
Gunawan dengan napas tersengal-sengal menaiki tangga.
Dia lupa kalau usianya sudah tidak muda lagi. Tentu tenaganya tidak seimbang dengan apa yang ia lakukan. Menaiki tangga dengan cepat adalah hal yang berat untuk kesehatan Gunawan.
"Hah ... Hah ...! Ternyata aku lupa kalau sudah tua, kaki rasanya hampir gak bisa digerakkan! Gunawan, kamu harus kuat demi bisa tahu apa yang Clara dan lelaki itu lakukan!" gumam Gunawan menyemangati dirinya sendiri walau napas tersendat-sendat.
Setelah sampai di lantai tiga, Gunawan membuka pintu dan melihat ke arah Lift yang ternyata masih tertutup dan menunjukkan tanda masih naik. Mungkin yang menggunakan lift tidak hanya Clara dan Raiyanza saja.
"Kamu kenapa mengikuti aku, Ray! Sudah aku bilang aku tidak ingin lagi memiliki hubungan dengan mu! Bagiku kau sudah tidak ada lagi di dunia ini!!" gertak Clara lirik di telinga Raiyanza.
Raiyanza hanya terdiam tidak menjawab perkataan Clara, dia hanya berdiri di samping Clara dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak.
Ting!
Tanda lift berhenti dan pintu terbuka sudah terdengar. Clara menghentakkan kakinya keluar dari lift. Semua orang yang ada di belakangnya hanya bisa geleng kepala melihat Clara yang begitu kesal.
Raiyanza hanya diam mengikuti kemana langkah Clara hingga sampai di depan kamar Clara.
"Aku mohon, Ray! Sudah cukup! Aku mau istirahat!" Clara berhenti dan menghadap ke arah Rai. Namun bukannya Rai pergi tapi dia mengancam Clara balik.
"Cepat bawa aku masuk ke dalam! Ada yang ingin aku bicarakan!" ucap Rai dengan mencengkeram bahu Clara dan wajah yang menunjukkan kilatan amarah.
Clara begitu takut, dia pun menuruti perintah Rai. Dengan tangan yang bergetar, Clara memasukkan anak kunci di lobang kunci.
Klek!
Gunawan bergegas turun dengan lift untuk meminta kunci cadangan pada resepsionis. Sesampai di meja resepsionis dia memaksa sang pegawai resepsionis untuk memberikan kunci cadangan.
"Maaf, nona. Cepat berikan kunci cadangan kamar 203. Kunci saya dibawa istri dan sampai sekarang belum kembali!" Gunawan berbohong pada sang pegawai resepsionis demi mendapatkan anak kunci tersebut.
"Anda benar tuan Gunawan?" tanya sang pegawai.
"Benar, ini KTP saya! Cepatlah ada barang yang harus saya ambil!" ucap Gunawan tergesa-gesa. Dia menunjukkan KTP yang sekelau dia bawa dalam dompetnya. Gunawan takut Rai sudah pergi dari kamarnya. Niat Gunawan adalah ingin memergoki sang istri.
"Silakan, Tuan. Ini kunci cadangan kamar Anda," ucap sang resepsionis menyerahkan kunci cadangan pada Gunawan.
"Terima kasih, Nona." Gunawan segera berlalu dari meja resepsionis. Tanpa basa-basi lagi, Gunawan meninggalkan pegawai resepsionis yang hanya berdiri melongo melihat Gunawan setengah berlari menuju ke lif.
Gunawan menekan tombol naik, namun sayang lift tidak juga terbuka. Dengan keringat bercucuran, Gunawan sabar menunggu. Dia tidak ingin lagi menaiki tangga karena kakinya sudah tidak kuat lagi.
Ting!
Pintu lift pun terbuka. Gunawan segera bergegas menuju ke kamarnya. Perlahan sekali Gunawan memasukkan anak kunci ke lubang kunci.
Gunawan berusaha semaksimal mungkin tanpa mengeluarkan suara, membuka pintu itu. Sayup terdengar suara orang bertengkar.
"Katakan Clara! Kau bilang waktu itu di depanku, kau hamil anakku! Sekarang aku ingin kau katakan dimana anakku!!" teriak Rai dengan mencengkeram bahu Clara. Barang sudah berserakan dimana-mana.