
"Ayo dong pa, maafin aku pa. Papa mau aku sujud di kaki papa? Papa mau aku cium kaki papa? Atau papa mau aku tobat sekarang juga? Please pa, jangan usir aku. Aku nggak punya tempat tinggal lagi."
Gunawan, dengan wajah yang penuh kekecewaan, menegaskan kepada Sinta bahwa dia telah mengotori rumahnya. Dia merinci beberapa peristiwa yang membuatnya merasa terhina dan kehilangan rasa hormat terhadap Sinta. Gunawan mengungkapkan bahwa perilaku Sinta yang tidak pantas bersama lelaki lain telah melanggar batas-batas kepercayaan dan menghancurkan keintiman rumah tangga mereka.
"Setelah apa yang kamu lakukan kamu masih mau tinggal di rumah? Kamu sudah dewasa, Sinta. Sudah waktunya kamu mandiri dan mencoba menyelesaikan masalah kamu sendiri tanpa bantuan dari papa sedikitpun! Saya tidak akan lagi bertanggungjawab atas kehidupan kamu!" sahut Gunawan.
"Tapi pa... "
"Tidak ada tapi-tapian, kamu sudah membuat malu. Jangan harap kamu bisa menginjakkan kaki di rumah lagi. Tidak ada rasa maaf untuk anak tak tau diri seperti kamu!" kali ini Gunawan benar-benar bertindak tegas kepada Sinta.
Setiap sudut rumah, setiap kenangan yang mereka bangun bersama, kini dipenuhi oleh rasa kecewa dan kehilangan. Gunawan merasa bahwa rumah yang seharusnya menjadi tempat kedamaian dan kebahagiaan telah tercemar oleh tindakan Sinta. Dalam keadaan emosi yang kuat, Gunawan menyampaikan bahwa tidak ada lagi tempat bagi Sinta bahagia dalam hidup dan rumahnya.
Gunawan, dengan hati yang terlanjur kecewa, mencoba mengungkapkan perasaannya kepada Sinta. Suaranya terdengar penuh dengan kekecewaan dan luka yang mendalam. Dia mengungkapkan bagaimana Sinta telah mengecewakannya dengan tindakan dan keputusan yang telah diambilnya. Gunawan merasa bahwa kepercayaan yang telah mereka bangun selama ini telah hancur berkeping-keping.
Dia merasa seperti seorang yang dikhianati dan terluka oleh orang yang seharusnya ia percayai sebagai seorang anak. Gunawan tidak bisa menutupi rasa kecewanya yang begitu mendalam. Dia merasa bahwa harapan dan impian yang mereka bangun bersama telah hancur berantakan. Dalam keadaan yang penuh dengan rasa kecewa ini, Gunawan berusaha mencari kekuatan untuk menghadapi realitas yang tak terelakkan.
"Sekarang kamu pergi dari sini, papa mau kerja dan jangan mengganggu papa!"
Gunawan, dengan penuh keputusasaan dan amarah, menyuruh Sinta untuk pergi dari hadapannya. Suaranya terdengar tegas dan keras, mencerminkan ketegasan hatinya saat ini. Dia menegaskan bahwa tidak ada tempat bagi Sinta di kehidupannya lagi.
"Enggak, pa. Aku akan tetap ada di sini!"
Namun, meskipun Gunawan berusaha menyingkirkan Sinta, Sinta menolak untuk pergi. Dia dengan penuh keteguhan dan keberanian menyatakan bahwa dia tidak akan meninggalkan tempat yang seharusnya juga menjadi rumahnya. Sinta berjuang untuk mendapatkan haknya dan mempertahankan tempatnya di dalam kehidupan Gunawan, meskipun situasinya sangat sulit dan konflik antara mereka sangat memanas.
Sinta, dengan suara yang penuh kepedihan dan kekecewaan, menghadapi Gunawan dengan pertanyaan tajam, "Apakah seorang ayah benar-benar tega mengusir putrinya sendiri? Bagaimana bisa hatimu begitu dingin dan tidak mempertimbangkan segala kenangan dan ikatan keluarga yang pernah kita miliki?"
Sinta mencoba menyoroti betapa tidak manusiawinya tindakan Gunawan yang mengusirnya begitu saja. Dia merasa terluka dan bingung dengan sikap yang begitu drastis dari sosok ayah yang seharusnya melindunginya. Meskipun penuh emosi, Sinta ingin membuat Gunawan sadar akan dampak yang ditimbulkan oleh keputusannya yang keras ini. Dia berharap ada ruang untuk rekonsiliasi dan pemahaman di antara mereka, sebagai sebuah keluarga yang pernah saling mencintai.
Sinta, dengan mata yang berkaca-kaca dan bibir yang gemetar, berusaha dengan berbagai cara untuk menarik perhatian Gunawan. Air mata pun mengalir deras dari matanya, meskipun sebenarnya air mata tersebut palsu. Dia berharap dengan menunjukkan kesedihannya yang mendalam, Gunawan akan luluh dan mengizinkannya untuk tetap tinggal di rumah. Sinta memainkan perannya dengan sempurna, berharap bahwa dengan menggugah emosi dan belas kasihan, dia bisa merayu hati Gunawan. Meski sebenarnya air mata tersebut palsu, Sinta berharap hal itu bisa membuka jalan komunikasi dan mempengaruhi keputusan Gunawan.
"Sinta, kamu mengatakan papa tega kepada kamu. Tapi apa kamu pikir kesalahan yang kamu buat itu bukan kesalahan yang fatal"
"Cukup, Sinta. Jangan menangis lagi di depan saya! lebih baik kamu pergi saja dari sini. Saya tidak ingin melihat wajah kamu lagi."
Sinta merasakan sakit hati yang begitu dalam ketika dia diusir dari rumah oleh Gunawan. Rasanya seperti ditusuk oleh belati tajam di bagian hatinya. Setiap kata yang diucapkan oleh Gunawan terasa seperti serangan yang mematikan, menggores luka-luka yang tak terlihat namun begitu nyata. Sinta tidak bisa menahan air mata yang mengalir deras, mengungkapkan perasaan kecewa, sakit, dan kehilangan yang begitu besar.
Dia merasa ditolak oleh orang yang seharusnya melindunginya dan mencintainya tanpa syarat. Rasa sakit hati itu melingkupi dirinya, memenuhi setiap sudut pikiran dan perasaannya. Namun, di tengah kesedihan yang mendalam, Sinta juga merasakan api yang membara di dalam dirinya - tekad yang kuat untuk membuktikan nilai dan keberadaannya yang sebenarnya.
"Pergi, Sinta. Jangan membuat saya marah untuk yang kesekian kalinya! Biarkan saya hidup dengan tenang. Kau sudah terlalu membuat lelaki tua ini kecewa. Kau ku lebihkan dan anak kandungku sendiri, hanya karena kita sudah hidup bersama dalam waktu yang tidak bisa dibilang hanya sebentar. Harapan dan asa dalam diri lelaki tua ini sudah terkubur bersama rasa malu yang kau torehkan
Sinta, dalam keadaan penuh keputusasaan dan harapan, merasakan dorongan kuat untuk bersujud di kaki Gunawan. Dalam kepedihan dan kesedihannya, dia mencoba mengekspresikan kerendahhatian dan penyesalannya. Dalam detik itu, dia merasa terhanyut oleh kehilangan dan keputusasaan yang begitu mendalam, dan dalam harapannya yang terakhir, dia ingin menyampaikan pesan bahwa dia siap melakukan apapun untuk mendapatkan kembali kasih sayang dan kebaikan Gunawan.
Gunawan menitikkan air mata, namun kakinya menjauh dari tangan Sinta. Memang hubungan darah lebih kental, tapi hubungan hati lebih sulit untuk dilepaskan.
"Baiklah, Pa. Sinta pergi," ucap Sinta bangkit dari sujudnya. Dengan menahan sesak di dada, Sinta pergi dari ruangan Gunawan.
Saat keluar dari kantor Gunawan, Sinta berpapasan dengan Tia. Pagi ini Tia berniat mengunjungi ayahnya karena ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan Gunawan.
"Kau?!" ucap Tia berhenti di depan pintu ruangan Gunawan.
"Maaf!" ucap Sinta berlalu tanpa menghiraukan Tia yang berdiri terpaku melihat keanehan Sinta yang tidak biasanya hanya menjawab singkat kata-kata Tia.