
Tia mencoba meronta, ingin lepas dari Hans. Namun, semakin meronta maka Hans semakin erat mend3kapnya dari belakang.
"Mas ... Aku mau masak dulu!" Tia merasa kesal terganggu masaknya.
"Okey, bilang dulu ... apa kamu cinta pada mas?"
Tia melongo, heran dengan sang suami yang tiba-tiba lebai dan manja.
"Mas ... Aku tuh mau masak, nanti gosong bagaimana?" Tia mencebik kesal.
Hans bukannya menuruti sang istri malah terkekeh dan semakin mengeratkan pelukannya. Entah mengapa Hans merasa nyaman jika bisa di samping Tia.
"Jawab dulu, akan aku lepaskan." Hans menaruh kepalanya di belakang leher Tia. Harum bau shampo Tia membuat Hans senang berlama-lama meletakkan kepalanya di leher belakang Tia.
Tia merasa risih, demi bisa segera membuatkan sarapan untuk ibu dan suaminya, Tia pun akhirnya mau juga menjawab pertanyaan konyol Hans.
"Baiklah, Mas. Dengar ... Aku ... Aku ...."
Tia mendadak gugup dan lupa akan keberaniannya tadi.
"Iya ... Teruuus ...." Hans berharap Tia melanjutkan kata -katanya.
Tia mengambil napas dalam-dalam untuk memasok oksigen yang serasa mulai berkurang karena tingkah laku Hans.
"Aku ... Aku ... Cinta kamu, Mas!" Tia bernapas lega.
Hans tersenyum, sembari meng4cup pipi Tia dari samping.
"Mas juga sangat cintaaa ... padamu," ucap Hans dengan senyum yang merekah. Kupu-kupu cinta beterbangan mengelilingi dua sejoli yang baru saja saling menyatakan cinta.
"Mas ... Kalau di drama Sinetron TV itu ungkapin cinta dengan bunga atau coklat. Kalau mas mengapa tidak ada coklat atau bunga sih? Yang romant1s dikit lah ... Tia belum pernah dapat bunga atau coklat," ucap Tia dengan mulut yang mengerucut maju lima centi.
"Benarkah? Kamu belum pernah menerima bunga atau coklat?" tanya Hans terheran. Dulu dia sering memberi Wulan perhatian berupa bunga, baju atau coklat. Namun, semuanya sia-sia karena Wulan memilih uang dibanding barang seperti itu. Hans membalikkan tubuh Tia untuk melihat kesungguhan sang istri.
Tia mengangguk perlahan, di sudut matanya titik air mata mulai meluncur. Sebagai seorang istri dia tidak pernah mendapatkan hal yang romant1s dari sang suami.
"Sudahlah ... Mas akan memberi banyak cinta, bunga, coklat dan semua yang kamu suka. Asal kau selalu ada di samping mas. Terima kasih, Tia. Kau sudah merubah mas yang egois dan posesif ini," ucap Hans sembari memegang dagu sang istri agar Tia bisa menatap dirinya.
"Hem ... Hem, bau gosong apa ini?" Ningsih dari belakang menggoda dua sejoli yang sedang kasmaran itu.
"Gosong?! Maaas ...!" pekik Tia terkejut, dia lupa kalau sedang menggoreng omlet. Untung saja apinya kecil.
"Gosong beneran?" tanya Hans ikut terkejut. Dia penyebab semua ini.
"Iya, Mas. Mas sih ganggu Tia masak," ucap Tia sedih. Masakan yang ia buat gosong separuh.
"Masih ada separuh yang tidak gosong, biar mas yang makan. Kamu buat lagi atau pesan lewat aplikasi saja," ucap Hans sembari membawa bagian omlet yang tidak gosong.
Tia terharu melihat Hans yang masih mau memakan makanan yang gosong. Dulu sewaktu bersama Ridho, jangankan makan masakan yang gosong, yang enak dan tidak gosong pun Ridho enggan memakannya jika tahu Tia yang masak. Berbeda saat kehadiran Wulan, Ridho dengan semangat empat lima memakan semua masakan Wulan tanpa sisa.
"Loh, kenapa kamu menangis, Tia? Apa ada yang salah?" tanya Hans saat melihat sang istri hanya berdiri mematung dan mengeluarkan air mata.
"Hans, kau apakan Tia?" tanya Ningsih dengan alis yang berkerut.
"Tidak, Bu. Hans juga tidak tahu, tiba-tiba Tia menangis."
"Tia, kamu kenapa, Nak? Tidak apa jika masakannya gosong. Kita bisa buat lagi atau pesan makanan dari luar. Kamu jangan merasa bersalah, semua ini kesalahan Hans. Tukang ganggu orang saja!" hibur Ningsih pada menantunya.
"Tidak, Bu. Tia menangis karena terharu. Mas Hans masih mau memakan omlet yang gosong itu. Dulu, jika Tia masak jangankan dimakan, disentuh saja tidak," ucap Tia dengan sesenggukan. Rasa bahagia karena dihargai menyeruak keluar bersama air matanya.
"Mereka tidak mau makan masakanmu?" tegas Bu Ningsih.
"Tidak, Bu," jawab Tia menunduk sembari mengusap air matanya.
Ningsih dan Hans saling bertukar pandang. Keduanya prihatin dengan nasib Tia. Siapa yang tidak akan sakit saat sesuatu yang kita buat tidak dihargai.
"Sudahlah, Tia. Di sini kamu bebas memasak dan kami dengan senang hati akan menikmatinya." Ningsih mendekat ke arah Tia dan membelai lengan sang menantu.
"Terima kasih, Bu. Di sini Tia mendapatkan banyak cinta. Cinta seorang ibu yang tidak pernah Tia rasakan dan cinta seorang suami yang juga tidak Tia rasakan sebelumnya." Tia memeluk sang mertua dengan penuh kasih sayang.
"Tia, kau tidak peluk suamimu?" tanya Hans cemburu hanya sang ibu yang dipeluk Tia.
"Tidak! Mas harus aku hukum karena gara-gara mas masakanku gosong!"
Hans tersenyum kecut, dia pura-pura kembali duduk lalu melahap omlet. Tidak berani menatap sang istri.
"Maas ...!" Tia memanggil manja sang suami.
"Mmm ... lezat sekali omlet ini," ucap Hans mengalihkan perhatian Tia.
Melihat hal itu, Tia langsung mendekap sang suami dengan penuh cinta.
"Akhirnya ... Yes!" sorak Hans di dalam hati. Dia merasa sangat bahagia, Tia mendekapnya dari belakang.
Ningsih yang melihat keduanya tersenyum, hati Ningsih sangat bahagia melihat anak dan menantunya rukun. Tidak seperti sewaktu bermenantukan Wulan, hanya ada pertengkaran.
"Tia, bukannya kamu akan perawatan di salon?" Ningsih mengingatkan Tia.
"Ah, iya. Mas, antar aku ya," pinta Tia dengan manja. Moodnya sudah berubah dan Hans berharap mood Tia tidak berubah lagi.