Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 182


Tia sedang menunggu kepulangan Hans. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Namun, Hans belum juga sampai di rumah. Tia sudah berulang kali mengecek ponselnya untuk memastikan ada panggilan masuk atau sebuah aku sayang dikirimkan oleh Hans, tetapi tidak ada. Itu membuat Tia menjadi khawatir.


Tadinya, Tia tidak ingin menghubungi Hans karna takut mengganggu bila suaminya itu masih bekerja. Namun, di hari biasanya Hans selalu pulang ke rumah sebelum pukul delapan. Maka wajar saja bila Tia khawatir pada suaminya itu.


"Sudahlah, aku coba hubungi dia terlebih dahulu." Tia menggulir ponselnya dan menghubungi nomor telepon Hans.


Satu panggilan tidak dijawab oleh Hans, tetapi panggilan telepon dari Tia akhirnya tersambung di panggilan yang kedua. "Kau masih di mana? Ini sudah pukul setengah sembilan malam. Aku khawatir karena kau biasanya sudah pulang sebelum pukul delapan."


"Iya, tadi aku lembur sampai pukul delapan. Tapi di perjalanan pulang, mobilku tiba-tiba saja mogok. Untungnya, tidak jauh dari tempat ku berhenti ada sebuah bengkel mobil. Itupun akan segera tutup dan kemungkinan mobilnya baru bisa diambil besok," jawab Hans dari seberang sana.


"Apakah aku harus menjemputmu? Mungkin akan sulit untuk menemukan driver online malam-malam begini. Kalaupun ada, kau harus menunggu lama." Tia memutuskan untuk menyusul Hans ke bengkel itu.


Hans setuju karena dia juga sudah dua kali mencoba memesan driver online, tetapi tidak kunjung mendapatkannya. Terlebih di jalanan itu memang sudah sepi, jarang ada kendaraan yang lewat. Untung saja Tuhan masih memberikan perlindungan kepadanya, sehingga tidak terjadi hal buruk yang tidak diinginkan.


Mereka mengakhiri sambungan telepon. Tia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana setelah mendapatkan alamat bengkel dari hans melalui pesan online. Tia berlari masuk ke dalam kamarnya dan memakai jaket. Dia meraih kunci mobil di atas nakas, lalu menyempatkan diri untuk mengecek anak-anak.


"Syukurlah, sepertinya mereka tidur dengan nyenyak," gumam Tia dibalik pintu kamar.


Tia tidak bisa pergi begitu saja karena ditakutkan kedua anaknya terbangun ketika dia masih berada di jalan. Tia lagi melangkahkan kakinya ke ruangan belakang tempat di mana kamar Luna berada.


Senyum Tia mengembang ketika melihat pintu kamar Luna yang terbuka sedikit. Itu menandakan bahwa baby sitternya belum terlelap. Namun, sesuatu mengganggu pandangannya ketika dia hendak mengetuk dan membuka pintu kamar Luna lebih lebar.


Kening Tia mengernyit, melihat Luna yang sedang duduk di meja rias dan menghapus sedikit demi sedikit riasan yang ada di wajahnya. Ada sesuatu yang aneh di setengah bagian wajah Luna.


Tia kembali teringat kepada Wulan, kakaknya yang juga memiliki luka di bagian wajah akibat kecelakaan dahulu. Tia memang belum pernah berjumpa kembali dengan Wulan dan tidak tahu pasti di sisi bagian wajah mana tepatnya luka itu berada.


Tia terus memperhatikan dari celah pintu kamar Luna dan memfokuskan pandangannya ke arah pantulan cermin. Riasan di kelopak mata Luna dan bibir wanita itu baru saja selesai dihapus, hingga akhirnya wajah sebenarnya di balik riasan itupun terungkap.


Tia membelalakkan matanya dengan sempurna dan bersembunyi di balik dinding ketika Luna terlihat bangkit dari kursi meja rias. Perlahan, Tia menggeser tubuhnya semakin menjauh dari pintu kamar Luna, hingga terdengar suara pintu yang tertutup.


Tia berlari kembali masuk ke dalam kamarnya dan duduk di tepi ranjang. Kepalanya kini terasa penuh dengan berbagai macam pertanyaan. "Kenapa luka di wajah itu sangat persis dengan luka pecahan kaca yang dimiliki oleh Kak Wulan? Apakah ini memang hanya sebuah kebetulan saja? Atau mungkinkah Luna itu adalah Kak Wulan?"


Semua pertanyaan hanya Tia simpan di dalam hati karena dia harus menjemput sang suami. Tapi belum berangkat, Hans sudah menelepon kalau dirinya sudah dapat mobil, jadi Tia tidak perlu menjemput.


Suara mobil masuk ke halaman rumah Tia, dia yakin pasti itu adalah suara mobil yang mengantar Hans pulang.


Ting Tong ...


"Assalamu 'alaikum, Mas. Sudah pulang?" Sambut Tia dengan senyuman. Dia tidak akan langsung memberi tahu Hans tentang semua yang terjadi tadi. Dia tidak mau membuat sang suami yang lelah karena pulang kerja menjadi tidak nyaman.


"Wa'alaikum salam, Alhamdulillah, pekerjaan lancar jadi mas bisa pulang tepat waktu lagi. Tapi sayang, jalanan macet tadi, bikin perut lapar," seloroh Hans sembari mengusap perutnya yang sedikit mulai membuncit. Tia mengurusnya dengan baik, hingga Hans bisa memiliki tubuh yang lebih bugar dibandingkan sebelum menikah dengan Tia.


"Baiklah, Mas. Aku siapkan makan malam terlebih dahulu. Mas mandi dulu ya biar segar. Nanti susul Tia ke meja makan," ujar Tia sembari membawakan tas kerja Hans.


"Baiklah, Sayang. Aku akan menyusul, perutku ini tidak tahan lagi minta diisi," jawab Hans bergegas masuk ke dalam kamar hendak membersihkan diri di kamar mandi.


Tia menuju ke dapur dan memanggil bik Inah.


"Bik, Tuan akan makan malam sekarang. Bantu aku ya untuk siapin makan malamnya. Oh ya, apa semua sudah makan malam, Bik?" tanya Tia pada bik Inah yang kebetulan sedang mencuci piring di dapur.


"Baik, Nyonya. Bibik akan panaskan lauknya. Semua sudah makan malam, kecuali mbak Luna yang belum. Katanya dia tidak mau makan malam karena tidak cocok dengan lauknya," jawab Bik Inah.


"Emang lauk apa tadi kok dia tidak mau?" tanya Tia lagi. Perasaan semua orang dewasa suka dengan masakan pedas.


"Tadi bikin cumi pedas, Nyonya."


"Kok cumi pedas tidak mau? Itu kan enak sekali," imbuh Tia. Dia tidak tahu mengapa Luna tidak suka dengan masakan pedas.


"Saya kurang tahu, Nyonya. Dia sendiri yang bilang begitu, tidak suka dengan menu pedas. Dia memilih beli makanan lewat online saja." Bik Inah mulai menghidupkan kompor gas untuk memanaskan semua lauk.


"Sudahlah, aneh juga sih. Biasanya orang dewasa tuh suka masakan pedas. Mungkin dia punya sakit magh jadi gak berani makan pedas."


"Benar, Nyonya. Atau ada pantangan gitu nyonya, hehehe ...." canda Bik Inah.


"Bibik ini ada-ada saja," ucap Tia menimpali candaan bik Inah.


Saat keduanya bercanda, Luna yang lewat dapur menatap kesal pada bik Inah dan Tia.


"Mbak Luna sudah makan?" tanya Hans yang kebetulan berpapasan dengan Luna.


Mendapat perhatian seperti itu, Luna pun salah tingkah. Lalu timbul niat jahatnya.


"Belum, Tuan. Saya tidak bisa makan dengan masakan pedas. Saya sedang menunggu kurir pengantar makanan. Bagaimana lagi saya tidak bisa makan pedas sedangkan nyonya masak makanan pedas," keluh Luna ingin Hans memarahi Tia.


"Kan bisa bikin yang lain, Mbak. Tinggal bilang aja pada bik Inah. Tidak usah menyudutkan istri saya. Memang istri saya masak pedas itu karena saya suka pedas. Jadi wajar kan kalau dia masak pedas!" tandas Hans yang tidak suka istrinya disalahkan.


"Maaf, Tuan." Gagal sudah niat Luna untuk menjatuhkan Tia.


Hans pun berlalu meninggalkan Luna yang berdiri mematung. Dia sangat kecewa dengan kata-kata Hans.


"Terima kasih, Sayang. Masak apa ini?"


"Kesukaanmu, Mas. Cumi pedas."


"Wah, siap -siap jadi gendut ini. Pasti lezat sekali. Ayo kita makan, mas sudah sangat lapar."


Sepasang suami istri itu pun makan malam bersama, setelah selesai, Tia mengajak Hans untuk bicara di kamar mereka.


"Ada apa, Sayang? Mengapa kau terlihat serius sekali?" tanya Hans pada istrinya yang sudah memasang wajah serius.


"Mas, Tia mau tanya. Apakah mas dulu waktu ambil Luna jadi baby sister itu lewat yayasan yang sama dengan Yuni atau beda yayasan?"


"Memangnya kenapa sih kok kamu tanya seperti itu? Apa ada masalah?"


"Ah, Enggak. Hanya bertanya saja, sebab jika ada apa-apa kan kita minta pertanggung jawaban pada yayasan itu," jawab Tia belum memberitahu Hans karena masih belum punya bukti yang kuat.


"Mas hanya menghubungi satu yayasan saja. Yayasan yang sama saat mas mengambil Yuni dulu. Kata pengelola yayasan ada, Ya sudah mas ambil itu saja. Dan semua beres kan? Apa ada masalah, Sayang?" tanya Hans dengan serius.


"Kata Bu Yayasan itu, baby sister yang mas pesan mengalami kecelakaan jadi tidak bisa datang. Makanya Tia curiga siapa Luna itu," Jawab Tia berterus terang.


"Entahlah, mas hanya tahu ada ya sudah mas ambil. Jika kamu tidak suka lebih baik pecat saja. Semua mas serahkan padamu, Tia. Mas yakin kau bisa mengatasi masalah ini. Wanita biasanya memiliki feeling yang kuat berbeda dengan kita para kaum lelaki yang hanya pakai logika saja," ucap Hans menepuk bahu istrinya.


"Baiklah, Mas. Tia akan memikirkan semua ini dulu," ucap Tia. Dia pun beranjak dari duduknya untuk melihat sang buah hati.


Flash Back Off.


Tiin ...


Tiiin ...


Suara klakson mobil Hans membuyarkan lamunan Tia. Gegas Tia menyambut sang suami. Dia akan bercerita tentang semua kejadian hari ini. Dimana dirinya telah memecat Luna.


"Assalamu 'alaikum, Sayang," ucap Hans sampai di depan pintu sudah di sambut oleh Tia.


"Wa'alaikum salam, Mas. Ayo masuk," ajak Tia membawakan tas sang suami. Sudah jadi kebiasaan Tia jika menyambut kedatangan suami maka dia akan membawakan tas Hans.


Seperti biasa Hans akan mandi dan Tia menyiapkan makan malam untuk Hans. Selepas itu Hans akan bermain dengan kedua anaknya.


"Mas, ada yang ingin Tia bicarakan," ajak Tia saat Hans menggendong baby Hasna.


"Ada apa Tia?" tanya Hans dengan alis yang bertaut menjadi satu.


"Tia sudah memecat Luna. Mulai hari ini Luna sudah tidak bekerja lagi di rumah ini. Perbuatan Luna tidak bisa Tia tolerir. Tia hanya ingin keluarga kita tetap utuh. Tidak apa-apa kan, Mas?" tanya Tia sembari menggendong baby Hasan.


"Tidak apa, Sayang. Semua sudah mas serahkan padamu. Apapun yang ingin kau lakukan selama itu baik maka mas mendukungnya. Mas yakin kau sudah dewasa untuk bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah," ucap Hans sambil tersenyum. Dia mengecup pipi gembul sang putri.


Tia merasa lega, dugaannya selama ini bahwa Hans akan marah jika Luna dipecat, hilang menguap begitu saja.


"Syukurlah, Mas. Tia sangat bahagia. Tia kira mas akan marah jika aku pecat Luna tanpa ijin dulu pada mas. Sekarang Tia merasa lega karena mas tidak marah," imbuh Tia dengan senyum yang merekah. Semua ia lakukan hanya untuk membuat rumah tangganya tetap utuh.


Setelah lelah bermain dengan kedua anak mereka, Tia dan Hans pun beristirahat. Kedua anaknya juga sudah tidur dan dijaga oleh Yuni. Yuni sekarang mengasuh dua anak dan dibantu oleh Bik Inah.


"Mbak Yuni, bersyukur ya si Luna sudah pergi. Bibik takut melihat wajahnya, dia seperti memakai alas bedak atau apa gitu hingga terlihat tebal sekali. mbak Yuni melihat juga gak sih? sekilas memang cantik tapi kalau dilihat dari dekat wajah mbak Luna itu mengerikan lho," ujar bik Inah ghibahin Luna.


Yuni tersenyum, dia juga merasakan hal yang sama. Dia sebenarnya juga takut saat melihat wajah Luna. "Aku pun juga merasakan hal yang sama, Bik. Jika dilihat dari dekat wajah mbak Luna memang sangat mengerikan. Tapi kalau dilihat dari jauh, dia terlihat cantik. Mungkin tipe kulitnya begitu ya, Bik. Tapi entahlah, aku tidak paham dengan make up wajah atau apapun itu. Seumur hidup aku jarang memakai skin care atau make up. Orang desa mana paham begituan ya, Bik," ucap Yuni yang merasa memang tidak pernah mau memakai make up atau skin care.


Bik Inah tersenyum, dia juga dari desa dan tidak mengenal apa itu make up dan skin care. "Sama aja kita, Mbak. Buat apa skin care kalau kantong kita butuh diisi dan anak-anak juga butuh biaya sekolah," sambung bik Inah.


Keduanya tertawa bersama sembari menimang tuan muda dan nona muda mereka.


"Mereka sudah tidur, Bik. Ayo kita taruh ke box mereka masing-masing dan kita beristirahat," ucap Yuni menaruh baby Hasan ke dalam box dan diikuti oleh bik Inah.


"Sudah selesai, waktunya berisitirahat," imbuh bik Inah merenggangkan tubuhnya hingga terdengar bunyi bergemelutuk tulang-tulangnya.


Kedua wanita kepercayaan Tia itu saling menatap dan tersenyum. "Bibik kembali ke kamar dulu ya, kalau butuh apa-apa kamu panggil saja, tidak usah malu. Bibik akan datang membantu," ucap bik Inah menepuk bahu Yuni.


"Iya, Bik. Tenang saja, mereka anak yang manis jadi tidak membuatku repot sama sekali. Namanya aja anak kembar, satu bangun pasti yang lain juga bangun. Maka dari itu aku selalu berusaha membuat dua botol susu sekaligus sebelum mereka bangun," jawab Yuni.


"Mbak Yuni memang hebat, bisa diandalkan untuk mengurus dua anak sekaligus," puji bik Inah.


"Sudah biasa, Bik. Oh ya, Bik. Selamat beristirahat dan mimpi yang indah."


"Iya, sama-sama ya, kamu juga istirahat mumpung si kecil sudah pada tidur," sahut bik Inah.


Bik Inah pun kembali ke kamarnya, sedangkan Yuni menyelimuti tubuh kedua majikannya dengan selimut yang lembut.


"Selamat tidur tuan dan nona kecil. Semoga kalian tidur dengan nyenyak," ucap Yuni mengecup kening majikannya.