
"Mama?!" Teriak Steve terkejut melihat siapa yang berdiri di belakang sang petugas room servis.
Clara tidak mau membangun waktu lagi, setelah dikabari oleh sang mata - mata gegas dia ingin menggerebek Steve dan selingkuhannya. Mungkin hari ini adalah nasib sial Steve, karena kebetulan sekali sang ibu mertua ada di kota ini, mendampingi sang suami ada pertemuan bisnis dan sekaligus akan memberikan ucapan selamat pada Hans, klien bisnisnya.
Clara tanpa pikir panjang dan memberikan Steve kesempatan untuk menutup kembali pintunya, masuk begitu saja sembari membawa ponselnya.
Brak!
"Minggir!!"
Clara mendorong tubuh Steve kemudian masuk dan langsung menuju ke tempat tidur. Tidak ada kesempatan untuk kabur ataupun bersembunyi, Wulan terkejut saat Clara menarik paksa selimut yang menutupi tubuh Wulan.
"Rasakan kau, wanita j4l4ng!!"
Clara memotret tubuh Wulan yang tidak tertutup oleh sehelai benangpun. Clara sangat elegan dalam membalas perempuan yang sudah menyakiti hati sang putri.
"Siapa kamu!! Berani sekali ya kau masuk ke kamar pribadi orang! Dasar tidak punya sopan-santun!!" Wulan yang merasa tubuhnya kedinginan terkejut lalu bangun dan mencari bajunya yang berserakan.
"Dasar kau wanita tidak tahu malu! Lelaki yang sudah bersuami pun kau goda juga! Cepat kau pergi dari sini! Atau aku laporkan ke pihak yang berwajib atas tuduhan zina!" seru Clara murka melihat Wulan masih juga berani dengan dirinya.
"Kau yang tidak tahu diri! Apa pantas wanita terhormat masuk ke kamar orang tanpa ijin, hah!!" balas Wulan sembari memakai bajunya dengan sembarangan. Wulan sudah tidak peduli dia salah memakai atau tidak, yang terpenting tubuhnya tertutupi.
Clara tidak terima, dengan garang diapun menghampiri Wulan lalu menarik rambut Wulan dengan keras.
Perkelahian antara dua wanita beda usia pun terjadi. Keduanya saling serang karena merasa tidak terima. Wulan yang kelelahan karena semalam bergerilya dengan Steve pun akhirnya kalah. Sedangkan Steve sendiri hanya diam mematung karena takut sang ibu mertua akan lebih murka padanya.
"Tuan! Mengapa Anda diam saja! Cepat tolong kekasih Anda, dia bisa saja hilang nyawanya!" ucap sang room servis berkata pada Steve dengan nada yang sedikit keras.
Steve tersadar, dia melihat Wulan terdesak karena serangan dari Clara.
"Mama, hentikan!! Mama bisa mencelakainya!" teriak Steve melindungi tubuh Wulan yang terpojok karena serangan Clara.
"Steve, Minggir!! Jika tidak minggir mama pastikan besok kau akan jadi gelandangan!!" teriak Clara tidak ingin Steve menghalangi dirinya.
Steve bingung, mana yang harus dia pilih. Haruskah menuruti ibu mertuanya dan membiarkan Wulan begitu saja atau menolong Wulan dengan resiko kehilangan semua yang dimilikinya.
"Steve! Cepat minggir!!" teriak Clara sekali lagi. Kini tubuh Wulan sudah tidak berdaya. Wajahnya yang halus sudah h4ncur oleh cakaran kuku Clara.
"Ma ... Steve mohon, bisa-bisa Wulan meninggal dunia dan mama akan masuk penjara!" Steve kembali mengingatkan sang ibu mertua yang ingin kembali menghajar Wulan yang sudah tidak berdaya.
Clara membuang lud4hnya kasar karena marah pada Steve yang seakan melindungi Wulan.
"Baiklah, Steve! Sampai berjumpa besok di pengadilan. Mulai hari ini juga, kau sudah aku usir dari rumah dan aku akan bilang papa untuk memecatmu!!" ucap Clara dengan amarah yang masih berkecamuk di dalam jiwa.
Clara marah karena putrinya yang sedang berjuang mengandung anak Steve malah dikhianati.
"Ma ... tunggu!! Aaarggh ... siaaal!!" pekik Steve frustasi karena sang ibu mertua pergi meninggalkan dirinya begitu saja.