
Ketika Aris bergelut dengan perasaannya sendiri, Tia merasa tidak nyaman dengan kedatangan Aris dan Devi. Hubungan Tia dengan sang adik memang sudah sedikit merenggang semenjak Aris dan Devi menikah. Tia lebih baik menjauh daripada harus ikut campur dengan rumah tangga adiknya.
“Kak Tia,” panggil Devi setelah sedari tadi dia hanya terdiam saja.
Tia melirik ke arah Devi tanpa menjawab panggilan dari Devi sama sekali. Dia menatap dengan tatapan dingin dan raut wajah yang datar.
Devi berdecak kesal. Tangannya disilangkannya di depan dada. “Kak, harusnya Kak Tia nawarin kita minum. Kami datang ke sini kan jadi tamu di rumah Kak Tia,” ucap Devi merasa sikap Tia kepada mereka kurang sopan. “Kakak harus lebih hargai kami.”
Tia mengernyitkan keningnya. Padahal Tia tidak pernah meminta Aris maupun Devi untuk datang berkunjung ke rumahnya namun Devi malah berlagak seolah-olah Tia yang telah mengundang mereka berdua ke rumahnya.
Aris terkejut dengan perkataan Devi. Dia langsung memegang tangan Devi dan menatap kesal pada istrinya itu. “Devi, kamu kenapa bilang seperti itu ke Kak Tia? Kamu jangan bersikap tidak sopan,” tegur Aris dengan perasaan kesal.
Devi berdecak tidak suka mendengar teguran dari Aris. Dia menepis tangan Aris dan menatap Aris dengan raut wajah jengkel. “Memangnya aku salah apa? Aku cuma ingetin Kak Tia apa yang harus dia lakuin pada kita, kan? Lihatlah, dia bahkan tidak menjamu kita dengan minuman apapun. Nawarin saja tidak.”
Aris menghela nafas berat. Dia tahu sikap Devi memang tidak begitu baik kepada keluarganya namun Aris tidak menyangka Devi akan seberani itu mengatakannya di hadapan Tia dan Gunawan.
“Kamu haru—”
“Kalian mau minum apa?” tanya Tia menengahi pertengkaran sepasang suami istri itu. dia memang sejak awal tidak berniat menjamu baik tamunya itu karena dia memang tidak menyukai kehadiran kedua orang itu. “Cepat katakan sebelum aku berubah pikiran,” ucap Tia terkesan enggan.
Devi tersenyum miring. “Aku mau teh susu dingin, ya,” ucap Devi santai.
Sedangkan Aris sudah merasa tidak enak. Dari nada bicaranya, dia tahu Tia sedang tidak dalam suasana hati yang baik. “Aku apa saja bebas, Kak. Air putih biasa juga boleh,” ucap Aris seadanya saja.
Tia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur untuk membuatkan minum. Selama Tia berada di dapur, di ruang tamu itu hanya tertinggal Gunawan, Aris, dan juga Devi.
“Aris.”
Aris mendongakkan kepalanya dan menoleh ke arah Gunawan yang tiba-tiba saja memanggilnya. “Iya, Tuan?”
Gunawan menghela nafas pelan sebelum menatap tegas ke arah Aris dan Devi. “Kalian tidak bailk bersikap seperti itu kepada Tia. Kalian harusnya tahu Tia sedang hamil jadi dia tidak boleh banyak bergerak,” ucap Gunawan yang memang tidak suka dengan sikap Devi tadi.
Aris menundukkan kepalanya. Dia sudah tahu bahwa memang kesalahannya mengajak Devi datang ke rumah Tia di saat dia tahu Devi tidak meninggalkan kesan baik kepada Gunawan maupun Tia. “Maafkan kami, Tuan,” ucap Aris merasa bersalah.
Berbeda dengan Aris yang merasa tidak enak, Devi malah merasa apa yang dikatakannya tadi tidaklah salah. “Aku mengatakan apa yang benar, jadi kenapa Mas harus minta maaf?”
Aris menoleh ke arah Devi. “Devi, sudah cukup. Jangan membuat masalah di sini,” ucap Aris memberi peringatan kepada istrinya.
Padahal Aris sendiri sedang dibingungkan dengan sikap Tia yang berbeda dari sebelumnya. Sekarang dia harus mengurus sikap istrinya yang telah kurang ajar di depan Tia dan Gunawan.
‘Apa jangan-jangan Kak Tia bersikap dingin padaku karena Devi?’ batin Aris memikirkan alasan Tia bersikap dingin padanya.
“Ini minuman kalian,” ucap Tia yang ternyata sudah kembali dari dapur dengan membawa nampan yang berisi teh susu dan uga air minum biasa.
Aris tersentak kaget dan memandang ke arah Tia yang sudah duduk di samping Gunawan lagi. “Terima kasih, Kak,” ucap Aris dengan tulus.
Devi tidak mengucapkan apapun dan hanya meneguk teh susu buatan Tia. Setelahnya dia langsung memandang ke arah Tia lagi. Ditatapnya perutnya Tia yang sedikit membuncit itu. “Kak Tia lagi hamil tapi kenapa suami Kak Tia tidak di rumah? Harusnya Kak Tia sebagai istri bisa bujuk suami Kak Tia untuk selalu nemenin Kak Tia. Masa suami Kak Tia tidak peka sih,” ucap Devi mengutarakan pendapatnya lagi.