Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP 2.Bab 19


"Ya sudah. Kamu tenang saja ya, Ris. Nanti Mbak dan Mas kamu akan bantu buat minta restu ke mama. Untuk reaksinya bagaimana, serahkan semuanya kepada Mbak, ya," ujar Tia, mencoba menenangkan sang adik yang terlihat sangat frustrasi atas ketidak setujuan ibu mereka dalam menentang hubungan sang adik dengan kekasihnya, Alya.


"Terima kasih banyak ya, Mbak. Aris harap, usaha Mbak dan Mas yang memiliki itikad baik untuk membantu Aris untuk mendapatkan restu dari mama berhasil, ya," ujar Aris seraya menampilkan senyum kecil, walaupun Tia tahu, itu adalah senyum keterpaksaan yang adiknya tunjukkan.



"Amiinnn …," sahut Tia dan Hans serempak. Serta, kedua anak kembar mereka yang belum mengerti pembahasan itu hanya bisa mengaminkan, semua semuanya berjalan sesuai dengan yang diinginkan.



"Sayang, kamu mau bermain dulu sama anak murid kamu yang sedikit lagi juga akan menjadi keponakan kamu?" tanya Aris, menoleh ke Alya yang hanya diam tanpa ikut bersuara.



"Memangnya boleh ya, Mas?"



"Tentu boleh dong, Alya. Kenapa nggak boleh? Kamu kan, ibu gurunya Hasna. Jadi Mbak yakin, Hasna pasti akan lebih cepat akrab jika bermain sama kamu," timpal Tia, menyetujui usulan Aris.



"Wah, terima kasih banyak ya, Mbak. Kalau begitu, ayo, anak-anak, kita main agak jauhan dari sini, ya. Biarkan para orang tua mengobrol. Lagipula, kalian juga pasti tidak mengerti pembicaraan kami tadi, kan?" Alya bersuara sambil mengeluarkan senyumannya.



"Iya, Ibu guru," sahur Hasna. Berbeda dengan Hasan yang lebih memilih diam dan memperhatikan Alya saja tanpa merespons apapun.



"Aku ke sana dulu ya, Mas, Mbak," pamit Alya kepada Tia, dan Aris.



"Ya. Mohon dimaklumi jika anak Mbak agak sedikit membuat kamu kerap kali kerepotan ya, Alya. Hasna itu memang anak yang sangat aktif, jika dibandingkan dengan kembarannya yang cenderung pendiam," ujar Tia, menjelaskan secara singkat karakteristik anak-anaknya.



"Iya, Mbak. Saya tahu, kok. Hasna memang sangat aktif. Di kelas pun, Hasna selalu bisa bergaul dengan cepat ketika ada teman baru di kelas. Itu salah satu sisi baik yang Hasna punya. Saya suka itu, Mbak," ujar Alya. Langsung menggiring kedua kembaran itu menjauh dari ruang tamu.



"Aris, kamu yang sabar, ya. Jangan terlalu dipikirkan, bagaimana tanggapan mama. Mbak akan selalu dukung kamu, kok. Kamu tidak sendiri, Mbak kamu sudah pernah berada di posisi kamu. Mbak yakin, kamu pasti bisa melewatinya," ujar Tia memberikan semangat kepada adik tersayangnya yang sedang merasa kebingungan dengan yang sedang Aris jalani.



"Iya, Mbak. Aris hanya bisa terus berdoa, agar Mama dibukakan pintu hatinya agar bisa memberikan restu utntuk Aris dan Alya," ucap Aris.



"Semangat ya, Ris. Mas yakin, kamu bisa dengan mudah melewati semua ini. Jangan pantang menyerah, karena Mbak kamu saja ya g seorang wanita, bisa melewati segalanya. Kamu jangan mau kalah dong, sama wanita Kakak ipar kamu," ujar Hans, ikut menyemangati adik iparnya.



"Iya, Mas. Aris akan tetap berusaha."



"Kita belum makan malam. Apakah kamu dan Alya mau bergabung bersama, Ris? Anak-anak Mbak soalnya belum makan malam. Bagaimana?" tanya Tia, menawarkan adiknya agar bergabung makan bersama.



"Nggak usah, Mbak. Ini bisa merepotkan Mbak. Aris sama Alya makan malam di luar saja. Niat hati datang ke sini memang hanya ingin meminta restu kepada Mbak dan Mas," tolak Aris secara halus.



"Nggak papa, Aris. Kayaknya, anak-anak juga nyaman sama Alya. Biar mereka lebih dekat, kita akrabkan dengan hak sepele dulu. Contohnya, hak seperti ini," ucap Tia.



"Baiklah, Mbak."



Tia dan keluarganya, serta Aris dan Alya pun makan malam bersama. Memakan menu makan malam yang telah Tia siapkan. Untung saja, Tia memasak sedikit lebih banyak dari biasanya, karena berpikir jika anak-anaknya akan merasa lapar malam ini, mengingat cuaca mendung.



\*\*\*



Setelah selesai makan malam, Aris dan Alya pun pamit untuk pulang.



"Terima kasih banyak atas jamuannya ya, Mbak, Mas. Maaf kalau Aris telah merepotkan kalian malam-malam begini," ujar Aris sedikit merasa tidak enak hati.



"Kata siapa kamu merepotkan kami, Aris? Kamu itu adik Mbak. Nggak mungkin, lah, adik sendiri merepotkan kakaknya. Lagipula, kamu telah berjasa di masa lalu untuk keluarga kami. Jadi, inilah saatnya kami membalas kebaikan kamu itu." Tia tersenyum seraya mengusap puncak kepala Aris.



"Terima kasih banyak, Mbak."



"Jika dihitung-hitung, sudah berapa kali ya, Mas dengar kamu bilang terima kasih terus ke Mbak kamu, Ris? Ke Mas nggak mau, nih?" canda Hans agar Aris tidak terlalu tegang dengan suasana yang tercipta. Padahal, semuanya seharusnya berekspresi netral saja. Hanya Aris yang berlebihan jika terlalu merepotkan sang kakak.



"Bukan begitu, Mas. Aris tahu, kakak itu adalah orang sibuk. Pasti, Kakak akan kecapekan kalau membantu urusan Aris. Perusahaan ayah saja, kakak yang pegang."



"Itu artinya Mbak adalah wanita yang tangguh kan, Ris? Nggak lemah? Kakakmu ini seperti wonder woman," celetuk Tia mengundang suara tawa semua orang, kecuali Alya.



"Ya sudah, Mbak. Aris dan Alya pamit dulu, ya."



"Iya. Hati-hati di jalan. Ini sudah hampir larut malam. Jangan macam-macam loh, Ris! Ingat, kalian belum menikah!" tegas Tia membuat Aris menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.



"Siap, Mbak."



"Assalamualaikum."



"Wa'alaikumsalam."



\*\*\*



Keesokan harinya, seperti yang dijanjikan oleh Hans dan Tia, keduanya kini sudah berada di kediaman Mery, ibu dari Tia dan Aris. Hans menggenggam tangan kanan Tia yang terasa dingin dengan erat. Hans ingin memberikan semangat kepada istrinya agar tidak perlu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi kedepannya jika mereka menunjukkan wajah pada sang pemilik rumah.




"Iya, Mas. Tapi, tak dapat dipungkiri, aku merasa takut," jujur Tia.



"Jangan takut, Sayang. Kamu bersama Mas di sini. Apapun yang terjadi nanti, Mas akan selalu ada di samping kamu. Jangan terlalu pesimis, okay? Mama pasti akan menyambut dengan baik kedatangan kamu. Kamu anaknya, Sayang," ujar Hans masih dengan nada lembut.



"Huhhh. Iya, Mas. Bismillah …. Semoga trauma mama sudah hilang, ya. Aku takut, kejadian seperti dulu terulang kembali," lirih Tia. Ia kembali bernostalgia saat dimana dirinya mendapatkan perlakuan kasar dari ibu kandungnya sendiri.



"Setiap musibah, pasti ada jalan keluarnya, Sayang. Buktinya, ayah kamu yang em, maaf. Awalnya tidak menganggap kehadiran kamu, kini bisa menerima kamu, kan? Bahkan, dia juga mempercayakan perusahaan-perusahaan besar milik beliau ke kamu. Itu artinya, semua yang sudah kamu lewati selama ini, hampir semuanya telah terbayarkan. Kasih sayang pun, sudah kamu dapatkan dari Mas dan anak-anak yang selalu ada bersama kamu."



Hans memeluk Tia untuk menenangkan istrinya sebelum mereka turun dari mobil. Mereka hanya pergi berdua, meninggalkan kedua anak kembar mereka bersama bi Inah di rumah.



"Ayo, Mas. Kita sudah terlalu lama di mobil. Takutnya, orang-orang di dalam malah menghampiri kita. Itu terlihat tidak sopan," ujar Tia sambil menjauhkan kepalanya dari dada bidang Hans.



"Assalamualaikum," salam Tia begitu kakinya melangkah masuk lebih dalam ke rumah yang sangat jarang sekali ia tempati. Rumah yang memiliki banyak kenangan buruk untuknya.



"Wa'alaikumsalam," jawab seorang pria yang tak lain adalah Cahyo, ayah Tia.



"Papa. Maaf, Tia datang ke sini tanpa mengabari Papa. Bagaimana kabar Papa, Pa? Apakah sehat? Dan juga, bagaimana dengan kabar Mama? Tia harap, kalian selalu sehat."



Tia mengulurkan kantung plastik yang berisi buah-buahan segar yang sempat ia beli di salah satu super market sebelum sampai ke rumah orang tuanya.



"Oh ya, Pa. Tia membawakan sedikit buah tangan untuk mama dan Papa. Mohon di terima ya, Pa." Tia meletakkan buah tangannya di meja. Ia langsung duduk di sofa setelah Cahyo mempersilakannya.



"Ada apa kamu ke sini, Tia? Mau menemui mama? Sebentar, Ayah panggilkan dulu," ucap Cahyo.



Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki yang dibalut high heels terdengar begitu nyaring hingga membuat Tia dan Hans memfokuskan pandangan mereka pada seorang wanita yang tetap terlihat cantik walaupun di usianya yang tak lagi muda.



"Assalamualaikum, Ma. Mama apa kabar? Hari ini Tia …." Tia mendekati Meri perlahan.



"Mau apa kamu kesini lagi, hah?!" bentak Mery memotong ucapan Tia lebih dulu.



"Mama …," lirih Tia dengan nada sendu.



"Jangan panggil saya dengan sebutan itu lagi, Tia! Saya bukan Mama kamu!"



"Ma, tenang dulu. Tia cuma mau …."



"PERGI DARI SINI SAYA BILANG! JANGAN PERNAH PANGGIL SAYA DENGAN SEBUTAN ITU!" teriak Mery dengan begitu histeris saat Tua mencoba mendekatinya walaupun hanya untuk sekedar salaman.



"Ma, Tua mohon …. Ini demi Aris, adik Tia. Tia cuma mau minta Mama berikan …."



"STOP! PERGI DARI SINI! SAYA NGGAK MAU LIHAT WAJAH KAMU LAGI!" teriak Mery lagi membuat Tia meluruhkan air matanya yang tak bisa ditahan lebih lama lagi akibat bentakan dan ketidak pengakuan wanita yang telah melahirkannya ke dunia.



Hans langsung mendekati istirnya dan mengusap bahunya berkali-kali untuk menguatkan Tia.



"PERGI! SAYA BILANG PERGIII! JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI! SAYA TIDAK PERNAH MENGINGINKAN KAMU HADIR DI DUNIA INI!"



Hans langsung membawa Tia ke dalam pelukannya disaat ibu mertuanya mulai mengamuk dan melemparkan semua barang di dekatnya ke arah Tia.



Melihat itu, Cahyo langsung menarik Mery agar menghentikan tindakannya yang sudah kelewatan batas. Ia mencoba menenangkan istirnya yang kembali histeris begitu hebat hanya dengan melihat presensi Tia di rumah mereka.



"Sudah, jangan seperti ini."



"Usir dia dari rumah kita, Ayah! Mama tidak mau melihat dia!" lirih Mery dengan air mata berderai namun masih didengar jelas oleh Tia.



"Ma, tolong jangan seperti ini. Mama bisa membenci Tia, tapi tolong. Berikan Restu kepada Aris dan Alya. Mereka membutuhkan restu dari Mama," ucap Tia sambil mendorong pelan dada suaminya agar membiarkannya mendekat ke arah sang ibu.



"JANGAN MENDEKAT! KAMU AKAN CELAKA JIKA MENDEKATI SAYA SATU LANGKAH LAGI!" ancam Mery namun tak di gubris oleh Tia.



"Ma, tolong jangan seperti ini."



"Ma, tolong tenang. Ayah akan usir mereka setelah Mama tenang," ujar Cahyo masih berusaha menahan tangan Mery agar tidak melakukan hal kelewatan batas.



"Lebih baik kalian pergi saja dari sini. Biarkan istri saya beristirahat dengan tenang," pinta Cahyo dengan nada sendu masih mencoba menahan pergerakan Mery.



"Ma, tolong tenang, ya. Tia tidak akan mendekati Mama asalkan Mama tenang," ujar Hans, ini turun tangan menenangkan ibu mertuanya.



Tia hanya bisa terisak saat melihat ibunya sedikit tenang saat ditenangkan oleh suaminya.