
Tia, ini sepertinya komplit. Kita pilih yang ini saja ya, ada pelayanan khusu merawat pengantin putri agar terlihat lebih cantik. Jadi ini paket lengkap perawatan sebelum di rias pada hari H 'kan, Mbak?" tanya Hans pada sang marketing tentang paket yang ditunjuknya itu.
"Benar, Tuan. Jadi sebelum hari H, calon pengantin wanita akan melakukan berbagai perawatan mulai dari tubuh hingga wajah. Semua itu kami lakukan agar pengantin wanita menjadi lebih fresh dan segar, sehingga saat hari H nanti akan terlihat berbeda dari biasanya. Kurang lebihnya seperti itu," jelas sang marketing.
"Perawatannya di mana, Mbak?" tanya Tia.
"Perawatannya bebas dimana saja, kalau mau di rumah kami juga akan melayaninya. Akan ada tim kami yang akan datang ke rumah customer untuk melakukan perawatan," jawab sang marketing. Sungguh pelayanan di salon ini memang sangat istimewa.
Hans dan Tia saling menatap, sepertinya mereka sedang berbicara dengan bahasa isyarat.
"Bagaimana, Tuan? Paket yang mana yang akan tuan dan nyonya pilih?" tanya sang marketing.
"Kami pilih paket yang komplit saja, Mbak. Biar istri saya semakin bersinar kecantikannya," ucap Hans sambil mengedipkan matanya ke arah Tia. Entah mengapa Hans seperti ABG labil yang baru saja jatuh cinta.
"Baiklah, kami akan segera memprosesnya. Dan besok sudah bisa kami mulai perawatan untuk nyonya," tandas sang marketing.
"Besok, Mbak? Mengapa tidak sekarang saja. Saya ingin istri saya ini lebih rileks badannya. Beberapa hari ini terlihat tegang, mungkin karena capek," ucap Hans meminta agar perawatan untuk Tia dimulai saat ini juga.
"Mas, tapi aku lapar belum makan," protes Tia yang merasa lapar perutnya.
"Gampang, mas pesankan online food saja. Bolehkan, Mbak?" tanya Hans pada marketing itu.
Sang marketing mengambil napas dalam-dalam, pasalnya baru ada customer seperti Hans yang memesan makanan untuk istrinya.
"Tidak apa-apa, Tuan. Silakan kalau mau makan di sini," jawab sang marketing terpaksa memberi ijin karena takut kehilangan proyek puluhan juta.
Hans tersenyum, lalu mengambil ponsel yang ia simpan di dalam saku, untuk memesan makanan.
"Tia kamu pesan apa?" tanya Hans pada Tia sembari memainkan jemarinya di atas papan keyboard ponselnya.
"Aku ingin sushi saja, Mas. Biar gak belepotan makannya," jawab Tia.
"Baiklah, aku pesan sushi dan jus saja. Nah, sudah, 30 menit lagi pesanan akan sampai," ucap Hans sembari menutup ponselnya.
"Mari nyonya kita bisa melakukan perawatan tubuh terlebih dahulu. Anda silakan berganti pakaian dengan kemben ini. Nyonya bisa mengikuti mbak Susi bagian perawatan. Silakan Nyonya."
Tia mengikuti sang terapis untuk dimassage tubuhnya. Sedangkan Hans memilih duduk menunggu sambil mengecek laporan keuangan perusahaannya.
Lima menit kemudian ....
"Mas, bangun ... Aku sudah selesai, ini box makannya ya?"
Hans mengerjapkan matanya, sejurus kemudian dia memakai kembali kaca mata yang ia lepas.
"Hoaaam ... Sudah selesai, Tia? Maaf aku ketiduran," ucap Hans sambil menyugar rambutnya agar terlihat lebih rapi.
Tia tersenyum ke arah Hans yang terlihat sangat lucu saat sedang bangun tidur.
"Mas Hans terlihat sangat menggemaskan sekali. Ternyata kalau dia tidak memakai kacamata, lebih ganteng dan lebih cool. Eh ... ngomong apa aku ini!!" gumam Tia di dalam hati memuji ketampanan Hans yang tidak memakai kacamata.
"Tia dah selesai, Mas. Oh, ya. Ini Tia makan ya, tadi badan Tia dipijat dengan lembut hingga Tia tertidur dan tiba-tiba sudah selesai. Memang benar apa yang dikatakan orang tua zaman dahulu, kalau tubuh kita ingin sehat maka kita harus rutin men-servis tubuh kita dengan pijat seluruh badan." Jelas Tia dengan penuh semangat.
Hans menatap takjub dengan Tia yang terlihat sangat cantik.
Glek!
"Mengapa Tia semakin terlihat cantik, sih? kulitnya terlihat lebih cerah dibanding sebelumnya semakin gemas dengan Tia," ucap Hans di dalam hati memuji kecantikan Tia dengan hati yang berdebar.
"Bagus, jika kau sangat menyukainya, Tia. Kalau sudah selesai, lebih baik kita pulang yuk, aku akan menunjukkan sesuatu yang sangat indah untukmu," ucap Hans mengajak Tia pulang.
"Sebentar, Mas. Tia habiskan sushi ini dulu. Perut Tia sangat lapar," ucap Tia sembari perlahan menghabiskan makanan yang dipesannya tadi.
Hans tersenyum melihat tingkah polos sang istri, untuk menyingkat waktu karena bagian bawah Hans sudah ingin berjuang, Hans pun memilih untuk melunasi pembayaran.
"Berapa total semua yang harus saya bayar, Mbak?" tanya Hans pada petugas kasir.
"Ini, Tuan." Sang pegawai kasir pun menyerahkan struk pembayaran total jumlah keseluruhan.
Tanpa ragu, Hans mengeluarkan dompetnya kemudian memberikan black cardnya. Setelah sekian, Hans dan Tia menuju ke tempat selanjutnya.
Tia hanya menurut kemanapun Hans membawanya pergi, hingga sampai di sebuah hotel mewah, mereka berdua pun turun.