Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 79


Bab. 79


Hans dan Tia saling bertukar pandang, sejurus kemudian mereka saling melempar senyum lalu mengangguk bersama.



"Alhamdulillah ... semoga cucu ibu segera lahir ke dunia ini," ucap Ningsih bersyukur pada akhirnya Hans dan Tia bisa saling menerima.



"Aamiin ... Oh ya, Bu. Kami istirahat dulu. Ibu juga istirahat ya," ucap Hans mendorong kursi roda Bu Ningsih.



"Baiklah, ibu juga ingin istirahat. Kita semua haruslah menjaga kesehatan agar acara pesta pernikahan kalian berjalan dengan lancar," balas Ningsih.



Mereka bertiga pun akhirnya pergi ke kamar untuk beristirahat.


Di kamar Tia dan Hans.


Tia menghempaskan dirinya di atas tempat tidur. Tubuhnya terasa pegal karena berjalan memilih baju.



"Mas, tadi Tia bertemu dengan kak Wulan, anehnya kartu debit kak Wulan tidak bisa digunakan saat melakukan pembayaran di kasir. Untuk menutupi malu, aku bayar belanjaan kak Wulan. Tidak apa-apa 'kan, Mas?" ucap Tia memiringkan tubuhnya ke arah Hans yang ikut merebahkan dirinya di samping Tia.



"Benarkah Wulan tidak bisa membayar baju belanjaannya?" balas Hans pada Tia.



"Iya, Mas. Sampai beberapa kartu debit dia keluarkan, namun saldonya semua tidak ada yang mencukupi. Aneh bukan, Mas. Setahuku mbak Wulan itu orangnya tidak pernah mengosongkan isi tabungan. Tapi harus ini semua kartu debitnya tidak ada saldo yang mencukupi untuk membayar tagihan," jawab Tia lagi.



Hans memiringkan badannya menghadap Tia.



"Biarkan saja. Tapiii ... Tidak gratis lho ini," cerocos Hans sembari menggerakkan alisnya naik turun.



"Maksud mas Hans, tidak gratis itu gimana?" tanya Tia sembari mengerutkan dahinya.


Hans tersenyum genit, memberi kode signal pada Tia.


"Jadi mas minta bayaran atas yang Tia gunakan untuk membayar baju mbak Wulan?" Tia memicingkan matanya.



Hans tersenyum menyeringai sembari mengedipkan matanya sebelah. Tia membulatkan matanya, tidak percaya Hans mulai memanfaatkan situasi.




Glek!



Tia menelan kasar salivanya, malam ini dia berniat untuk istirahat, namun sepertinya semua itu hanya angan -angan saja. Tiap malam sepertinya dia akan selalu begadang.



"Maas ... Kemarin malam kan sudah, masa iya sih tiap malam?" tanya Tia merajuk.



Hans tertawa dalam hati melihat wajah sang istri yang begitu imut.



"Tia ... Kita kan pengantin baru, tentu saja dong rajin-rajinnya beribadah. Nanti kalau sudah punya anak pasti akan beda. Malam -malam kita akan dicuri oleh suara tangis bayi kita. Mumpung masih bebas, ayo kita manfaatkan waktu kita Tia!" Hans tanpa aba-aba langsung menerjang tubuh Tia.



Pergulatan panas sepasang suami itu pun terulang kembali. Keduanya saling mengisi rasa dahaga yang ada dalam tubuh mereka. Tiap tetes peluh akan menjadi saksi ibadah yang mereka lakukan.


***


Sementara itu malam panas pun juga berlangsung di sebuah hotel mewah, tempat Ridho dan Rosie saling menuntaskan hasrat. Tepatnya hanya satu yang terpuaskan, sedangkan lawannya harus menelan kekecewaan.


"Astaga ... Bisa gila aku kalau begini! Sampai kapan aku akan bertahan! Lagi-lagi aku harus menuntaskan sendiri hasratku!" gerutu Rosie sembari menatap kesal pada Ridho yang tertidur pulas setelah selesai menuntaskan hasratnya.



Rosie beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi. Bukan hanya lelaki yang akan pusing jika hasratnya tidak dituntaskan, wanita pun mengalami hal yang sama.



"Dasar lemah! Baru begitu saja sudah KO! Pantas saja istrinya tidak ada yang betah! Ogah sebenarnya menjadi wanitanya, kalau bukan karena duitnya, mana mau aku!!" geram Rosie sembari menyisir rambutnya, setelah bermain solo di kamar mandi.



Setelah selesai mengeringkan rambutnya, Rosie merebahkan tubuhnya yang kedinginan karena terlalu lama bermain sendiri di kamar mandi.



"Mas ... Mas! Ternyata ganteng dan kaya tidak menjamin dirimu akan bisa menguasai hati wanita. Karena wanita juga butuh dipuaskan. Tidak hanya kaum lelaki saja, kami sebagai kaum wanita juga memiliki nafsu," gumam Rosie di dalam hati sembari mengusap wajah Ridho.



Dalam kekecewaan akhirnya Rosie pun ikut tertidur di samping Ridho.


Di sudut kamar yang lain ....


Wulan sedang mengejar nikmat surga dunia bersama seseorang yang sedari dulu menjadi alat pemuas batinnya. Selama ini Wulan telah menyimpan sosok yang dijadikan alat pemuas syahwatnya.