
Hans tersenyum ke arah Tia. Apa yang mereka usahakan dari awal Hans dan Tia bertemu membuahkan hasil.
"Syukurlah, semua berjalan dengan lancar. Besok kau bisa ambil akta cerai di pengadilan agama. Sekalian besok kita mendaftarkan berkas pernikahan kita," ucap Hans dengan tatapan lembut pada Tia.
Mata Tia berbinar, kini dia benar-benar lepas dari hidup Ridho. Tidak ada lagi yang akan menghalangi langkahnya untuk meraih kebahagiaan.
"Terimakasih, Kak. Aku tidak menyangka aku akan bebas dari ikatan pernikahan dengan mas Ridho. Sungguh hatiku sekarang sangat lega. Terimakasih, Kak. Aku berhutang budi padamu," ucap Tia dengan senyum manisnya.
"Jangan berkata seperti itu, Tia. Jika dihitung utang maka aku pun juga memiliki hutang budi padamu. Kau telah menyelamatkan hidupku. Sudahlah anggap saja semua impas, kita mulai awal yang baru tanpa terikat hutang budi. Bagaimana, hem?" tanya Hans sembari memegang dagu Tia agar Tia mau menatap wajahnya.
"Baiklah, Kak. Kita mulai dari nol lagi. Kita sudah tidak punya hutang satu sama lain," jawab Tia pasrah.
Bip ... Bip ....
Ponsel Hans berdering, Hans pun mengangkat telepon dari kliennya yang akan merias Tia.
"Halo? Oh ya, baiklah aku akan segera membawa Tia ke sana. Okey, kami akan segera meluncur ke sana," ucap Hans membalas perkataan kliennya, lalu menutup kembali ponselnya.
"Tia, kita harus segera ke tempat klienku. Di sana kau bisa memilih gaun yang akan kau gunakan untuk akad nikah nanti," ucap Hans pada Tia.
Tia terbengong, karena dia tidak pernah dirias oleh seorang MUA. Waktu dulu saat menikah dengan Ridho, dia hanya dirias ala kadarnya oleh sang ibu.
"Ayolah, Tia. Kau ikut kakak. Sebentar, aku akan berpamitan pada ibu." Hans meninggalkan Tia untuk mencari sang ibu. Ternyata ibunya sedang berbincang dengan sanak saudaranya melalui telepon.
"Baiklah, aku tutup dahulu. Jangan lupa kalian nanti sore datang di acara akad nikah Hans. Benar, dia akan menikah sore nanti. Untuk hidangan baru saja aku pesankan di restoran terbaik dan termewah di dekat sini. Beruntung tadi ada yang menyanggupinya. Aku bersyukur pernikahan Hans kedua ini semua diberi kemudahan. Baiklah, aku tutup terlebih dahulu," ucap Ningsih mengakhiri perbincangannya dengan sanak keluarga.
"Bu, Hans akan membawa Tia untuk ke salon milik klien Hans. Dia meminta kita untuk datang ke sana karena harus memilih gaun yang sesuai dengan tubuh dan keinginan Tia. Ibu ditemani mbak Marni dulu ya," ucap Hans mengecup kening sang ibu.
"Baiklah, hati-hati. Ibu sudah mempersiapkan semua untuk acara nanti sore. Kalian silakan puaskan diri memilih yang kalian inginkan. Ingat Hans, berikan yang terbaik untuk calon menantuku," ucap Ningsih menepuk bahu Hans.
"Tentu, Bu. Tia layak mendapatkan yang terbaik karena dia juga wanita yang baik. Terimakasih, Bu. Doakan kami agar semua acara hari ini bisa berjalan dengan baik," ucap Hans berpamitan pada sang ibu.
Hans pun menggandeng tangan Tia masuk ke dalam mobil yang akan dikemudikan oleh pak Toni. Sebuah mobil mewah milik Hans yang dia simpan di garasi mobilnya.
"Tia ada apa? Mengapa kau terheran begitu?" tanya Hans melihat Tua yang memandangi interior dalam mobil Hans. Seumur hidup Tia baru pertama kali menaiki mobil mewah.
"Kak, apa ada yang kau sembunyikan dariku? Katamu usahamu sedang tidak baik-baik saja, tapi mengapa kita bisa menaiki mobil mewah ini. Aku tahu mobil ini hanya ada beberapa unit saja di Indonesia," ucap Tia masih asyik merasakan kenyamanan mobil mewah milik Hans.
Hans tersenyum, ternyata Tua wanita yang cerdas. Tidak ada hal yang tidak luput dari perhatiannya.
"Mmm ... Itu, sesungguhnya ...."
"Sesungguhnya apa, Kak? Jangan membuat Tia berburuk sangka pada Kak Hans," timpal Tia seraya menatap mata Hans mencari kejujuran di sana. Tia tidak ingin kejadian pada rumah tangganya yang pertama terulang kembali untuk kedua kalinya. Mimik wajah Tia sudah berubah menjadi mode serius.