
Gigi Gunawan bergemelutuk menahan amarah yang sudah membuncah di dada. Clara semakin panik, dia tidak menyangka sama sekali kalau Gunawan akan pulang cepat.
"Clara! Jawab pertanyaan ku!!" teriak Gunawan lagi.
"Aa ... Aku ... mm ... Tadi sedang pijit badan ... Iya, sedang terapi badan dengan panggil tukang pijit." Clara membuat alasan yang dibuat-buat.
Clara menjawab dengan gugup karena takut kebohongannya akan terungkap. Apa yang Clara katakan tidak bisa begitu saja diterima oleh Gunawan. Gunawan tahu mana ada tukang pijit datang membuat semua ruangan menjadi berantakan.
"Cih! Kau tidak usah berbohong di depanku, Clara! Cukup! Aku bukan lelaki dungu yang bisa kau tipu lagi. Aku bersabar kau tidak mau melayaniku karena alasan yang kau buat-buat saja! Aku diam dan menuruti semua kemauanmu. Termasuk kau mengatur hidupku, tapi kini tidak lagi. Aku akan ceraikan kau sekarang juga!" teriak Gunawan dengan napas yang tersengal.
Duaar!!
Mata Clara membelalak, jantungnya berdetak keras. Dia lagi- lagi tidak menyangka orang yang biasanya tunduk patuh pada perintahnya, tiba-tiba memberontak. Dengan sengaja Gunawan meminta cerai dari nya.
"Mas! Kamu berani menceraikan aku? Kau sudah yakin? Atau kamu sudah mengira bisa hidup tanpa hartaku? Ingat kau bisa merasakan hidup mewah karena kebaikan ayahku!!" Clara berteriak membalas kata-kata Gunawan dengan sikap yang angkuh. Dia yakin jika Gunawan hanya menggertak saja.
Gunawan terkekeh, dia sudah tahu jawaban apa yang akan diberikan oleh Clara.
"Selemah itukah aku di hadapanmu! Kau lupa Clara!! Selama 20 tahun aku berjuang keras memajukan perusahaan ayahmu seorang diri. Hampir tiap hari aku sibuk dengan setumpuk pekerjaan hanya demi kamu dan Sinta. Apa yang aku kerjakan selama ini aku kuasai dengan baik dan aku gunakan untuk membangun usaha ku sendiri. Aku dungu bukan? Menghidupi istri yang sesungguhnya bukan istri melainkan seorang majikan, dan satu lagi aku menghidupi anak orang lain. Hahaha ... " Gunawan menertawai dirinya sendiri.
"A ... Apa maksudmu, Pa? Sinta adalah putri kesayangan mu, dia adalah anakmu, Pa!!" teriak Clara menggunakan Sinta sebagai tamengnya.
"Jangan kau teruskan kebohongan mu Clara! Aku sudah tahu semua jika Sinta bukan anak kandungku!!" sanggah Gunawan dengan keras. Kali ini Gunawan tidak bisa lagi menahan semua yang terasa sesak di dada.
Clara terbungkam, apa yang dikatakan Gunawan itu semuanya fakta. Fakta bahwa Sinta bukanlah anak kandung dari Gunawan tidak terbantah lagi.
"Baiklah, aku tahu sekarang. Kau pasti marah karena masalah tadi kan? Kau marah saat aku melarangmu untuk menemui Tia, benarkan, Pa? Semua terjadi karena ini hal itu? Baiklah asal kau tidak meninggalkan aku, maka aku akan mengizinkanmu untuk dekat dengan Tia."
Clara berusaha untuk bernegosiasi dengan Gunawan, dia menggunakan Tia untuk merayu Gunawan agar tidak meninggalkannya. Clara sadar, jika Gunawan pergi maka tidak ada yang akan mengurus perusahaannya lagi.
Gunawan terdiam pikirannya mendadak menjadi kacau, apa yang dikatakan Clara telah menggoyahkan hatinya.
"Bagaimana, Pa?" Clara sekali lagi berusaha untuk merayu Gunawan.
Clara tersenyum sinis di sudut bibirnya, dia yakin jika Gunawan tidak akan pergi meninggalkannya. Apa yang Clara pikirkan ternyata salah, Gunawan yang sedari tadi terdiam akhirnya angkat suara.
"Tunggu, Pa! barang apa yang kau maksud? Semua yang kau miliki adalah dari hasil uang perusahaan ayahku, maka kalau kau keluar dari rumah itu maka kau harus keluar tanpa membawa apapun!!" ancam Clara.
Gunawan yang semula melangkah tiba-tiba menghentikan langkahnya setelah mendengar ancaman dari Clara. Gunawan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah dengan angkuh Gunawan melangkah mendekati Clara.
"Kau ingin aku tetap di sampingmu? Baiklah, sekarang layani aku! Sudah 20 tahun aku tidak mengambil hak ku karena aku sangat menghormati dirimu sebagai ibu dari anakku. Sekarang setelah tahu jika Sinta bukan anakku, maka kembalikan malam-malam sepi yang aku lalui tanpa cinta dan hakku sebagai seorang suami!!" teriak Gunawan meluapkan semua emosi yang ada di hati
Tubuh Clara membeku, mulutnya terkunci. Dia tidak menyangka jika Gunawan akan mengatakan hal tersebut. Clara akui dirinya tidak mau melayani Gunawan karena takut dirinya hamil. Rasa trauma ditinggal orang yang ia cintai membuat Clara takut untuk menyerahkan hatinya.
Tidak jarang Clara membubuhkan obat tidur di dalam minuman kopi Gunawan agar Gunawan cepat tidur dan lupa untuk meminta hak sebagai suami. Rencana Clara berhasil, dia bisa membuat Gunawan melupakan haknya.
"Bagaimana? Ayo kita lakukan sekarang juga!!" teriak Gunawan sembari mencengkeram kedua bahu Clara.
Tubuh Clara bergetar menahan tangis yang ia tahan. Keangkuhan yang ia miliki menguap begitu saja. Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Clara berusaha menepis tangan Gunawan.
"Hentikan, Pa! Cukuuup!!"
Clara meronta ingin melepaskan diri cekalan tangan Gunawan. Gunawan yang sudah emosi pun meruda paksa sang istri. Dulu karena keegoisan Clara dia tidak sengaja telah menghancurkan hidup seorang wanita yang memiliki suami dan anak. Kini dengan cara yang sama Gunawan ingin melampiaskan semua amarahnya.
"Tidak, Clara kau harus merasakan apa yang wanita itu rasakan karena ulahmu itu!" Gunawan semakin kuat mencengkeram bahu Clara.
"Lepaskan ... Lepaskan, Pa!!" Clara terus memberontak, dia berusaha keras untuk bisa lepas dari tangan Gunawan. Namun kekuatan Gunawan jauh lebih kuat dari kekuatan tubuh Clara.
Suasana berubah menjadi tegang, kamar yang mereka sewa sudah acak-acakan. Clara masih saja berupaya lebih keras untuk bisa lepas dari Gunawan. Clara tidak mau jika Gunawan sampai memaksakan kehendaknya.
"Pa ... Aku mohon lepaskan aku, Pa!" Clara memohon pada sang suami. Namun sayang, Gunawan yang sudah dirasuki amarah ingin balas dendam pada Clara, bergeming dengan teriakan Clara.
Gunawan terkekeh, ternyata seorang Clara juga memiliki rasa takut di hatinya. Gunawan tidak melewatkan kesempatan untuk membuat Clara hina. Dia akan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sejak dulu. Sebagai seorang lelaki memendam rasa itu sangat berat.
"Ayolah, Clara. Mengapa kau tidak mau melayani suami mu sendiri, hah? Apa karena kau sudah lelah setelah melayani lelaki lain?" tanya Gunawan mempermainkan rasa takut dalam diri Clara.
Clara merasa disindir dan dipojokkan oleh Gunawan. Clara tahu bagaimana ibu Tia dulu menghadapi ketakutan karena kesalahan yang tidak ia sengaja.
"Aku mohon, Pa. Hentikaan ...! Ayo kita bicarakan dengan kepala dingin, jangan begini, Pa!" Clara memohon pada Gunawan.