi waktu mereka pulang sekolah mereka ngajak aku bikin Cookies, jadi aku tadi sama mereka bikin cookies sama-sama. Hasna juga udah nyimpen satu toples cookies buat kamu. Katanya dia mau kamu coba itu, terus dia simpan di kamarnya."
"Iya, nanti aku usahain buat pulang cepet ya."
"Iya, Mas, pulangnya kamu hati-hati di jalan ya."
Hans mematikan sambungan telepon itu, rupanya di rumah anak-anaknya tidak sabar menunggu kedatangannya pulang. Akhirnya ia dengan cepat menyelesaikan pekerjaan itu supaya bisa segera pulang.
Tidak sabar untuk mencicipi Cookies yang dibuat oleh anak dan istrinya. Sebenarnya ia bisa membeli cookies dan mengirimkannya ke sini, tetapi rasanya berbeda jika dibuat oleh orang-orang yang paling ia sayangi di hidup ini. Memang yang membuat lelah itu hilang adalah anak dan istri.
Hans mengembuskan napasnya perlahan, dia begitu jenuh dengan rutinitas pekerjaan yang banyak menyita waktunya. Hans sudah mengatur jika hari Sabtu dan Minggu dia akan tetap ambil libur.
"Astaghfirullah, Hans! ayo semangat! sebentar lagi selesai, jangan loyo tetap semangat demi masa depan anak-anak!" ucap Hans menyemangati dirinya sendiri. Hans semakin sibuk karena harus mengurus dua perusahaan besar.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam, Hans mengakhiri pekerjaan. Dia bersiap pulang ke rumah. Dia yakin pasti anak-anaknya saat ini sudah tidur. Dengan langkah cepat Hans meninggalkan ruangannya.
"Selamat malam, Tuan," sapa Satpam sambil menunduk hormat.
"Selamat malam, Pak. Hati-hati yang jaga, periksa semua karena sekarang ini marak pencurian," ujar Hans memperingatkan sang penjaga keamanan.
"Siap,Tuan! Saya akan memeriksa semua ruangan dan CCTV. Tuan hati-hati di jalan," jawab sang satpam yang peduli dengan majikannya yang baik itu. Hans selalu tepat dalam menggaji semua karyawannya. Sesekali dia memberi bonus bagi karyawan yang rajin dan berprestasi.