
Rustam menatap serius ke arah sang majikan, cerita di malam naas bagi Gunawan menjadi perhatiannya.
"Tuan, kalau menurut saya sepertinya tuan dijebak oleh nyonya Clara. Bukankah Anda bilang setelah makan dan minum kotak makan yang dibawa nyonya Clara, tuan merasakan sesuatu yang membuat Anda tidak nyaman?" tanya Rustam hati-hati. Dia tidak ingin membuat sang majikan tersinggung.
"Maksudmu?" Gunawan mengerutkan alisnya. Mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Rustam.
Rustam berdiri dengan tangan di kedua saku celananya. "Tuan, maksud saya adalah bagaimana tuan bisa bermalam dengan nyonya Clara pada waktu itu dan berujung nyonya Clara hamil itu sudah direncanakan oleh nyonya Clara. Beliau menjebak tuan dengan obat yang bisa meningkatkan keinginan tuan untuk bercinta," jawab Rustam yakin.
Gunawan mengangguk, tangannya bersedekap sambil mengingat malam naas bersama Clara.
"Sepertinya yang kau katakan benar, andai saja aku tidak menuruti Cahyo kemungkinan aku akan melampiaskannya pada Clara. Berhubung aku menuruti Cahyo maka aku terburu melampiaskan semua pada Meri--istri Cahyo," sahut Gunawan mencoba menghubungkan satu kejadian dengan kejadian yang lain.
Rustam berjalan mendekati sang majikan lalu berkata,"Nah, itu yang saya maksud. Jadi semua ini adalah ulah dari nyonya Clara yang menjebak Anda dengan minuman yang sudah dicampuri obat. Wah, nyonya Clara ternyata sosok wanita yang mengerikan! Demi mencapai tujuannya dia rela mengorbankan kebahagiaan orang lain. Beruntung Anda memergokinya di hotel."
"Semua kejadian membuat aku sadar, bahwa Clara adalah sosok wanita yang sangat kejam dan tidak berperasaan. Dia rela menghancurkan hidup orang lain demi untuk ambisinya sendiri! Dia tidak mau nama baiknya tercoreng lalu memanfaatkan diriku untuk menutup semua aibnya. Sungguh keterlaluan! Dan bodohnya aku yang tidak segera menyadarinya," ucap Gunawan.
Rustam duduk kembali di samping sang majikan kemudian memainkan ponselnya untuk melihat gerak laju perkembangan bursa saham perusahaan Gunawan yang baru.
"Tuan, lihatlah. Laporan perkembangan bisnis kita. Alhamdulillah, saham kita naik tajam. Kita bisa go internasional jika terus seperti ini," ucap Rustam sembari jarinya berselancar indah di papan keyboard ponselnya.
Gunawan tersenyum, dia merasa bisnisnya sudah bisa menguasai pasar bisnis nasional. Tinggal beberapa langkah bisnisnya bisa merambah ke luar negeri.
"Syukurlah, semua yang kita rintis tidak sia-sia. Aku sangat bangga dengan kinerjamu Rustam, kau sangat patut dibanggakan." Gunawan memuji Rustam sembari menepuk pundak Rustam yang masih fokus dengan ponselnya.
"Terima kasih, Tuan. Semua ini juga karena Anda yang selalu mengajari saya bagaimana mengelola bisnis yang baik," sahut Rustam merendah. Dia sangat bersyukur, semenjak ikut Gunawan banyak yang bisa ia pelajari.
Hari sudah semakin larut, kedua lelaki beda usia itu memutuskan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Gunawan kembali ke apartemen yang baru tadi siang ia sewa dan Rustam kembali ke rumah orang tuanya.
****
Di Club malam,
Clara dan keempat lelaki itu semakin larut dalam hingar bingar musik disco. Suara tawa dan racauan orang mabuk memenuhi club itu, begitu pula Clara yang saat ini sudah mabuk berat. Tubuhnya sudah menjadi sasaran keempat lelaki itu. Keempat orang itu mendapat gratisan dari Clara.
Keesokan harinya, Clara sangat terkejut saat mendapati dirinya sudah berada di hotelnya dalam keadaan berantakan. Sekujur tubuhnya terdapat banyak sekali tanda merah. Clara mencoba mengingat apa yang terjadi, namun dia tidak dapat mengingatnya. Entah obat apa yang diberikan Rai pada Clara.
"Arrgh! Kepalaku sakit!" keluh Clara sembari memegang kepalanya.
Triing ... Trriiing ....
Belum hilang sakit kepala Clara, ponselnya berdering. Dilihatnya siapa yang menelepon ternyata Sinta.
"Hallo, Sayang." Clara mengangkat panggilan dari Sinta dengan suara parau khas bangun tidur.
"Sinta ... Kamu kenapa seperti orang panik?" tanya Clara pada Sinta. Sebagai seorang ibu pasti dia merasakan jika sang anak gelisah ataupun cemas.
"Ma ... Maafkan Sinta, perusahaan kita mengalami masalah," ucap Sinta sendu.
"Masalah? Masalah apa, Linda?" sahut Clara terkejut. Dia pun bangkit dari tidurnya dengan tubuh yang terasa remuk semua.
"Harga saham kita mengalami penurunan, Ma ...!" ucap Sinta takut.
Clara panik, jika saham perusahaannya turun maka perusahaan itu akan terancam bangkrut. "Kamu tenang saja, mama akan segera pulang," ucap Clara menenangkan hati sang putri.
"Baiklah, Ma. Sinta tunggu kepulangan mama. Hati-hati di jalan, Ma. Bye ...." Sinta menutup panggilan teleponnya. Tidak tahu harus bagaimana lagi karena sang papa sudah tidak bekerja di perusahaan itu.
Clara menghela napas berat, badan sudah remuk semua, kini datang masalah baru di perusahaannya. Clara tampak termenung, kepergian Gunawan membawa dampak dalam perusahaannya.
"Sudahlah, tidak usah mengharapkan sosok yang sudah pergi. Masih ada Rai, semoga dia mau mengurusi perusahaan papa. Dan aku berharap bisa menjadi keluarga yang sempurna. Sinta bisa mendapatkan kasih sayang dari papa kandungannya. Bukan orang yang tidak tahu diuntung itu!!" gumam Clara menghibur dirinya sendiri.
"Aargh ...! Mengapa sakit sekali untuk berjalan," ucap Clara tertatih. Ras sakit itu baru ia rasakan saat ia turun dari tempat tidur. Namun, rasa itu ia tepis kan karena ingin segera pulang.
Clara bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tiba di depan kaca besar di kamar mandi, Clara sangat terkejut melihat tubuhnya yang penuh dengan tanda merah.
"Astaga ... Apa ini?" ucap Clara menggosok tanda yang tercetak indah di tubuh bagian depannya itu.
Sehebat apapun Clara menghapusnya, tetap tidak bisa hilang. Anehnya, dia tidak mengingat apa yang telah terjadi semalaman. Clara teringat akan putrinya jadi dia pun menepiskan semua yang ia rasa dan bergegas untuk bersiap pulang ke Lampung.
***
Di Lampung, perusahaan Clara.
Sinta terlihat mondar-mandir bingung harus bagaimana, sang sekretaris melaporkan pergerakan saham di bursa saham.
"Bagaimana, Nyonya?" tanya sang sekretaris, sambil menatap ke arah laptopnya."
Sinta yang belum berpengalaman di dunia bisnis tidak mampu menjawab. Dia melihat arloji mahalnya, sampai detik itu sang ibu belum juga datang.
"Kita lihat dulu perkembangannya, Dita. Sambil menunggu mama kita pantau terus pergerakan saham perusahaan ini," balas Sinta yang sudah tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Siap, Nyonya. Saya kan berusaha menekan laju penurunan saham kita sebisa mungkin, biasanya jika ada masalah seperti ini tuan Gunawan langsung bergerak cepat untuk menstabilkan harga saham agar tidak jatuh," ucap Dita sang sekretaris. Dita merasa kesulitan karena selama ini yang mengarahkan adalah Gunawan.
Walaupun Gunawan hanya mantan mandor, akan tetapi dia mendapatkan ilmu dari relasi dan sang mantan mertua yang sudah meninggal dunia.
"Nyonya ... Gawat!!"