Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 161


Suasana terik matahari di Lampung tidaklah se- terik hati Clara. Clara tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk memajukan kembali perusahaannya.



"Apa yang harus Clara lakukan, Pa. Clara bingung tidak tahu harus berbuat apa. Semua dulu diurus oleh Gunawan. Bodohnya aku, tidak mau ikut mengurus perusahaan, aku tidak mengira jika Gunawan akan berani mengajukan gugatan cerai! Semua jadi berantakan, tidak mungkin aku minta bantuan Gunawan!" gumam Clara lagi.



"Clara, Sayang. Ada kabar bagus. Akan ada perusahaan yang mengadakan lelang tender. Siapa tahu kita bisa ambil bagian dan memenangkan lelang ini. Dengan begitu, kita akan mendapatkan suntikan dana kembali," ucap Rai menghampiri Clara yang duduk termenung di kursi kebesarannya.



Clara menoleh ke arah Rai yang begitu semangat. Baru saja dia diberi tahu oleh sang sekretaris kalau perusahaan Clara mendapat undangan event lelang tender dari sebuah perusahaan luar negeri yang bergerak di bidang garment, pembuatan baju perang.



"Benarkah? Apa kamu yakin bisa memenangkan tender itu?" sahut Clara sembari menatap penuh harap pada Rai.



"Tentu saja, kita akan membuat presentasi sebagus-bagusnya agar pemilik perusahaan itu tertarik dengan kerja sama yang kita tawarkan."



"Baiklah, besok kita akan mengumpulkan para karyawan untuk rapat bulanan sekaligus akan membahas undangan lelang dari perusahaan ini.



"Bagus. Dengan begitu kita bisa langsung membicarakan semua rencana kita pada semua karyawan. Semoga kita bisa memenangkan tender in!" Rai terlihat optimis, dia berharap akan lebih banyak lagi mengeruk keuntungan dari perusahaan Clara.


***


Keesokan harinya ....


Clara mengadakan rapat bulanan untuk melihat bagaimana perkembangan perusahaan. Beberapa karyawan sudah menjelaskan dan mempresentasikan dokumen yang mereka bawa sesuai bagian masing-masing. Tibalah giliran Rai untuk menyimpulkan di hadapan semua orang selama masa jabatannya.


"Baiklah, seperti yang sudah kita ketahui bahwa perusahaan memang dalam ambang ketidakstabilan. Akan tetapi, kita juga mendapatkan sebuah kesempatan baik. Beberapa waktu lalu, aku mendapatkan undangan dari vendor untuk menghadiri tender. Setelah melihat presentasi kalian, kita masih memiliki kesempatan untuk bangkit. Namun, aku tidak bisa menjalankan ini sendiri. Maka dari itu, aku meminta bantuan kalian juga untuk kepentingan kita bersama," tutur Rai dengan semangat seakan ini memang menjadi titik terang untuk perusahaan.


Clara memandang keseriusan itu dari raut wajah Rai. Dia setuju untuk mengikuti tender. "Baiklah, mari kerja sama untuk tender kali ini. Mulai besok, kita akan bekerja keras untuk membuat dokumen presentasi kita untuk diserahkan ke penyelenggara."



Semua karyawan mengangguk dengan kompak. Rapat pun diakhiri. Clara dan Rai masih berada di dalam ruang rapat. Wanita paruh baya itu mengecek kembali beberapa dokumen yang baru saja dipresentasikan. Laporan pajak dan laporan keuangan perusahaan, menjadi dokumen penting yang harus dibawa untuk tender nanti.


"Kau tampak bersemangat sekali," tegur Rai pada Clara. Wanita itu hanya menanggapi dengan kekehan saja.


Rai memeriksa kelengkapan dokumen lainnya. Dia ingat salah satu vendor dari penyelenggara tender adalah orang yang dikenalnya. Sebuah ide pun muncul di dalam kepala. "Apakah kau ingin memenangkan tender kali ini?"


Clara menghela napas panjang. "Kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja aku mau. Ini demi perusahaan. Apapun akan aku lakukan! Apalagi tender dari perusahaan luar negeri. Siapa yang tidak mau?"


Rai menyeringai. Dia mendekati Clara dan membungkukkan setengah tubuhnya ke hadapan wanita itu. "Mau kuberitahu cara agar dapat menang dengan mudah?"



Kening Clara mengernyit. Dia menghentikan gerakan tangannya di atas dokumen dan menatap lekat wajah Rai. "Caranya?"


Rai membisikkan sesuatu di telinga Clara. Membuat wanita itu seketika membelalakkan mata dengan sempurna. "Apa kau tidak waras, Rai? Kau ingin bermain curang di tender ini? Aku tidak setuju!"


Clara bangkit dari kursinya dan mengacungkan jari telunjuk ke hadapan wajah Rai. "Ingat, perusahaan kita memang sedang dalam keadaan tidak baik baik saja, tapi aku tidak ingin membuat nama baik perusahaan kita jadi tercemar."


Clara terdiam memikirkan perkataan Rai. Dia menggigit ujung jari kuku telunjuk kanannya. "Kau bilang, temanmu adalah salah satu penyelenggara di tender itu. Apakah kau yakin kalau dia bisa dipercaya untuk kerjasama bersama kita?"



Rai menganggukkan kepala dengan yakin. Bukan hanya satu atau dua kali saja, tetapi dia sudah berkali-kali bekerjasama dengan temannya itu. Kali ini, hal yang sama akan terulang kembali dan mereka akan mendapatkan keberuntungan ini.



Clara menyelidik raut wajah Rai yang penuh dengan keyakinan. "Baiklah, seperti sebelumnya, aku akan percayakan semuanya kepadamu."



Senyum Rai mengembang dengan sempurna. Itu memang yang diharapkan dari Clara. Rai bangkit dari kursinya dan pamit keluar ruangan rapat untuk kembali bekerja. Sementara Clara, masih harus memeriksa beberapa berkas yang akan dibawa ke tender.



Hari yang dinantikan pun tiba. Clara beserta rombongan bertolak ke Bandung, tempat dilaksanakannya lelang tersebut. Clara, Rai, dan Dita sampai satu jam lebih awal dari waktu pelaksanaan tender. Semua perwakilan dari berbagai perusahaan pesaing, sudah bersiap sedia seperti mereka. Rai memberitahu Clara dan mengacungkan jari telunjuknya ke arah beberapa vendor di depan sana.



Clara dan rombongan mengambil tempat duduk yang strategis. Wajah mereka tampak serius dan angkuh, merasa kalau merekalah yang memenangkan tender itu.



"Aku sudah memberitahunya semalam, kau akan senang dengan hasil akhirnya. Kita hanya perlu bersandiwara selayaknya perusahaan yang lain," bisik Rai. Clara hanya menanggapi dengan anggukan kepala saja.



Namun, ada sesuatu yang mengganggu pandangan Clara tempat di seberang tempat mereka berdiri. Gunawan, mantan suaminya juga ternyata menghadiri tender ini. Wajah pria yang sudah lama tidak dilihatnya, tampak jauh lebih berseri dari sebelumnya. Itu membuat Clara berdecak kesal.



"Kenapa?" tanya Rai yang spontan bertanya ketika mendengar suara decakan dari mulut Clara.


Clara mengangkat bahunya, menunjuk ke arah sebrang. "Gunawan."


Rai mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk oleh Clara. Dia menyeringai dan menepuk bahu Clara dengan pelan. "Tenang saja, kau tidak perlu takut. Kita akan menang tender ini. Aku harus memberikan berkas persyaratan ini dulu ke vendor. Kau tunggu di sini."



Clara menganggukkan kepala. Dia terus memperhatikan mantan suaminya itu dari kejauhan. Sama seperti Clara, Gunawan juga mengetahui keberadaan dari sang mantan istri. Namun, Gunawan bersikap seolah tidak melihat keberadaan Clara.



Gunawan tidak datang dengan persiapan yang sederhana. Tender ini adalah batu pijakan untuk membuat perusahaannya semakin berada dalam tingkat yang baik. Dia sudah menyiapkan segalanya dengan matang. Persyaratan teknis seperti network planning, sudah disiapkan oleh Gunawan. Bahkan semua informasi mengenai tender kali ini sudah benar-benar dipelajari dengan baik oleh Gunawan.



"Tuan, mantan istri Anda juga datang untuk ikut lelang ini. Sepertinya mereka sangat yakin jika akan memenangkan tender ini," celetuk Rustam setengah berbisik pada Gunawan.



Gunawan tersenyum remeh, dia tidak terpancing dengan kemesraan yang ditunjukkan oleh Clara. Hatinya sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang, bersama anak dan cucu kembarnya.



"Biarkan saja, toh kita datang jauh ke sini, tidak untuk mereka. Kita datang ke Bandung hanya untuk memenangkan tender ini. Aku sudah tidak peduli dengan wanita iblis itu!" jawab Gunawan ketus. Pandangan Gunawan ia fokuskan pada berkas yang siap dipresentasikan.