
Tia melirik ke arah Hans yang tampak tersindir dengan nasehat sang ibu. Namun, rasa egonya yang tinggi mampu mengalahkan nasehat sang ibu. Baginya wanita itu mutlak harus menurut pada suami.
Memang dianjurkan seorang istri itu wajib patuh pada sang suami, namun tidak semua hal. Selama itu baik, maka sang istri wajib mematuhinya. Namun, jika itu kurang baik maka istri wajib mengingatkannya.
Melihat wajah datar Hans, Tia menghela napas kecewa. Ternyata nasehat sang ibu tidak berpengaruh padanya. Dia masih tetap dalam prinsipnya.
"Sepertinya perlu suatu rencana agar mas Hans mau sedikit menurunkan egonya. Baiklah, Mas. Agar aku tetap di sisimu mau tidak mau kau harus bisa memberikan kenyamanan di hatiku, jujur aku mencintaimu, tapi sikap egois dan posesifmu tidak membuatku nyaman," gumam Tia dalam hati.
Semua hidangan sudah tertata rapi di meja makan, mereka pun memulai sarapan pagi mereka.
"Hans, mengapa sedari tadi ibu lihat kau lebih banyak diam, tidak biasanya? Apa ada masalah dengan persiapan pesta pernikahan kalian?" tanya Ningsih pada Hans.
Hans berhenti mengaduk nasinya. Dia melirik ke arah Tia yang terlihat biasa saja.
"Semua berjalan lancar, Bu. Alhamdulillah semua persiapan sudah mendekati 90%," jawab Hans sembari tersenyum, dia tidak mungkin menunjukkan kalau dia dan Tia sedang dalam perang dingin.
Ningsih menatap intens ke arah sang anak yang terlihat berbeda.
"Hans ... Ada apa, Nak. Mengapa kau terlihat murung begitu?" tanya Ningsih pada anaknya yang terlihat berbeda.
Hans menatap ke arah sang ibu, kemudian menunduk. Hatinya bimbang untuk menceritakan semua masalah yang sedang dihadapi. Dia tidak ingin masalah rumah tangganya didengar oleh orang lain.
Tidak sedikit seorang suami yang sering mengadu pada ibunya saat mendapat masalah dengan sang istri, hingga pada akhirnya kasus mertua membenci menantu merebak.
Ningsih tersenyum, merasa tenang kalau rumah tangga anaknya baik-baik saja.
"Baguslah, kalau kalian baik-baik saja. Hanya saja ingat perkataan ibu, kalau kita sudah memutuskan untuk berumah tangga, janganlah ego yang di kedepankan. Belajarlah untuk saling menghargai dan saling menerima. Jadilah imam yang baik untuk istrimu, boleh cemburu tapi jangan sampai berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik," ucap Ningsih sembari tersenyum.
"Uhuk ... Uhuk!"
Hans tersedak, dengan cepat Tia memberikan segelas air putih untuk suaminya.
"Terima kasih," ucap Hans. Namun seketika raut wajah Hans berubah. Ternyata dia sudah kalah. Dia yang pertama kali mengajak bicara Tia walau hanya untuk mengucapkan terima kasih.
"Yes!" teriak Tia karena bahagia sekali. Akhirnya Tia lah yang menjadi pemenangnya. Tidak peduli sebuah kesengajaan atau tidak sengaja saat mengajak bicara, yang penting Tia menang.
Hans terlihat lemas, di dalam hatinya dia hanya bisa pasrah, dan mengakui kekalahannya. Hans pun juga sudah ingin menghentikan peperangan ini secepatnya. Ternyata nasehat sang ibu ada yang masuk dalam hati.
"Kamu kenapa, Tia? Kok sepertinya senang sekali. Boleh ibu tahu?" tanya Ningsih dengan tatapan terheran melihat sang menantu yang tiba-tiba bersorak kegirangan.
"Ah, tidak ada apa-apa, Bu. Tia terlalu bergembira bisa mendapat jackpot hari ini," ucap Tia sambil melirik ke arah Hans.
"Benar, Bu. Hari ini Tia menang sayembara. Kita harus ikut berbahagia," tandas Hans ikut bersuara.
"Hehehe ... Tentu senang dong, karena Tia memenangkan sayembara tersebut. Satu lagi, Tia makin cinta sama mas Hans," ucap Tia sembari memeluk sang suami.