Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 36


Hans dan Tia sudah sampai di sekolahan kedua anaknya.


"Tia turun dahulu ya, Mas. Mau panggil anak-anak sudah keluar belum," ucap Tia sambil keluar dari dalam mobil.



"Okey, hati-hati, Sayang." Hans menunggu di dalam mobil sambil memeriksa pesan masuk di dalam ponselnya.


Tidak lama kemudian Tia dan kedua anaknya sudah sampai di mobil.


"Kalian sudah tiba, ayo masuk," ucap Hans membenarkan duduknya di belakang kemudi.



"Alhamdulillah, panas sekali di luar," ucap Tia yang merasa lega saat sudah masuk ke dalam mobil.



"Cuaca memang lagi panas, Sayang. Banyak yang merasakan gerah juga, kita harus jaga kesehatan dia musim panas yang ekstrim ini."



"Benar sekali, Mas. Kudu siap air minum banyak agar tidak dehidrasi."


"Ya sudah, ayo kita pulang. Anak-anak kalian sudah siap pulang?" Aris menoleh ke belakang tempat kedua anaknya duduk sambil tiduran karena panasnya cuaca.


"Sudah, Pa," jawab Hasan dan Hasna serempak.



"Untuk besok yang menjemput om Aris ya ... Ingat jika bukan Om Aris tidak ada yang jemput, katakan pad ibu guru kalian untuk mengingatkan kalian, jika bukan Om Aris yang jemput berarti itu penjahat okey?!" kata Hans mewanti sang anak untuk menjaga diri, jika bukan pamannya yang menjemput, itu artinya penjahat yang berniat menculik mereka.



"Siap, Papa! Yeeei ... Besok dijemput om Aris!" teriak Hasan dan Hasna bersamaan. Mereka sangat dekat dengan Aris, paman satu-satunya yang ia miliki.


***


Keesokan harinya di Acara peresmian kantor cabang perusahaan relasi Hans.


Tia dan Hans tampak serasi dengan couple batik berwarna biru navi. Hari ini Hans memakai out fit yang elegan dan berkelas.



Di sesi istirahat yakni sesi makan siang, seorang relasi Hans yang lain memuji Hans yang baru saja selesai membantu Tia mencari tempat duduk karena merasa lelah kakinya.


"Wah, ternyata Tuan adalah suami yang pengertian, ya," celetuk salah satu tamu yang hadir di acara pagi itu.


Hans hanya menanggapinya dengan senyum ringan. Ia menatap penuh cinta ke arah Tia yang duduk dengan manis di bangku yang tidak terlalu dekat dengan kerumunan para tamu demi kenyamanannya. Hans dapat melihat, istrinya itu dikerumuni oleh para ibu-ibu yang ikut datang atas ajakan dari suami mereka yang diundang di acara malam ini.



"Halo, Nyonya. Siapa nama Nyonya?" tanya seorang wanita dengan berkisar umur tidak terlalu jauh dari Tia, mengulurkan tangan untuk berkenalan.



"Saya Tia, Nyonya." Tia membalas uluran tangan itu disertai dengan senyum di wajahnya.



"Nyonya, Anda sangat beruntung, ya, memiliki suami seperti tuan Hans Permana. Saya sangat mengenal dia, karena suami saya sering menceritakannya. Padahal masih muda, tapi sudah bisa menjadi pemimpin keluarga yang baik, ya," ujar wanita itu membuat Tia yang sedang sensitif kini menatapnya dengan tajam.



Apakah maksud dari wanita di sampingnya ini? Apakah dia memiliki maksud lain selain memberikan pujian kepada suaminya?



Tia memaksakan tersenyum dan membalas pertanyaan dari wanita di sampingnya yang terus memberikan pertanyaan.



"Tuan Sharma? Ada apa Anda kesini?" tanya Tia begitu melihat presensi Sharma mendekati tempat duduk dirinya dan wanita teman mengobrolnya di sudut ruangan, padahal suaminya tengah memberikan sambutan sebagai relasi bisnis dari kantor cabang yang baru dibangun ini.



"Ada yang ingin saya bicarakan kepada Anda, Nyonya Tia," ujar Sharma tanpa melunturkan sneyum di wajahnya begitu wajah cantik Tia-lah yang memenuhi indera pengelihatannya.



Kulit Tia yang putih serta warna bibirnya yang dilapisi oleh lipstik terlihat begitu cerah dan semakin membuatnya terlihat menarik. Sangat-sangat memanjakan mata Sharma yang kini tak berkedip menatapnya.



"Maaf. Tapi suami saya kemarin sudah menjelaskan semuanya tentang kerja sama antara perusahaan kita, Tuan Sharma. Saya datang ke sini hanya untuk memenuhi undangan. Selebihnya, semuanya sudah diambil alih oleh suami saya, Hans Pramana," ujar Tia dengan sedikit keberatan.



"Ya. Saya tahu itu. Maka dari itu, saya ingin mengatakan apa saja ketidaksukaan saya terhadap penjelasan yang telah suami Anda kemarin jelaskan, Nyonya Tia. Mari, ikuti saya," ucap Sharma masih tidak lelah untuk berjuang mendapatkan waktu berduaan dengan Tia.



"Ah, sepertinya ada yang ingin Nyonya dan Tuan bicarakan, ya? Baiklah. Kalau begitu, saya pamit undur diri."



Tia menatap kecewa wanita yang awalnya menemaninya mengobrol, walaupun obrolannya hanya seputar tentang kejayaan sang suami karena wanita itu terus saja membicarakannya. Kini, Tia merasa keberatan atas kepergian wanita itu karena sekarang dirinya hanya berdua dengan Sharma. Tia menjadi tidak enak hati.



Krek!



"Saya boleh duduk di samping Nyonya Tia, kan?" Sharma menangkap gelagat ketidaksukaan Tia saat dirinya memutuskan untuk duduk di samping Tia, tempat wanita sebelumnya yang duduk di sana.



"Tentu," jawab Tia singkat, namun matanya menatap arah lain. Tia selalu menghindari kontak mata dengan Sharma karena ia tahu jika pria di sampingnya ini memiliki rasa kepadanya. Tia adalah tipe wanita yang bisa dengan mudah menyadari situasi. Tia sangat peka, apalagi hari-hari sebelumnya pun Sharma sering kali menghubunginya hanya untuk melakukan pertemuan dengan dirinya dengan alasan membahas urusan bisnis.



"Jujur saja, Nyonya. Saya sangat tidak suka dengan semua yang dijelaskan oleh tuan Hans. Entah kenapa, rasanya berbeda. Semua yang saya bayangkan, kini sudah tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Anda mengerti maksud saya kan, Nyonya?" Sharma memiringkan kepalanya untuk menatap lebih jelas wajah Tia di sampingnya.



Mata Tia melebar.



'Apakah Tuan Sharma sedang menghina suamiku? Apa-apaan ini? Dia pikir, suamiku itu adalah pria yang tidak mengerti urusan bisnis?' batin Tia dengan kesal mendengar Sharma menjelek-jelekkan suaminya di depan dirinya secara terang-terangan.



"Ah, maaf Tuan Sharma, kalau semua penjelasan yang telah suami saya berikan kepada Anda kurang memuaskan untuk Anda." Tia tersenyum untuk menahan emosi, "jadi, apakah ada yang ingin Anda tanyakan, jika penjelasan yang suami saya telah berikan kurang jelas bagi Anda sendiri?" lanjut Tia. Kini Tia menatap mata lawan bicaranya. Tentu saja, hal itu tidak dilewatkan begitu saja untuk Sharma.



Sharma seolah terhipnotis oleh tatapan mata Tia yang begitu indah dan dapat membuat hatinya terasa lebih sejuk.



"Tuan?" tegur Tia saat Sharma tak kunjung membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Tia.



"Em, sorry, Nyonya. Anda terlalu cantik."



"Ck!" Tia berdecak pelan. Ia langsung memutar bola mata mendengar pujian yang Sharma berikan untuknya.



"Jadi?" Tia menaikkan sebelah alisnya.




"Poin yang mana?"



"Tentang perjanjian yang sebelumnya kita pernah sepakati, Nyonya Tia. Apakah Anda telah melupakannya?"



Tia berusaha mengingat-ingat maksud dari ucapan Sharma. Perjanjian yang mana? Tia sendiri kemarin di saat perjamuan di perusahaan tuan Sharma, terus memperhatikan dan mendengarkan apa saja yang telah suaminya sampai di hadapan orang-orang banyak tentang kerja sama yang akan perusahaannya dan perusahaan tuan Sharma jalin. Dan itu, tidak ada yang terlewat sedikit pun. Pikiran Tia langsung berpikiran negatif mengenai pembicaraan ini.



'Apakah ini hanya untuk mencari perhatian?' batin Tia lagi.



"Baiklah. Saat di penghujung acara, saya akan memberitahukan suami saya satu poin penting itu lagi, Tuan Sharma." Tia sedikit mengangguk.



"Anda selalu terlihat sempurna, Nyonya Tia. Saya sangat menyukainya," ujar Sharma kembali membuat Tia merinding.



"Jika sudah tidak ada yang ingin di bicarakan, saya pamit undur diri. Saya harus segera memberitahukan poin penting yang tertinggal kepada suami saya, Tuan Sharma," pamit Tia agar dirinya bisa segera menjauh dari Sharma.



"Tapi, Nyonya–"



Sharma tersenyum miring begitu Tia langsung melenggang pergi meninggalkannya tanpa persetujuan darinya. Tatapan mata Sharma tak lepas dari seluet tubuh Tia yang semakin menjauh dari sudut pandang matanya.



"Nyonya Tia, andai saja kau tahu, bahwa kau telah membawa pergi jauh hatiku ini. Apakah kau masih belum bisa menyadarinya?" gumam Sharma. Matanya semakin menyipit begitu tubuh Tia semakin tidak terlihat oleh pandangan matanya.



"Mas," panggil Tia begitu dirinya sudah menemukan suaminya sedang mengobrol dengan beberapa pemilik saham.



"Iya, Sayang?" Hans langsung berpamitan untuk undur diri dari obrolan yang tengah mereka bicarakan dan segera menghampiri istrinya.



"Apakah masih lama, Mas?" tanya Tia berbisik.



Mendengar pertanyaan itu, membuat dahi Hans berkerut.



"Kamu seperti baru pertama kali saja menghadiri acara seperti ini, Sayang. Tentu saja belum selesai dan pastinya akan lama. Mungkin, kita akan pulang sedikit lebih siang," ujar Hans. Hans merangkul pundak Tia agar istrinya tidak kedinginan, karena ia berpikir jika Tia saat ini tengah kedinginan karena udara AC yanng memenuhi ruangan itu terlalu dingin.



\#\#\#



"Tia tidak nyaman berada di sini, Mas," bisik Tia. Sesekali matanya melirik Sharma yang ternyata sudah bergabung kembali untuk mengobrol bersama dengan rekan-rekannya.



Menyadari tatapan mata istrinya ke arah seseorang membuat Hans mencoba mencari tahu.



"Tuan Sharma? Kenapa dengan dia, Sayang?" Hans membawa Tia menjauh dari orang-orang yang hadir di sana.



"Tia hanya tidak nyaman saja, Mas," jawab Tia. Tia sangat enggan mengatakan apa yang saat ini sedang ia rasakan agar melindungi perasaan suaminya.



Hans tersenyum mendengar jawaban Tia. Tentu saja Hans sangat tahu apa yang membuat istrinya tidak nyaman saat ini. Hans sendiri pun sebenarnya tidak nyaman karena sejak tadi, matanya tak lepas mengawasi Tia dari jauh. Tentu saja, Hans melihat apa saja yang telah Sharma lakukan agar bisa mengobrol berduaan dengan sang istri. Hans memilih diam dan memantaunya dari jauh, membiarkan Sharma mengobrol dengan istrinya, asalkan semuanya tidak kelewatan batas.



"Apakah kamu mau makan sesuatu, Sayang? Kamu tidak boleh kelelahan. Mas ambilkan dulu, ya?"



Tia lebih dulu menarik tangan Hans sebelum suaminya meninggalkannya, "Tidak perlu, Mas."



"Mas di sini saja, di samping Tia. Mas lihatlah para wanita-wanita itu. Mereka tidak henti menatap Mas dengan tatapan memuja. Tia kesal, Mas!" ujar Tia dengan sedikit memajukan bibirnya membuat Hans merasa gemas dengan ekspresi Tia saat ini.



"Tidak perlu cemburu seperti ini, Sayang. Mas tidak menanggapi mereka, kok." Hans mengusap kepala Tia untuk menenangkan istrinya yang sedang dimakan oleh api cemburu.



"Tapi tetap saja, Mas! Apa Mas tahu, kalau tadi Tia juga mengobrol dengan seorang wanita? Umurnya sepertinya sama seperti Tia, Mas. Mas tahu, tidak, kalau tadi dia itu selalu saja menjadikan Mas sebagai topik pembicaraan kami? Saat Tia berusaha mengalihkan pembahasan, dia kembali membahas Mas. Apakah itu tidak berlebihan namanya, Mas?"



Hans tersenyum. Kemudian, ia menarik pipi Tia yang sedikit mulai berisi. Mungkin, ini adalah efek kehamilan Tia. Sama seperti kehamilan saat Tia hamil anak kembar mereka. Kedua pipi Tia yang tidak terlalu berisi kini terlihat sangat chubby dan menggemaskan di mata Hans. Apalagi, saat Tia sedang marah seperti ini. Benar-benar sangat lucu!



"Tidak mengapa, Sayang. Untuk apa kamu cemburu kepada dia? Aku ini kan, suami kamu. Sedangkan dia? Biarkan saja dia membicarakan suamimu ini, karena pada kenyataannya suamimu ini adalah suamimu satu-satunya. Anggap saja sekarang wanita itu sedang mengidolakan Mas." Hans menampilkan senyum serta sedikit memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.



"Apakah kamu tidak mual, Sayang?" tanya Hans sedikit heran. Pasalnya, di rumah, Tia terlihat sangat payah dalam melakukan apapun. Lalu sekarang? Bahkan wajah pucat saja tidak terlihat di wajah cantik istrinya saat ini.



"Alhamdulillah tidak, Mas," jawab Tia jujur. Menjawab sesuai dengan apa yang ia alami dan ia rasakan.



"Syukurlah. Mas kira, tadi kamu akan merasa mual dan pusing. Apalagi, kita sedang berada di tempat yang ramai seperti ini." Hans semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Tia dan menarik kepala sang istri agar bersandar di pundaknya.



"Mungkin bayinya memang ingin berada di tempat ramai seperti ini, Mas. Buktinya, kemarin saat kita piknik ke pantai kan, Tia sama sekali tidak merasa mual ataupun pusing, kan?" ujar Tia, mengingat kembali momen menyenangkan dimana dirinya bisa mendapatkan perhatian lagi dari putrinya.



"Kamu mau makan apa, Sayang? Kamu harus makan. Setidaknya, sedikit saja. Apalagi di tempat seperti ini," ujar Hans. Ia sedikit menjauhkan tubuhnya dari Tia agar bisa menatap wajah istrinya.



"Tia tidak berselera, Mas. Tia hanya merasa tidak nyaman saja dengan tatapan tuan Sharma. Saat ini, dia tengah menatap ke arah kita," ujar Tia memberitahukan kepada Hans agar suaminya itu juga tahu kalau sedari tadi ada yang terus menatap kedekatan mereka tanpa henti.



Mendengar istrinya berkata seperti itu, sontak Hans langsung mengedarkan matanya mencari sosok yang dimaksud oleh Tia. Benar saja. Sharma kini sedang menatap dirinya dan Tia dengan sorot mata tajam, tanpa kedip sedikit pun.



"Kamu jangan khawatir ya, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja, karena tujuan awal kita datang ke sini hanya untuk membahas kerja sama perusahaan kamu dan tuan Sharma. Selama ada aku, dia tidak akan bisa macam-macam." Hans berusaha menenangkan Tia.