
"Mm ... Mama!" pekik Wulan yang terkejut melihat ibu mertuanya datang bersama sang ayah mertua.
"Loh! Kamu, Wulan?! Di mana Ridho? Kamu datang bersama Ridho bukan?!" cec4r sang ibu mertua yang melihat Wulan duduk bersama kakak iparnya.
Wulan berdiri dari bangku duduknya dengan jantung yang berdetak kencang.
"Mama!!" pekik Wulan sembari menutup mulutnya. Wulan merasa ingin kabur dari tempat itu, karena malu jika sang mertua tahu kalau dirinya selingkuh.
"Wulan! Di mana Ridho?!"
"Ambar, apakah wanita ini istri Ridho?" tanya Clara pura-pura.
"Iya, Kak. Wulan adalah menantuku, dia cantik bukan? Tidak salah Ridho memilihnya. Selain cantik, dia itu anak dari orang kaya lho! Iya kan, Wulan?" tanya Ambar-- ibu mertua Wulan.
Clara tersenyum sinis mendengar adik iparnya berlebihan memuji sang menantu. Clara berjalan mendekati Ambar yang tengah merangkul Wulan.
"Wow ... Cantik dan anak orang kaya. Benarkah?" tanya Clara menyindir Wulan yang wajahnya sudah pucat, keringat menetesi dahi.
Udara dingin dari AC tidak menyebarkan kesejukan bagi Wulan. Rasa sejuk tidak bisa Wulan rasakan, karena salah tingkah dan gugup menghinggapi Wulan..
"Benarlah, Kak. Dia kan menantu idaman. Benar kan, Wulan?" Ambar tersenyum menatap sang menantu.
"Be ... Be ...."
"Kenapa gugup, Wulan? Tapi ... Masa iya sih, anak orang kaya kok merampok duit orang?" sindir Clara lagi.
"Lihat, menjawab saja dia tidak bisa. Semua itu jelas karena dia bukan anak orang kaya!" tegas Clara dengan sorot mata tajam bagai pedang yang siap menghabisi para musuh. Clara sudah teramat geram dengan tingkah Wulan.
"Tidaaak ... Tidak mungkin itu, Kak. Kau benar anak orang kaya kan, Wulan? Bukan perampok seperti yang dituduhkan tantemu?" tanya Ambar sembari mengguncang bahu Wulan.
"Apa? Tante ..? Maksud mama apakah nyonya Clara ini adalah saudara mama?" tanya Wulan.
Bukannya menjawab, Wulan malah balik bertanya. Raut wajah Wulan menunjukkan kekhawatiran dan ketakutan jika semua kedoknya akan terbongkar di depan sang ibu mertua.
"Ambar, katakan siapa aku?!" ucap Clara dengan kedua tangan bersedekap di dada.
"Wulan, nyonya Clara yang kau maksud ini adalah Tantenya Ridho! Suami dari Tante Clara ini adalah kakak dari ayah mertuamu, Jelas kan? jadi kau harus memanggilnya tante, sama dengan Ridho yang memanggilnya tante. Kamu paham?! Sebenarnya ada apa antara kau dan kakak iparku ini, Wulan?!"
Ambar mulai tersadar melihat kakak iparnya begitu sinis dan tidak suka dengan Wulan. Jelas terlihat jika Wulan dan Clara ada sesuatu.
"A ... Anu, Ma ... Ini hanya kesalahan pahaman saja. Wulan tidak tahu jika tante Clara adalah tantenya mas Ridho," ucap Wulan mulai mencari alasan.
"Benarkah seperti itu, Wulan? Semua ini hanyalah kesalahpahaman saja?! Amaar ...! Cepat kau putar videonya agar Tante mu Ambar tahu apa yang dilakukan oleh menantu tercintanya itu!"
Clara memerintahkan Amar untuk memutar video rekaman yang berhasil dia rekam tadi. Wulan membulatkan mata, jelas terlihat wajahnya mulai ketakutan.
"Coba perlihatkan video itu, Amar!" pinta Ambar yang penasaran dengan apa yang terjadi dengan menantunya itu.
"Gawat! Aku harus bagaimana ini? Apa aku harus kabur saja? Ya kau harus kabur saat semua orang melihat ke arah video itu," ucap Wulan di dalam hati.
Clara bersedekap sambil mengawasi gerak- gerik Wulan yang menunjukkan gelagat ingin kabur. Clara merubah posisi tangannya. Dia memegang tangan Wulan yang hendak kabur.
"Mau kemana kamu? Mau kabur? Iya kan?" cecar Clara sembari memegang tangan Wulan.
Wulan meronta agar bisa terlepas dari tangan Clara.
"Amar! Tahan dia!" panggil Clara pada Amar, sedangkan Ambar dan suaminya terkejut melihat rekaman video di ponsel Amar.
Amar bergegas membantu sang Tante untuk mencegah agar supaya Wulan tidak bisa kabur.
Plak!
Ambar melayangkan jari limanya ke pipi Wulan dengan keras.
"Wulan!! Apa yang kau lakukan! Berani sekali kau ingin merampok tantemu sendiri dengan hal yang begitu rendah! Dasar menantu tidak tahu diri!! Jangan-jangan apa yang Ridho katakan tentangmu dulu, semua adalah kebohongan belaka, hah!!" teriak Ambar dengan emosi yang sudah sampai di ubun- ubun.
Ambar tidak menyangka jika menantunya melakukan kejahatan yang tidak pernah sekalipun ia sangka. Sama halnya dengan suami Ambar-- Husni. Husni merasa syok setelah melihat rekaman video tersebut.
Husni tidak percaya kalau menantu yang ia puji dahulu saat pernikahan Ridho dengan Wulan, ternyata adalah sosok wanita yang tidak punya malu dan hanya wanita dari keturunan orang biasa bukan keturunan orang kaya.
"Wulan, papa tidak menyangka semua yang kau katakan dulu hanya sebuah dusta. Kini, papa menyesal telah memuji dirimu dahulu!" Husni menggeram marah, dirinya sangat malu memiliki menantu seperti Wulan.
Wulan tidak mengindahkan perkataan sang ayah mertua, dia memegangi pipinya yang terasa nyeri akibat dari tamparan sang ibu mertua. Wulan terkejut karena ibu mertuanya tiba-tiba menampar pipinya begitu saja. Hatinya pun memberontak, dengan berani Wulan membalas tamparan Ambar.
"Hai, Kau Nyonya! Mengapa kau berani menampar aku, hah! Asal kau tahu bahwa aku sudah meninggalkan anakmu yang lemah dan sakit itu! Asalkan kau tahu juga bahwa anakmu itu sekarang sudah menjadi miskin, untuk itulah aku melakukan semua itu karena uang tabunganku dicuri oleh anak kesayangan mu!"
Wulan berteriak dengan keras karena merasa tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Ambar. Usahanya untuk membalas tamparan sang ibu mertua gagal karena Amar terlalu kuat memegangi tangannya.
Semua mata pengunjung pun menatap ke arah Wulan, Clara, Husni, Amar dan Ambar. Mereka semua menjadi tontonan pengunjung yang ada di dalam cafe itu.
"Lihatlah adik ipar, seperti apa menantumu itu. Bukan hanya itu saja kelakuan menantu mu itu telah menjadi pelakor suami anakku. Pantas kan kalau aku seret dia ke meja hijau?!" tegas Clara mengancam Wulan.
Wulan mulai melemah, dirinya sangat takut jika harus berurusan dengan hukum. Dari mana dia akan menyewa pengacara yang bisa membantunya untuk melawan di pengadilan.
"Maafkan kesalahan Ridho, Kak. Dia telah salah memilih istri. Ternyata hatinya tidak secantik perangainya. Menyesal aku dulu mengijinkan Ridho untuk menikahinya. Ternyata dia adalah ular beludak!"
Ambar meminta maaf atas kesalahan Ridho yang telah menikahi Wulan. Ambar berharap jangan sampai kakak iparnya marah dan menarik semua bantuan untuk keluarganya.
"Kak, silakan saja kakak bawa ke pihak yang berwajib. Kami sudah tidak ada hubungan lagi dengan wanita itu. Kakak dengar kan, kalau dirinya sudah meninggalkan Ridho," ucap Ambar merayu sang kakak ipar. Ambar tidak mau hanya gara-gara wanita itu semua bantuan untuk keluarganya akan dihentikan.
"Lihat, Wulan. Sudah tidak ada lagi orang yang akan membantumu! Kau akan sendirian melawan kami," ejek Clara melunturkan kesombongan Wulan.