
Hans tersenyum melihat Tia yang kebingungan. Entah mengapa Tia semakin cantik tatkala terlihat panik.
"Tenang, kita akan melihat persiapan dekorasi pesta pernikahan kita besok Minggu. Hotel ini adalah tempat yang tepat untuk kita mengadakan pesta pernikahan." Hans menjadikan dengan seringai yang tercetak di ujung bibirnya.
Tia memicingkan matanya, namun dia tidak bisa menolak karena sudah menjadi tujuan awal untuk mengecek semua kelengkapan pesta pernikahan dirinya.
"Mari masuk, tidak usah berpikiran macam-macam. Berpikir semacam saja yaitu bagaimana malam ini akan berlalu dengan indah. Benar bukan?" goda Hans lagi.
Tia berdiri terpaku melihat tingkah sang suami yang mencurigakan.
"Ayo, Tia. Kita masuk!" Hans menarik tangan Tia untuk segera masuk ke dalam hotel.
"Selamat datang, Tuan. Semua persiapan sudah mencapai hampir 80%. Mari saya antar untuk melihat ruangannya," sambut sang pelayan hotel. Mereka semua tahu jika Hans adalah pemilik hotel yang akan melangsungkan pesta pernikahan.
Hans dan Tia mengikuti kemana pelayan hotel tersebut melangkah. Setelah sampai di ruangan yang dimaksud, Tia dan Hans melihat sekeliling ruangan itu. Sebuah ruangan yang luas dan dihias dengan berbagai bunga dari plastik.
"Wow ... indah dan megah sekali. Mas, benarkah ini tempat untuk pesta pernikahan kita?" ucap Tia yang terpukau dengan indahnya ruangan tempat pesta mereka akan berlangsung.
"Tentu saja, Istri dari Hans Pramudya harus bahagia. Bukankah ini impianmu semenjak dulu? Pesta pernikahan yang mewah dan megah. Benar bukan?" tanya Hans sembari memeluk tubuh Tia dari belakang.
Tia yang terpesona akan keindahan ruangan itu tidak sadar kalau tangan kekar Hans melingkar di perutnya.
Deg.
Dada Tia bersner dengan kencang saat napas hangat Hans menyapu tengkuknya. Barulah Tia sadar jika sang suami sedang memeluk dirinya dari belakang.
"Mas ... malu dilihat oleh orang lain," ucap Tia sembari melepaskan dirinya dari pelukan Hans.
Rambut hitam legam Tia sepinggang membuat Hans betah berlama-lama di lehernya. Tia mulai merasa malu saat beberapa pasang mata melihat ke arah mereka berdua.
"Mas ... ayolah, malu itu dilihat para pegawai dekorasi. Semua bisa kita lanjutkan nanti di rumah," ucap Tia yang semakin merasa tidak enak saat banyak mata yang melihat ke arah dirinya dan sang suami.
Mendengar kata-kata, Tia yang memberikan signal hijau pada diri Hans, Hans pun menuruti perkataan Tia. Hans melepas pelukannya dengan perlahan.
"Kamu sudah bilang begitu, jadi jangan salahkan aku jika malam ini akan menjadi malam terindah dan terlama untuk kita berdua," ucap Hans. Sejurus kemudian Hans mulai melonggarkan pelukannya. Tia pun berhasil keluar dari kungkungan Hans.
"Iya ... iya, Nanti di rumah saja!" kekeh Tia meminta Hans melanjutkan di rumah.
Hans tersenyum menyeringai, dia pun menarik Tia untuk diajak menuju ke kamar yang sudah dipersiapkan untuknya.
Tia terpaksa mengikuti Hans yang dengan kuat menarik Tia. Napas Tia perlahan bisa di atur berbeda dengan Hans yang masih menderu.Kini mereka sudah sampai di depan kamar Hans.
Klek.
Handle pintu sudah diputar, Hans mengajak Tia untuk masuk.
"Kita beristirahat dulu semalam di sini. Masalah ibu, nanti mas akan bilang padanya kalau kita tidak pulang. Kita berdua akan tidur bersama di hotel," ucap Hans dengan senyum manisnya.
Glek.
Tia menekan salivanya kasar, sudah tidak ada alasan lagi baginya menolak keinginan Hans.