Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. bab. 92


"Lepasin, Mas!" Devi menyentak tangan Aris yang menariknya kuat hingga mereka saat ini sudah menjauh dari depan pintu rumah Tia.


"Jangan seperti ini, Devi! Kita selesaikan semuanya secara baik-baik! Jangan mempermalukan aku di depan mbak Tia dan mas Hans!" ujar Aris tidak kalah kencang memarahi istrinya yang semakin menjadi.


"Kamu selalu mementingkan mbak Tia, Mas! Aku ini istri kamu! Seharusnya kamu prioritasin aku dulu, baru wanita itu!" teriak Devi, semakin keras dari sebelumnya membuat tangan Aris terkepal. Kesabaran Aris sangat diuji hari ini dengan ulah istrinya sendiri yang selalu buat onar.


"Apa yang membuat kamu berubah, Dev? Dulu … kamu nggak seperti ini!" Aris mencoba menahan amarahnya agar para tetangga kakaknya tidak mengetahui pertengkaran mereka karena hanya akan mengganggu ketentraman semua orang.


"Kamu nanya?" Devi mengusap air matanya kasar.


"Lebih baik kita selesaikan ini di rumah saja, Dev. Jangan membuat mbak Tia dan mas Hans dalam masalah." Aris langsung menarik kuat tangan Devi agar mengikuti langkahnya untuk masuk ke dalam mobil. Tak peduli seberapa kuat tenaga Devi untuk memberontak, Aris tetap menyeret istrinya untuk masuk ke dalam mobil.


Setelah mengunci pintu mobil, Aris langsung mengendarai mobil dan meninggalkan rumah sang kakak. Ia menginjak pedal gas hingga kecepatan mobilnya diatas rata-rata.


"Kamu aneh, Mas! Kenapa kamu selalu membela Mbak Tia dibandingkan dengan membela aku?" ujar Devi, masih belum terima jika suaminya kini menjadi marah kepadanya.


"Seharusnya kamu introspeksi diri, Dev, kenapa aku lebih membela Mbak Tia dibandingkan dengan kamu," jawab Aris tanpa melepaskan pandangannya dari jalan raya, dan tangannya semakin memegang kuat setir mobil agar amarahnya bisa tersalurkan.


"Aku kecewa sama kamu, Mas!" Devi memegang tangan Aris dan membuat setir yang sedang dipegang oleh Aris bergerak tidak beraturan, sehingga Aris langsung mendorong bahu Devi agar menjauh darinya.


"Apa kamu sudah gila?!" bentak Aris dengan nada tinggi. Ia memelankan laju mobilnya, berjaga-jaga jika Devi melakukan tindakan yang akan membahayakan nyawanya.


"Kamu yang sudah gila, Mas!" jawab Devi balik membuat emosi Aris semakin terpancing.


"Kita masih di perjalanan, Dev. Tolong jangan membuat emosi aku semakin tinggi. Jangan membuat –"


"Apa? Sekarang kamu bisa seenaknya bicara kayak gini setelah bikin aku malu didepan keluarga kamu, Mas?" Devi menatap nanar mata suaminya yang hanya sesekali melirik, sebab Aris benar-benar masih melakukan mobil agar mereka lebih cepat sampai ke rumah dan menyelesaikan masalah mereka secara musyawarah.


"Berhenti, Mas! Aku mau turun," pinta Devi dengan nada pelan, serta suaranya yang lemah.


"Mau apa?" ujar Aris.


"Aku bisa pulang sendiri," ucap Devi, tetap memaksa Aris agar memberhentikan laju mobil.


"Tidak bisa, Devi. Kamu tanggung jawabku. Kita bisa pulang bersama dan selesaikan ini dengan kepala dingin. Jangan bersikap kekanak-kanakan!" ujar Aris, tetap tidak mengindahkan permintaan Devi.


Kini tatapan mata Devi semakin menajam. Ia mengepalkan tangannya. Matanya yang sembab semakin memerah karena rasa kesal di hatinya kian bertambah untuk suaminya.


"Apa kamu bilang? Kekanak-kanakan? Aku? Kekanak-kanakan? Ck! Seharusnya kamu ngaca, Mas! Nih ada kaca spion! Kamu ngaca, gih, biar kamu tau diri, disini itu siapa yang kekanak-kanakan?" Devi memutar kaca spion mobil hingga mengarah ke arah Aris semua dengan gerakan kasar dan membuat kaca spion itu sedikit patah hingga letaknya sedikit menjadi miring ke kanan.


"Shhttt!" Devi meringis kesakitan sambil memegang perutnya yang nyeri akibat terkena benturan yang cukup keras. Ia saat ini hanya fokus meremas perutnya sehingga tatapan matanya sama sekali tidak melihat ke arah Aris.


"Bukain kunci pintunya!" ujar Devi ketika pintu mobil tidak kunjung terbuka disaat ia berusaha untuk membukanya sebab Aris masih menguncinya.


"Kamu akan pulang sendiri menggunakan kendaraan umum dengan keadaan seperti itu?" tanya Aris sambil memperhatikan betapa buruknya saat ini penampilan sang istri. Rambutnya yang acak-acakan, serta mata bengkak karena sembab membuat Devi sudah terlihat sangat mengenaskan hari ini.


"Iya. Aku bisa pulang ke rumah sendiri tanpa kamu, Mas!" Devi mencoba meraih tombol pembuka pintu mobil yang ada di sisi sebelah kanan suaminya, namun dengan segera ditepis oleh Aris.


"Kamu akan di cap buruk oleh semua orang yang melihat kamu, Dev," kata Aris, memberikan sekali lagi peringatan kepada istrinya agar tetap pulang bersamanya dan tidak mengambil keputusan yang aneh-aneh sehingga membuat Devi sendiri yang akan kesusahan.


Aris sudah mengeluarkan semua baterai kesabarannya untuk menghadapi sikap sang istri. Namun, semua itu tidak membuat Devi merasa luluh. Justru, wanita itu semakin melunak dengan permintaan-permintaan tidak masuk akal dengan perkataannya yang semakin membuat Aris harus menebalkan kesabarannya.


"Terserah apa kata kamu! Intinya, aku tetap mau pulang sendiri dengan jalan yang aku pilih! Aku tidak Sudi memiliki suami seperti kamu yang lebih mementingkan perasaan kakaknya daripada istrinya, Mas!" ujar Devi dengan tangan masih mencoba meraih tombol pembuka kunci mobil di dekat Aris.


"Oke! Terserah kamu, aku sudah tidak peduli. Aku bukanlah seorang manusia yang memiliki kesabaran setebal debu pada rumah kosong, Dev! Aku tidak akan melarang kamu lagi untuk pulang sendiri. Namun, aku tetap akan memberikan peringatan kepada kamu agar kamu selalu hati-hati. Penampilan kamu yang acak-acakan seperti ini akan membuat banyak orang jahat ingin memiliki niat jahat ke kamu," ujar Aris. Setelah mengatakan itu ia langsung membukakan pintu mobil untuk istrinya dengan tatapan datar.


"Ck! Sok peduli! Lebih baik kamu kembali saja ke rumah kakak kamu, Mas! Aku sudah muak dengan kamu!" ujar Devi. Ia langsung membanting pintu mobil dan berjalan cepat meninggalkan mobil Aris yang masih tetap menyala di pinggir jalan.


Tentu saja sebagai seorang suami Aris tetap merasa tidak aman membiarkan istrinya keluar sendiri. Apalagi penampilan Devi sangat berantakan dan membuat semua pikiran negatif di otak Aris bermunculan satu demi satu.


Devi langsung keluar dari mobil tanpa salim lagi kepada suaminya. Ia langsung meninggalkannya Aris hingga membuat Aris menatap nanar punggung belakang Devi yang perlahan menghilang dari pandangannya.


"Kenapa kamu berubah seperti ini, Dev?" lirih Aris. Tangannya memukul setir mobil dengan kuat. Aris menjambak rambutnya sendiri dengan rasa frustrasi karena tidak bisa membawa Devi pulang bersamanya.


Aris mengangkat kepalanya yang menunduk. Ia memutuskan untuk mengendarai mobil lagi dan mencoba untuk tidak peduli dengan Devi yang entah akan pergi kemana.


"Sial! Wanita itu kenapa bisa berubah seperti ini?!" geram Aris dengan membawa mobil semakin cepat dari sebelumnya.


Aris menarik paksa istrinya hingga sampai mobil, dengan marah Devi mengibaskan tangannya.


"Mas! Lepaskan! Ceraikan aku sekarang juga!" teriak Devi dengan amarah yang menggelegak di dada.


"Devi! Jika itu yang kamu mau, maka aku ceraikan sekarang juga. Aku juga sudah salah menilai mu!"


"Persetan dengan penilaian mu, Mas! Aku juga sudah muak dengan sikapmu yang lebih membela kakakmu itu dibanding dengan istrimu sendiri!"


Aris hanya diam, mengambil napas dalam-dalam. Dia tidak ingin kalap dan akhirnya menampar sang istri lalu akan diadukan ke polisi atas dasar tuduhan KDRT.