Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab 32


Aris berteriak memanggil semua penghuni rumah. Dia belum tahu jika Tia dan Ridho sudah berpisah dan Wulan sekarang menjadi istri Ridho.


Cahyo suami Meri pun keluar dari kamarnya.


"Aris! Apa yang terjadi dengan mama, hah?!" Cahyo nampak murka melihat istrinya tidak sadarkan diri di tangan sang anak.


"Bukan Aris, Pa. Aris baru saja datang dan melihat mama pingsan di lantai," ucap Aris.


Wulan yang mendengar teriakan Aris juga datang menghampiri Aris.


"Aris apa yang kau lakukan pada mama, hah!" Wulan juga sama menuduh Aris sebagai pelaku yang membuat ibunya tidak sadarkan diri.


Aris menatap ke arah Wulan, sejurus kemudian dia pun membela dirinya sendiri.


"Aku tidak tahu, Mbak! Aku baru saja masuk dan melihat mama sudah tidak sadarkan diri!" elak Aris yang tidak mau disalahkan begitu saja oleh kakak perempuannya.


"Sudah! Ayo sekarang kita bawa mama ke rumah sakit! Wulan kau panggil suamimu dan minta tolong padanya untuk mengantar mama ke rumah sakit," titah Cahyo pada anak sulungnya.


"Baik, Pa." Wulan beranjak dari tempatnya dan menuju ke kamar. Di lihatnya sang suami sedang tiduran.


"Mas ... Mas Ridho, bangun. Tolong antar ibu ke rumah sakit, Mas!" Wulan mengguncang tubuh sang suami agar segera terbangun.


Bukannya terbangun tapi Ridho malah marah.


"Mas, tolong! Bawa mama ke rumah sakit! Ibu tidak sadarkan diri, Mas!" ucap Wulan meminta Ridho bangun dan mengantar ibunya ke rumah sakit.


"Ck! Kepalaku pusing, Wulan. Kau antar sendiri ibumu! Atau Aris adikmu itu! Dia kan bisa bawa mobil. Kunci mobil ada di atas nakas!" Ridho menepis tangan istrinya yang masih berada di bahunya.


Wulan melongo, suami yang dulu begitu penurut kepadanya kini seolah tidak peduli lagi. Wulan mulai menyadari bahwa dirinya sudah tidak bisa membuat Ridho menuruti keinginannya.


Wulan pun menyambar kunci mobil dan kembali menuju ke ruang tengah, di mana ibunya tidak sadarkan diri.


"Aris, kau bawa mobil mas Ridho saja. Biar mbak dan papa yang memegangi mama di belakang," ucap Wulan sambil memberikan kunci mobil Ridho pada Aris.


Aris menangkap kunci yang dilemparkan oleh Wulan. Dia pun segera berlari ke luar rumah untuk menyiapkan mobil yang hendak dipakai untuk mengantar sang ibu ke rumah sakit.


Dengan Wulan dan Cahyo duduk dibagian tengah mobil, akhirnya mereka pun membawa Meri ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Meri mendapat penanganan. Sang dokter yang menangani menyarankan pada Wulan agar sang ibu dirawat inap agar bisa diobservasi lebih detail.


Wulan menyanggupi apa yang dianjurkan oleh sang dokter. Wulan pun segera mengisi administrasi setelah selesai, Wulan diminta untuk membayar uang pangkal agar bisa sang ibu dirawat inap.


"Astaga, besar sekali uang pangkalnya. Uang dari mana?? Mas Ridho tidak mungkin mau untuk dimintai pinjaman!" Wulan merasa tidak akan berhasil merayu Ridho agar mau membiayai ibunya yang yang harus dirawat inap.


Dengan napas yang berat, terpaksa Wulan mengeluarkan tabungan yang dia miliki.


"Syukurlah masih ada yang dipakai untuk membayar uang pangkal. Kenapa sih! Ibu sudah merepotkan saja! Sudah tua bangka, mengapa malah bikin repot sang anak!" gerutu Wulan yang tidak suka duitnya berkurang. Andai Meri mendengar pastilah dia memilih mati saja.