
Bab 129
Tia pada akhirnya tersenyum lega mendengar kabar kalau sang kakak sudah sadar.
"Pa, berapa lama mbak Wulan bisa sembuh total?" tanya Tia lagi.
"Kata dokter sekitar 8-12 bulan. Semua sudah papa pasrahkan pada semua dokter. Jika Wulan sembuh mereka akan mengabari papa kembali. Papa akan pulang kembali ke Jakarta. Kalian akan pulang kapan, Tia?" tanya Cahyo lagi.
Tia menatap Hans, sebenarnya dia juga ingin segera pulang ke Jakarta.
"Kita menunggu keputusan dokter, Pa. Jika Tia sudah sehat dan kandungannya kuat maka kita akan kembali ke Jakarta. Di Jakarta kita akan melanjutkan perawatan Tia di rumah sakit yang lebih canggih," ucap Hans mewakili Tia.
Cahyo tersenyum membelai rambut Tia. "Kamu harus kuat, Tia. Banyak istirahat dan makan makanan yang bergizi tinggi. Papa yakin, kamu pasti akan bisa melalui semua karena kau adalah anak papa yang kuat."
Tia terharu mendengar kata-kata terucap dari sang ayah. Walaupun bukan ayah kandung, Tia tetap menganggap Cahyo sebagai ayah kandungnya sendiri.
"Terima kasih, Pa. Tia akan berusaha menjadi ibu yang kuat demi calon bayi Tia," jawab Tia yakin.
7 bulan kemudian ....
Tia pulang dari Rumah sakit setelah melakukan pemeriksaan. Kini dia bisa bernafas-lepas setelah mengetahui kondisi janinnya baik-baik saja. Apalagi saat ini usia kandungannya sudah memasuki 7 bulan. Yang berarti dia sudah bisa melakukan penerbangan dalam kondisi hamil seperti ini.
Semenjak semua kebahagiaan yang dirasakan Tia datang bertubi-tubi. Kandungan Tia berangsur membaik dan kuat. Kini dia telah berada kembali di Jakarta.
"Dengan ini aku bisa pergi jalan-jalan ke luar kota dengan mas Hans," gumam Tia sembari mengusap perutnya yang semakin besar. Terlihat jelas rona kebahagiaan di wajah wanita yang kini sebentar lagi akan menyandang status sebagai seorang ibu.
"Nyonya terlihat senang sekali," bik Inah-- pembantu yang dipekerjakan Hans untuk membantu Tia mengurus rumah. Ia datang membawakan jus jambu yang terlihat sangat segar. Bik Inah bekerja pada Tia semenjak Tia pulang dari Lampung. Bik Inah yang selalu menemani Tia selama ini.
"Iya, bik. Soalnya tadi saat melakukan pemeriksaan di dokter kandungan, dokter bilang kondisi kandunganku sudah cukup memungkinkan untuk melakukan penerbangan ke luar kota. Jadi aku bisa pergi ke tempat yang ingin aku kunjungi bersama mas Hans," ucap Tia terus mengulas senyum bahagia.
"Wah, Alhamdulillah kalau begitu, Non. Nah, gini, dong, senyum terus. Bibik kan jadi ikut senang melihatnya. Tapi hati -hati, Non. Sebaiknya menunggu tasyakuran tujuh bulanan atau mitoni saja, Nyonya," ucap Bik Inah sembari meletakkan gelas jus di hadapan Tia. Wanita paruh baya ini pun duduk di karpet bawah selagi berbicara dengan Tia.
Tia yang baru kembali dan merasa lelah pun langsung meminum jus jambu yang baru saja dibuat oleh Bik Inah. Senyum di bibir wanita ini tidak juga luntur karena bahagia mengingat ucapan Dokter kandungan pagi tadi.
"Alhamdulillah segar sekali. Tujuh bulanan itu acara tasyakuran untuk wanita hamil yang usia kandungannya tujuh bulan kan, Bik? Semua dilakukan untuk mendoakan agar kandunganku sehat dan baik-baik saja sampai melahirkan nanti. Benar begitu, Bik?" ucap Tia begitu selesai minum jus.
"Benar, Nona. Tujuh bulanan adalah upacara adat untuk tasyakuran agar ibu dan calon debay sehat dan kuat sampai nanti lahiran. Nona bahagia kan, mengingat dulu selama hamil muda nona harus berhati-hati dan menahan semua godaan agar debay tetap sehat dan kuat." Bik Inah tersenyum mengingat bagaimana dulu Tia harus bersabar dengan awal kehamilannya.
"Aku juga merasa sangat lega, Bik. Saat di mana saya bisa merasa senang, dan bahagia menjalani kehamilan ini. Yang ada hanyalah rasa tidak sabar menantikan kelahiran bayi kami," ucapnya kembali mengusap lembut perutnya yang sudah membesar.
Bik Inah, saksi nyata akan perjalanan kehamilan Tia pun ikut tersenyum bahagia. Mata lelah wanita tua ini pun bahkan sampai berkaca-kaca saat mengingat perjuangan Tia selama ini.
"Iya, non. Saya harap, bayi dan ibunya selalu dipenuhi dengan kebahagiaan dan kedamaian. Semoga dengan lahirnya bayi ini membawa banyak keberkahan serta kejayaan bagi nona sekeluarga," ucap Bik Inah sepenuh hatinya. Wanita dewasa ini bahkan sampai menengadahkan tangan, dengan serius mendo'akan Tia, dan bayinya.
"Ammiin ... Terimakasih banyak, ya, Bik," sahut Tia dengan suaranya yang lembut.
Kedua wanita beda usia ini pun larut dalam perbincangan yang hangat. Siang itu di ruang tamu yang hangat mereka berdua banyak membicarakan tips-tips melewati masa kehamilan di usia sekarang. Bi Inah juga mengingatkan Tia untuk rajin mengkonsumsi vitamin serta buah-buahan.
"Oh, iya, non! Air kelapa muda itu sangat bagus untuk memperhalus kulit bayi, loh! Saya sarankan, untuk rajin meminum air kelapa muda demi memperindah kulit bayi nona nanti," kata Bik Inah dengan penuh semangat memberikan beragam tips yang dia ketahui selama ini.
"Oh, iya kah?! Aku cuma dengar kalau air kelapa muda itu cocok untuk memenuhi kebutuhan cairan Ibu selama mengandung. Rupanya ada manfaat lain yang cukup mencengangkan dari air kelapa muda ini ya, bik?" tanya Tia. Wanita muda ini pun sangat bersemangat jika membahas soal tips merawat kandungan selama masa kehamilan.
"Iya, non! Pokoknya air kelapa muda itu memang bagus sekali untuk tubuh kita. Yah, selain air putih tentunya," kata Bik Inah sembari meletakkan buah apel yang baru saja selesai dia kupas. Bik Inah meletakkan potongan apel di piring agar Tia bisa langsung memakannya.
Tia mengangguk paham. Dia senang mendapatkan tips sederhana namun sangat berharga seperti ini. Sembari memakan buah apel, Tia mendengarkan dengan seksama setiap nasehat yang Bik Inah ucapkan.
Meski Bik Inah hanya seorang pembantu, pengalamannya dalam merawat kandungan, dan merawat anak tidak perlu diragukan lagi. Apalagi Tia tidak pernah memandang seseorang yang menasehatinya. Selagi nasehat yang diucapkan bermanfaat, Tia akan dengan senang hati mengikuti nasehat tersebut. Karena sikap Tia inilah, Bik Inah betah bekerja dengannya.
"Oh, iya, non, bagaimana perkembangan dedek bayi tadi? Apa jenis kelaminnya?" Bik Inah baru teringat untuk menanyakan hal penting ini.
"Alhamdulillah semuanya normal, Bik. Berat badannya normal, detak jantungnya juga bagus. Cuma pergerakan sedikit jarang, tapi masih aman. Naahhh, kalau untuk jenis kelamin..., Itu rahasia!" ucap Tia sembari tertawa pelan di ujung kalimatnya.
"Yaahh, masak rahasia, non?! Berarti bibik juga tidak boleh tau, nih?!" Bik Inah cemberut kecil. Dia sedikit kesal karena Tia merahasiakan jenis kelamin bayinya dari dirinya.
Tia masih tertawa puas melihat ekspresi wajah pembantunya. Dia senang masih bisa menggoda Bik Inah. Diam-diam Tia merasa senang memiliki Bik inah sebagai pembantunya. Sebab Bik Inah sosok yang sangat penyabar, pengertian, dan ulet saat bekerja. Sehingga dia tidak perlu merasa khawatir akan keadaan rumah selagi bi Inah ada untuk membantunya.
"Hahh, baiklah kalau begitu. Kalau sudah tuan yang meminta, bibik gak bisa protes deh, jadinya," kata Bik Inah sembari memasang wajah memelas yang justru membuat Tia kembali tersenyum geli.
"Hari ini bibi lucu sekali," gumam Tia di sela tawanya.
"Hehe. Iya, non. Udah cocok kali bibi ini jadi dagelan yang siap menghibur orang, ya? Hahahaha," bik Inah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya sendiri. Belakangan ini karena suasana rumah yang begitu damai, membuat Bik Inah ikut tenang sehingga berani mengutarakan lelucon-lelucon kecil.
Tia kembali tertawa pelan mendengar ucapan Bik Inah. Hari itu semakin terasa menyenangkan bagi Tia karena suasana rumah yang begitu melegakan.
"Aku jadi kangen mas Hans," mendadak Tia bergumam seperti itu saat tawanya reda. Manik indah Tia menggambarkan kerinduan yang mendalam kepada suaminya.
"Loh, mendadak sekali kangennya?! Pasti bawaan bayi, nih, non!" Komentar Bik Inah kembali menggebu-gebu.
"Loh?! Kok, bawaan bayi lagi? Ada-ada aja bibi ini," sahut Tia.
"Loh, beneran, non! Kadang bawaan bayi memang suka aneh-aneh seperti itu! Kadang bisa tambah sayang ke suami, kadang juga bisa jadi benci banget sama suami. Malah ada suaminya yang ngidam. Bawaan bayi itu beda-beda, dan kadang suka aneh-aneh, Non," kata Bik Inah menjelaskan dengan penuh semangat.
Tia tersenyum melihat sang pembantu begitu peduli pada kandungannya.
"Oh iya, lagian, tuan kerja di mana sih, non? Kok, belakangan ini dia sering sekali pergi sampai malam baru pulang?" tanya Bik Inah kembali bersikap serius.
"Ada pekerjaan terlantar yang harus diurus lagi oleh Mas Hans. Kekacauan di perusahaan itu cukup besar sehingga mas Hans membutuhkan banyak waktu untuk memperbaiki segalanya," jawab Tia sembari menerawang jauh.
Mengingat kembali ucapan Hans yang pernah bercerita soal perusahaan baru milik Ridho yang sudah menjadi miliknya setelah Gunawan menjual kepadanya.
"Oh, begitu.., Pantas Tuan sibuk sekali," komentar Bik Inah. Kali ini wanita paruh baya ini terlihat sangat mengasihani kondisi Tia.
Sementara Tia sendiri hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Bik Inah. Untuk kali ini dia merasa setuju dengan ucapan pembantunya ini. Dia sedikit merasa kesal karena Hans jarang menghubunginya semenjak mengurus perusahaan itu.
"Hmm .., mau bagaimana lagi, Bik? Resiko punya suami workaholic ya, begini, deh," sahut Tia sembari membaringkan kepala di sandaran sofa.
"Worka- worka- apa, non? Bibi gak ngerti," tanya Bik Inah sembari menggaruk kepalanya.
"Workaholic, bik. Itu artinya julukan untuk seseorang yang gila kerja," jelas Tia dengan suara lembut penuh kesabaran. Wanita muda yang sedang hamil tua ini tersenyum lembut melihat ekspresi bi Inah yang sangat kebingungan.
"Oohhh, begitu! Iya! Tuan memang jadi gila kerja belakangan ini. Untung saja ada saya di sini yang siap 24 jam menemani nona. Jadi nona tidak akan terlalu kesepian, deh!" ucap Bik Inah sembari memasang tampang penuh kesombongan.
Lagi-lagi Tia tertawa lembut mendengar ucapan pembantunya ini. Baru dia tahu pembantunya ini memiliki kosakata yang begitu ajaib, dan mengocok perut.
"Iya, itu benar. Untung saja ada Bibi di sini. Jadi saya tidak begitu merasa kesepian. Ibu sendiri berada di kampung, mengurus lahan peninggalan ayah mertua bersama mbok Marni," sahut Tia semakin senang menimpali lelucon Bik Inah.
Kedua wanita berbeda usia ini pun kembali tenggelam dalam tawa. Mereka berdua sama-sama menertawakan keadaan, dan ucapan masing-masing lawan bicaranya. Hari itu kebahagiaan Tia bukan hanya tentang kehamilannya yang baik-baik saja. Namun juga perihal kehadiran Bik Inah yang sangat disyukurinya.
"Oh, iya, non! Kemana rencananya nona akan pergi setelah mendengar keputusan dokter hari ini?" Bik Inah kembali menanyakan hal yang cukup penting bagi Tia.
"Belum pasti, Bik. Soalnya kami punya banyak rencana pergi ke tempat-tempat yang indah. Tempat-tempat yang dulu belum sempat kami datangi bersama," jawab Tia sembari mengingat beberapa tempat destinasi wisata yang sangat ingin dia kunjungi bersama suaminya. Tia dan Hans belum sempat berbulan madu. Kini dia ingi baby moon bersama sang suami.
"Oohh Begitu," sahut Bik Inah. Wanita paruh baya itu terlihat sedikit kecewa.
"Memang kenapa, Bik?" Tia bertanya heran saat melihat ekspresi Bik Inah yang sedikit kecewa.
"Enggak apa-apa, non. Cuma, bibi mau mengingatkan, kalau jadi pergi ke luar kota, itu..., Emm..., Itu nya jangan lupa..," Bik Inah berbicara dengan sedikit canggung. Dia terlihat sedikit tidak nyaman saat akan mengungkapkan hal tersebut.
"Itu? Itu apa, Bik?" Tia heran mendengar ucapan Bik Inah. Tia tidak mengerti maksud ucapan Bik Inah.
"Itu..., Emm, jangan lupa itu loh, non," Bik Inah semakin tidak nyaman didesak Tia seperti ini.
"Itu apa sih, Bik?! Ngomong aja Sejujurnya! Saya tidak akan marah, kok," Tia semakin mendesak.
Akhirnya Bik Inah menjawab, "itu..., Emmm, oleh-oleh khas daerahnya. Hehehe," tawa malu Bik Inah di ujung kalimatnya membuat Tia kembali tersenyum geli.
Tia tertawa melihat bik Inah yang menggemaskan.
"Tenang saja, Bik. Pasti ada sesuatu spesial untuk bibik. Dan pastinya bibik tidak akan kesepian, nanti saat tasyakuran tujuh bulanan. Ibu pasti datang dan menginap di rumah ini," ucap Tia membuat bik Inah tenang karena tidak tinggal sendirian di rumah besar dan mewah itu.
"Baiklah, sekarang saya merasa tenang karena ada nyonya besar yang akan tinggal di sini. Bibik tidak ketakutan dan kesepian jika harus tinggal di sini sendirian." Bik Inah tersenyum lega. Minim dia akan punya teman jika sang majikan pergi berbulan madu.
"Ya sudah, Bik. Tia istirahat dulu, sudah pegal kaki Tia. Mas Hans paling juga baru nyampai kantor setelah mengantar Tia periksa tadi," ucap Tia yang ingin beristirahat. Perutnya yang membuncit membuat Tia harus banyak istirahat.
"Baiklah, Non. Bibik akan masak untuk makan siang. Seperti biasa kan, Nona akan mengantar makan siang untuk tuan?"
Tia mengangguk, setiap hari semenjak kandungannya dinyatakan sehat dan tidak bermasalah Tia mengantar bekal makan siang untuk Hans.
****